Komplotan Teroris Azabal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Sedih, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 25 August 2016

Namaku Ashara. Hari ini aku akan pergi ke hotel. Tepatnya The Edge Semarang. Bersama ayah, ibu, dan saudara kembarku yang bernama azahra. Dia lebih lambat lahir 5 menit dari aku. Otomatis aku adalah kakaknya.
Aku masih bingung kenapa ayah mengajakku pergi berlibur ke hotel yang sangat jauh, sampai ke Semarang pula. Mengapa ayah tidak menyewa hotel di Jakarta saja. Semua ini membuatku sedikit bingung.
Aku pun memutuskan untuk bertanya. “Ayah, kenapa sih kita berlibur di semarang? Kenapa tidak ke Jakarta saja yah. Atau ke Bandung tempat rumah nenek?”
Ayah pun diam sejenak dan raut mukanya seperti orang kebingungan. “Eemmm… gini gini. Ashara, sebenarnya kita ke Semarang bukan untuk berlibur. Tapi untuk menyelamatkan keluarga kita ini nak”
Semua perkataan ayah itu menambah rasa bingung aku ini. Apa maksud ayah sebenarnya sih?. Tapi semua itu cepat cepat kulupakan. Aku dan azahra malah tertidur.

Saat kami sedang tertidur pulas, ibu membangunkanku dan rupanya kami sudah sampai di hotel The Edge. Aku sangat senang disana. Hotelnya sangat besar dan mewah. Eh gak lama terdengar suara perut keroncongan. Ternyata suara perut keroncongan itu adikku yang lapar “bu, zahra udah lapar nih. Kita makan dulu ya” “ohh sudah lapar ya, ya udah deh kita makan dulu ya”

Kami pun masuk dan memesan kamar hotel. Kami dapat kamar nomor 215 yang berada di lantai 2. Setelah dapat kamar kami langsung ke restoran hotel. Disana kami makan dengan lahap. Usai makan, kami kembali ke kamar dan merapihkan baju bawaan kami.
Tapi perasaanku tidak enak, aku merasa dari tadi ada yang mengikuti keluargaku. Bulu kudukku berdiri. Tapi sudahlah, ini sudah jam 9 malam. Kami pun segera tidur.

Saat jam 12 malam ada yang mengetuk pintu kamar kami. Apa mungkin sih, petugas hotel datang jam 12 malam begini? “Yah, ayah. Pintunya ada yang mengetuk yah, ayah bangun ayah.” Saat ayahku bangun tak ada lagi suara ketukan pintu itu. “Mana sih? Gak ada ashara. Sudahlah mana ada petugas hotel datang jam segini. Kamu halusinasi kali, kebanyakan nonton film horror. Hahaha”
“Ish ayah. Aku gak halusinasi, jelas jelas tadi ada ketukan pintu”
Ayah pun tidak menghiraukan perkataan ku dan kembali tidur.
Aku juga kembali tidur dan menarik selimut sampai wajahku tertutupi.

Teng tong teng tong… jam beker berbunyi. Ini sudah jam 6 pagi. “Ashara, azahra. Bangun nak sudah pagi ini” “azahra masih ngantuk bu” “sama nih bu ashara masih ngantuk, hoaheemm”
“Ohh ya sudah, gak mau ikut ibu ke mall nih? Ga papa sih.” Ibu sambil mengejek kami.
“Mau” serentak aku dan zahra. Kita pun segera mandi, abis itu makan.

Saat aku dan zahra lagi handukan di kamar mandi. Ayah dah ibu sepertinya sedang membicarakan sesuatu
“ayah, apa benar benar aman. Jika ibu mengajak anak anak ke mall?”
“gak papa lah bu. Kayaknya kita sudah jauh dari Jakarta. Berdoa saja agar kita tetap aman”
“iya yah”
Semua ini tentu membuat aku semakin bingung. Adik juga bertanya kenapa ibu dan ayah ngomong seperti itu.

Tepat jam 11 aku dan keluargaku pergi ke pragon city mall. Kami sangat bahagia disana, kami nonton bioskop, makan pizza, dan main time zone. Abis main time zone keluargaku kembali ke hotel. Dan yang pertama masuk kamar itu aku. Tak sengaja aku menginjak surat yang tertutup rapat dengan amplop. Aku ambil dan kubuka. Surat itu berisi tulisan “HIDUP KALIAN TIDAK AKAN LAMA LAGI!” Surat itu ditulis dengan tinta merah pekat yang tak rapih.
“hah? Surat apa ini? Benar kan semalam jam 12 tepat, ada yang mengetuk pintu dan saat kubangunkan ayah, suara ketukan itu sudah tidak ada lagi”
Ayah dan ibu merasa kebingungan, sedangkan adikku azahra memelukku dengan erat.
“nak, sini duduk”
Aku dan adik duduk dekat ayah dan ibu.
“nak, disini kita sedang berlindung. Ayah dan ibu punya musuh di perusahaan. Ada orang yang merasa tersaingi karena perusaan ayah lebih maju daripada perusahaan dia. Orang itu meneror kita. Dia bilang, kita tidak boleh melapor polisi. Kalau tidak kita akan diculik ke luar negeri dan dibunuh. Ayah dan ibu tidak mau akan hal itu. Tapi kita juga tidak mau menutup perusahaan ayah. Akhirnya kita memutuskan untuk pergi belindung di semarang ini. Dan ayah tidak mengira kalau teroris teroris itu akan mengikuti kita sampai sini. Sekarang ayah bingung harus bagaimana lagi”
“yah gak mungkin kan kita diteror setiap hari kayak gini. Mau gak mau kita harus lapor polisi”
“adik benar yah. Masa iya kita diteror setiap hari kayak gini.”
“iya yah. Apa sebaiknya kita lapor polisi kejadian ini semua.”

“hallo pak polisi. Saya Husein Widyosuroso sedang diteror oleh komplotan Azabal PT. Pekan Rasa. Sekarang saya sedang berada di Hotel The Edge Semarang pak, kamar no 215. Tolong jaga ketat kami pak. kami benar benar sedang terdesak. Terima kasih”
“baik, segera pak!”
Seusai ayah menelpon polisi, setidaknya keadaan sedikit menenangkan.

Aku dan keluarga pergi ke bawah untuk makan, karena kita belum makan malam. Setidaknya polisi akan datang.
Karena keadaan tadi amat sangat membuat panik, sampai sampai ayah lupa untuk mengunci pintu. Aku juga merasa ada yang mengikutiku.
Jangan jangan… aku menolehkan kepala.
“Ayah, ibu, adik, sedikit cepat jalannya ya. Aku merasa ada yang mengikutiku tadi, saat aku menengok ada orang yang sedang mengumpat tetapi kelihatan bajunya warna hitam. Aku sedang tidak halusinasi saat ini. Tolong kali ini percaya denganku” kami pun dengan cepat segera naik lift dan turun untuk makan, seusai makan kami naik lagi ke kamar. Tetapi polisi polisi juga belum datang. Tapi kami maklumi, karena disini kantor polisi sangat jauh. Kami masuk kamar dan ayah sadar kalau pintunya lupa dikunci.

Aku, ayah, dan ibu udah mandi, tinggal adik saja yang belum mandi. Dia memang malas madi, hahaha. Adik mandi dan aku hanya menonton TV sambil ngemil makanan ringan bersama ayah dan ibu. Tapi… aku heran deh, tumben adik mandi sangat lama. Dia kan kalau mandi sangat cepat seperti mandi coboy. Ahhh ini gak mungkin mandi sampai setengah jam. “Ibu, adik mandi lama banget sih ya? Gak keluar keluar”
“adikk.. mandinya lama banget sih” ibu mencoba memanggil adik dengan teriak.
Saat ibu memanggil adik, suara air dari keran pun berhenti. Tapi adik tidak menyautkan.
“Zahraa.. lama banget kamu dik”
Azahra tidak menyautkan.

Aku mencoba mendekati kamar mandi. Perasaan aku ini benar benar tidak enak. Aku buka pintu kamar mandi dan pintunya dikunci. Semuanya panik, dari aku, ibu, sampai ayah.
“polisi mana sih?”
“Ayah tunggu disini, dan coba buka pintunya ya. Aku sama ibu ke bawah sambil nunggu pak polisi”
“ya sudah sana shar, cepat ya”

Aku dan ibu berlari ke bawah hotel.. tak lama…
ngiungg ngiungg ngiungg….
Suara mobil polisi. Semua mata para pengunjung hotel tertuju pada kami. Semua pada heran mengapa ada polisi.
“Pak, cepat pak. Sepertinya ada yang tidak beres pak. Adik saya pak…”
“baik nak.”

Kami segera ke kamar 215. Pengunjung hotel dan karyawan ikut juga, ada yang ingin membantu dan ada juga yang sekedar kepo.
“pak, pintu kamar mandi ini terkunci dan anak saya tidak ada sautannya pak” sambil menangis.
“baik, akan kami coba dobrak pintu ini ya pak”
“1… 2… 3.. hiyattt!” tidak terbuka “1… 2… 3.. hiyattt!”
“hah? Ya Allah azahra!”
Ada azahra yang tergeletak, lehernya penuh dengan darah dan ada satu orang berjubah hitam membawa pisau dan pistol.
“diam anda disitu atau saya akan tembak!”
“saya punya pistol dan pisau. Mau apa anda? Jangan berani dengan saya. Saya punya senjata. Atau saya akan tembak kamu polisi bodoh!” sambil mengejek polisi.
Disana semua sudah pada bingung mau berbuat apa.
“pasukan 86! Serang diaa!” jedar jedar!
Teroris itu lengah dan kena tembakan pak polisi di kakinya. Kami pun beralih pada azahra adikku.

“coba yah cek denyut nadinya” sambil menangis
“innalillahiwainnalillahirojiun. Azahraaaa! Bu, azahra sudah pergi meninggalkan kita”
Ibu pun pingsan.

Tim medis mencoba memberikan minyak kayu putih pada hidung ibu agar ibu bisa siuman kembali. Alhamdulillah ibu kembali bangun.
“ayah, ini resiko kita lapor polisi. Bakalan ada keluarga kita yang dibunuh. Azahra korban dari semua ini. Ibu minta komplotan azabal itu dihukum MATI! apalagi yang sudah membunuh anak kita!”
“ini juga salah ayah, maafin ayah ya bu. Ayah lupa mengunci pintu dan akhirnya teroris itu masuk ke kamar kita”
“tidak apa yah. Kita harus tabah. Ini semua takdir Allah”

Sehabis itu keluargaku kembali ke Jakarta. Kita sibuk ngurusin jenazah adik. Setelah diurus adik akhirnya dimakamkan. Disana aku benar benar serasa lagi bermimpi. Tidak mungkin adikku dimakamkan. Tidak mungkin. Aku, ayah, dan ibu masih belum bisa menerima keadaan.. sampai akhirnya kami sadar. Ini semua takdir Tuhan.

Tamat.

Cerpen Karangan: Shalwa Syahrika Zachra
Facebook: Shalwa Zachra
Hallo kawan. Namaku Shalwa Syahrika Zachra. Sekarang aku kelas 6 SD. Gimana cerita tadi? Seru tidak. Maaf ya cerpen ku belum sempurna, karena aku masih belajar. Aku ingin seperti penulis terkenal Asma Nadia. Menurutku dia sangat hebat. Ohiya, jangan lupa untuk komentar tentang cerpenku ini ya kawan kawan

Cerpen Komplotan Teroris Azabal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dongeng Gadis Pemimpi

Oleh:
Namanya Leyra Amartha. Nama indah pemberian ayah dan ibunya. Tahun ini Leyra genap berusia 16 tahun. Kata orang-orang, ia memiliki wajah bulat yang manis, dengan bola mata coklat, dan

Ulang Tahun Terakhir Anne

Oleh:
Bingung. Akan memberikannya sebuah kado apa. Hmmm, aku memutuskan akan memberikan Anne sebuah boneka tedy bear. Anne adalah gadis yang sudah menjadi sahabatku selama 4 tahun. Sayangnya ia menderita

Maaf Untuk Ayah

Oleh:
Aku dibesarkan di tengah pemukiman kumuh. Di lingkungan yang orang-orangnya hidup dengan mengais sampah. Di rumah yang hanya terbuat dari kardus, yang bisa runtuh jika diterpa angin. Ayahku sendiri

Gelas Bocor

Oleh:
Ada 2 orang sahabat, tepatnya sih 2 orang perempuan. Mereka bekerja di perusahaan yang sama, mereka bernama karina (ran) dan syahila (lala) Pada suatu ketika ran mengajak lala makan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *