Kepergian Seorang Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 March 2013

Drap… drap, suara kakiku berlari menaiki tangga menuju kamarku. Ku teteskan air mataku. “aku nggak mau pergi, nggak mau!. Aku nggak akan mungkin pernah bisa melupakan semua yang pernah kualami di sini. Rumahku, sekolahku, semuanya… huff, terutama Tiara. Sahabat yang sangat kusayangi.” benakku.

Kata Ayah kami sekeluarga akan pergi untuk pindah ke Surabaya, karena ayah akan pindah tugas kesana. Kembali kutitikkan air mataku. Pikiranku melayang, apakah disana akan kutemukan rumah seperti ini?, sekolah seperti sekolahku, dan sahabat seperti Tiara…?

Tok.. tok suara ketukan pintu kamarku membuyarkan lamunanku. Sekejap kuhapus air mataku kemudian membuka pintu sambil menunuduk menahan air mata yang seakan ingin terus mengalir dengan derasnya. “Laras…?”. Diangkatnya daguku perlahan dan kulihat “Tiara!” kupeluk ia dan air mataku yang dari tadi tak terbendung langsung mengalir dengan derasnya. “Ras…, kamu kenapa?” tanya Tiara yang kebingungan. Aku terdiam tak bisa menjawab. Ia mengerutkan dahinya karena heran dengan sikapku, iapun mengajakku masuk ke dalam kamarku.

“Ras, kamu tu sebenarnya kenapa sih. Cerita dong!” rayu Tiara penasaran. “Aku nggak bisa pergi!, nggak mungkin aku bisa lupain semua kenangan di sini!” seruku histeris. “Maksudmu apa sih?…” tanya Tiara keheranan seraya menaikkan sebelah alisnya. “Huff…, kita akan berpisah. Aku akan pindah ke Surabaya 2 minggu lagi!.” jelasku dengan lesu. Tiara terbelalak mendengar penjelasanku. “Pindah?…, ke Surabaya?…, 2 minggu lagi?. Meninggalkan aku sendiri?” gumam Tiara. Terlihat perlahan air matanya menetes dari pelupuk matanya. Hening. Kami menerawang, memikirkan masa depan yang suram tanpa sahabat yang saling mengisi satu sama lain. Di kala senang dan duka. Aku langsung memeluknya, iapun membalasnya. Dalam pelukannya sangat hangat. Ia memelukku erat, seakan tidak rela membiarkanku pergi.
“Kalau kamu udah sampai di sana kamu jangan lupain aku ya?…, terus jangan lupa kirimin aku surat!. Sebentar lagi aku akan kesepian. Tanpa kamu di sini.”

“Jangan ngomong gitu Ra!.., aku janji akan selalu ngirimin kamu surat. Aku juga nggak mungkin lupain kamu dan semua kenangan tentang kita!. Waktu kita jatuh saat bersepeda ditaman…, memberi makan ikan di kolam ikan di rumahmu…, dan yang lainnya.” Dia peluk diriku sebagai pelukan terakhir kalinya. Pelukan perpisahan.

Kulambaikan tanganku saat aku sudah berada di mobil. Dia membalas. Kemudian ia mengejar mobilku. Kuteringat sesuatu. Kuraih sakuku dan kuambil sebuh kalung berbentuk hati berwarna perak yang di dalamnya tersimpan fotoku dan Tiara saat sedang di taman. Kulemparkan kalung itu kepada tiara yang masih berusaha mengejarku, berharap aku akan kembali. “Simpan kalung itu sebagi kenangan kita!” teriakku saat melempar kalung itu. Ia menganggukkan seruanku dan perlahan ia memperlamban kejarannya. Di teteskannya air matanya saat mobilku sudah tak terlihat.

Selama perjalanan aku tidak berbicara. Aku hanya memikirkan bagaimana keadaan Tiara saatku tinggalkan. Aku juga berpikir bagaiman keadaan di Surabaya nanti. Aku lelah. Sangat lelah. Akupun tertidur dalam pikiranku yang galau.
“Ras, bangun.!” aku mengenal suara itu sangat kukenal. Tiara. Aku terbangun dan aku bertanya bagaiman ia bisa kesini. “Ternyata keesokan hari setelah kamu pergi ayahku juga ditugaskan untuk pergi ke sini juga. Kami langsung berangkat menggunakan pesawat express!”. Kami senang sekali dapat bertemu kembali. Kami meloncat-loncat kegirangan. Tapi kemudian aku mendengar seseorang memanggilku “Ras.. Ras…, bangun Laras!”. Akupun membuka mataku yang ternyata masih terlelap. Itu hanya mimpi. “Kamu mimpi ya Ras?. Kamu menyebut-nyebut nama Tiara sambil meloncat-loncat di tempat dudukmu.” jelas ibu. Aku hanya mengangguk.

Tak lama setelah itu kamipun tiba di rumah kontrakan kami, di Surabaya. Dengan lesu aku turun. Rumahnya sederhana namun apik dan kelihatannya sangat dirawat oleh pemiliknya. Kami masuk dan mulai membenahi barang-barang. Setelah itu kami segera tidur di kamar masing-masing. Namun, aku sangat susah untuk memejamkan mata. Mengingat Tiara.

Hai Tiara…, apa kabar!. Sekarang aku sudah sampai di Surabaya. Aku tinggal di rumah yang sederhana namun apik, aku senag tapi aku sangat merindukanmu!, semoga kamu tidak akan melupakanku ya…, doakan juga agar nanti aku mendapat teman yang baik sepertimu disini!.

Salam manis Laras
Untuk
Tiara

Itulah surat yang kutulis pagi itu. “Semoga saja akan cepat dibalas olehnya” gumamku saat memasukkan surat itu ke dalam kotak pos.

Siang itu aku bersandar di tembok kamarku, aku memikirkan apa yang akan aku kerjakan. “Aku belum punya teman, di sekitar sini tidak ada taman atau lapangan untuk bermain!. Aha.., aku punya ide. Aku akan pergi berjalan-jalan di sekitar sini, siapa tau bisa berkenalan dengan teman. Lagi pula besok aku sudah mulai sekolah, jadi besok tidak ada waktu untuk berkenalan.” pikirku.

Bruk, “maaf!” seruku saat menabrak seorang perempuan yang kira-kira usianya sama denganku. “tidak apa-apa, aku yang salah kok!.” ia menatapku kemudian berkata “kamu baru ya tinggal di sini?. Kenalkan namaku Bulan. Kamu?” tanyanya. “Laras. Laras Setya Dewi.” jawabku. “kujak kamu berkeliling yuk?”.Aku hanya mengangguk, mengiyakan. Sejak saat itu aku menjadi temannya.

Kulihat selembar surat yang berada di depan pintu rumahku beratas namakan diriku. Setelah kubaca ternyata itu balasan dari Tiara. Isinya tentang keriduannya padaku.

Kami terus saling mengirim surat. Kadang aku sering menceritakan Bulan yang mau menjadi sahabatku di sini.
Siang itu aku menulis surat untuk Tiara, kemudian kuajak Bulan untuk mengantarkanku ke kotak pos. Setelah itu aku bermain bersama Bulan. Karena ada dia aku jadi tidak terlalu sedih memikirkan Tiara. Dia selalu mau jadi teman bermainku setiap waktu. Sama seperti Tiara, namun entah kenapa dalam hatiku hanya Tiaralah sahabat terbaikku. Aku sangat menyayanginya.

Berbulan- bulan kutunggu balasan surat dari Tiara namun tak kunjung datang balasan surat darinya. “Tak biasanya ia seperti ini ia selalu cepat membalas suratku.” Selidikku.
Hingga suatu hari…
“Apa saya bisa bicara dengan Laras?” tanya seorang yang menelpon dari sana
“Iya, ini saya sendiri. Maaf saya berbicara dengan siapa?
“Saya adalah pamannya Tiara. Saya mau mengabarkan bahwa….”
“Ada apa?” tanyaku mendesak
“Ehm… begini kemarin Tiara bersama keluarganya mengalami kecelakaan. Kedua orang tuanya selamat, tapi Tiara…
“Tiara kenapa?”
“Tiara mengalami pendarahan yang sangat banyak sehingga saat akan di bawa ke rumah sakit ia sudah tidak tertolong” seru paman Tiara dengan lemas.
“oh iya!. Sebelum ia meninggal Tiara menitipkan sebuah kalung yang ia selalu gunakan ini kepadamu. Tapi, aku tak bisa memberikannya langsung karena harus mengurus pemakaman Tiara. Jadi saya akan mengirimnya lewat pos saja. Tidak apa-apa kan?”
“… eh, tidak apa kok. Makasih ya”
Tuut…tuut…, telepon langsung terputus. Laras lunglai ia tidak menyangka ia akan kehilangan sahabatnya begitu cepat.

Tok… tok. Terdengar suara ketukan pintu. Ia meraih gagang pintu sekuat tenaga. Ia melihat Bulan dengan membawa sebuah bingkisan. “Ini Ras tadi ada tukang pos mengirim ini buat kamu!” ucap Bulan seraya menyodorkan bingkisan kecil tersebut. Aku hanya bisa tersenyum. Bulan hanya melihat tak berani bertanya melihat wajahku yang tidak semangat.
Aku mempersilakan Bulan masuk dan kemudian di dalam kamarku aku bersama Bulan membuka bingkisan itu. Tak ada alamat pengirimnya, namun ditujukkan untukku.

Dengan perlahan namun pasti bungkusan bingkisan itu tersobek hingga terlihat sebuah kotak kecil yang tembus pandang. Terlihat sebuah kalung berwarna perak berbentuk hati yang terlihat antik. Aku meraihnya “Aku kenal kalung ini…” kuteteskan air mataku di hadapan Bulan hingga ia kebingungan. “Ras, kamu kenapa nangis?, apa itu kalung dari sahabatmu yang sering kamu ceritakan itu?”. Aku mengangguk. Aku memang sering menceritakan Tiara pada Bulan, aku ingin menceritakan juga bahwa Tiara sudah… tiada. Tapi aku tak sanggup.

Hingga aku menyanggupi diri untuk menceritakan kejadian yang menimpa Tiara juga kerinduanku padanya. Aku kembali menangis. Bulan mencoba menenangkanku namun tak bisa. Kemudian ia keluar dari kamarku, sepertinya ia berbicara pada orang tuaku tapi entah apa aku tak tau.

Esok hari aku terbangun dari tidurku dan melihat kamarku yang dulu. Aku mengira ini adalah mimpi. Namun ibuku datang dan mengatakan ini bukan mimpi. Ternyata aku memang berada di rumahku dulu. Aku gembira tapi kemudian teringat pada Tiara. Aku beranjak dari tempat tidurku berlari pergi ke sebuah pemakaman di mana Tiara di makamkan. Kucari nisan bertulis Mutiara. Hingga aku sampai di sebuah makam bertuliskan nama Tiara. Aku menangis di atas makamnya dan aku mengeluarkan kalung yang ia kembalikan padaku. Kukalungkan kalung itu pada nisannya kemudian menangis. “andai ada Bulan di sini. Aku ingin menumpahkan segala unek-unekku padanya”. “Cerita aja!…”. tiba-tiba kudengar suara Bulan di pemakaman tersebut. “Bulan. Makasih kamu udah datang aku sedih banget.” Curhat Laras.

“Kamu yang sabar ya…”. Dengan berat kuanggukan kepalaku. Kupeluk bulan dan kembali kurasakan rasa hangat yang sama seperti yang kurasakan saat memeluk Tiara. Kuingat masa-masa aku bermain bersama Tiara. Ingin kembali ke masa itu, namun itu mustahil.

Akhirnya Bulan mengantarku pulang dan aku berterima kasih pada Bulan yang mau menemaniku saat ini. Kini aku tidur bersama dengan Bulan dan juga bersama arwah Tiara. “Walaupun kamu sudah pergi ke surga… kamu jangan khawatir. Aku tidak akan melupakanmu walau sekarang aku sedah punya Bulan” janjiku dalam hatiku yang harus kupenuhi.

Cerpen Karangan: Fitri Rosadela
Blog: http://mywordsworld.blogspot.com/
Facebook: Fitri Rosadela II

Cerpen Kepergian Seorang Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Titik

Oleh:
Sudah seminggu sahabatku, Dinda meninggalkanku. Bukan pergi untuk satu dua hari, tapi untuk selamanya. Ya, dia meninggal dunia. Karena penyakit itu, penyakit hati yang menggerogoti tubuhnya. Ternyata, lama sebelum

Malam Minggu

Oleh:
Waktu itu, tepatnya pada malam minggu Ajeng dan Alya syafi berencana pergi jalan-jalan. “lay, jalan yuk” ajak alya. Dengan muka sok asik ajeng menjawab “ah sibuk gua, tapi ya

Silih Bergantinya Keadaan

Oleh:
Pikiranku tercampur aduk, bekas tangisanku masih ada berwarna hitam di pipiku, warnanya seperti kehidupanku sekarang yang suram. Aku tak tau mengapa setega itu kepadaku, apa salahku? Aku masih ingat

You’re My Trouble

Oleh:
Astaga… Astaga… Astaga. Dia mendatangiku. Dia berjalan ringan ke arahku. Ah, senyumnya! Nino benar-benar membuatku gila. Jantungku serasa ingin meledak. Badanku panas-dingin tak menentu. “Cit, lo mau nggak jadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *