Kini Aku Tau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 June 2017

Hari sudah mulai petang, aku masih sibuk menyantap semangkuk bakso di depan lesku. Perutku yang dari tadi kosong kini terisi. Kukunyah perlahan baksoku sambil menikmati pemandangan petang alun-alun kota. Tak lama setelah itu, lampu-lampu jalan pun hidup bersamaan. Arus lalu lintas pun semakin padat, klakson dari kendaraan pun terdengar.

“Pak, baksonya bungkus 2 ya!” Ucapku menunjukkan dua jariku ke arah penjual bakso. “Ditunggu ya neng!” Sahutnya dengan suara khasnya. Aku kembali menyedot es tehku yang semakin dingin. Gelasnya pun berembun, menandakan es yang berada di dalamnya semakin mencair.

Pandanganku teralihkan oleh sosok gadis yang berjalan dari arah timur. Wajahnya sendu dan lembut. Kira-kira ia seumuran denganku. Aku mengira ia akan mampir ke mall yang berada di utara alun-alun kota. “Neng, ini baksonya.” Penjual bakso itu menyodorkan dua bungkus bakso yang akan kubawa pulang untuk ibu. Aku mengambilnya dan membayarnya.
Gadis misterius itu membuatku penasaran, aku memberanikan diriku untuk mengikutinya diam-diam. Dugaanku salah, ia ternyata berhenti di tempat yang tak asing lagi di kotaku. Tempat Psikiater terkenal itu dimasukinya. Aku ingin juga masuk, tetapi aku teringat akan bakso pesanan ibuku yang mungkin mulai dingin. Aku putuskan untuk kembali mengambil motorku dan pulang.

Keesokan harinya, ketika aku les di jam sore, aku bertemu gadis itu di tempat lesku. Mungkin ia dari kelas sebelah. Gadis itu masih sama seperti kemarin, wajahnya selalu sendu. Ia tengah membaca sebuah novel yang sudah tua, terlihat dari isi bukunya yang kusam kecoklatan. Aku menghampirinya, berharap ia mau bersahabat dengan diriku ini.

“Hai,” Sapaku sembari tersenyum. Ia diam. Aku agak aneh melihatnya, tetapi aku berusaha mencairkan suasana. Aku mengulurkan tangan kananku, “Namaku Olan. Siapa namamu? dari kelas sebelah ya?” Ia mengangguk pelan, setelah lama ia diam, terlihat bibir mungilnya mulai membuka, “Aku, Lena.” Ternyata namanya Lena. “Salam kenal ya!” Ia tersenyum tipis. Akhirnya aku menganggap Lena sebagai sahabatku.

Setiap aku ada les, jadwalku dan jadwal Lena sama. Bahkan ketika waktu istirahat aku selalu memperbincangkan hal-hal lumrah ketika berkenalan. Ya seputar alamat, hobi, maupun benda favorit. Tetapi ia selalu menangis ketika aku menanyakan kalimat “Di mana orangtuamu?” atau “Kenapa wajahmu selalu sendu?” Aku pun memakluminya, mungkin ia mempunyai masalah besar dalam ucapan yang kulontarkan padanya.

Hari-hariku bersama Lena semakin menyenangkan. Kami sama-sama menyukai film yang sama. Novel yang sama bahkan idola favorit yang sama. Lena pernah berkata kalau ia sangat senang memiliki sahabat seperti diriku.
Hingga suatu hari, sejak tempat psikiater terkenal itu tutup. Entah bangkrut atau pindah tak kuketahui sebabnya. Lena sejak saat itu berubah. Ia selalu marah tanpa sebab, melontarkan umpatan kepadaku, bahkan melukaiku. Aku bingung, apa Lena sudah gila karena hal sepele itu? Sampai suatu waktu aku sudah lelah dan muak kepadanya. Aku mengucapkan kalimat yang mungkin membuatnya sakit hati.
“Lena! tolong berhenti bersikap seperti itu! apa gara-gara tempat psikiater itu tutup sampai kau begini? kau kan bisa mencari tempat lain bukan? kenapa emosimu selalu kau lempar ke aku? aku benci Lena! benci!!” Kulihat Lena terus menangis kencang tanpa jawaban. Setelah aku mengucapkan kalimat itu, Lena tak berangkat les lagi. Aku tak pernah menemukan Lena.

Aku teringat jika Lena menyukai bunga mawar merah. Aku berniat untuk memberinya seikat bunga mawar merah tanda maafku kepadanya. Kukendarai motor maticku menuju toko bunga. Kubeli seikat mawar merah sangat segar dengan harga 50 ribu. Cukup untuk membuat Lena tersenyum kembali.

Aku mencoba ke rumah Lena juga mencari tau tentang Lena di alamatnya yang ia berikan padaku sewaktu kali pertama kita berkenalan. Aku memutuskan untuk berbincang kepada ketua RT di kompleksnya. Ketua RT itu mempersilahkanku duduk. Seikat mawar merah itu kuletakkan di sebelahku.

“Apa anda ini sahabatnya?” Tanyanya sembari membuka buku catatannya.
“Ya, tentu.” Aku mengangguk serius.
“Sebenarnya hal ini perlu kau simpan baik-baik.” Aku mengiyakan persyaratan ketua RT itu. Dan ia mulai bercerita.
“Sebenarnya… Lena adalah gadis yang sangat baik. Kehidupannya baik-baik saja tanpa ada masalah selama 10 tahun. Tetapi semuanya berubah sejak ia menderita psikopat. Ia telah membunuh kedua orangtuanya dengan kedua tangannya sendiri. Entah karena ia selalu kesepian atau terhasut setan. Ia suka melamun dan emosional. Ia disarankan untuk berobat dan menenangkan perasaannya ke tempat psikiater yang berada di alun-alun kota. Sejak tempat itu tutup, ia kembali emosi…” Hatiku teriris, Ketua RT itu belum mengakhiri kalimatnya. Aku berpikir Lena sudah tiada, tangisanku pecah. “Sekarang Lena dibawa ke psikiater yang berada di ibukota, karena sudah parah.” Imbuhnya, hatiku agak lega. Aku berpamitan dan menaruh seikat mawar merah itu di depan gerbang rumahnya. Rumahnya indah namun tak terawat. Aku pulang dengan perasaan yang masih mengganjal.

Aku kini tau apa sebab ia emosi kepadaku tanpa alasan. Kini aku tau betapa menderitanya Lena, sahabatku. Seharusnya aku tak memberi kalimat kasar kepadanya. Seharusnya aku menenangkan dan menghiburnya, bukan meninggalkannya. Aku tak bisa menemui Lena kembali, aku harap Lena bisa sembuh di jauh sana. Lena maafkan aku.

SELESAI

Cerpen Karangan: Latania Rokhim
Facebook: Latania Rokhim
Masih penulis pemula. Berusaha mengasah alur cerpen supaya padu.

Cerpen Kini Aku Tau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


One Day to Remember

Oleh:
“Are you ready?” Aku melemparkan tatapan sengit pada Nathan. Cowok itu seperti tidak mendengarkan kata-kataku. “WOI NATH!” Dia baru menatapku ingin tahu. “Are you ready?” “Are you ready apaan?”

Sendiri

Oleh:
Ini, bukan pertama kalinya ia begini. Terpaku, diam, di ujung tebing gedung, sendirian. Ia merentangkan tangannya dan dengan senyum tipis ia membuat badannya melayang di udara. Alarm berbunyi. Untuk

Ayah Tercinta

Oleh:
Namaku dhian, aku bersekolah di SMA negeri 1 giri di kota banyuwangi. usiaku belum 17 tahun. hari ini hari minggu di bulan maret, 1 bulan sebelum ujian nasional SMA,

Kau Yang Terhebat

Oleh:
Ria berjalan menuju taman belakang sekolahnya. Digenggamnya sebuah mp3 dan headset. Dia duduk di bangku taman dekat dengan kolam ia mulai mendengarkan lagu, “aku terpukau.. denganmu aku sempurna denganmu

Perpisahan Termanis

Oleh:
“Aku harus pergi meninggalkan kota ini,” ucap Rona memulai pembicaraan. “Tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan sekolah di sana?” tanya kekasihnya. Rona hanya mengangguk perlahan. Matanya menerawang jauh ke arah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *