Kithmir Dan Maxalmena

Judul Cerpen Kithmir Dan Maxalmena
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Dongeng (Cerita Rakyat), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 June 2016

Sinar Matahari mulai sepenggalah naik. Perlahan menyingkap eloknya mozaik alam semesta raya. Namun sesosok pemuda nampak bermandi peluh, perlahan dia menyingkap kain bajunya untuk mengelap bulir keringat yang membasahi dahi dan wajahnya. Namanya adalah Maxelmena, pemuda tulen Yordania berkebangsaan Romawi. Dia bersama keenam kawannya yaitu Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika. Mereka adalah kawanan tak terpisahkan.

Semua orang di Kota menyematkan nama “Laskar Ganjil” kepada Maxelmena dan keenam orang kawannya. Selain karena jumlah mereka yang ganjil, yaitu 7 orang, juga karena tabiat mereka yang “ganjil”. Mereka termasyhur dengan tabiat “ganjil” mereka, yaitu menentang adat istiadat dan tidak mau menerima para Dewa dan Dewi yang menjadi sesembahan Masyarakat yang sudah turun temurun sejak zaman leluhur. Laskar Ganjil itu hanya mau menyembah Zat Maha Satu, Tuhan Maha Tunggal. Oleh karena itu mereka termasyhur dengan sebutan Laskar Ganjil.

Karena tabiat mereka, semua warga mengasingkan mereka. Seakan Maxelmena dan 6 orang kawannya adalah itik buruk rupa dalam kawanan angsa. Tiada orang yang mau mempekerjakan Laskar Ganjil. Tiada juga yang mau melakukan jual beli, bahkan hanya mengobrol pun enggan. Oleh karena itu Laskar Ganjil memenuhi kebutuhan sandang dan pangan mereka dengan menjelajahi hutan mencari hasil alam. Sejak pagi buta Laskar Ganjil beranjak menuju hutan mencari hasil alakadarnya untuk hidup mereka. Mereka mempersiapkan peralatan yang diperlukan, untuk memotong kayu, berburu atau sekedar memotong tanaman liar yang ada di hutan.

Mereka berangkat mulai pagi buta, hingga sinar Mentari sepenggalah naik mereka masih berkutat dengan lebatnya hutan rimba untuk mencari kebutuhan ala kadarnya. Namun hari itu, Maxelmena mengalami peristiwa janggal, ketika berkutat mencari bahan makanan di hutan, dia menemukan seekor anak anjing berbulu hitam. Anak anjing itu terlihat kusam tak terurus, tubuhnya kurus kering sembari menjulurkan lidahnya terlihat sangat lapar. Sementara sebelah kakinya pincang, nampaknya terluka oleh bekas sabetan senjata seorang pemburu.

Iba melihat anak anjing itu, Maxelmena pun mengulurkan makanan dengan tangannya kepada anak anjing yang malang tersebut. Anjing tersebut mendekat dan menjilati makanan yang dipegangnya. Dengan perlahan Maxelmena mengeluarkan sebuah kain yang ada di saku bajunya, dia pun mengikatkan kain tersebut ke kaki si anjing yang terluka. Setelah membalut lukanya, Max pun berkata.
“Baiklah, kawan! mulai hari ini aku beri nama kamu Kithmir! sekarang kamu akan menjadi anjing penjagaku!” ucap Max sembari mengelus bulu anjing tersebut.
“Nampaknya kita bernasib sama kawan, terasing oleh semua penghuni jagat ini!” ucap Max dengan tersenyum mengingat kesamaan nasib dia dan Kithmir yang terasing di luas dan kejamnya penghuni jagat raya.

Masa itu adalah masa kelam dan kebodohan merajalela. Masyarakat lebih percaya kepada Mitos dan Takhyul ketimbang nalar akal sehat. Orang ketika itu percaya bahwa Anjing Hitam bisa digunakan dalam acara ritual persembahan kepada Dewa-Dewi. Sehingga banyak orang yang berburu anjing hitam hanya untuk mendapat keping uang logam dari para bangsawan atau pendeta kaum Pagan Romawi. Untuk kemudian anjing hitam tersebut dijadikan korban persembahan. Begitu juga yang terjadi dengan Induknya Kithmir, dibunuh oleh para pemburu hanya untuk dikorbankan. Beruntung Kithmir berhasil lolos, namun kakinya terluka oleh sabetan senjata para pemburu tersebut.
Berhari-hari Kithmir terlunta-lunta dengan kaki terluka. Dia tidak bisa berburu makanan karena kakinya yang luka. Dia hanya bisa mengais makanan dari tanah dan debu, berupa cacing ataupun serangga tanah. Tubuhnya mulai kurus kering, dia pun cuma bisa menjilati luka di kakinya. Kithmir hanya bisa mengaung-aung keatas langit mengadu kepada Tuhan memohon pertolongan. Lolongan Kithmir terdengar memilukan, lolongan kesedihan seekor anak anjing yang kehilangan induknya hanya karena keserakahan dan kezaliman manusia. Dalam lolongan tersebut seakan dia meminta Tuhan untuk mencabut nyawanya saja. Dalam keadaan yang hampir mati seperti itu, datanglah Maxalmena yang menyelamatkan nyawanya. Max juga yang memberikan dia makan, mengobati lukanya dan memberi dia nama Kithmir.

Bagi Kithmir, seolah Tuhan telah mengirimkan Maxalmena untuk menolongnya, dia pun menjilati Maxalmena seolah mengucapkan “Terima Kasih” kepada Max karena telah menyelamatkannya. Baginya Maxalmena adalah Pahlawan layaknya Hercules. Mulai hari itu, Kithmir berjanji dalam hatinya akan melindungi majikannya Maxalmena, meski dia harus beradu dengan seekor singa sekalipun untuk menyelamatkan tuannya. Sejak saat itu, Kithmir selalu setia menjadi anjing penjaga bagi tuannya yaitu Maxalmena.
Sementara untuk Maxalmena, meski semua orang semakin mencibirnya dengan sebutan “Pemuda Pembawa Sial” karena memelihara Kithmir yang notabene seekor anjing hitam, dia tidak perduli. Bagi dia cibiran semua manusia di jagat raya ini adalah hal yang biasa. Baginya itu tidak mempengaruhi rutinitasnya dalam berkegiatan sehari-hari.

Pada suatu hari, seorang Raja Romawi bernama Dikyanus geram mendengar pembangkangan oleh Laskar Ganjil. Dia pun memerintahkan kepada para prajurit bersenjata lengkap untuk menangkap dan membunuh mereka untuk dijadikan pelajaran bagi masyarakat yang membangkang. Maka berangkatlah legiun pasukan Romawi untuk memburu Laskar Ganjil.
Mendengar Legiun Pasukan Romawi memburunya, Max dan 6 orang kawannya berniat melarikan diri dari mereka. Mereka pun berangkat pada tengah malam dari kota menuju hutan rimba. Dengan membawa barang-barang alakadarnya untuk kebutuhan bertahan hidup, mereka berlari menembus pekatnya malam menerobos rimbunnya tanaman rimba.
Hingga dirasa sudah cukup jauh dari cengkraman Pasukan Romawi. Laskar Ganjil pun menghentikan langkahnya untuk beristirahat. Di dekat mereka, terlihat mulut gua yang menganga. Melihat ada gua, mereka pun berlindung di dalam gua untuk sekedar beristirahat melepas lelah dan penat setelah sekian lama berlari dari kejararan Pasukan Romawi.
Maxalmena pun memerintahkan anjing penjaganya Kithmir untuk menjaga dia dan kawannya dari hewan melata ataupun hewan lainnya. Sementara Maxalmena dan 6 orang kawannya pun beristirahat di dalam gua. Kithmir pun dengan setia menjaga majikannya.

Kithmir si Anjing Penjaga dengan setia mengikuti perintah majikannya Maxalmena untuk menjaga Laskar Ganjil dari hewan pengerat dan pengganggu seperti Tikus, kalajengking dll. Tidak sejengkal pun dia meninggalkan majikannya selain untuk mencari makanan.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun pun berganti hingga entah sudah berapa lama berlalu. Namun Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika tidak juga terbangun dari tidurnya.
Tapi Kithmir si Anjing Penjaga tetap setia menjaga majikannya. Meski kini dia sudah menjadi anjing tua yang rapuh, dia tetap tidak beranjak dari gua tersebut menjaga majikannya.

Suatu waktu, Kithmir yang tubuhnya sudah mulai tua dan rapuh, berbaring di dekat tubuh majikannya yang tertidur hingga waktu yang lama belum juga terbangun. Dengan mata dan telinga yang terjaga tetap waspada, Kithmir mengawasi sekeliling dari hewan pengganggu. Ekornya tetap mengibas-ngibas untuk menjaga dirinya tetap terjaga, tetapi usia sudah menggerogoti tubuh Kithmir yang sudah tua dan rapuh. Perlahan matanya mulai menutup, berulang kali Kithmir menggelengkan kepala dan telinganya agar tetap terjaga, tapi dia tidak bisa menahan rasa untuk menutup kedua matanya. Kithmir pun menutup kedua matanya, perlahan kibasan ekornya juga mulai berhenti. Seakan Kithmir beranjak memasuki alam tidur panjang. Tidur panjang yang abadi.

Rupanya sang Malaikat Maut datang menjemput Kithmir sembari tersenyum dengan lembut mengelus bulu Kithmir yang terlihat mulai lusuh dan kusam, tak terurus karena setia menjaga majikannya. Perlahan Sang Malaikat Maut mengangkat Ruh Kithmir yang tertidur panjang. Kemudian Sang Malaikat Maut dengan lembut berbisik:
“Tugasmu sudah usai sebagai Penjaga Tuanmu, Kithmir! Kini kau bisa beristirahat dengan tenang!?” ucap Malaikat tersebut sembari terbang membawa Ruh Kithmir ke alam Surga.

Cerpen Karangan: Algi Azhari
Facebook: https://www.facebook.com/algi.azhari

Cerita Kithmir Dan Maxalmena merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Broken Home Is Test For You

Oleh:
Pagi itu aku di beri tau oleh orang tuaku tentang rencana perceraian mereka. Aku tak tau kenapa mereka mau bercerai… Padahal mereka akur akur saja selama ini “jadi gimana

Perpisahan Termanis

Oleh:
“Aku harus pergi meninggalkan kota ini,” ucap Rona memulai pembicaraan. “Tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan sekolah di sana?” tanya kekasihnya. Rona hanya mengangguk perlahan. Matanya menerawang jauh ke arah

Entahlah

Oleh:
“Entahlah” hanya kata itu yang bisa ku katakan saat melihat whatsapp ku tak dibalas olehnya. Aku selalu memulai dan aku selalu mengakhiri setiap pembicaraan dengannya “mengenaskan” kata yang muncul

Regret

Oleh:
Biar hujan datang membasahi bumi, aku masih termenung dalam renungku. Terdiam, menatap rintik air berjatuhan ke tanah. Enggan ku, untuk beranjak dari disini. Dari tempat ini. Kilatan petir bak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kithmir Dan Maxalmena”

  1. zulkifli says:

    wah ceritanya bagus sekali. Mirip cerita ashabul kahfi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *