Kepedihan Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 June 2017

Rasa sakitku semakin hari kian bertambah, aku sudah tak kuat dengan siksaan ini. Aku sudah bosan melihatnya lagi. Rasanya aku ingin pindah sekolah, tapi tanggung aku sudah kelas 6, sebentar lagi aku akan lulus. Tapi, jika aku terus di sekolah itu, aku akan tersiksa dengan omelan, dan ejekannya itu memekakkan telinga dan membuat telingaku rusak.
Itulah Maya. Anak yang berkuasa di kelas 6E. Aku selalu diperlakukan seperti budak. Sial!! setiap mainan pasti aku yang disuruh masang dulu.

Suatu hari, aku sedang membaca buku di kelasku.
“hei!! jangan sok rajin ya…” Ejek Maya padaku.
Walaupun begitu, aku tetap tertuju pada isi cerita yang kubaca.
“kamu, nggak denger ya?” tanya Maya.
“bukannya aku punya telinga? aku jelas denger tapi aku nggak denger kata kata bodohmu itu!” jelasku.
“kamu gak usah jadi kamseupai dech!! aku tau kamu pura pura jadi menonjol!!”
“kalo mau fitnah bukan di sini tempatnya!” jawabku santai.
“kamu mulai berani sama aku?” tanya Maya. Aku menutup buku ceritaku lalu segera beranjak dari bangkuku.

“Bu, aku pulang!” kataku saat sampai di rumah. Tapi tak ada suara ibu. Aku pun pergi ke dalam kamarku. Aku berganti baju dan segera duduk di depan meja belajarku. Perlahan kubuka diaryku.

15, November 2016
Hari ini aku masih dikuatkan hatinya oleh Allah SWT, aku masih bisa tahan tangisan batinku yang menusuk pikiran, yang membuatku sedih. Mengapa ada anak seperti itu dalam kehidupanku?. Walau aku tak tahu apa yang dikatakan ibuku tentang Maya, tetap saja, aku yang jadi korban caci maki bulanannya, emang dibayar apa oleh tuhan? emang kalo bales katanya bisa puas cuma di dunia, di akhirat, dapat merasakan kepedihan yang kurasa di dunia. Aku tau kau kaya, tapi jangan merendahkan, jika masalah diselesaikan, ke orangnya langsung. Aku menderita sakit yang pedih darimu. Mengapa hanya memanfaatkan kepintaranku. Sedangkan sifat dan pertemanan tidak ada.

Aku segera menutup diaryku. Tak terasa butiran bening menetes di pipiku. Aku tak tahan dengan semua ini, kenapa menimpa pada orang yang tak bersalah

“Lyra, kamu kenapa sayang? kok pintunya dikunci?” tanya ibuku.
“nggak ada urusannya kan?” tanyaku balik. Aku mengenakan jaket biru langitku, aku membuka pintu kamarku.
“kamu mau kemana Ra?” tanya ibu.
“refreshing dari kepedihan hati!” jawabku.

Aku berjalan menuju tempat favoritku yaitu GAZEBO yang ada di pinggir pantai. Aku terduduk lemas sambil bersandar di pagar gazebo. Aku memikirkan apa yang terjadi selanjutnya setelah ini? apakah ibu tercintaku akan kubenci gara gara rumor ibu yang memfitnah seorang Maya. Ah… Maya Maya dan Maya
itulah yang tercantum dalam pikiranku. Kumohon jangan pikirkan wanita sialan itu lagi!!. Hatiku mulai tenang. Tapi lama kelamaan menjadi sakit lagi.

“kamu sendirian?” tanya seseorang.
“eh, Mira hehe… iya nih!” jawabku. Mira adalah sahabatku satu satunya yang belum terbujuk Maya.
“jangan sedih, aku tau kamu selalu dibully tapi yang sabar cobaan tidak akan hilang begitu saja” jelas Mira. Lama lama aku tahu, kepedihan hati tak selamanya kuderita, jika ku berpisah dengannya, aku tak merasa pedih lagi.

Cerpen Karangan: Fatikhatul Fitriyah
cerita ini sebagian kisah nyata dan sebagian fiksi. Harap dimaklumi kalo ceritanya g karuan. Karena aku kelas 6 SD

Cerpen Kepedihan Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Me and My Best Friends

Oleh:
Bagiku sahabat adalah seseorang yang dapat menghiburku, seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, karena sahabatlah orang yang selalu ada untukmu. Aku memiliki banyak teman, hampir semua orang di kelasku,

Akhir Dari Sebuah Cerita Cinta

Oleh:
‘Deb, ntar malam kita nonton bareng mau gak?”, “Aduh gimana ya,…..mama aku pasti gak ngijinin dech”, “Ya ampun sayang, kamu cari alasanlah…mau ibadah, mau ngerjain tugas atau apa. Masak

Semut yang Sombong

Oleh:
Di sebuah hutan tinggallah seekor semut. Semut itu dijuluki si Mungil karena ia berbeda dengan semut yang lainnya. Karena di usia remajanya ini semut itu belum mengalami perubahan tinggi

Ketika Genggaman Telah Terlepas

Oleh:
“Ra pagi ini langit terasa indah dan cerah ya…” melalui telefon “Ia cha”, balasku. “Mungkin karena hari akhir UAN kali ya?” Ujarku menambahi. “Ra terus tersenyum untukku di akhir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *