La Petite Mort

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 June 2017

Malam hari terasa aneh bagiku. Suhunya dingin, tetapi tak ada waktu lain yang lebih menghangatkan hatiku dibanding saat malam hari. Makanya, ini adalah waktu favoritku untuk berjalan-jalan di taman perumahan tempat aku tinggal. Well, bukan berjalan-jalan sih. Lebih tepatnya, duduk memutar-mutar roda yang tersambung pada kursi rodaku. Ya, aku sudah kehilangan kemampuanku untuk berjalan. Untungnya, aku belum kehilangan semangatku untuk memutar-mutar roda dan mengelilingi taman perumahan saat malam hari. Sepi dan sejuk, aku sebatas dihangatkan oleh pijaran lampu taman. Mungkin lampu itu yang menghangatkan hatiku?

Sungguh klise bukan? Seorang introvert yang suka menyendiri di taman. Jika hidup itu suatu film, sebentar lagi akan datang lelaki tampan yang sedang jogging. Tak lama lelaki itu akan menghampiriku, kami bercanda tawa berdua dan di akhir film hidup bahagia selama-lamanya. Tentu sangat tidak mungkin, tapi tidak ada salahnya untuk berharap. Semakin dipikir, semakin absurd saja skenario itu. Bahkan jika ada lelaki tampan yang entah mengapa memilih untuk jogging di malam hari, dia tidak mungkin akan menghampiri diriku yang memiliki muka rata-rata dan duduk di kursi roda.

Tak kusangka, masih ada jiwa yang mendatangi taman perumahan di malam hari. Biasanya yang mengunjungi taman di jam-jam ini antara sepasang kekasih yang berpacaran atau lansia yang bosan duduk di teras rumah dan mencari pemandangan selain kucing yang bertengkar dan kendaraan-kendaran yang kadang melewati jalanan sepi perumahan. Nampaknya, kali ini pengunjung adalah sepasang kasih. Berjalan dengan lambatnya dan mengulur satu detik menjadi momen yang berlangsung tak hingga. Aku hanya mengamati dengan heran karena aku tidak pernah merasa menginginkan seorang pacar. Walau banyak temanku yang menyuruhku untuk mencari jodoh. “Kamu kan cewek, kamu seharusnya mulai mikirin jodoh,” kata mereka. Teman macam apa yang berkata seperti itu? Memang tidak ada yang bisa mengerti aku selain diriku sendiri.

Mungkin karena sifatku yang terlalu introvert, aku tidak akan pernah memiliki pacar atau teman sejati. Jika aku berusaha lebih akurat, aku akan menganti semua kata ‘teman’ yang kuucapkan dengan kata ‘kenalan’. Karena mereka sebatas itu, orang yang kukenal. Tapi aku tidak merasa sedih sedikit pun. Bahkan aku bahagia ketika sendirian. Tidak perlu pusing memikirkan bagaimana menyenangkan orang lain, aku hanya perlu menyenangkan diriku sendiri.

“Boleh aku membantu mendorong kursi rodamu?” tanya seorang laki-laki yang menghampiriku. “Memangnya aku terlihat butuh bantuan?” jawabku dengan nada sinis. Bodoh. Kenapa jawabanku harus seperti itu? Ini yang terjadi jika ada yang tiba-tiba memulai pembicaraan denganku. Untungnya ia tidak merasa tersinggung dilihat dari tawa kecilnya. Kemudian ia duduk di bangku taman samping kursi rodaku. Nampaknya ia ingin berbincang denganku. “Mas ngapain malam-malam ke taman?” tanyaku. Lagi-lagi pernyataan yang bodoh. Sekarang aku terdengar seperti ingin mengusirnya walau tidak bermaksud demikian. “Bosan di rumah dik,” jawabnya tanpa sedikitpun terganggu dengan sikapku yang begitu tidak sopan. Setelah itu aku mengunci mulut. Lebih baik aku diam daripada melontarkan ucapan yang akan kusesali, bukan?

15 menit, 30 menit, dan akhirnya satu jam berlalu tanpa sepatah kata, hanya diiringi bunyi jangkrik. Akhirnya lelaki itu memecahkan keheningan. Sayangnya, ia menanyakan pertanyaan yang paling aku benci. “Mengapa kamu duduk di kursi roda, dik?” tanyanya. Jujur, aku ingin menjawab “Supaya mirip kereta belanja yang bisa didorong-dorong”, tapi aku tahu itu adalah jawaban yang tidak sopan. Aku tidak pernah mau menceritakan alasan aku duduk di kursi roda kepada siapa-siapa. Alasanya? Aku tidak mau dikasihani. Aku ingin diperlakukan sama dengan orang biasa. Jadi, aku hanya menjawab “Saya mengidap penyakit yang membuat saya tidak bisa berjalan, mas.” “Penyakit apa, dik?” tanyanya seperti meminta klarifikasi. Setelah kupikir kembali, jawabanku memang seperti mengundang orang untuk mencari tahu tentang penyakitku. Ternyata butuh kemampuan sosial untuk tetap menjadi antisosial. Apa daya, aku terpaksa menceritakan orang asing ini tentang penyakitku karena aku tidak tahu cara mengelak dari pertanyaanya.

Aku menderita penyakit yang sama dengan fisikawan terkenal, Stephen Hawking. Ya, aku menderita penyakit amyotrophic lateral sclerosis, sering disingkat ALS. ALS merupakan penyakit yang menyerang syaraf-syaraf di otakku sehingga mengakibatkan kelumpuhan sebagian yang dapat berkembang menjadi kelumpuhan total. Tapi aku belum sampai di titik di mana aku benar-benar tak berdaya. Kelumpuhanku masih sebatas diafragma ke bawah. Walau begitu, ‘belum’ adalah kata yang menakutkan. Sama seperti Pak Hawking, aku sudah hidup melebihi perkiraan dokter. Hidup yang sengsara dan hampa, namun tetap hidup. Sering aku berpikir lebih baik aku mati saja daripada hidup menyusahkan orangtua. Tapi aku tidak berani mengakhiri hidupku. Memang aku pengecut yang tidak lebih dari beban bagi orangtua.

Sekitar 30 menit aku berbincang dengan lelaki itu. Mort namanya. Katanya ia sedang menginap di rumah temannya yang merupakan salah satu tetanggaku karena ada keperluan tertentu. Entah mengapa aku sangat mudah berbincang dengannya. Kata demi kata keluar dari mulutku dengan mudahnya. Kemudian ia tidak pernah merasa bahwa aku aneh atau berbeda, tidak seperti “teman-temanku”. Aku merasa benar-benar didengar. Untuk pertama kalinya aku merasa seperti berbincang dengan seseorang yang setingkat denganku. Larutnya malam tidak memotong perbincangan kami.

“Kamu kelihatan sedih dik,” ujarnya. Benarkah? Aku tidak merasa sedih. Kenapa aku harus sedih? “Selama ini kamu merasa kesepian ya?” lanjutnya. Ini pertanyaan yang lebih konyol lagi. Aku memang suka menyendiri. Kenapa aku harus merasa kesepian? “Nggak mas, memangnya saya terlihat sedih dan kesepian, ya?” Tanyaku meminta penjelasan. Setelah memandangku, ia menjawab “Ya, jiwamu nampak sedih dan kesepian.” Jiwa? Memangnya Mas Mort semacam dukun yang bisa melihat jiwa? Seakan menjawab batinku, ia berkata “Bukan dukun, tapi bisa melihat jiwa dan membaca pikiran.” Seketika aku ketakutan, gagal menemukan penjelasan bagaimana Mas Mort bisa menjawab pertanyaan yang aku ajukan dalam batinku. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu siapa Mas Mort sebenarnya, aku hanya ingin melarikan diri dari situasi ini. “Nggak usah takut dik, perbincangan kita sampai di sini biasa-biasa saja, kan?” ujarnya berusaha menenangkanku. Baru ingin teriak minta tolong, muncul kata-kata “bercanda” dari mulut Mas Mort. “Nggak lucu,” jawabku. Mas Mort kemudian menjelaskan bahwa ia hanya menebak pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul di pikiranku dan ia pun tidak menyangka bahwa tebakannya tepat sasaran.

Setelah kutelaah, memang diriku bodoh karena dengan mudah mempercayainya. Lagi pula ‘jiwaku sedih dan kesepian’? Aku tidak pernah merasa seperti itu, kan? Pernahkah aku merasa seperti itu? Ya, bahkan sering. Tentu saja. Aku setengah lumpuh dan tahu bahwa sebentar lagi lumpuh sepenuhnya kalau tidak meninggal terlebih dahulu. Aku membohongi diriku sendiri jika tidak pernah merasa seperti itu. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa aku pernah berjalan. Perasaan yang didapat ketika berjalan dan berlari, walau sepele, selamanya hilang. Tidak bisa melakukan banyak hal sepele karena penyakit ini ditambah hanya memiliki kemampuan sosial yang minim, aku hanyalah sampah masyarakat yang ada untuk sekedar berada.

Perbincanganku dengan Mas Mort membawa sedikit penerangan pada gelapnya hatiku. Interaksi sosialku selama ini hanyalah dengan orangtuaku dan mereka selalu tampak sedih melihat kondisiku. Di mata mereka, aku sudah tidak mampu melakukan apa-apa. Dan memang benar, aku tidak bisa melakukan apapun tanpa ada mereka, kecuali aku sudah digendong ke kursi rodaku. Aku sudah bukan manusia melainkan turun derajat menjadi hewan peliharan mereka. Binatang yang tidak memiliki kesenangan, hanya perlu diberi makan, dan suka jalan-jalan ke taman. Aku pun menerima kenyataan itu.

Kalau semua orang di lingkup sosialku, yaitu orangtuaku, menganggap diriku sebagai hewan peliharaan, bukankah sudah selayaknya aku menerimanya dan bertindak seperti hewan peliharaan? Setidaknya itu yang disampaikan guruku sewaktu aku masih mengikuti sekolah reguler. “Jati diri merupakan gabungan dari apa yang kau pikir adalah jati dirimu, apa yang kau tunjukkan sebagai jati dirimu, dan apa yang dilihat oleh orang lain sebagai jati dirimu,” kata guruku beberapa tahun yang lalu. Jadi sesungguhnya jati diriku tak lain adalah hewan peliharaan sebelum perbincanganku dengan Mas Mort. Sekarang aku sudah mulai ditarik ke derajat manusia olehnya. Sangat menarik seberapa orang bisa berubah hanya melalui satu percakapan.

Aku sangat bahagia karena bisa berbicara oleh Mas Mort. Aku merasa menjadi manusia lagi setelah sudah menjadi hewan peliharaan selama bertahun-tahun. Walaupun isi perbincangannya hanya berupa gurauan ringan dan berbagai cerita mengenai pengalaman hidup, aku merasa sangat senang karena bisa berbicara dengan manusia lain. Apa? Aku merasa bahagia? Ini perasaan yang sudah cukup lama tidak terungkap sehingga tidak aku sadari pada awalnya. Ya, aku merasa bahagia saat berbincang dengan Mas Mort, meskipun ia orang asing yang baru bertemu denganku 5 jam yang lalu. Ya, kami sudah bercakap-cakap hingga 5 jam. Aku juga sudah lupa dengan apa yang kami perbincangkan 2 atau 3 jam yang lalu karena topik pembicaraan kami yang makin meluas. Percakapanku dengan Mas Mort membuatku merasa dapat melewati 525600 menit, ekspektasi hidup terbaruku, dengan mudah. Aku seperti tabung gas pemadam kebakaran yang baru pertama kali dipakai, menyemproti Mas Mort dengan kata-kata dan ia mau mendengarkanku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Aku sudah merasa lelah dengan perbincanganku dengan Mas Mort. “Saya udahan ya dik, sudah lelah ini, besok malam kita ngobrol lagi ya,” tutupnya. Ia pergi dengan terburu-buru, pasti takut dimarahi temannya yang bersedia menyediakan tempat penginapan untuknya. Aku lupa meminta nomor poselnya, namun aku yakin ia akan menemuiku besok malam pada waktu yang sama. Sudah merasa lelah, aku mulai memutar roda-roda untuk pulang. Saat itulah baru kusadari sesuatu.

Darah! Darah di mana-mana. Aku dikelilingi oleh genangan darah yang tak aku ketahui asalnya. Saat itu aku mulai sadar alasan ada orang yang mau berbincang dengan dirinya di malam hari. Tiap detik yang berlalu menguras 0,5 liter darahku dari tubuhku. Tidak sakit karena aku tidak merasakan apa-apa di bagian tengah sampai bawah tubuhku. Hanya makin lemas saja. Aku tidak bisa memeriksa apa yang terjadi pada tubuhku, tapi aku bisa menduga-duga. Paling tidak kedua ginjalku pasti sudah hilang. Kejahatan itu sedang marak diberitakan, bukan?

Mas Mort yang baik dan perhatian ternyata tidak begitu baik hati. Bila kutebak, ia bertugas untuk mengalihkan perhatianku selagi rekannya memanen organ-organku. Aku tidak marah, hanya sedikit kecewa. Bila aku jujur, Mas Mort memberiku sesuatu yang lebih bernilai dari kehidupanku, yaitu perasaan cinta. Untuk pertama kalinya, aku merasakan cinta. Ya, aku cinta Mas Mort. Cinta, cinta, cinta! Sangat menyenangkan bisa mengungkapkan kata-kata itu, walau kepada diri sendiri. Mas Mort telah memberikanku cinta dan kebahagiaan dengan harga sepasang ginjal, harga yang murah menurutku.

Aku menikmati momen ini detik demi detik. Sekali lagi, tak kurasakan sakit apapun. Yang kurasakan hanyalah cinta dan kebahagiaan. Aku sempat belajar bahwa perasaan bahagia disebabkan oleh beberapa hormon yang bekerja pada otak, seperti hormon endorfin. Kubayangkan otakku pasti sedang dibajiri endorfin yang telah menumpuk sampai bertahun-tahun. Sambil menunggu ajalku, aku ingat-ingat detik demi detik percakapanku dengan Mas Mort. Aku resapi setiap frame ingatan itu. Aku rela mati di sini karena ingatan terakhirku adalah berbincang dengan Mas Mort, pahlawanku yang menyelamatkanku dari kesuraman hidup dan memanusiakanku. Lucu, ya? Aku merasakan cinta dan kebahagiaan menjelang masa-masa terakhir hidupku. Jika aku bisa memberi pesan terakhir pada alam semesta, aku ingin berterima kasih karena terjadinya pertemuan pada malam hari ini. Di masa-masa terakhir hidupku, aku mendapat apa yang dicari hampir semua perempuan, cinta pertama dan terakhirku.

Cerpen Karangan: Bonfilio Nainggolan
Facebook: Bonfilio Nainggolan

Cerpen La Petite Mort merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Adik Yang Malang

Oleh:
Arini, dan Ristrina adalah dua adik kakak yang sangat serasi, kompak dan saling menyayangi. Mereka terlahir dari keluarga yang sederhana dan amat memahami soal agama. Mereka tinggal di sebuah

Kerja Keras Itu Kuncinya

Oleh:
“Cuci… cuci sendiri, makan… makan sendiri… ehei” Nyanyiku terus-menerus, akhir-akhir ini banyak orang-orang yang memanggilku ke rumah mereka, untuk makan, tentu saja bukan, mereka hanya memintaku untuk mencucikan baju

Terima Kasih, Ma

Oleh:
19 Desember. Sebentar lagi hari ibu. Apa yang akan aku berikan untuk Mama? Mungkin dalam kondisi seperti ini aku hanya bisa mengatakan ‘Selamat hari ibu’ ke Mama. Tapi aku

Dear Mom

Oleh:
Mentari pagi menampakkan senyuman penuh semangat membuat pagi ini terlihat menyenangkan. Aku terbangun dengan perasaan gembira menyambut pagi ini. Hari-hariku selalu dipenuhi oleh segudang aktivitas yang membuatku bosan. Namaku

Putri Lumpuh dan Datuk Kaya

Oleh:
Namaku Fatimah, hari ini aku sangat sedih. Sedih sekali. Entah kenapa perasaan ini begitu menghantuiku. Tidurku menjadi tak lelap, makan tak kenyang, mandi pun serasa tak basah. Aku memikirkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *