Kisah Kawan Sekitarku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 February 2017

Seperti hari-hari biasa, akulah yang hanya bisa melihatnya. Dimana pun mereka berada, diriku akan selalu terbawa oleh pikiran untuk memberi sebuah pengawasan. Pagi yang diisi oleh kicauan burung gereja, senja dengan ramainya klakson mobil, ataupun langit yang telah dimakan oleh kegelapan dengan cahaya kelap bintang padanya, diriku akan tetap mengawasi mereka.

Sebuah kotak metal berwarna kuning yang ditemani oleh sejenis gembok selalu kembali pada pikiranku. Selain itu, seorang berambut hitam yang tergerai melewati panjang lehernya sampai atas pundak terlihat memberi senyuman besar berarah menuju mataku. Dapat juga terlihatnya seorang yang memiliki mata lentik dan cantik bediri dekat di sampinya. Kedua hal tersebut selalu terlihat kembali setiap kali aku memikirkan mereka. Dapat kusadari bahwa merekalah yang mengangkat aku saat kondisi sedang kacau dan mental diri tidak kuat. Merekalah yang merupakan sebuah mutiara dalam kehidupanku, oleh karena itu yang hanyaku dapat berikan adalah pengawasan.

Seorang berambut hitam yang tergerai melewati panjang lehernya sampai atas pundak. Adreliangga Hera, atau biasa dipanggil Angga, adalah mutiara pertamaku yang memiliki rambut hitam. Ia terkenal dengan keberaniannya dan level percaya diri yang cukup mengagumkan dalam hal apapun. Ia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia mau termasuk hal-hal yang kecil dan tidak begitu penting (dari sisi orang sekitarnya). Di saat aku bediri pada usia 7 tahun, ia lah yang menyelamatkanku dari kesepian. Tahun itu adalah tahun dimana kedua orangtuaku memutuskan untuk berpisah. Kesedihan yang memakan hatiku membawa sebuah kesepian yang sangat amat tidak nyaman. Masa tersebut adalah sebuah waktu dimana aku tidak berkata satu kata pun di sekolah dan menghabisi waktu untuk mengeluarkan air mata di rumah. Namun Angga merupakan orang pertama yang memberiku kenyamanan dan kemampuan untuk bediri tegak dan menjadi semangat. Setalah pertemuan tersebut, Angga menjadi salah satu teman terbaikku yang selalu menemaniku sepanjang perjalanan ini.

Seorang yang memiliki mata lentik dan cantik. Mutiara keduaku dikenal dengan nama Mutiara karena memang ya, itu namanya. Mutiara Lara, atau nama panggilannya Ara, adalah dia yang bediri di samping Angga pada pikiranku. Seorang perempuan yang memilki mata berwarna cokelat terang tersebut juga pandai dalam perkembangan otak, akademis maupun non akademis. Meskipun ia dikenal sebagai produser aura dingin karena wataknya, ia selalu mengutamakan dan memikirkan teman-teman dekatnya. Ia akan selalu membantu dalam situasi apa pun terutama situasi yang terkadang sulit untuk diselesaikan. Aku berteman dengan Ara setelah dikenalkan oleh Angga. Ara merupakan orang yang memang susah untuk didatangkan namun ia sangat baik dalam hal lainnya. Ialah yang membantuku saat kondisi dan situasiku sedang buruk. Pada sebuah kejadian setelah masa kesepian tersebut, aku mengalami masalah keuangan akibat depresi yang memakanku saat usia itu. Ara membantuku dengan meminjamkan uang dan menyediakan tempat pekerjaan pada sebuah café kecil milik ayahnya. Setelah itu, kami bertiga menjadi teman dekat yang selalu ada saat aku membutuhkan bantuan.

Beberapa tahun setelah mulainya persahabatan kami, sebuah kejadian membuat semuanya ramai. Keramaian tersebut memasuki sekolah karena subjek yang mengakibatkan keramaian tersebut merupakan siswi. Ternyata siswi tersebut adalah Angga. Sebuah rumor menelusuri berbagai lantai sekolah berisi mengenai kejadian baru tepatnya sebuah berita mengenai korupsi yang dilakukan oleh ayahnya Angga. Sang ayah bekerja pada sebuah kooperasi bisnis besar yang didirikan oleh ibunda dari siswi sekolah tersebut. Ternyata yang menyebarkan berita ini adalah anak itu sendiri. Ayahnya Angga terbilang bahwa ia melakukan sebuah kasus korupsi saat mengadakan perekanan dengan bisnis lain. Hal tersebut membuat orang malakukan hal-hal jelek pada Angga dengan mengatainya dan melakukan hal buruk yang sangat tidak beretika. Namun dalam kejadian tersebut, Angga tidak pernah sekali pun mengeluh, ia tetap bediri tegak dengan muka berarah ke depan.

Beberapa hari setelah hari tersebut, aku tidak sengaja mendengar sebuah percakapan antara anak ibunda yang memiliki bisnis tersebut dengan teman-temannya. Dengan mencoba mendengarkan jelas saat percakapan itu berlangsung, sebuah hal yang mangagetkan membuat hal dalam diriku berapi, seperti ingin marah dang mengeluarkan semua emosi. Ternyata, anak tersebut berkata bahwa ia baru saja diberitahu oleh ibunya bahwa mengapa ayahnya Angga melakukan hal tersebut. Meringkas percakapannya mereka, diketahui bahwa karena pelaksanaan sebuah persetujuan yang diberi oleh ibunya untuk menutupi semua fakta-fakta buruk dengan membebankannya kepada ayahnya Angga dalam melakukan kasus “korupsi”. Hal ini dilakukan dengan sebuah perjanjian dimana seluruh biaya Ara akan dibantu oleh pemilik bisnis tersebut, karena mamanya sudah tidak ada dari sejak ia berusia kecil, uang yang dihasilkan oleh ayahnya masih tidak cukup untuk edukasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu ayahnya hanya ingin buat yang terbaik untuk Angga.

Mengetahui hal tersebut, aku langsung bergegas ke arah Ara dan menceritakan semua kejadian itu. Kami langsung memulai percakapan serius dengan Angga dan menanya mengapa ia membiarkan hal ini terjadi. Dengan jawaban yang tidak begitu meyakinkan, itulah pertama kalinya aku merasa sebuah kemarahan dalam tubuhku saat itu. Ia tidak ingin melakukan apa-apa karena tidak ingin mebebankan siapa pun terutama ayahnya. Aku dan Ara telah memajukan diri untuk berbicara kepada anak pemilik tersebut namun Angga tetap bilang hal tersebut tidak peru dilakukan.

Setelah percakapan singkat itu, sebuah kejadian membuat persahabatan kita terputus. Aku melawan ucapan dan nasehat Angga agar dapat berbicara dengan si anak pemilik itu untuk berhenti menyebarkan rumor tidak benar dan agar mencoba menghilangkannya. Pada saat itu sedang hujan besar dimana aku tidak mempedulikan cuaca dan terus menaiki kedua roda dengan pedal (sepeda) untuk ke rumahnya. Namun sebuah peristiwa terjadi hasil aku sendiri yang memberhentikan aku untuk melakukan apa yang kuinginkan. Berarah ke cerita awal kisah ini, hal yang sekarang aku bisa lakukan hanya pengawasan. Sebuah aktvitas setelah kami bertiga berpisah.

Tahun setelah kejadian tersebut aku melihat hal yang aku tidak pernah pikirkan. Kedua orang tersebut kembali pada satu tempat di depan hadapanku. Mereka sedang memandangi sebuah kotak yang pernah muncul pada pikiranku setiap kali aku memikirkan mereka. Sadar bahwa kotak tersebut merupakan kotak waktu dimana kami menulis semua impian yang ingin dicapai pada 10 tahun kedepan setelah itu. Semua membuka kotak tersebut dengan kunci yang bergantung di leher mereka. Mengambil surat masing-masing, sepertinya mereka mendapatakan apa yang mereka mau. Angga menjadi lawyer proffesional dan Ara bekerja sebagai dokter otak yang telah melakukan beberapa operasi dan penemuan baru. Senyuman yang kulihat dalam pikiranku akhirnya terlukis pada wajah mereka namun saat ini adanya air mata. Kuingin mengeluarkan air mata bersama mereka tetapi tidak bisa. Aku tidak bisa melakukan tulisan yang tercatat 10 tahun lalu pada kertas tersebut. Yang hanya aku bisa lakukan hanya mengawasi mereka karena setelah peristiwa kecelakaan itu, aku sudah tidak lagi bernafas.

Cerpen Karangan: Namira Iriawan

Cerpen Kisah Kawan Sekitarku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seribu Kertas Burung Bangau

Oleh:
Hari ini sudah menghasilkan 23 buah kertas burung bangau. Kalau dihitung-hitung sama hasil yang kemarin-kemarinnya sih? Horree.. ada 90 buah. Berarti harus bikin 910 buah burung bangau lagi nih

Antara Sahabat dan Cinta

Oleh:
Namaku aulia sarah umurku 14 tahun, sekarang aku sudah smp di mtsn Cirebon 1. Disana aku mempunyai pengalaman yang tidak pernah terlupakan sampai kapanpun dengan sahabatku yang bernama wulandari,

Andi

Oleh:
Aku berjalan menyusuri lorong sekolah berniat untuk mengambil buku yang tertinggal di meja kelasku. Suasana sekolah nampak sepi karena semua murid memang sudah di pulangkan sejak 1 jam yang

Kok Sama Sih!

Oleh:
“Hei, kalian lihat nih! tas baruku. Mamaku membelinya di paris loh.” kata viona sambil menunjukkan tas barunya itu. Tak perlu menghitung menit, semua anak langsung mengerubungi viona. “Huuh… viona

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kisah Kawan Sekitarku”

  1. tengku yovi says:

    keren kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *