Kucing Kesayangan Nita


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 5 June 2013

Di sebuah kompleks yang bernama “nusa jaya” berjejer rumah-rumah yang bentuknya hampir sama. Salah satu dari rumah itu, terdapat sebuah keluarga bahagia yang memiliki seorang anak perempuan berusia 4 tahun. Ia sangat cantik dan lucu, namanya Nita. Orang-orang di kompleks itu hampir semua mengenalnya karena nita anaknya sangat pintar bergaul, ramah dan menyenangkan. Nita adalah anak pertama dari pak yoga dan bu yoga. Ia sekarang duduk di taman kanak-kanak mentari. Ia termasuk anak yang cerdas karena sebelum tk ia sudah bisa membaca. Nita begitu di sayang oleh ayah dan ibunya karena ia adalah anak semata wayang mereka, tapi hal itu tak membuat ia manja justru ia malah tambah menyayangi dan menghormati orang tuanya.

Pada hari minggu pagi, kira-kira jam 05.15, pak yoga, bu yoga, dan nita jalan pagi mengelilingi kompleks perumahan. Mereka rajin melaksanakan rutinitas pada setiap minggu pagi karena hari-hari sebelumnya mereka harus melaksanakan kegiatan yang mengundang lelah. Ketika mereka sedang berlari-lari kecil, tiba-tiba nita berhenti. “loh nita, kamu kenapa kok berhenti?” Tanya ayahnya. “lihat pa! ada kucing kecil yang lucu terlantar disini sendirian, dia pasti kelaparan. nita kasihan pa melihatnya. Boleh tidak kucing ini nita rawat pa?” pinta nita dengan polosnya. Melihat kepolosan anaknya itu bu yoga tersenyum dan berkata “tapi apa kamu bisa merawatnya nita? Nita aja kalau malam masih sering tidak gosok gigi kok?” Tanya bu yoga sembari menggoda anaknya itu. “ih, mama tapi aku kasihan melihatnya. Apa mama tidak kasihan? Lagipula dia juga lucu lho ma” kata nita tak mau kalah. “ya sudah kamu boleh merawatnya, tapi janji ya harus benar benar di rawat dengan baik dan benar?” kata ayahnya menengahi. Wajah nita yang tadi iba menjadi sumringah “horeeeee aku punya hewan peliharaan baru! Makasih ya pa, makasih ya ma!” kata nita sembari hendak menggendong kucing itu. “eh nita jangan di pegang dulu! Kucing itu kan masih kotor nanti kamu jadi sakit karenanya. Nih pakai maskernya. Dan biar papa yang memindahkannya” seru ayahnya. Nita yang mendengar larangan itu langsung menghentikan niatnya, “oh iya ya pa!” kata nita sembari menepuk dahinya, iapun segera menggunakan masker. Ketika akan di tangkap pak yoga, kucing itu tidak melawan, kelihatannya ia tahu maksud baik nita.

Dan akhirnya jalan pagi itu mereka akhiri dan pulang ke rumah. Sampai di rumah, kucing itu diletakkan di kandang, sedangkan nita beserta ayah dan ibunya berganti baju. Setelah berganti baju, nita menghampiri ibunya “ma, ayo kita mandikan kucingnya, ayo ma!” kata nita sembari menarik baju ibunya yang hendak pergi ke dapur untuk memasak. “coba nita minta papa memandikannya karena mama akan memasak, kalau mama memasak sehabis memandikan kucing? bagaimana? ajak papa saja ya?” kata mama menjelaskan nita sambil mengelus kepala nita. “iya ma” jawab nita singkat dan langsung berlari menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras rumah. “papa… papa… ayo kita mandikan kucing!” kata nita. “o iya, papa hampir lupa, ya sudah ayo!” sambut ayahnya sambil mengajak nita ke kandang kucing. “horeeee!” teriak nita dan berlari menuju kandang kucing di samping rumah sisi kiri.

Pak yoga pun mengambil kucing dari kandangnya dan memandikannya dengan selang yang terdapat di samping rumah sisi kanan yang berdekatan dengan garasi mobil. Pak yoga dulu memang sengaja memasang kran disitu agar ia mudah mencuci mobilnya. Setelah mengambil dari kandang, kucing itu dimandikan oleh pak yoga dan nita, mereka mencuci kucing itu dengan menggunakan masker dan sarung tangan karena memang keluarga pak yoga sangat menjaga kebersihan sehingga mereka jarang sakit. Kucing itu tidak banyak berontak ketika ia di ambil dari kandang sampai ia dimandikan, seolah-olah ia tahu hal baik yang akan dialaminya.

Selepas dimandikan, kucing itu diberi handuk kecil yang khusus untuknya. “papa, nanti kalau papa tidak ada kerjaan, papa latih kucing ini ya. Kucing ini sepertinya baik sama nita pa, buktinya ia tadi tidak marah-marah ketika dimandikan. Mau ya pa?” Tanya nita sambil mengedip-edipkan matanya. Pak yoga tertawa renyah melihat kelakuan anaknya itu. Ia mengetahui bahwa anaknya akan mengedip-edipkan matanya jika ia meminta sesuatu, pak yoga juga tahu anaknya pasti berfikir jika ia melakukan hal itu pasti permohonan itu segera dituruti. Jika istilahnya disebut jurus andalan merayu orang. Pak yoga sendiri juga tak pernah dapat mengelak dari jurus nita itu. “iya sayang, tapi sebelum di latih harus dibawa ke dokter hewan dulu agar ia dapat dipastikan tak mengidap penyakit apapun. Nah setelah ia tak mengidap penyakit apapun baru nanti kita latih, nanti setelah ada waktu luang kita akan ke dokter hewan ya? Nih pakai alat ini untuk mengeringkan bulunya dan pakai sisir khusus hewan ini ya untuk mengatur rambutnya. Untuk alat ini tekan tombol ini untuk menghidupkan dan tekan tombol ini untuk mematikan ya. Papa akan mencuci mobil dulu” jelas pak yoga panjang lebar. Ia tahu keinginan anaknya yang tulus, maka dari itu ia mengabulkan keinginan anaknya. “wah harus seribet itu ya pa untuk merawat kucing ini? Tapi… karena nita sayang kucing ini, tak apalah pa” jawab nita. Pak yoga hanya geleng-geleng melihat kelakuan anaknya itu, iapun segera pergi mencuci mobilnya.

Nita pun juga segera mengeringkan bulu kucingnya dengan hairdryer, ia melakukannya dengan penuh kasih sayang. Kucing itu juga menikmati rasa kasih sayang itu dengan menggerak-gerakkan tubuhnya. “pa nita boleh bermain dengan kucing ya?” Tanya nita setelah mengeringkan bulu si kucing. “iya boleh lagian papa juga sedang membersihkan kandangnya. Setelah itu pergi mandi dan makan ya, nih ikat leher kucing dengan tali pengikat hewan peliharaan ini, biar dia tidak lari” jawab ayahnya. Nita pun menerimanya dan mengikatkannya di leher si kucing. Nita dan si kucing pun langsung bermain, mereka langsung akrab walaupun hanya baru berapa jam mereka bertemu, si kucing juga sudah menurut kepada nita. “kucing, kamu lucu dan manis sekali, kamu nita kasih nama si manis ya” kata nita disela-sela permainan mereka. Kucing itu mengeong tanda setuju. Mereka pun bermain lagi dan sampai akhirnya ayah nita menyuruh nita untuk mandi dan segera sarapan. Nita berasa berat meninggalkan kucing kesayangannya, tapi setelah ayahnya menghampirinya, ia pun segera pergi ke dalam rumah. Sementara itu pak yoga memasukkan kucing di dalam kandangnya yang sudah dibersihkan dan menyusul nita ke dalam rumah.

Di dalam rumah, setelah semua sudah mandi dan bu yoga sudah menyiapkan sarapan, mereka pun makan bersama. “eh ma, kucingnya nurut lho sama nita. Dan kucing itu sudah nita kasih nama si manis, bagus kan ma?” kata nita di sela-sela mereka makan. Bu yoga pun tersenyum, ia gemas kepada anaknya yang polos itu “iya nita, nama itu bagus. Nah sekarang makan dulu ya”. “iya ma”. Setelah mereka selesai makan mereka segera bersiap menuju dokter hewan demi menyenangkan hati nita. Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di dokter hewan. di dokter hewan si manis diperiksa. Ia tidak banyak berontak. Beberapa menit kemudian, selesailah pemeriksaan si manis. Pak dokter pun berkata bahwa si manis tidak mengidap penyakit apapun, Nita pun bersorak penuh kegembiraan. Mereka pun akhirnya pulang.

Sesampainya di rumah, nita sekeluarga duduk-duduk di teras. Nita bermain dengan kucingnya sedangkan pak yoga dan bu yoga memperhatikan nita bermain dengan si manis. Nita melatih si manis untuk menangkap ranting yang di lempar nita, bersikap sopan seperti tidak buang air sembarangan, dan masih banyak lagi.

Tak terasa sudah 1 jam berjalan. Kini si manis sudah sedikit mengerti tentang semua yang diajarkan oleh nita. Tiba-tiba pak yoga menyuruh nita untuk masuk ke rumah karena hari sudah siang “ayo nita sudah siang kita masuk”. “tapi si manis dibawa masuk ya?”. “loh, kan si manis belum sepenuhnya terlatih. Nanti jika ia sudah benar-benar terlatih, baru boleh di bawa masuk. Maka dari itu nita harus rajin melatihnya. Nah sekarang nita masuk ya” kata ayahnya sembari menggendong si manis menuju kandangnya. “o, gitu ya pa. ya udah deh nita masuk aja. Dada si manis” seru nita sambil melambaikan tangannya ke si manis dan masuk rumah. Tak lama kemudian pak yoga pun ikut masuk ke rumah dan mereka makan siang bersama, di tengah-tengah keasyikan mereka makan, nita tak lupa pada si manis. Ia memberi makan si manis sepotong ikan. Selepas makan, nita pun beranjak tidur. sebelum tidur, kata-kata papanya untuk selalu melatih si manis masih mengiang-iang di telinganya. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu melatih si manis agar menjadi kucing yang sempurna, dan akhirnya ia pun tertidur. Semenjak hari itu, nita selalu melatih si manis dengan bantuan kedua orang tuanya.

Kini 1 bulan telah berlalu. Si manis sudah menjadi kucing yang patuh terhadap tuannya. Ia juga sudah diperbolehkan di bawa masuk ke rumah dan tidur di kamar nita. Si manis juga terlihat makin anggun karena bulunya yang putih dan selalu dihiasi pita yang diberikan oleh nita. Ia pun selalu turut serta kemanapun nita pergi kecuali ke sekolah. Jika nita sekolah, si manis selalu setia menunggu nita di teras rumah dan ketika nita pulang si manis ikut menjemput nita ke sekolah. Nita jadi semakin bertambah sayang pada si manis. Terlebih si manis pernah memenangkan piala hewan peliharaan terbersih sekecamatan dan pernah menggagalkan pencurian di rumah nita dengan mengeong sekeras-kerasnya, alhasil satu rumah terbangun dan meminta bantuan warga-warga yang akhirnya rumah nita tidak jadi disatroni oleh maling. Masih banyak lagi yang dilakukan oleh si manis sehingga semua itu akan terus di kenang oleh nita seumur hidupnya.

4 tahun kemudian…
Nita sudah duduk di kelas 4 dan si manis juga sudah mempunyai anak 1 yang diberi nama pussy. Akan tetapi kini perhatian nita terhadap kucingnya sudah berkurang. Ia lebih berkonsentrasi pada sekolahnya. Maklum ia kini sudah menginjak kelas 4 yang biasanya banyak kegiatan ekstrakulikuler, tidak seperti dulu lagi ketika waktu ia masih TK yang hanya bermain. Nita memang anak yang cantik dan cerdas sehingga tak jarang ia mengikuti lomba dan meraih banyak juara, piala dan piagam berjejer di mejanya.

Pada suatu hari, nita dan keluarganya hendak piknik karena hari itu adalah liburan semester selama 3 minggu. Mereka mengikuti piknik yang diselenggarakan sekolah nita setiap liburan semester ke kebun binatang. Karena saking sibuknya dan senangnya mereka, mereka tidak ingat pada si manis dan pussy yang sedari tadi melihat kesibukan keluarga nita. Dan tepat jam 7 keluarga nita berangkat. Melihat tuannya yang berangkat tanpa mengajaknya, sontak si manis mengeong dengan kerasnya. Selama setengah jam ia mengeong, ia pun menyusui anaknya hingga pussy tidur dengan lelapnya. Dan itu membuat perut si manis keroncongan karena tadi pagi ia tidak makan. Setelah menunggu cukup lama, si manis seperti tidak sabar untuk menanti tuannya. Ia pun berlari keluar rumah untuk mencari nita, yang sebenarnya hanya sia-sia belaka. Sementara itu di mobil nita baru teringat pada kucing-kucingnya. Ia pun menelepon pembantunya yang kebetulan tinggal di dekat rumah nita dan tidak tahu menahu tentang kucingnya, untuk mengambil kucingnya di rumah dan memberinya makan karena tadi pagi ia lupa belum memberikan makan. Dan seusai menelepon, hati nita tidak gelisah lagi dan menikmati kembali perjalanannya. Pembantu nita, bi rindi yang di suruh oleh nita pun segera pergi ke rumah nita. di rumah nita, ia hanya menemukan pussy karena sebenarnya si manis sedang mencari tuannya yaitu nita. Karena tidak tahu, ia pun mengira bahwa kucing milik nita hanya satu dan diambilnyalah kucing itu untuk dipelihara selama seminggu. sementara itu, si manis masih berlari dan mengeong untuk menemukan nita karena ia sudah lapar. Dan setelah 2 jam ia mencari, akhirnya ia pun pulang ke rumah. Di rumah, si manis kaget karena melihat anaknya sudah tidak ada di tempat. Ia pun mengeong dengan sangat kuat sampai beberapa orang kaget dibuatnya. Si manis pun berdiri terpaku di depan rumah memikirkan nasibnya…

Setelah seminggu nita piknik, ia pun kembali ke rumah. Di depan rumah, nita terdiam terpaku dengan mulut menganga. Didapatinya si manis tergeletak kaku di teras rumahnya. Ia segera menggendong kucing kesayangannya itu yang sedari kecil dirawatnya akan tetapi sekarang ia melupakannya. Nita menangis tersedu-sedu. Di belakangnya, ayah dan ibunya tak mengerti apa yang terjadi. “nita, mengapa kau menangis?” Tanya ibunya. “ini lihat ini, ma!” jawab nita seraya membalikkan badannya. Ayah dan ibunya terkejut, “loh? bukannya kamu udah bilang sama bi rindi untuk mengambil kucingmu ya?” Tanya ayahnya. “iya pa, nita gak tau kok jadi kayak gini. Ayo! Nita mau Tanya sama bi rindi!” kata nita dengan marah. Nita pun berlari menuju rumah bi rindi. “nita, tunggu!” jerit ibunya dari belakang yang sama sekali tak di gubris oleh nita. Sesampainya di rumah bi rindi, nita langsung menemui bi rindi yang sedang menyusui pussy, anak si manis. Nita yang sedang menggendong si manis, menurunkannya dan langsung marah pada bi sumi. “bi! Gimana sih! Kucingku itu ada dua, kenapa yang di ambil Cuma satu?! Aghhhh bibi! Lihat sekarang si manis sudah tiada! Ini semua ulah bibi!” ujar nita dengan nada sangat tinggi. Bi rindi yang melihat kedatangan nita dan langsung memarahinyapun terkejut. “aduh non. Non kan bilangnya suruh ambil kucing saja dan gak bilang kalau kucingnya ada dua. Dan yang saya lihat di rumah non hanya kucing ini non” kata bi rindi takut. “aghhh! Bibi bohong! Bibi ini…” belum sempat nita menyelesaikan ucapannya, ayah dan ibu nita datang dan langsung memotong ucapannya. “bi rindi benar nita, kamu yang salah. Kamu tidak bilang kalau punya kucing dua, bi rindi kan tidak tahu menahu tentang kucingmu itu. Lagian jikalau kamu punya hewan peliharaan, harus di rawat meskipun kamu sangat sibuk. Itu sudah tugasmu nita. Sekarang, semua kesedihan yang kau alami akibat kesalahanmu, kamu tumpahkan kepada bi rindi yang tak tahu menahu tentang kucingmu” kata ibunya lembut dan merangkul bahu nita. Nita pun terduduk. Sambil mengelus mayat si manis, ia berkata “maafkan aku bi, aku yang salah…”. “iya non tidak apa-apa. Bibi juga minta maaf ya” kata bi rindi seraya menyerahkan pussy kepada nita. Nitapun menerimanya. Ia elus pussy dengan kasih sayang semurni dulu waktu ia menemukan si manis. Dan sejak itupun nita selalu merawat pussy dengan kasih sayang walau sesibuk apapun dia. Ia tak mau mengulangi lagi kejadian masa lalunya yang membuat nyawa si manis hilang. pikirannya pun melayang menuju masa lalunya bersama si manis, masa-masa yang membuatnya terharu dan menangis.

Kini, setelah setahun sejak kejadian itu, pussy telah memiliki 2 anak, laki-laki dan perempuan yaitu mimi dan Robert. Nita pun sudah mulai berubah, ia mulai selalu mengasihi peliharaannya, sesibuk apapun dia dan secapai apapun dia.

Cerpen Karangan: Sylvia Rijha Putri
Facebook: sylvia putri
hei, namaku Sylvia Rijha putri. panggil aja Sylvia. ini cerpen kirimanku yang ke-3. kalau ada typo dan kurang menarik, aku minta maaf ya..^^
kalau ada kritik dan saran, kirim ke emailku ya. sylvia_putri86[-at-]yahoo.com
thanks

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Anak Cerpen Penyesalan Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One Response to “Kucing Kesayangan Nita”

  1. TANJUNG INDRI LESTARI says:

    Y TUHAN SDIH AMAT
    SMPAI AU MNANGIS DAN DI TRTAWAKAN TMANKU

Leave a Reply