Ketika Kau Tak Lagi Menemaniku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 June 2015

“Aku diam bukan berarti aku marah. Aku sayang kalian, aku sayang kamu. Aku ingin kalian lebih baik dari kalian yang sekarang. Tapi maaf kalau caraku ini salah. Maaf kalau caraku membuat kalian kesal. Dan maaf kalau caraku ini membuat kalian emosi. Maaf…”

Untaian kata dari surat yang ditulis Ivanna masih membekas di hati Dony. Tak pernah terfikir oleh nya kalau harus secepat ini semua itu terjadi. Sosok yang telah bersamanya selama bertahun-tahun ini harus pergi. Tak ada lagi senyum Ivanna yang dahulu selalu Dony lihat setiap harinya. Hanya diam yang bisa Dony lakukan. Sekarang rasanya percuma, ucapan Dony pun tak pernah terbalas lagi oleh Ivanna.

Drrrt.. Drrrt.. bergetar lagi ponsel Ivanna. Tak lain dan tak bukan bbm dari Nathan, mantan kekasih Ivanna yang sampai saat ini menjadi lebih akrab setelah mereka putus 2 bulan lalu.
“Van lo masih sama temen-temen lo kan? Jangan pulang malem-malem ya Van”
“Gue gak pulang malem kok Nathan, tapi… gue pulang pagi hehehe” balas Ivanna meledek Nathan.
“Ivanna nginep lagi? Dimana? Jangan lupa sholat ya..”
“Iya, di rumah Jovanka, kasihan nih dia ditinggal orangtuanya ke luar kota. iya sip Nathan, makasih yaa..”
Ivanna meletakan ponselnya di meja yang tepat berada di depan Dony dan Ivanna pergi menuju toilet.

“bbman sama siapa sih dia dari tadi?” ucap Dony pelan bertanya pada Jovanka.
“buka aja sih hpnya ribet amat lo Don haha”, celetuk Jovanka.
Dony pun membuka ponsel Ivanna.
“Haha da lagi kan, pantes…” ucap Dony dengan ekspresi kesal sambil menaruh ponsel Ivanna di tempatnya semula.
“Siapa Don? Nathan? Masih kesel sama dia?” Tanya Jovanka
“Gue gak kesel sama dia, Cuma tuh gara-gara dia Ivanna jadi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, Jov…”

Hampir setiap hari disaat Ivanna bersama teman-temannya selalu saja ada bbm masuk dari Nathan yang semata-mata hanya untuk menanyakan kabar Ivanna. Meskipun begitu, tak ada niatan dari Nathan untuk meminta Ivanna untuk menjadi kekasihnya lagi, meskipun Nathan masih sangat mencintai Ivanna. Ibunda Ivanna sangat setuju dengan hubungan mereka berdua. Maka itu sampai saat ini Nathan masih setia untuk menemani Ivanna sampai tiba saatnya ia tak akan bisa menemani Ivanna lagi. Munafik rasanya kalau Ivanna sudah melupakan masa-masa indahnya bersama Nathan. Meskipun cinta tapi tak mungkin rasanya untuk Ivanna kembali bersama Nathan. Akan menyakitkan untuk Nathan jika hal itu terjadi suatu hari nanti…
“Eh gue ngantuk nih jov, Don. Udah gak kuat lagi mata gue” ucap Ivanna setelah ia kembali dari toilet.
“Tumben banget Van lo udah ngantuk. Gak mau main gitar lagi nih?” tanya Dony.

“Engga ah Don, capek banget jari gue nih. Yuk Jova kamar yuk. Bye Dony! Mimpi indah ya yang bobonya di sofa hehehe” ucap Ivanna sambil menggandeng tangan Jovanka menuju kamar.
“Iya mimpi indah juga ya sahabat gue yang cantik-cantik” sahut Dony sambil menekan saklar lampu. Ivanna dan Jovanka pun sudah memasuki kamar.
“Jova… kalau gue pergi lo bakal kangen gak? Dony bakal kangen gak?” Tanya Ivanna sambil memeluk guling.
“Mau pergi kemana dulu? Kalau lama sih ya kangen lah Van. Kok kaku gitu sih ngomongnya?” jawabnya. Satu pertanyaan aneh bagi Jovanka yang selama bertahun-tahun mengenal Ivanna.
“Engga kok Jov haha. Ya udah ya gue tidur duluan. Good night”
“oke deh.. iya good night too”

Sudah 1 bulan lebih mereka tidak hangout di cafe tempat mereka pertama kali mengobrol bersama. Dony rindu akan suasana cafe itu. Sekarang, tiba saatnya mereka kembali ke tempat itu, ke tempat dimana mereka pernah merayakan hari ulang tahun Dony.
“Don mana Ivanna? Telpon dong!” ucap Jovanka dengan wajah bete nya yang dari tadi sudah menunggu Ivanna selama 35 menit sambil mengaduk jus strawberry nya.
“Sabar lah Jov, dia kan emang selalu telat haha.. eh Jova, itu kan…” jawab Dony sambil menunjuk ke arah mobil yang baru terparkir.
“Mobil Nathan ya? Kenapa sih Don? Ya ampun masih aja lo gitu tiap ketemu dia. Udahlah, yang lalu biarlah berlalu toh sekarang pun Ivanna sama Nathan udah gak bersama kan? Eh tapi kok itu Ivanna yang turun sih?” mata Jovanka masih memperhatikan. Ia tak menyangka kalau ternyata yang ia tunggu selama ini malah pergi bersama Nathan.
“Kenapa harus sama dia sih Van ya ampun…” Gumam Dony sambil meletakan cangkirnya.
Jovanka kembali mengaduk jus strawberry nya sambil sesekali melihat ekspresi wajah Dony. Ia menyimpulkan kalau Dony cemburu melihat kebersamaan Ivanna bersama Nathan. Sudah beberapa kali ia memergoki Dony selalu terlihat cemburu tiap kali Ivanna pergi atau sedang chat bersama Nathan.
“Haihaiii eh sorry ya gue telat. Tadi kan macet banget tuh trus gue turun taksi buat cari ojek. Eh gak sengaja ketemu Nathan deh ya udah bareng hehe” ucap Ivanna dengan wajahnya yang terlihat pucat.
“Van… lo sakit ya?” tanya Jovanka.
“hah? Enggak kok hehehe” jawabnya.
Mereka asik mengobrol dan bercanda disana sampai menjelang sore. Memang tidak jelas pertemuan mereka di tempat ini, semata hanya untuk melepas penat dari tugas-tugas sekolah.

Malam pun tiba, Ivanna berdiri menatap foto-foto bersama Dony dan Jovanka. Dipegangnya foto itu, ia memejamkan mata sambil memeluk erat, hingga tanpa terasa air mata telah membasahi pipinya. Ia letakkan kembali foto itu di tempat semula, lalu ia berjalan menuju fotonya bersama Nathan, matanya tak bisa berbohong kalau ia merindukan saat-saat seperti dahulu. Sosok yang selama 1,5 tahun menemani hari-harinya dan selalu ada disaat ia butuh. Ia pindahkan foto itu menjadi di dekat fotonya bersama Dony dan Jova. Ia tata rapi semua boneka pemberian Nathan dulu dan barang-barang pemberian kedua sahabatnya. Ia simpan semuanya dengan rapi bahkan lebih rapi dari sebelumnya. Ia menangis karena ia tak mau mengecewakan orang-orang yang ia sayang. Ia sadar, ia tak bisa membuat Dony, Jovanka dan Nathan tersenyum bahagia melihat dirinya sukses nanti. Detak jantung Ivanna mulai tidak stabil. Kencang dan semakin kencang. Air matanya semakin deras mennahan rasa sakit ini. Rasa sakit yang selama 3 bulan ini ia rasakan setiap ia sedang menangis. Ia ambil kembali foto-foto itu dan ia taruh di sisi tepat ia berbaring. Tanpa sadar Ivanna tertidur di antara foto-foto itu. Rasa tenang sudah membuat detak jantungnya kembali stabil walaupun wajahnya masih sangat pucat dan tubuhnya dingin. Perlahan rasa sakit itu hilang dan mimpi indah sudah menjemput dirinya.

Sudah 1 minggu Ivanna tak lagi berangkat ke sekolah. Telpon, sms, bbm dari Dony, Jovanka dan teman lainnya pun tak pernah ia balas. Bahkan saat kedua sahabatnya itu datang ke rumahnya pun pembantunya selalu bilang kalau Ivanna tak ada di rumah. Hanya Nathan satu-satunya harapan dari mereka untuk menanyakan kabar Ivanna.
“Nathan, kalau boleh gue tau, Ivanna kemana sih selama 1 minggu ini?” tanya Jova melalu pesan singkat.
“Sorry jov, gue juga gak tau tuh dia kemana.” balasnya.
Nathan yang sudah mengetahui kabar Ivanna sedang berada di Jerman, mencoba menutupi dari kedua sahabat Ivanna ini. Hanya itu pesan yang Ivanna sampaikan sebelum kepergiannya ke Jerman untuk mengatasi penyakitnya ini. Sudah tak terhitung berapa banyak obat yang ia habiskan selama 3 bulan ini. semakin hari keadaannya semakin lemah karena pengaruh obat yang Ivanna konsumsi terus-menerus. Orangtua Ivanna yakin satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa putrinya dengan cara operasi. Tak tanggung-tanggung, Jerman lah negara yang dipilih ayah Ivanna untuk operasi pergantian katup jantung demi anaknya bisa sembuh total.

“Mam, apa ini bener-bener bisa bikin aku sembuh?” tanya Ivanna pada mamanya.
“Mama yakin pasti bisa, sayang. Perbanyak berdo’a ya. Oiyah kamu gak kangen Jova sama Dony nih? Tumben enggak nanyain mereka.”
“Aku sayang mereka ma, aku sayang banget sama mereka. Makanya aku gak mau bikin mereka kaget kalo aku lagi Jerman untuk operasi. Aku gak pengen bikin mereka sedih. Aku diam sama mereka agar mereka terbiasa kalau suatu saat nanti aku pergi mereka gak kangen apalagi sedih.” Jawab Ivanna, matanya terus mengeluarkan air mata. Ivanna membohongi perasaannya sendiri. Iya sangat merindukan Jova dan Dony namun ia tahu ini semua yang terbaik untuk Jova dan Dony jika suatu saat nanti ia harus “pulang” untuk selamanya.

“Mbak tolong dong jujur mbak, Ivanna sebenernya kemana sih? Kita kangen dia. Tolong mbak kasih kami info..” ucap Dony dan Jova di depan pagar rumah Ivanna.
“Maaf mas, mba, sebenernya non Ivanna lagi ke luar negeri. Tapi sebenernya saya gak boleh nyeritain ini ke siapa-siapa kata non ivanna,”
“oh… begitu… makasih banyak ya mbak infonya” mereka berdua kecewa dan pergi meninggalkan rumah Ivanna.

“Gila ya dia sekarang jadi ngejauh gitu ih! Ke luar negeri gak bilang-bilang kita lagi. Takut dimintain oleh-oleh apa ya?” Dony kesal dengan sikap Ivanna yang sudah 1 minggu lebih ini dingin kepada dirinya dan Ivanna. Semenjak pulang dari cafe itu sikap Ivanna langsung dingin kepada mereka berdua. Mereka selalu berfikir dimana titik kesalahan mereka. Terlintas di fikiran mereka yaitu Nathan, apa karena Nathan, Ivanna jadi diam kepada Jovanka dan Dony?

“Ma, aku minta 1 hal aja sama mama boleh gak kalau…” Pinta Ivanna setengah jam sebelum oprasi pergantian katup jantungnya. Ia tahu kalau operasi ini gagal, akan sangat beresiko untuk dirinya.
“Iya sayang, mama akan menyanggupi permintaan kamu” ucap mamanya sambil mengelus rambut panjang Ivanna.
“Entschuldigen Sie mich, Miss Ivanna gehen Sie bitte in den operationssaal. Wird in Kurze beginnen. (permisi, nona Ivanna silahkan ke ruang operasi. Sebentar lagi akan dimulai)” seorang suster di rumah sakit itu sambil membawa Ivanna kursi roda.
Dengan dibantu kursi roda, Ivanna yang lemas karena menahan sakit itu pun menuju ruang operasi. Suatu hal yang tak pernah terlintas di pikirannya unruk memasuki ruangan ini.
“Relax dear, everything gonna be alright.” Bisik dokter muda itu sambil tersenyum pada Ivanna.
1… 2… 3 dalam hitungan detik mata Ivanna tertutup. Pengaruh obat bius ini sangat cepat. Tim dokter bekerja semaksimal mungkin untuk kesembuhan Ivanna. Namun, Ivanna memiliki kelainan katup jantung sejak lahir sepertinya memang tak ada harapan, meskipun sudah semaksimal mungkin.

Diluar ruangan orangtua Ivanna sudah menunggu tegang. Ibunda Ivanna antusias saat melihat salah satu dokter berjalan ke arah luar ruangan. “what about the result?” tanya Ibunda Ivanna dengan wajah cemas.
“i’m sorry, we have the maximum but God says another…” jawab dokter itu dengan nada pelan.
Sontak Ibunda Ivanna shock dan pingsan di tempat. Ayah Ivanna mencoba untuk ikhlas namun tetap, air matanya mengalir seperti saat Ivanna menangis.

Siang ini bendera kuning sudah berkibar di depan rumah Ivana. Jenazah Ivanna sudah tiba di kediamannya di Jakarta. Jova dan Dony yang belum mengetahui kabar ini pun secara tidak sengaja melewati rumah Ivanna saat pulang sekolah. Tidak seperti Nathan yang diberitahu Ibunda Ivanna perihal kepulangan Ivanna dari Jerman.
“Permisi, tante Ivannanya mana? Ini siapa yang meniggal ya?” tanya Jova dan Dony saat memasuki halaman rumah Ivanna. Dengan masih menuh luapan air mata, Ibunda Ivanna mengantarkan mereka berdua untuk masuk dan melihat Ivanna yang terakhir kalinya. “Tante Ivanna kenapa? Gak ini gak mungkin…” ucap Jovanka dan ia seketika pingsan. Mungkin Dony lebih bisa menahan rasa sedihnya dibanding Jovanka. “Ivanna sejak lahir memiliki kelainan katup jantung, sudah beberapa bulan ini ia mengeluh sakit yang parah di bagian jantungnya. Tuhan sangat menyayanginya, maka itu ia menghendaki Ivanna untuk kembali kepada-Nya” ucap Ibunda Ivanna pada Dony. Terlihat Nathan lebih tegar meskipun hatinya sangat hancur. Namun setidaknya ia sudah tau mengenai penyakit Ivanna selama ini. Dony mencoba ikhlas dengan semua yang terjadi.

Sore ini Ivanna dimakamkan. Jovanka, Dony dan Nathan pun ikut dalam prosesi pemakaman itu. Tangis yang tiada henti dari Jovanka membuat Dony merasa semakin kehilangan sosok Ivanna.

“Ini, kalian ada titipan dari Ivanna sebeum ia pergi. Yang merah untuk Nathan dan yang biru untuk Jovanka dan Dony. Mohon dibaca ya..”
Nathan membuka surat merah itu.. “Halo Nathan! Kamu gak sedih kan? Jangan sedih dong kan kamu udah tau tentang ini semua hehe.. maaksih ya untuk 1,5 tahunnya. Makasih udah jadi bagian hidup aku. Maaf ya kalo gue sering ngerepotin, sering ngambek, sering marah, itu semua gue lakuin karena gue sayang sama lo. Maaf kalo cara gue salah. Mungkin pas lo baca ini gue udah di bawah sana, eh padahal enggak loh, gue masih disini… di hati lo persis seperti 1,5 tahun yang lalu. Hehehehe bye Nathan” Nathan tersenyum membaca surat dari Ivanna, ia yakin Ivanna pasti bahagia melihatnya dari sana.

“jov, buka deh suratnya..” Jovanka pun membuka surat biru itu. Ia dan Dony membaca berdua di samping makam Ivanna.
“Hai jova! Dony! maaf ya kalo 2 minggu ini aku diem sama kalian, itu bukan berati aku marah tapi aku pengen kalian untuk terbiasa tanpa aku. Biar kalau aku pergi kayak gini kalian gak sedih, kalian gak kangen aku. Aku sayang banget sama kalian, tapi maaf ya kalo cara aku ini salah. Buat Dony, Don kapan ya kita main gitar bareng lagi? Ke cafe bareng lagi? Bercanda bareng lagi? Makasih ya Don udah jadi sahabat gue. Udah sering nasehatin gue tiap gue punya salah, makasiiih banget buat semuanya. Sekarang gue titip Jovanka ya. Katanya sih dia sayang banget tuh sama lo *ups ups.. wajar kok kalo dia ngerasain kayak gini. Jangan pernah lo bikin Jova nangis pokonya kalian berdua harus bahagia terus, seperti aku yang bahagia disini. Dan untuk Jovanka, miss you so much! Gimana nih sama Dony selama aku pergi? Wah pasti makin so sweet ya? gue di jerman kesepian tau, gak ada temen ngobrol hehehe. Walaupun gue udah gak ada tapi rasa sayang aku mengalir seperti air di sungai yang tak pernah henti mengalir. Meskipun ada yang menghalangi? Jovanka Ddan Dony tetep sahabat aku. Maafin gue ya gak bisa nemenin kalian lagi. Intinya gue gak pengen lihat kalian nangis dan yang terpenting jangan pernah lupain kebersamaan kita ya”

Untuk pertama kalinya Dony senyum kepada Nathan. Dan berharap sekarang mereka bertiga memandang langit biru dan berharap Ivanna disana tersenyum juga untuk mereka. Berat rasanya untuk melepas sosok yang mereka sayang, sebesar apapun rasa sayang mereka pada Ivanna namun bagaimanapun juga Tuhan lebih menyayanginya.

“Jov, ketika Ivanna gak menemani kita lagi rasanya sepi ya” ucap Dony sambil menggandeg tangan Jovanka untuk pulang meninggalkan tempat peristirahatan Ivanna yang terakhir. Dan Nathan tersenyum untuk yang terakhir kalinya di hadapan makam Ivanna.

THE END

Cerpen Karangan: F. Ananda

Cerpen Ketika Kau Tak Lagi Menemaniku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Persahabatan

Oleh:
Pagi itu, suasana sangat Indah sekali. Kuawali hari-hariku dengan senyum lebar dan mengharapkan sebuah mimpi yang belum tercapai. Andai saja, aku bisa mengulang masa-masa Indah bersama sahabat yang dulu

Cerita Masa Laluku

Oleh:
Sering kali aku mendengar pertengkaran kedua orangtuaku. Setiap aku pulang berangkat sekolah, selalu dikelilingi dengan kekicauan mereka. Dan itu membuat sekolahku hancur, rasa tidak semangat, takut, benci semua mengelilingi

Dia Mencintai Ku (Part 1)

Oleh:
Namaku Amel, usiaku 16 tahun, sekarang aku duduk di bangku SMA kelas dua. Aku memiliki 3 sahabat yang selalu setia menemaniku, Sariani, Nor dan juga Regas. Karena kekompakan dan

Surat Untuk Idaman

Oleh:
Sengaja aku buat surat ini untuk kenang-kenangan kepada keluargaku kelak. Siapa tahu, ya siapa yang bisa tahu persis jumlah umurku ini? Aku bisa baca tulis, dan tentu harus kupergunakan

Senja di Bawah Pohon Mahoni

Oleh:
Senja di sore itu. Tidak akan pernah Xiaolia Shan lupakan. Waktu dirinya dan Lyu Chen mengikat janji setia di bawah Pohon Mahoni. Saat itu mereka sama-sama berumur 10 tahun.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *