Kucing Manisku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 December 2016

Hay, Aku Intan.. Siswi dari SDI Kergon 1 Pekalaungan, dan sekarang aku udah kelas 2 SMK di SMK Negeri 2 Pekalaungan. Aku mau berbagi cerita, yaa… memang cerita ini sudah bertahun-tahun lamanya, tapi nggak papalah buat berbagi cerita aku aja.

Aku tipe cewek yang termasuk pecinta binatang, terutama kucing. Kucing adalah binatang yang paling aku suka, paling aku sayang, pokoknya yang paling-paling deh.
Aku paling gak suka ada orang yang memperlakukan kucing seenaknya, buang kucing sembarangan, jahat sama kucing seenaknya, intinya aku paling benci sama orang yang nggak suka sama kucing.

Waktu itu, aku kelas 5 SD. Aku punya keinginan buat memelihara kucing 1 di rumah, yaa buat jaga rumah aku, buat temen aku, buat ngehibur aku kalau aku lagi sedih.
Tepatnya tanggal 9 Nopember 2010, pas aku lagi istirahat ke 2 di sekolah. Ibu aku dateng dan meminta temenku buat manggil aku yang lagi di kelas atas.

“Tan, kamu dipanggil sama ibu kamu tuh di bawah!” Kata temen aku. kalau nggak salah namanya tuh Arofah.
“Haah? Ibu aku? Ngapain dia kesini?”
“Yaa aku nggak tau lah, mendingan kamu turun dan temuin dia!”
“Oke deh, thank’s yaa”
“Siip”

Setelah itu aku turun dan temuin ibuku yang ada di bawah yang sedang asyik ngobrol sama orangtua siswa-siswi kelas lain.
“Bu, ada apa?”
“Niih, katanya mau minta kucing, ini ibu ambilin dari rumahnya Bela.” Kata ibuku sembari ambil kucing yang ada di ranjang.
“Wooww, lucu banget kucingnya, putih hitam, bersih, mulus.” Kata aku seneng banget. Rasanya pengen cepet-cepet pulang dari rumah dan ngelus-ngelus tuh kucing.
Tapi nggak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Ibuku ngingetin aku buat masuk kelas. Dia juga sekalian pamit mau pulang.
“Ya udah In, gih masuk sana buruan. Ibu juga aku pulang”
“Iyaa bu”

Aku langsung naik ke atas. Masuk ke ruang kelas dan bersiap mengikuti pelajaran selanjutnya.
Jam setengah 1 aku pulang, aku udah gak sabar pengen lihat kucingnya. Setelah aku sampai di rumah, aku nyari ibuku, aku tanya kucingnya ada dimana. Ibu bilang ke aku katanya tuh kucing masih takut di rumahku, dia harus beradaptasi terlebih dahulu.

Oh ya, aku inget. Aku masih punya uang simpanan, aku gunain tuh uang buat beli susu dancow buat kucing. Setelah itu bikin susunya, kemudian aku cari si kucing. Tapi tuh kucing susah banget dijinakkinnya.. Tapi aku paksa, aku deketin congornya kucing ke susu. Alhamdulillah, dia mau minum juga. Pas dia minum, aku elus-elus dia, aku sayang-sayang dia, sampai dia tertidur.
Semenjak itu, aku kasih nama kucing itu dengan sebutan manis. Kucing yang akan selalu ada buat aku, kucing yang akan selalu ngehibur aku saat aku sedih.

Setiap hari, aku kasih makan manis dengan porsi yang sama. Sehari manis bisa makan 1-2 kali. Tapi terkadang juga manis harus kelaparan beberapa hari karena aku nggak punya uang buat beli ikan buat manis. Yaa maklum, ekonomi keluargaku nggak selalu stabil, masih naik turun.
Kadang juga aku kasihan ngeliat manis harus nyari makan di sampah, aku ngerasa bersalah sama manis karena nggak bisa ngerawat dia dengan baik.
Tapi, aku nggak nyerah. Aku kumpulin uangku buat beli ikan buat manis, akhirnya uangku kekumpul juga. Aku beli pindang 3 buat 2 hari. Aku ngasih makan manis dan ngelihat manis makan lahap rasanya seneng banget, pengen rasanya aku nangis, tapi aku tahan. Aku lega lihat kucing kesanyanganku kenyang dan tertidur pulas.

Malamnya aku kasih makan lagi buat manis, tapi manis nggak mau makan. Dia ngelihat makanannya sendiri dan kemudian ngelihat aku, setelah itu manis pergi. Aku mikir, apa dia masih kenyang makan tadi pagi? Terus aku cari manis buat nyuruh dia makan, tapi dia malah tidur. Padahal aku yakin, dia lapar.
Aku coba buat maksa manis buat makan lagi, tapi dia tetep nggak mau. Dia malah ngegeliat di kakiku. Kemudian ibuku datang, dia ngasih tau aku kalau aku belum makan dari tadi siang, ibu juga nyuruh aku buat makan malam. Tapi sebelum ibu selesai bilang, aku ngelihat manis meong kenceng banget, seakan juga nyuruh aku makan.
Akhirnya aku makan, aku makan sambil nyuruh manis makan.
“Pus, ini aku makan, kamu juga makan yaa.. Nanti kalau nggak makan, kamu laper lagi”
“Meeooongg…” Manis hanya mengeong seakan memberi jawaban iya.
Dan ternyata benar. Disaat aku mulai makan, manis ikut makan.
Ya Allah, betapa pedulinya kucingku terhadap aku, dia ngertiin aku. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan aku teman walau dia berwujud binatang.

Semenjak itu lah, aku sayang banget sama manis, aku nggak mau kehilangan manis. Dan aku juga nggak mau dan nggak suka ada orang yang nyakitin manis.
11 bulan aku ngerawat manis. Suka duka aku berbagi dengan manis, hanya manis lah yang ngertiin aku, yang bisa ngehibur, dan tempat aku ngecurahkan isi hatiku. Aku nggak peduli aku dianggep gila atau stress karena aku ngomong sama binatang. Tapi hanya dengan manis aku ngerasa senang.

Seperti hari biasa, aku berangkat sekolah sesudah ngasih makan buat manis, tapi anehnya manis terlihat lemas dan ngegeliat di kakiku. Sebelum berangkat, aku gendong manis dan bilang sama dia.
“Aku berangkat dulu ya. Kamu nggak usah kemana-mana. Kayanya kamu sedang sakit, nah setelah kamu makan mendingan kamu tidur, tungguin aku pulang. Oke”
Dan setelah itu, aku berangkat. Dan seperti biasa manis nganter aku sampai keluar pintu, ngelihat aku berangkat. Rasanya kok sedih banget yaa ninggal manis yang sedang sakit? Tapi tak apalah, aku bantu do’a dari sekolah.

Aku pulang, aku nyari manis. Tapi udah dicari kesana sini nggak ketemu juga. Aku tanya sama ibu.
“Bu, manis mana?”
“Tadi ke luar, main kayanya”
Aku mulai khawatir, nggak biasanya manis ngebantah omonganku. Tapi aku positive thinking aja, mungkin manis bosen di rumah dan kepingin jalan-jalan.

3 hari kemudian, manis tak kunjung pulang, kemana tuh kucing pergi sesungguhnya? Aku mulai khawatir banget. Aku putusin siangnya buat cari manis, aku cari ke gang sebelah. Pas lagi di gang sebelah aku mampir ke rumah sahabatku yang pas orangnya lagi di luar rumah. Aku juga nanya sama dia tentang kucingku.
“Nov, kamu lihat manis kucingku nggak?”
“Nggak tuh In, emang nggak ada di rumah?”
“kalau di rumah ya aku nggak bakal nyari tuh kucing di siang bolong gini”
Aku sewot sama novi, ditanya malah balik nanya.

Nggak lama setelah aku nanya ke novi, ada ibu-ibu teriak karena katanya ada kucing mati, aku sempat mikir apa itu manis? Aku langsung lihat kucing yang mati itu.
Dan betapa lemasnya aku dan betapa aku nggak bisa nahan tangisku? Ternyata kucing yang mati adalah manis. Aku nggak pernah nyangka kalau bakal jadinya kaya gini. Bola mata yang keluar dari tempat matanya, bau busuk yang sangat menyengat, dan tubuh yang penuh luka.
Aku nangis sejadi-jadinya. Aku teriak sekenceng-kencengnya. Aku masih nggak nyangka kalau manis kucing kesayanganku harus mati setragis itu.

Aku berniat mau ngebawa jasad kucingku pulang ke rumah, mau aku kubur di rumah, tapi malah kucingku dibawa warga ke tempat lain dan nggak ngebolehin aku bawa manis ke rumah. Aku marah banget. Apa hak mereka ngelarang aku bawa kucingku sendiri pulang ke rumah? Tapi kata mereka takut aku nggak bisa nguburin.
Aku pulang ke rumah dan langsung ngabarin ibuku yang masih jualan di tirto. Aku bilang kalau manis mati, dan sudah dibawa warga untuk dikubur di kebun mereka.

Tak lama ibu pulang dan ibu mencoba buat nenangin aku, yang nangisnya nggak berhenti-berhenti. Gimana mau berhenti coba? Manis kesayanganku harus mati setragis itu?
1 hari 1 malam aku nangisin manis. Esok paginya aku bangun dengan mata bengkak sebesar telur puyuh. Aku berangkat dengan sedih hati, sampai di sekolah, aku diam aja, kaya orang bisu. Temen-temenku bingung kenapa sikapku jadi berubah.

Di kelas, aku nggak sanggup ngebendung air mataku, akhirnya aku nangis di kelas. Mataku bengkaknya bertambah. Istirahat pertama teman-temanku ngehampiri aku, aku cerita sama mereka kalau kucing kesayangan aku mati. Tapi mereka malah pada ketawa. Aku marah, aku nyuruh mereka pergi, dan nggak usah minta bantuan aku kalau lagi kesusahan.
Tapi mereka malah minta maaf ke aku, dan nyuruh aku sabar dan ikhlas.

Ya Allah, kenapa Engkau ambil teman aku? Aku sangat sayang dan sangat mengasihi manis ya Allah..
Ya Allah, jika memang ini takdir yang Engkau tulis di lembaran hidupku, aku akan berusaha ikhlas dan sabar ya Allah..
Manis, kamu teman dan sahabat terbaik buat aku. Makasih yaa udah nemenin aku disetiap hari, makasih udah bikin aku seneng, makasih juga sudah sering nurut dan ngehibur aku. Aku nggak bakal ngelupain kamu. Aku sayang banget sama kamu.
Manis sayang, kamu jaga diri baik-baik ya di surga, jangan lupain aku. Kamu juga harus nurut sama Allah seperti kamu nurut sama aku dulu waktu kamu masih hidup, kamu jangan ngebantah Allah ya sayang.
Aku bakal do’ain kamu terus. Aku juga berdo’a kalau kamu bakal dateng lagi nemuin aku seperti pertama kali aku ketemu kamu.
Manis, sering-sering mampir ke mimpiku yaa.
Aku sayang sama kamu manis, sayang banget, aku juga bakal sering kangen sama kamu.
Selamat Jalan Manis Kucing tersayangku.
I LOVE YOU Manis

END

Cerpen Karangan: Farizka Intan Paramitha Suwandi
Facebook: Bellvania Diamond

Cerpen Kucing Manisku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemilihan Ketua Kelas

Oleh:
Di kelas tiga akan diadakan pemilihan ketua kelas. Pemilihan dipimpin oleh ibu Guru. Calon ketua kelas ada tiga orang. Yaitu anddry, mira dan anton. “Bagaimana anak anak kalian setuju

Best Friend in Asrama

Oleh:
Hari ini Novita sedih sekali, tidak ada siapa-siapa selain bibinya. Tapi Novita ingin sekali pergi bersama Ayah, Bunda dan yang lain. Sayangnya mereka sibuk sekali. Mereka tidak pernah mengajak-nya

Surat Terakhir Violla

Oleh:
Seperti biasa, hari ini Adelline dan Violla berangkat ke sekolah bersama. Mereka berdua adalah sahabat yang bagaikan magnet yang tak bisa dipisahkan. Mereka bersahabat sejak Tk. Sampai sekarang mereka

Gadis Renta

Oleh:
Tak terasa, ternyata sudah satu pekan aku berbaring di tempat tidur ini. Kaku, sakit, ngilu. Ya Tuhan apa sebenarnya yang terjadi padaku? apa ini pertanda? tapi kapan waktunya? cepat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *