Kucing Buta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 September 2021

Matahari sungguh terik. Aku kini tengah berjalan menggunakan keempat kakiku. Aku adalah seekor kucing jalanan, namaku adalah Oren.

Perutku terasa amat perih menahan lapar. Kulalui beberapa jejak manusia, mengharap ada yang mau memberiku sisa-susa makanan. Namun malah sebaliknya, manusia manusia itu malah menyakiti. Beberapa anak manusia ada juga yang mempermainkanku, dengan geram akupun mengeluarkan kukuku dan mencakar kulit mereka. Seketika dari kulit mereka bercucuran cairan merah nan kental.

Aku kira manusia memiliki hati nurani, namun ternyata mereka lebih seperti hewan. Sebenar aku juga ingin memiliki tuan yang baik hati seperti kucing lainnya. Bahkan kucing lain tidak ada yang mau berteman denganku, mungkin karena aku kucing yang jorok dan bau.

Mengapa Tuhan tidak adil? aku sungguh muak dengan tingkah para manusia, yang lalai akan dunianya saja, apakah mereka tidak ingat mati?

Awan di langit mulai memggumpal. Kilatan putih itu mulai menyambar secara bergantian di ambang cakrawala, bagaikan cemeti listrik yang mencambuk alam. Perlahan namun pasti, buliran-buliran gerimis itu tak lama menjelama menjadi hujan yang sangat deras.

Hawa terasa dingin, menusuk hingga ketulang. Aku sedang berteduh di sebuah emperan toko, huh… andai aku memiliki tempat tinggal.

Hujan telah reda, aku kembali menjejakkan kakiku di tanah bumi yang telah basah. Aku memandangi seekor kucing jantan berwarna hitam itu tengah bermain sendiri. Mungkin ia kucing baik, akupun berlari menghampirinya. Jarakku dengan kucing tersebut sudah sangat dekat, hening beberapa saat.

Kemudian aku menyapanya, “Hai sobat, siapa namamu?”
Kucing tersebut membalikkan badannya dan dari bibirnya terukir sebuah senyuman. Alangkah terkejutnya aku, ternyata kucing tersebut buta. Namun ia tetap bersyukur dan tak mengeluh. Sementara aku yang memiliki fisik yang sempurna, hanya mengeluh dan mengeluh sepanjang hari. Aku sungguh malu pada Tuhan dan kepadanya.

“Namaku Brie,” jawab kucing tersebut.
“Apakah kau mau menjadi temanku?” tanyaku.
“Tentu saja kawan,” jawabnya.

Akhirnya aku dan Brie menjadi sahabat. Kemana-mana kami selalu bersama, walau suka dan duka kami tetap bersama.

Aku menjejaki kakiku menuju tempat kediamanku dan Brie. Aku kini sedang mengapit seekor ikan di mulutku.

Beberapa saat kemudian….
Aku melihat Brie sedang berada di tengah jalan, dan sebuah mobil siap menghantam tubuhnya. Aku segera berlari kearah Brie, untuk menyelamatkannya.

Tapin naas, hantaman dari mobil itu sugguh tak dapat dihindari lagi. Cairan merah nan kental membasahi tubuhku dan Brie. Akhirnya nyawa kami menghilang dari raga kami, mungkin inilah takdir dari Tuhan, yang tak dapat ditebak oleh makhluk ciptaan-Nya.

TAMAT.

Cerpen Karangan: Tinta Hitam
Blog / Facebook: Tini-tini
Kenalkan nama saya Marwan Syah, berasal dari NAD (Provinsi Nanggro Aceh Darussalam)
Saya saat ini kelas 7 mtsn.
Misalnya suka sama cerpen cerpen saya berikan kritik atau saran agar saya menjadi lebih baik ke depannya.
Siapa di sini ada dari Langsa? komen ya!

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 5 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Kucing Buta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku Ibu

Oleh:
Derapan langkah kakiku menggendang di telingaku. Guratan kekecewaan tergambar di wajahku. Aku merasa gagal menjadi anak yang baik pada orangtua. Hembusan angin menggerakkan rambutku, aku tengah duduk di sebuah

Arti Hidup

Oleh:
Namaku Karin, kalau pilihan hidup itu ada aku mau banget ngejalaninya. Pagi itu aku terbangun dari tidurku yang terjaga. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 08.00 WIB. Aku beranjak dari

Kini Kita pun Berpisah

Oleh:
Sudah seminggu aku tinggal di sebuah kompleks perumahan yang berada di daerah kota Bandung. Aku dan keluargaku baru pindah di kompleks ini. Sekarang aku bersekolah di SDN. 05 BANDUNG.

Lelaki Berselimutkan Duka

Oleh:
Wajah itu sudah tak teramat asing bagiku, rautan wajah penuh wibawa dan tegas, terbingkai oleh rahang segi empatnya, terlihat ada ketegaran sikap dalam rona wajah itu. Diterangi oleh keremangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *