Kisah Mengharukan Gadis Pencinta Biola

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 July 2013

Gadis kecil berumur 14 tahun ini duduk termenung di kamarnya sendirian. Pengap, itulah suasana yang ia dapatkan saat ini. Ia gadis kecil yang sangat cantik, ramah, baik hati dan manis. Ayah dan mamanya telah tiada di dunia ini. Hanya tinggal mama tirinya dan adik tirinya yang sekarang menemaninya. Tapi, mama dan adik tirinya sama sekali tidak menyayanginya. Hanya biola peninggalan mamanya yang menjadi temannya di saat dia bersedih, kesepian, dan di saat mengingat mamanya. Violin nama gadis itu. Dia mulai memainkan biolanya. Benar benar merdu. Di saat ia memainkan biola, mama tirinya memanggilnya, “Vio! Violin! Vio!” begitu keras suaranya.
“iya ma,” jawab Violin sambil berhenti memainkan biolanya lalu segera menghampiri mamanya.
“Ada apa, ma?” tanya violin. “Ada apa ada apa!, Yah siapin sarapanlah..! Udah laper tau..!” Ucap mamanya kasar. “I.. iya ma” jawabnya.
“Cepetan donk kak!” Pinta adik tirinya yang sangat manja itu.
Violin diperlakukan seperti pembantu di rumah itu. Tapi ia menerima nasibnya yang telah diberikan yang di atas.

Ia pun segera ke dapur dan mengambil 2 buah mie instan untuk direbus. Setelah siap, ia segera mengantarkan sarapan untuk mama dan adiknya.
“Mm.. enak..” kata adiknya setelah mencicipinya. “Kakak mau? Besok aja dech!” Ledek adiknya yang bernama Dinda. Violin hanya tersenyum tipis dan kembali ke kamarnya yang pengap dan memainkan biola itu lagi dengan merdu.

“Vio!”
“Iya, ma” violin pun menghampiri mamanya. “Eh, kamu yang bener aja nyetrika baju! Baju mama sampai robek begini!”
“Maaf ma… Vio ga sengaja…” isak tangis pun mulai terlihat dari pipinya yang manis. “Ga sengaja.. ga sengaja… kamu tuh ya, suka buat orang marah! Sekarang, kamu beresin barang barang kamu lalu pergi dari rumah ini!” Bentak mamanya
“Ta.. ta… tapi ma…, maafkan vio… vi.. vio ga se..nga…ja.. ma…” hujan pun membasahi pipinya.
“Pokoknya kamu pergi dari rumah ini!”
“Ma…” mamanya berjalan cepat sambil melenggangkan pinggulnya meninggalkan violin yang sedang menangis tersedu sedu.

Viopun membereskan barang barangnya termasuk biola itu. Setelah itu, ia pergi. Tak lupa ia berpamit.
“Ma… vio per…gi…” pamitnya tersendat sendat.
“Ya…” jawab mamanya cuek.
Viopun pergi.

Di tengah perjalanan. Ia menangis, menangis dan menangis. Ia pun memutuskan untuk ke taman. Sampai di taman, ia pun mengambil biolanya dari tas kecilnya. Ia pun bermain biolanya dengan sangat sangat merdu. Tanpa ia sadari, seorang pria sedang asyik mendengar dan melihat violin bermain biola. Violinpun selesai bermain biolanya. Dia terkejut seketika melihat pria itu bertepuk tangan dengan hebohnya. Violin tersipu malu.
“Ini uangnya. Walaupun kau bukan pengamen atau apapun.. kau berhak mendapatkan uang ini.” Ucap pria itu lalu meninggalkan violin. violin tersenyum. Uang itupun dihabiskannya untuk membangun pesantren. “Terima kasih Tuhan” kata Violin bersyukur.

Cerpen Karangan: Hannisa Tsabitah Aura

Cerpen Kisah Mengharukan Gadis Pencinta Biola merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kerinduanku

Oleh:
Dear, aku masih ingat saat awal kita bertemu. Saat itu adalah ujian pertama di sekolah dan aku melihatmu sepintas lalu, tak ada yang aneh ketika aku melihatmu, semua mengalir

Ibuku yang Amat Sangat Aku Cintai

Oleh:
Dia penyemangatku. Dia perempuan yang telah melahirkanku dan merawatku hingga aku seperti sekarang. Dia perempuan yang orang-orang ceritakan perjuangannya. Ternyata dialah yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Hatinya

Nasihat Sahur Ibu

Oleh:
“Zuraaa…” “Azzura Najwatunnisa!!” Suara Ibu mulai terdengar di mimpi Zura. Dia memang mendengar dengan jelas bahwa Ibu sedang marah karena memanggilnya dengan nama panjang. Segera ia bangun sambil mengucek

Lost World

Oleh:
“Kehidupan memang seperti roda berputar. Kadang kita merasa sangat bahagia namun tiba-tiba masalah muncul. Itu lah hidup.” Begitu kata orang-orang dulu. Namun pada masa yang kelam ini, tidak ada

Terbit Untuk Tenggelam (Part 1)

Oleh:
Surya nampak tak seperti biasanya, ia sembunyi di balik awan hitam yang meredupkan kehidupan global. Tetes embun seakan enggan menghilang dari dataran dedaunan yang berhiaskan mahkota cantik. Rintik hujan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *