Langit Pagi Kota Jogjakarta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 July 2015

Piringan hitam mengalunkan nada nada memori lagu tradisional, berbagai macam alat musik mengalunkan melodi keharmonisannya. Ku intip dari balik korden lusuh dan usang, seorang tua menatap langit pukul 10 pagi di kota Jogjakarta.
Sejenak kemudian, Ia mulai meraih sebuah album foto penuh debu di atasnya dibukanya perlahan dan kulihat senyum di sela sela kulitnya yang mulai keriput. entah apa yang ada di dalam benaknya, aku tak dapat menerka.
kemudian beliau memanggilku untuk menemaninya, aku duduk di lantai di sebelah kursi goyang yang ditempatinya
aku merasa telah melewatkan kesempatan untuk bersamanya selama ini, dan membuang waktuku sia sia dengan hanya memprioritaskan pekerjaanku tanpa memperhatikan seorang yang telah rela meluangkan waktunya untuk ku dalam keadaan sesibuk apapun dia. Kami tertawa bersama, dan suatu kebahagiaan tersendiri duduk di sampingnya melihat raut senyum di wajahnya.
“Ibu, kau lah pemberi warna pada hidup ini, terima kasih telah memperingatkanku melalui selasar memori ini” batinku.

Itu adalah tahun terbaikku dan tahun pertamaku aku merasakan bahwa kehadiran Ibu sangatlah berarti buatku. 25 Ramadhan 1430H. saat ku kembali dari Penatnya kota Bandung menuju desa Bantul, Jogjakarta. Entah apa yang ada di dalam benakku sehingga setelah dua tahun mengadu nasib di Kota yang sarat dengan artis dan penyanyi tersebut aku memutuskan untuk pulang ke Jogja.

Jalanan Malioboro masihlah sama, masihlah terang ketika jam di dashboard depan bus jurusan bandung – Jogja menunjukkan pukul 0.13. Semua penumpang terlelap, dan sekilas aku melihat seorang paruh baya sibuk dengan ponsel bututnya. “Iya, Ayah masih di Bus ini, tunggu ya nak”.
Sepertinya dia sedang berbicara dengan putranya, sungguh pemandangan yang menyentuh, mengingat aku sendiri belum memiliki satu putra pun. Yang aku punya hanya ibuk di rumah di Jogja. “Buk, aku datang” tekadku dalam hati.
Beberapa jam kulalui memandangi kota Jogja yang sudah lama tak kulihat, akhirnya aku sampai pada tujuanku, pukul 2.34 aku turun dari bus dan berjalan menuju jalan setapak menuju tempat ku dilahirkan bersama kakak-kakakku dan satu adik perempuanku.
Ketika kuketukkan pintu rumah berbentuk joglo dengan teras di depannya tak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah namun, sayup-sayup kudengar tumbukkan bertalu talu. “Pasti suara dik Nimas.” Tebakku dalam hati. Kuhampiri sumber suara tumbukan padi tersebut, benar saja dik Nimas sedang menumbuk padi milik pakde Rosidi sebelah rumah.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam warrahmatullah, Lho? nyari sapa mas?”
“Lhah, piye to? aku Farhan”
“ealah, Farhan, lho? Farhan, mas Farhan mas ku? lho kapan ini datang mas, walaah” dia mengabaikan tumbuk padinnya hingga jatuh berdebam, mengabaikannya untuk datang mendekatiku
“wiih, tenan to ini mas Farhan? piye to kok ndak kabarin dulu? Buuk, mas Farhan rawuh” dia berteriak mengundang Ibuk datang.
“sampean tambah ganteng aja to mas, subhanallah” lanjutnya sambil mencomot pipiku dengan jarinya yang kecil kecil
“eh.. eh.., sakit lah dik, pipiku udah tinggal se onde onde melempem, bukan kayak bakpao lagi” jawabku enteng
Puas melepas rindu dengan Nimas, aku pun melihat sosok yang telah menanti dan memandangi kerukunan kami yang tak Nampak saat masih kecil dulu.
“Ibuk..”
Ibu hanya diam memandangiku, diam, wajahnya datar, tiba tiba seperti tersentak dari lamunannya, beliau tersenyum dan memelukku.
“Kok ndak kabar-kabar dulu to nak kamu itu?” Ibu menanyakan pertanyaan yang sama dengan Ningrum
“Inggih buk, kangen sama ibuk, jadi gak pikir panjang langsung deh pulang mumpung ada liburan mau idul pitri”.
Ibu melepaskan pelukan dan masuk ke dapur lagi, aku menemaninya hingga masuk dapur, sementara Nimas tergopoh–gopoh mempercepat menyelesaikan tumbukan padinya agar bisa menyambutku. Mas Aji sibuk bantuin ngangkat oleh oleh dari bandung ke dalam rumah sedang Mas Ramli, entah kemana dia, tak Nampak batang hidungnya sejak aku masuk lewat pawon.

Akhirnya jam 3 sore, waktu itu aku telah selesai bantu Mas Aji ngangkatin gabah yang jumlahnya berkarung karung masya allah. Masih juga tak Nampak wajah Mas Ramli, kata dik Nimas sih Mas Ramli jadi agak males sepeninggal Bapak, kerjanya Cuma ngerok*k, main gitar, kalo malem keluar entah kemana, pokoknya males, begitulah cerita Nimas tadi saat bercerita sambil mengiris sayur mayur untuk hidangan makan berbuka nanti. “kok mas Ramli jadi aneh begitu yo?” batinku.

Bantul – 27 Ramadhan 1431 H, selepas sholat tarawih bersama sama, Ibu merasakan ada yang janggal, benar sekali, Mas Ramli, sudah ditunggu hingga musholla bersih, tersisa hanya Pak Jarot dan Pak Haji Rizqo sebagai ta’mir masjid tersebut yang memang kesehariannya disana sedang melanjutkan khotmil qur’an nya.
“di mana Le, nduk, mas mu Ramli?”
“aku juga gak ngerti, mem” jawab Mas Aji keminggris padahal medok jawa
Dik Nimas hanya menggeleng tak menjawab.
“Wes begini saja bu, gimana kalo aku sama Farhan saja yang cari, Ibu sama Nimas emm.. pulang dulu aja” tawar mas Aji
“ndak Ji, ndak, Ibuk gak mau pulang kalo Ramli belum ketemu.”
“tapi bu, ini sudah malam, ibu nanti sakitnya kambuh lagi” jawabku membela mas Aji
“inggih bu, ayo deh pulang sama Nimas, nanti Nimas buatin minum anget, diminum obatnya yang kemarin dikasi sama Bu dokter puskesmas, nggih” tambah Nimas
“nggak,.. ndak.., kalo ndak ya ndak” Ibu tetap bersikeras
Melihat suasana sudah seperti adegan di sinetron sinetron seperti ini, akhirnya mas Aji buka mulut
“Bu, tolong, percaya sama aku sama Farhan, kita bakal nemuin Ramli” mas Aji meyakinkan Ibu dengan tatapan bijaksana dan penuh tekad
Ibu diam sejenak, nampaknya beliau mulai berpikir, Nimas bersembunyi di belakang Ibu, dia paling takut apabila mas Aji sedang serius dan meninggalkan tingkah slengekannya
“Yo sudah, Ibu percaya kalian, Aji, Farhan, Ibu pulang sama Nimas kalau begitu”
“nggih Bu, percayakan pada Aji sama Farhan” jawab mas Aji mengacungkan jempol sambil memulai senyum ikhlas penuh pengertiannya

Akhirnya Ibu dan Nimas berlalu di belokan pohon Jambu di samping rumah pak RT.
“Han, kamu tunggu sini yo, mas mau ambil sepeda ontel mas di rumah pak RT, kebetulan motor mas businya minta diganti setelah angkat gabah tadi siang, hehehe”
“walah, iyo lah mas, aku tunggu di sini”
Tidak lama mas Aji datang dengan sepeda ontelnya, dia tidak sendiri, dia bersama anak pak RT, Salim
“mas Farhan, apa kabar” sapa Salim
“weh, Salim ini? pake kacamata sekarang? oh, baik baik alhamdulillah” jawabku
“walah, iya mas, kebanyakan baca tulisan kecil kecil gitu, biasa tuntutan pekerjaan, hehe” Salim mulai bercanda
“hahaha”
“Mas katanya mau cari mas Ramli ya? ini pinjem aja sepeda Salim, kebetulan aku mau nginep di musholla, saya kan sekarang pembantu Takmir II”
“loh, bener nih” aku ragu dengan Salim
“inggih mas, pake aja, tapi besok habis sebelum jam 9 pagi dibalikin ya, Salim, hehe mau ketemu, anu.. hehe”
“Anggi ya?” sela ku
“oeeh, hahaha, mas kok tau aja” jawab Salim malu
“ilaaah, apa yang aku gak tau Lim, oke lah makasih nih udah boleh aku pake sepedanya”
“Iya mas, ati ati”
Suara keras dari mas Aji memecah suasana
“Oe, cepetan Han, keburu sahur nih”
“walah, baru juga selsai tarawih mas, hehehe”
Kami pun berpamitan dengan Salim dan bersepeda keliling Bantul mencari Mas Ramli, satu jam mencari, masih belum menemukan, 90 menit,.. 100 menit… masih belum ketemu juga,
“wah mas, ini udah malem, rasanya kita kudu nyerah deh” aku rem sepeda untuk berhenti, mas Aji tidak menjawab, tapi ikut mengerem sepedanya.
“mas..? ada apa?”
“ssst…!” sela mas Aji sambil mengisyaratkan aku untuk diam.
Mas Aji turun dari sepedanya tanpa mengalihkan pandangannya, aku heran dan mengikutinya berjalan mengendap endap, aku tidak melihat apapun di semak belukar itu, tapi aku rasa memang ada sesuatu yang bergerak disana
“gressek gressek” mas Aji mulai masuk ke dalam semak semak, tak lama kemudian dia keluar dengan senyum bangga dan tangan yang disembunyikan
“Ada apa sih mas?”
“dapet kelinci Han, punya siapa ya kabur?”
“Laa ilaa.. kirain ada mas Ramli disana”
Mas Aji pun menaruh kelinci temuannya di keranjang depan sepedanya dan ditutupin kain agar kelincinya tidak kabur. Pencarian mas Ramli pun berlanjut

Menuju jalan gang kecil yang dikenal sebagai “tempat itu”, mas Aji menelan ludah dan takut malah digebukin orang kalau Cuma lewat saja, jadi kami putuskan untuk beristirahat di warung seberang gang tersebut sambil minum kopi.
Sambil diterangi cahaya lampu bohlam sekitar 25 Watt, aku dan mas Aji saling diam menikmati kopi sampai akhirnya,
“kira kira di mana ya mas Ramli mas?” aku membuka pembicaraan
“tau, dia sukanya gitu Han, malem ngilang sudah, balik juga besok, emm bentar ada sms nih”

– Nimas –
Mas, sudah ndak usah dicari mas Ramli, nanti juga pulang
– akhir pesan –

“Lhah? ngapain Nimas sms gitu coba” tanyaku kepo
“dia mungkin udah muak sama kelakuan mas mu itu Han,”
Tiba tiba ada sms lanjutan

– Nimas –
Mas Aji, sbnrny aku dsuruh ms Ramli biar gk kasi tau, tp aku ksian sma mas Frhan yang bru nyampe lgsung kena masalah ini mas ramli sebenar
– akhir pesan –

“Lah, waduh kok kepotong di bagian penting” ujarku mendalami sms dik Nimas
“bales no mas, telpon kek kalo perlu” seru ku kepada mas Aji dengan rasa kepo berkelanjutan
“Iyo lah, ini lagi dibales, sabar”
Sementara masih menanti pesan singkat dari Nimas, Aku menyeruput kopi hitam khas Jogja
“waduh, ini piye to mas, kok pait gini” ujarku nyleneh
“Lho? punyaku nggak tuh Han?”
“coba dulu deh mas, nih lah” Aku menyodorkan kopi ku di lepek
“bwuuaah, puait lho ini”
“wonten nopo mas?” Tanya ibu pemilik warung yang bingung melihat gaduh yang kubuat dengan mas Aji
“Bu, ndak enek gendhis e niki” ujar mas Aji
“Astaghfirullah, maaf mas, saya lupa, maaf sini biar saya ganti, tadi ada telepon dari suami, mau balik, hehehe” jelas Bik Nem dengan medoknya
“Ya Allah, pantesan aja, jangan diganti sudah Bu, saya udah mau pergi lagi” jawabku sambil menyerahkan kopiku untuk Bik Nem
“ndak papa mas”
“sudah buk, tidak apa apa ini mau ngelanjutin nyari mas saya”
“emm, ya sudah, hati hati mas, sudah malam malam begini dari gang sana biasanya banyak orang ugal pake motor dibleyer bleyer begitu”
“inggih bu” jawabku dengan mas Aji hampir bebarengan.
Belum saja sempat keluar terdengar suara berdebam keras, dan suara deru mobil yang menjauh dari kami. Dengan rasa penasaran terkepo-kepo aku dan mas Aji mendekati sumber suara minta tolong,
“mas, suaranya kayak familiar gitu” tanyaku heran pada mas Aji
Sebelum mas Aji menjawab, ponselnya bersuara menandakan ada pesan masuk
“Nimas, Han” jawab Mas Aji yang ingin memulai topik baru
“Apa katanya mas?” tanyaku penasaran lagi
“katanya Mas Ramli tadi Cuma pengen mbelikan oleh oleh buat kamu Han, karena dia pengen barang yang entah Nimas juga ndak tau, dan barang itu cepet sekali habis, maka dia pergi ngilang dulu setelah tarawih tadi” jelas mas Aji
Aku terdiam, penjelasan tadi seakan menghapuskan semua perasaan su’udzan ku terhadapnya, prasangka bahwa mas Ramli telah berubah menjadi pribadi yang lebih buruk, praduga bahwa mas Ramli pergi ke gang ‘terlarang’ itu, semua sirna tak berbekas berubah menjadi beribu maaf yang tertunda dan tak sabar kuingin menemuinya dan meminta maaf
“subhanallah mas Ramli, kok begitu sama saya” batinku di dalam hati
Sentakan mas Aji mengagetkanku dari lamunan singkat tersebut.
“Oi, malah bengong, denger ndak ada yang minta tolong? ayo kesana?”
“o iyah mas, ayo”
Segera kami tergopoh–gopoh mengayuh sepeda menuju beberapa meter dari warung tersebut, dari kejauhan terlihat Ibu pemilik warung dan beberapa pengunjung warung yang baru datang melihat ke arah yang kami tuju dengan perasaan yang lebih penasaran.

Setelah sampai di tempat kudapati bekas tetesan darah, mulailah darahku berdesir dan bulu kudukku berdiri karena sedikit merinding, meskipun aku sudah 21 tahun masih saja penakut namun tidak seperti dulu. Suasana diam, lampu penerangan jalan sudah redup bahkan sebuah petromak saja mungkin lebih terang dari lampu jalan ini. mas aji memberhentikan sepeda kayuhnya, tidak dipedulikan lagi, dia mengunci tatapannya pada sosok di bawah pohon palem. gelap, tidak Nampak oleh mataku.
“Mas, mau kemana?” tanyaku sambil membuntuti mas aji
Mas Aji menyuruhku untuk diam, kali ini wajahnya tampak serius. Mulai terdengar sayup sayup olehku suara rintihan kesakitan, semakin lama semakin jelas, kami mendekati sosok tersebut, rambutnya kumal, wajahnya kotor sekali, baju koko yang dikenakannya penuh dengan noda merah darah hingga mengalir ke kain sarung using berwarna biru tersebut. Sepertinya mas Aji mengenali sosok tersebut, tapi aku tetap tidak ingin menanyakan hal tersebut padanya disaat seperti ini. satu kata yang membuat jantungku berdegup kencang dan mulai merasakan rasa dingin menuruni punggungku terucap oleh mas Aji.
“Ramli?” mas Aji terkejut dan sontak memeluk sosok misterius itu
“M..maas” sosok itu bagaikan menjawab keterkejutan yang kami terjebak di dalamnya. Ternyata benar bahwa dia adalah mas Ramli
“Cah edan!, kenapa kamu le? kemana aja?”
“mas, ma..af, Farhan ma..af..,” nafasnya tersengal, kepalanya dipenuhi dengan darah bercucuran, di dalam keadaan seperti itu, mas Ramli malah menyajikan sebuah senyum bangga kepadaku
“aku dapetin oleh-oleh buat kamu Farhan..”
“Bukan saatnya bilang gitu!” sanggahku “Ayo mas, buruan dibawa ke Puskesmas, eh atau Rumah sakit? cepetan”
Tanpa pikir panjang, kami membonceng mas Ramli sebisa mungkin, mengayuh sebisa dan sekuat mungkin, secepat mungkin menuju kota

Satu kilometer, dua, dua setengah..
Tibalah kami di salah satu RS terdekat di daerah kami, di sana kami langsung disambut para perawat. Beruntung sekali. Mas Ramli diambil alih oleh para perawat tersebut, memasuki selasar yang lebarnya kira kira satu setengah meter memasuki ruangan yang memiliki pintu bertuliskan UGD. Aku dam mas Aji duduk di ruang tunggu, mas Aji duduk diam, tatapannya dalam menusuk bumi, sedangkan aku tidak bisa mengendalikan kakiku yang tidak bisa kalah tenangnya.
“ayo ke musholla Han” ajak mas Aji
Tanpa pikir panjang saja aku ikut dengan anggapan untuk menenangkan diri, mungkin sholat malam menjadi pilihan terbaik saat ini. sebelum wudhu mas Aji telah selesai menelepon Nimas dan mengabarkan bahwa keberadaan kami sekarang ada di RS di dekat SMP di daerah lapangan sepakbola, dan mengabarkan bahwa mas Ramli mengalami kecelakaan.

Keesokan hari, 28 Ramadhan 1431 H. Ibu, Nimas, Pakde dan juga Bejo teman akrab mas Ramli datang menemui kami di ruang UGD, Ibu dan yang lainnya segera menengok mas Ramli, tidak mempedulikan kami. Nimas berbelok dan memberikan kami makanan sahur yang beberapa sudah dibawa ke dalam untuk mas Ramli.
“Kok bisa to mas?” Tanya Nimas membuka pembicaraan
“kami berdua ndak tau Nim,” aku menjawab sambil melihat mas Aji melahap tempe pertamanya untuk sahur
“astaghfirullah, kita emang ndak pernah tau apa yang udah dituliskan sama Allah, semoga mas ndak papa” Nimas menuturkan
“Aamin..” jawabku dengan mas Aji serempak

Pukul 6 tepat pagi. Kami tengah menanti kabar terbaru mengenai keadaan mas Ramli yang sebelumnya tidak sadarkan diri sejak dia sampai di rumah sakit. Ibu Nampak sedih sekali, dan aku ikut merasa bersalah. “Jika aku tidak datang mungkin tidak akan seperti ini” sesalku di batin

Pukul 6.17 menjadi jam dan menit yang mungkin akan kubenci seumur hidupku, belum sempat aku mengucap kata maaf untuk mas Ramli, tapi ia sudah lebih dulu pergi, ke atas sana mungkin, dokter melaporkan kepada kami bahwa terjadi kerusakan pada syaraf otaknya dan putusnya beberapa jaringan apa itu aku tidak mengerti perkataan dokter yang sangat ilmiah.
Aku menuliskan pada secarik kertas beberapa kata yang sebisa mungkin kurangkai untuk mengiringi kepergian mas Ramli, selain dengan doa dan mengharap ampunan atas dosa dan agar diterima amal baiknya di sisiNya

Langit pagi kota Jogjakarta kala itu, gelap angin berhembus pelan membelai dedaunan yang terkesan malu malu.
Langit pagi kota Jogjakarta kala itu seakan ikut mengantarkan sosok penuh misterius, Ramli Ash shidqi tertulis di batu nisan, berpuluh pasang mata menghantarkan jenazahnya, beberapa pasang mata tak ragu meneteskan dan mengalirkan air mata penuh arti.
Sedih, Tak rela, dan prasangka
Langit pagi kota Jogjakarta kali itu menjadi saksi kembalinya kakak ku kepada-Nya.
Langit pagi kota Jogjakarta kala itu menjadi pendamping rasa bersalahku kepada Ibu, dan mas Ramli khususnya.
Langit pagi kota Jogjakarta kala itu menyakahkanku, melihatku tak berdaya.
Langit pagi kota Jogjakarta kala itu mengatakan yang se-iya dengan kata hatiku
selamat jalan, Mas.
Langit pagi kota Jogjakarta akan mengingat kebaikamu
Langit pagi kota Jogjakarta sekarang menangis mengenangmu

Farhan Maulana

Cerpen Karangan: Mohamad Aldi Wahyu
Facebook: Mohamad Aldi Wahyu

Cerpen Langit Pagi Kota Jogjakarta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Guruku

Oleh:
Matahari baru setengah terlihat di timur langit, sinarnya memaksa menerobos rimbunnya dedaunan. Beberapa burung menyanyi sambut pagi yang cerah ini. Di antara pepohonan terdengar suara sepeda yang berisik dan

Bersama Adikku

Oleh:
Tak mungkin. Tak mungkin ia pergi begitu saja. Aku masih sayang dia, karena dia adikku tercinta. Aku tak bisa membayangkan ia pergi untuk selamanya. Badannya yang kecil itu, mengapa

Sahabatku Berubah

Oleh:
“hai zid” panggilku kepada sahabatku yang bernama zidny “hai juga lala” jawabnya kepadaku “zidny nggak kerasa ya dikit lagi kita berpisah” aku yang tampak sedih karena tidak bisa ketemu

Kithmir Dan Maxalmena

Oleh:
Sinar Matahari mulai sepenggalah naik. Perlahan menyingkap eloknya mozaik alam semesta raya. Namun sesosok pemuda nampak bermandi peluh, perlahan dia menyingkap kain bajunya untuk mengelap bulir keringat yang membasahi

Antara Cinta dan Cita Cita

Oleh:
Segerombolan siswa maupun siswi berlarian ke gerbang SMA N 1 yang merupakan SMA favorit di daerah tersebut. Hal itu bukan tanpa sebab yang jelas. Ini adalah hari Selasa. Hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *