Kota Kedua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 May 2017

Sore itu angin bertiup cukup kencang dari utara. Langit mendung namun tanpa hujan. Tamara berjalan lunglai melewati jembatan layang dari gedung perpustakaan menuju gedung fakultasnya. Memang kedua gedung itu disatukan dengan sebuah jembatan layang di atas jalan yang membelah kampusnya menjadi dua kubu, yaitu kubu barat dan kubu timur. Seperti biasanya, ia dipaksa keluar perpustakaan karena urusan tanpa kompromi. Kali ini urusan itu berkaitan dengan kuliahnya.

Ia seorang kutu buku. Tapi tanpa kaca mata. Wajahnya tak seperti kutu buku lainnya. Hari itu ia memakai kerudung merah, dengan long dress lengan panjang (gamis = pakaian muslimah) ala kaum sosialita dari kalangan muslim. Ia memang sangat berbeda, kalau biasanya kutu buku tampil dengan keculunan dan kelecekannya —hasil kontruksi sosial— ia malah sebaliknya. Termasuk perempuan idaman fakultas. Kutu buku yang fashionable dan berwibawa. Semakin berkilau karena kecerdasannya yang seringkali membinasakan musuh politiknya. Tentu saja itu artinya ia adalah seorang aktivis pergerakan yang berkecimpung di birokrasi kampus. Sayangnya ia bukanlah mahasiswi hukum ataupun politik, sedikit beda wadah karena ia mengambil konsentrasi di jurusan sastra salah satu perguruan tinggi Islam di Yogyakarta. Bukan tanpa alasan, baginya —agama, politik dan sastra adalah tiga hal yang saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan. Tak heran banyak yang mengaguminya baik dari kalangan senior maupun junior. Sayangnya kilauan itu menyilaukan mata, sampai tak ada yang tau bahwa gejolak hidupnya jauh dari apa yang diprasangkakan semua orang terhadap dirinya.

Memasuki pintu gedung fakultasnya lantai 3, suara gemuruh datang dari bawah. Bukan hal yang mengejutkan, karena memang gedung fakultasnya berbentuk lingkaran mengitari taman kecil yang berada di lantai 1. Di taman itu terdapat panggung berukuran sedang yang sering disebut dengan istilah panggung demokrasi. Semua yang ingin mengutarakan isi hati —tanpa syarat— dipersilahkan berdiri di sana. Anehnya waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, tidak biasanya ada mahasiswa yang mengisi panggung demokrasi menjelang petang. Karena memang sudah sepi. Budaya yang mendarah daging di sana bahwa waktu strategis mengisi kekosongan panggung itu adalah siang hari. Pagi sepi karena mahasiswa berbondong-bondong merebahkan tubuh untuk tidur, petangnya mereka berbondong-bondong ke tempat diskusi. Entah ke warung kopi maupun basecamp masing-masing untuk kemudian pulang larut malam atau mungkin dini hari.

Ia menyempatkan diri menengok ke bawah, ternyata diluar dugaan. Di panggung itu berdiri dua orang pemuda dengan dikerumuni banyak orang. Ia tertarik untuk turun dan melihat apa yang terjadi. Karena memang menurutnya panggung demokrasi itu lebih menyenangkan dari pada suasana kelas yang sejuk diiringi lantunan dongeng para dosen yang membius dirinya menuju dua hal, mengenang atau tertidur. Belum tuntas pula cerita ironisnya yang kehilangan sahabat tercintanya, sosok perempuan tangguh yang banyak menjadi pendobrak semangatnya karena tragedi gas air mata saat berunjuk rasa di perempatan titik 0 Km. Membuatnya meramu dendam masa lalu terhadap para penguasa beserta antek militernya. Suara riuh di lantai dasar membuyarkan lamunannya. Ia segera berlari menuju kerumunan itu.

“Ada apa” tanyanya pada seorang audien.
“Eh kak tamara, ini kak ada orasi budaya” jawabnya sambil meringis.
“Siapa pelopornya?”
“Anak pergerakan sebelah” sahutnya tegas.
Tamara memungut pamflet yang tak sengaja diinjaknya, terbaca jelas nama sastrawan kondang tertera menjadi headline. “Pramoedya Ananta Toer (Terusir dan tenggelam)”, tamara mulai membaca. Sekilas ia nampak mengernyitkan dahi sembari tersenyum sinis. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Sementara para orator masih terus mendendangkan ocehannya. Berusaha memperngaruhi audien yang sibuk berbincang sendiri, seakan tengah mendiskusikan ocehan yang sedari tadi didengarnya. Tamara mengamati —beberapa diantaranya— para mahasiswa yang dikenalnya sebagai penggemar berat Pramoedya Ananta Toer —tokoh yang akrab dipanggil pram tersebut.

Ditengah kesibukannya menerka gerak gerik objeknya, tiba-tiba seorang pemuda naik panggung dan mengambil paksa pengeras suara. Seketika semua perhatian tertuju padanya.
“Salam Mahasiswa!! Saudara-saudara sekalian, ini adalah bentuk kedangkalan intelektual, kecacatan pemahaman dan krisis bahan bacaan. Saya di sini tidak untuk menyalahkan, tidak untuk menyamakan ideologi dan tidak untuk memperngaruhi. Saya hanya ingin melakukan apa yang sepantasnya saya lakukan. Bukan karena saya penggemar berat Pram, bukan pula karena saya lahir di tanah yang sama dengannya.. Blora. Namun barangkali benar kata Soe Hok Gie bahwa apa yang lebih puitis selain berbicara tentang kebenaran. Dari tadi saya mengamati para orator berbicara seperti domba yang kelaparan, tanpa timbang menimbang bahasa. Dengan kalimat yang tak sepantasnya disampaikan mahasiswa yang katanya agent of change and agent of control!! Bagaimana mungkin dengan instan mereka berkoar-koar bahwa Pram adalah komunis yang keji, menghalalkan segala cara untuk membenarkan ideologinya. Lebih keji mengatakan bahwa karya pram adalah bentuk penghinaan massal terhadap sastrawan seperjuangannya tanpa perikemanusiaan? Sementara dari tadi saya menyaksikan dengan seluruh indra saya, para orator yang bentuknya manusia ini tidak memanusiakan manusia juga!! Betapa ironisnya, mahasiswa masih menjadi pecandu kontruksi sosial, penilaian nenek moyang, korban media dan kekuasaan!! Saya di sini mengambil sikap, menegaskan bahwa semua yang disampaikan kedua orator tadi adalah bualan sampah yang tidak benar karena tidak didasari kejujuran akan sejarah yang sesungguhnya!!” Pemuda itu terus berteriak tanpa titik dan koma.
Semua audien mendengarkan dengan seksama, para orator mulai naik darah. Wajahnya terlihat merah padam. Nampak salah satu diantaranya mengeluarkan handphone. Seketika segerombol pasukan organisasinya datang dan mengerumuni orator yang tak diundang tersebut. Panggung terlihat mulai memanas, audien juga tak mau tinggal diam. Seperti biasanya, baku hantam mulai berkeliaran. Tamara segera mundur seribu langkah. Ia tak mau ikut campur. Lebih baik pulang.

Di perjalanan ia terus terngiang-ngiang nama itu. “Pramoedya..” ia bergeming. “Apa yang sebenarnya terjadi padanya??”. Ia teringat diskusi terakhir yang tak tuntas dengan Lediska—sahabat tercintanya yang telah menghadap sang Tuhan —ialah tentang kebenaran keterkaitan Pram dengan PKI. Tamara terus berfikir tanpa sadar justru ia mulai mengenang.

Seminggu kemudian, Tamara memutuskan untuk mencari tahu tentang kebenaran latar belakang Pram. Ia mencoba mencari jawaban dari tema diskusi terakhirnya dengan Lediska. Seharusnya diskusi itu tertutup dengan kesimpulan, tapi malangnya justru ditinggal oleh narasumber dalam keadaan belum kelar. Tak tanggung pula, ditinggalnya bukan karena menumpang ke kamar mandi sebentar, tapi karena takdir Tuhan. Menjadi kesimpulan sebuah perpisahan yang tak kenal pertemuan sebelum kematian datang pada jiwa Tamara. Ia membulatkan tekat hijrah ke tanah kelahiran Pram —ialah blora— dan untuk pertama kalinya meninggalkan kota Yogyakarta.
Memerlukan waktu 7 jam untuk sampai ke kota blora. Ia menempuh perjalanan menggunakan travel. Tempat tujuan utamanya ke blora tentu saja menyambangi perpustakaan peninggalan Pram yang dikenal dunia dengan nama perpustkaan PATABA (Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa). Memang nama Pram sudah tak asing lagi di kancah internasional meskipun menjadi korban ketidak adilan di dalam negeri sendiri. Di sanalah episode baru dimulai.

Terik mulai membakar kota blora yang nampak sepi dan panas. Tamara mulai merasa dehidrasi dan kelelahan. Untungnya dari kejauhan gedung dengan bertuliskan PATABA mulai terlihat mata. Ia segera berlari, seperti pengembara yang terjebak oleh oase dan melihat fatamorgana di gurun pasir. Kesejukan langsung terasa ketika ia menginjakkan kaki ke pintu utama PATABA dengan disambut seorang pustakawan tampan nan ramah.
“Selamat siang mbak, duh kepanasan ya?” tanyanya dengan senyum manis memperlihatkan gigi gingsulnya yang indah.
“Enggeh mas, gak nyangka blora lebih panas dari pada jogja ya..” jawabnya sambil mringis,
“Haha, beginilah kondisi geografi kami mbak.. hanya orang tangguh yang bertahan hidup di sini.”
“Nah kok bisa?” Tamara mengernyitkan mata.
“Lha iya, sebagian wilayah blora berada di area pegunungan kapur. Air terbatas, pertanian utamanya sawah hidup dengan tadah hujan. “ jawab pemuda itu dengan serius.
“Haha, oh iya deh percaya. Kamu…??” belum selesai Tamara bertanya, pemuda itu sudah memotong kalimatnya. “Saya Elang mbak, pustakawan dis ini. Asli Blora, pecinta mbah Pram dan tulen lulusan ilmu perpustakaan, jadi bukan pustakawan karbitan apalagi gadungan. hehe.” Ia menyodorkan tangan mengisyaratkan mengajak berjabat tangan.
“oh ya.. namaku Tamara, Tamara El-Kaesy. Aku dari Yogyakarta, aku ke sini ingin berkenalan dengan mbah Pram.. sahabatku penggemar beratnya, aku mendapat PR untuk memecahkan teka-teki tentang kehidupan mbah Pram.” Tamara tak kalah ramahnya.
“waduh…”
“Kenapa? Ada yang salah?” Tamara segera menyela.
“Ndak gitu mbak, bahasa mbak itu loh… anu, hmm.. anak sastra ya?” Tanya elang penuh keyakinan. “Pram memang benar-benar jadi korban sistem yang korup, korban ambisi kekuasaan dan kekotoran dunia perpolitikan. Ketika berbicara kepentingan memang banyak manusia yang lupa dengan sisi kemanusiaannya. Makanya banyak mahasiswa datang kemari untuk sekedar menyejukkan dahaga mereka tentang kisah Pram yang sesungguhnya mbak”.
“Kamu anak sastra juga?” Tamara ganti bertanya.
“Kan sudah saya bilang saya lulusan ilmu perpustakaan” Jawab elang sembari menggaruk kepala.
“Nah emangnya anak sastra harus mereka yang ngambil jurusan sastra?”
“Haha, jadi apa yang bisa saya bantu mbak tamar eh ra?” Elang nampak canggung.
“Kalau kamu tak keberatan, bantu aku mengelupas semua tentang perjalanan Pram. Biar tuntas pula apa yang menjadi impian sahabatku”
“Lah kenapa sahabat mbak tama ndak diajak sekalian?” Tanya elang penasaran.
“Dia sudah bahagia di surga, mungkin lagi ngobrol langsung sama mbah Pram… sedang aku di sini harus menahan rindu padanya yang sudah tertelan dan tak mau dimuntahkan”.
“Maaf mbak maaf, aduh.. beneran saya ndak bermaksud, eh ndak sengaja eh ndak tau” Elang semakin salah tingkah dan merasa bersalah.
“Tenang, aku sudah mulai mengiklaskannya..” jawabnya singkat.
“Baiklah kalau begitu, kapanpun dan di manapun mbak butuh saya cukup panggil nama saya tiga kali, tapi kalau jarak jauh berarti mesti telpon saya beberapa kali, hehe” elang mencoba menghibur. Mereka nampak semakin akrab. Pertemuan pertama mereka gunakan untuk saling mengenal satu sama lain. Berbagi cerita dan bersendau gurau.

Hari demi hari terus berlalu. Buku catatan Tamara mulai terpenuhi. Hampir semua pertenyaan itu terjawab. Tentu saja tak lepas dari bantuan pustakwan ramah dan tampan alias si Elang. Kini ia tahu bahwa Pram adalah sastrawan yang mengedepankan realisme sosialis sastra di Indonesia. Dari berberapa sumber juga ia ketahui bahwa meskipun Pram aktif sebagai salah satu anggota Lekra, namun tak ada bukti yang menyatakan bahwa ia memiliki ideologi komunis. Bahkan Pram sendiri dalam sebuah perbincangan —obrolan ringan— mengatakan bahwa dirinya lebih percaya dengan ideologinya sendiri yang ia sebut dengan Pramisme. Dan memang masih banyak cerita menarik yang ia dapatkan di sana utamanya tentang Pram, dan selanjutnya tentang Elang. Tamara dan Elang, keduanya semakin dekat. Barangkali benar yang dituliskan Pram bahwa cinta adalah anak dari kebudayaan. Orang jawa mengenalnya dengan istilah witing tresno jalaran soko kulino (cinta ada karena terbiasa). Malam-malam terakhir Tamara makin pusing dibuatnya, karena pemuda berkulit putih dan tinggi dengan gigi gingsul khasnya itu terus menyita jam istirahatnya melalui dunia tak terlihatnya. Memang musuh yang terlihat lebih menyenangkan dari pada musuh yang tak terlihat, karena musuh di depan mata lebih mudah ditaklukkan dari pada musuh yang ada di hati dan pikiran.

Waktu berjalan sangat cepat. Tamara harus kembali ke Yogyakarta kerana ujian semester akan segera tiba. Tentu saja satu bulan setengah ia di Blora sudah cukup untuk menabung recehan tugas. Setelah berpamitan dengan beberapa teman barunya, ia berpamitan ke Elang. Sialnya justru hal aneh terjadi. Antara keduanya —Tamara dan Elang— diam seribu bahasa. Hanya berjabat tangan dan saling berterima kasih, lantas Tamara pergi.

Mendung mulai nampak dari ujung kota Blora. Elang duduk gelisah di depan Perpustakaan. Menyesalkan kepayahannya menyampaikan sesuatu pada Tamara. Tapi waktu tak mau tau. Ada sesuatu yang memang tak bisa diajak kompromi, tak bisa diajukan dan diundurkan, ialah perpisahan. Ditengah kegelisahannya, handphone Elang berbunyi. Pipinya merah jambu saat tahu itu panggilan dari Tamara. Cepat-cepat ia mengangkatnya. Tapi ekspresinya bertolak belakang dari gelagat sebelumnya. Wajahnya menjadi merah madam, kemudian pucat pasi. Ia berlari kalang kabutan mengambil sepeda motornya lalu menghilang dengan cepat bak supermen yang dipanggil monsternya. Alhasil telepon itu datang dari kantor kepolisian, member informasi bahwa travel yang dinaiki Tamara kecelakaan di daerah Purwodadi. Duka langsung menyeruak dalam jiwa Elang ketika tahu Tamara tak bernapas lagi. Ia laksana pena kehilangan tinta. Sekali lagi, sungguh musuh yang terlihat lebih menyenangkan dari pada musuh yang tak terlihat.. Karena musuh yang ada di depan mata lebih mudah ditaklukkan daripada musuh yang ada di hati dan pikiran, kenangan dan harapan —entah di antara keduanya— mana yang menjadi musuh terberat manusia.

Cerpen Karangan: Lusia Ega Andriana
Facebook: Lusia Ega Andriana
Lusia E.A lahir di Ngawi, 15 Juli 1995. Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga dan bergiat di Sanggar Teater ESKA.

Cerpen Kota Kedua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadiah Terindah

Oleh:
Ternyata benar tuhan akan selalu menguji insan yang menjalin cinta. Aku Reni siswi SMA, aku duduk dikelas XII IPA 1. Ini berawal dari putih abu-abu. Aku mempunyai seorang kekasih

Cinta, Cita dan Kita

Oleh:
Cinta cinta dan cinta adalah suatu kata yang nggak ada matinya untuk dibahas. Kata yang mempunyai makna yang luas dan arti yang berbeda dalam masing-masing individu. Love is never

Tempat Terakhir

Oleh:
2 sahabat, Vira dan Arya, selalu berpetualang mencari tempat-tempat yang asik dan indah buat mereka kunjungi, udah banyak tempat yang mereka kunjungi, dari dalam kota maupun luar kota, ini

Sahabat Terindah

Oleh:
Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar tepatnya kelas empat. Di sekolah aku mempunyai dua orang teman yang menurutku berbeda dengan teman-temanku lainnya, ada yang nama nya

Saat di Taman

Oleh:
Di minggu pagi yang cerah aku (adel) dan sahabatku anisa berjalan jalan di taman, pada suatu ketika saat aku dan anisa sedang mengobrol, tiba-tiba ada seorang cowo melintas di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *