Kepergian Dirinya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 January 2016

Aku terbangun dari tidurku pagi ini. Sesungguhnya aku sangat merasa sedih, karena hari ini, hari terakhir aku tinggal di rumah ini dan kota ini. Ku langkahkan kakiku memasuki sekolahku. Aku bersekolah di SUKIBS.

“Pagi Bawel.” Sapaan yang setiap pagi harus aku dengar. “Kenapa kamu murung gitu?”
“Nggak kok, nggak apa-apa” Aku bingung seribu bahasa. Aku tidak tahu harus jujur atau tidak padanya, aku tidak mau dia bersedih karena hal ini.
“Oh, ya udah yuk kita masuk” Aku hanya tersenyum padanya.

Tekadku sekarang sudah bulat untuk tidak memberitahunya tentang masalah ini.
“Chel, udah siap? kita mau berangkat ke Bandara jam 2 nanti”
“Iya Mi, sebentar” Aku menarik napas panjang lalu ku hembuskan pelan-pelan dari mulutku.
Aku dan Keluarga pergi ke Prancis, tepatnya di kota Paris. Aku terus kepikiran tentang Tio, apa dia marah? apa dia sedih? apa dia khawatir? semua pertanyaan itu muncul di pikiranku.

“Eh, eh, Marsha, lihat Chelsea nggak? dia kenapa belum datang ya?”
“Aku nggak tahu juga Tio” Marsha gugup, sebenarnya Marsha tahu aku akan pergi ke luar negeri.
“Kok kamu gugup sha? Ada yang kamu sembunyikan dari aku tentang Chelsea?”
“Huh.. Chelsea sudah lepas landas tadi pagi untuk pergi ke Prancis..” Marsha pasrah dalam semua ini.

“Apa kamu bilang? dia pergi ke Prancis?”
“Iya Tio, dia akan tinggal selama-lamanya di sana ”
Tio berlari melewati Marsha. Tio menuju Parkiran sekolah. Tio berniat untuk pergi ke Prancis menyusul dan menemui Chelsea. Marsha sudah lelah menjegah Tio, “Tio dengerin aku!! Chelsea pergi ke Prancis nggak kasih tahu kamu, karena dia nggak mau kamu sedih!!” Akhirnya Marsah teriak, membuat Tio berhenti berlari. Sejenak Tio berpikir, secepat kilat dia berlari lagi.

Tio melihatku di bawah Menara Eifel, dia memanggilku dengan penuh amarah.
“Chelsea!!”
“T…Tio!!” Aku kaget, aku juga tidak menyangka Tio bisa senekat Ini.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Maaf Tio, aku nggak bermaksud buat kamu seperti ini”
“Chel, ini kah yang namanya Sahabat sehidup semati?”
“Nggak… nggak gitu”
“Kamu Tega Giniin aku Chel!!”

“TIO cukup!! Marsah udah jelasin semuanya ke kamu. Tapi kenapa kamu nggak ngerti? Terserah kamu!!” Aku berlari menuju Jalan Raya dengan derai air mata. Tidak ku sadari sebuah mobil dengan kecepatan yang berlebih menabrakku.

“Aaaa!!!”
“BRUKK!!”
Tio berbalik badan, Tio sudah melihat diriku yang penuh dengan Darah.
“Chelseaaa!!!” Tio Kaget melihatku tergeletak tak sadar diri. Dia berlari ke arahku.

“Chel, Chel, bangun Chel”
“T…Ti..o,” Dengan napasku yang terengah-engah aku mecoba mengucapkan selamat Tinggal.
“Jaga diri k..amu ba..ik baik ya, Jan…gan lupa Sahabat Sehidup Semati ki..ta” Aku terus mencoba untuk bersuara.
“Tugasku di dunia ini sudah habis, Aku mau Per…gi. Se…la…mat ti….ng…gal,” Aku menghembuskan napas terakhirku di hadapan Tio.
“Chelseaaa!!! Nggak, nggak, Chelsea banguuuunnnn!!! hiks, hiks,”

Aku dimakamkan di Indonesia sebelah makam sahabatku dulu Raya. Tio masih saja terus menangis di makamku.
“Kepergian dirinya, dirimu Chel, kenapa kamu tinggalin akuuuuu..!! hiks hiks”
“Aku menyesal Chel!! Hiks hiks. Aku nggak bermaksud buat kamu kayak gini”

Kepergianku membawa kesedihan yang berat bagi Tio dan semuanya. Karena kesendirian Tio saat ini, ia tidak seperti dulu lagi, sampai Tio mengidap penyakit Kanker Otak. Umurnya divonis tidak akan lama lagi. Hingga Akhirnya Tio juga pergi meninggalkan dunia ini.

Cerpen Karangan: Nadya Maharani S
Facebook: Nadya Maharani S

Cerpen Kepergian Dirinya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dingin Diterpa Cahaya Matahari

Oleh:
Bintang-bintang dengan bahagia berpijar dikejauhan. Bahkan mereka sama sekali tidak mempedulikan manusia yang masih saja beradu mulut tentang bumi datar atau bulat. Mungkin beberapa bintang jatuh ke bumi untuk

Dari Teman Jadi Sahabat

Oleh:
Namaku Silvi Rima Debriyanti biasa dipanggil Silvi. Saat itu aku masih kelas 6 SD, dan di belakang rumahku ada tetangga baru. Kelihatannya Mamaku sudah akrab sekali dengan tetangga baru

Orangtuaku Rinduku Kekecewaanku

Oleh:
Kapan semuanya kan berakhir indah ketika aku mengetahui bahwa orangtuaku pun tidak pernah menginginkanku hadir. Setiap hari aku mendapati mereka membetakku, mencelaku, bahkan memukuliku. Mereka selalu menyesali kelahiranku. Namun,

Sawah Sahabat

Oleh:
Nino adalah anak dari seorang petani, walaupun kehidupannya jauh dari harta yang melimpah, Nino tetap bahagia. Setiap sore hari, Nino selalu membantu ayahnya di sawah, Nino membantu segala pekerjaan

Baju Kenanganku

Oleh:
Siang yang panas dan membakar hatiku. Hari ini aku memakai baju kenangan atau biasa kami sebut baju persatuan dulu ketika masih di bangku kuliah. “Hmm..” ya aku mulai mengingat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *