Letter

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kristen, Cerpen Misteri, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 November 2017

25 Desember 2016
Hari ini adalah perayaan natal ke-25 dalam hidupku. Namun, natal tahun ini tidak semeriah dulu. Orangtuaku sudah pergi akibat kecelakaan pesawat yang bahkan sampai sekarang baru mayat ayahku yang ditemukan. Namaku Lily dan aku adalah anak tunggal, maka dari itu semenjak kepergian orangtuaku kesepianlah yang menemani.

Dulu, setiap kali natal datang kami akan memanfaatkan moment itu sebaik mungkin. Salju yang turun membuat kami sulit untuk berlama-lama di luar akibat udara yang amat dingin. Maka dari itu, ayah akan membuat tungku api untuk menghangatkan tubuh kami, ibu akan menyiapkan tiga gelas coklat panas, dan aku akan menyiapkan sebuah selimut untuk kami pakai bertiga sambil menonton televisi. Kadang, aku masih merasa dingin —itu karena tubuhku yang memang tidak kuat dingin. Jadi, dengan sukarelanya orangtuaku memberikan pelukan yang langsung membuatku hangat.

Tapi, itu dulu bukan sekarang. Tahun ini aku tidak merasakan itu lagi. Aku tidak bisa lagi menertawakan ayahku yang kesulitan membuat tungku api, aku tidak bisa lagi merasakan lezatnya coklat panas buatan ibuku, dan aku tidak bisa lagi merasakan kehangatan yang diberikan orangtuaku melalui pelukannya. Yang paling terpenting, aku tidak bisa lagi merasakan kasih sayang seperti anak yang lain.

Sekarang, ditengah-tengah salju yang turun aku sedang diantar oleh supirku menuju gereja. Sesampainya di sana aku masuk dan mengambil tempat. Aku menunggu dengan sabar dan akhirnya suara lonceng pertanda kebaktian dimulai terdengar. Sontak, semua umat berdiri dan bernyanyi bersama mengiringi langkah pastur dan para petugas kebaktian menuju altar.

Kebaktian perayaan natal dimulai. Seluruh umat mengikuti kebaktian dengan khidmat. Dan setelah acara selesai, aku menatap sedih satu keluarga yang duduk bersebelahan denganku. Mereka saling berpelukan dan mengucapkan ‘selamat natal’. Tanpa sadar air mataku jatuh melihat interaksi mereka. Kutundukan kepalaku bermaksud menyembunyikan jika aku tengah menangis.

Jujur, aku merasa iri pada mereka. Aku rindu orangtuaku. Aku ingin mengucapkan ‘selamat natal’ pada orangtuaku. Dan satu-satunya cara agar aku bisa memberi ucapan adalah berdoa. Jadi, daripada aku berlama-lama melihat keharmonisan keluarga itu, aku bawa kakiku ke altar dan bersujud di sana sambil menyatukan kedua telapak tanganku dan menutup mata.

“Tuhan, sampaikan ucapan selamat natalku pada ayah dan ibu. Sampaikan juga jika aku baik-baik saja meski tanpa mereka.” Aku menyadari jika suaraku bergetar. “Natal kali ini aku merasa kesepian, Tuhan. Tolong kirimkan aku sesosok malaikat yang bersedia menarikku dari lingkaran kesepian ini.”

Aku terlalu larut dalam doa, membiarkan air mataku terus jatuh disetiap doaku. Setelah cukup puas, kusudahi doaku lalu berbalik. Alangkah terkejutnya aku ketika mendapati seorang lelaki tinggi berada di depanku. Buru-buru kuhapus sisa air mataku dan menunduk. Oh, aku merasa sangat malu. Pasti lelaki itu mendengar doaku juga tangisanku. Uh, aku sampai lupa jika di gereja ini masih banyak orang.

“Ini.” Lelaki asing itu memberiku sebuah amplop kecil berwarna merah. Kuberanikan diri untuk mengangkat kepala dan menatap lelaki itu bingung. “Seseorang menyuruhku untuk memberikan surat ini padamu.”

Aku semakin kebingungan. Pandangan kuedarkan ke penjuru gereja, mencari seseorang yang kemungkinan memberikan surat ini padaku.

“Hei, cepatlah ambil. Aku harus segera pergi.” Aku menghentikan aksi mencariku dan segera mengambil surat itu dengan seutas senyuman. “Dan, ini juga. Gunakan ini untuk menghapus air matamu. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Percayalah, Tuhan akan mendengarkan doamu.” Lelaki itu memberikanku sapu tangan bermotif lucu khas natal. Aku tersenyum malu, sudah kuduga dia mendengarnya. Karena dia semakin mendekatkan sapu tangan itu padaku, segera kuambil sapu tangan itu.

“Terima kasih.” Dan lelaki itu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tak kupedulikan lagi dia, karena sekarang
aku lebih penasaran dengan surat ini.

SELAMAT NATAL, MALAIKATKU 🙂
Kuharap natalmu menyenangkan. Aku tahu kau masih bersedih karena kematian orangtuamu. Tapi, karena hari ini natal jangan tunjukan kesedihanmu dan tersenyumlah. Kau jauh lebih manis saat tersenyum. Jangan merasa kau kesepian, ada aku di sini menemanimu. Meski dari jarak jauh.
Tertanda,
Richard.

“Richard?” Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Bahkan kurasa aku tidak pernah bertemu atau kenal dengannya. “Eh?” Aku teringat akan sapu tangan yang lelaki tadi berikan.

Kulihat dan tanpa disuruh senyumku terukir. “Siapa nama lelaki tadi ya? Aku lupa untuk menanyakan namanya.”

30 Desember 2016
Jika aku merasa sangat bosan di rumah, aku pasti akan pergi ke tempat ini. Studio musik pribadiku. Ayah yang membuatkan studio ini, karena ayah tahu aku sangat menyukai musik dan terkadang kami berdua saat akan bermain musik bersama di sini. Keterampilan bermusikku pun turun dari ayah. Ayah sangat pintar memainkan piano dan gitar. Setiap kali ayah memainkan piano, aku akan terhanyut oleh musik yang dimainkannya hingga ikut bernyanyi.

Aku sangat suka ketika ayah bermain piano. Ayah sangat terampil memainkannya membuatku penasaran dan ingin mencoba. Tapi, aku tidak berani meminta ayah untuk mengajari karena aku tahu ayah memiliki kesibukan lain sehingga aku harus belajar otodidak.

Tanpa kuduga, ketika ulangtahunku ke-17, ayah yang tak sempat membelikanku hadiah menawarkan untuk diajarkan bermain piano sebagai gantinya.

“Sebagai hadiah dari ayah, ayah akan ajarkan kau bermain piano sampai bisa. Siapa tahu suatu saat nanti kau bisa menjadi seorang pianis hebat yang dikenal banyak orang.” Mengingat ucapan ayah kala itu membuatku spontan menekan tuts piano yang langsung mengeluarkan nada-nada indah. Mataku perlahan tertutup menikmati nada yang kuhasilkan sendiri dari menekan tuts asal. Bibirku juga terbuka, mengeluarkan suaraku untuk bernyanyi secara asal.

Aku jarang bernyanyi sambil menghayati lagu yang kunyanyikan. Kali ini berbeda. Setiap lirik yang spontan keluar dari mulutku penuh penghayatan. Bahkan lagu yang kunyanyikan dan musik yang kumainkan bukan berasal dari penyanyi manapun. Singkatnya, aku menciptakan sebuah lagu yang dikhususkan untuk orangtuaku di surga sana. Dan lagu ini kubuat dalam sekejap.

Terlalu terlena dalam permainan, aku sampai tidak sadar jika Bibi La, seorang pelayan yang bekerja di rumah kami berada di depan pintu. Aku menyadarinya kala Bibi La bertepuk tangan, mengapresiasi permainan musikku. Senyuman kuberikan padanya. Kututup pianoku terlebih dahulu sebelum mendekati Bibi La.

“Ada apa, bibi?”
“Ada seseorang yang memberikan ini, dan dia berkata ini untuk nona.” Bibi La memberikanku amplop berwarna biru langit yang kuyakini berasal dari orang yang sama. Richard.
“Siapa yang memberikan suratnya, bi?”
“Dia tidak menyebutkan namanya. Wajahnya juga tidak terlihat karena dia memakai masker, yang bibi tahu dia seorang lelaki yang memiliki tubuh tinggi.”
Aku mengambil amplop itu. “Oh, baiklah bi. Terima kasih.” Bibi La mengangguk, setelah ia membungkuk padaku ia berbalik dan pergi.

Sembari memutar-mutar amplop itu aku berjalan ke sofa yang satu-satunya berada dalam ruangan ini. Sofa ini langsung berhadapan dengan jendela yang dibuat dengan tujuan sehabis lelah bermain, aku dapat beristirahat sambil menikmati pemandangan di luar. Kubuka amplop tersebut dan kutemukan secarik kertas yang terlipat di sana.
Jika dihitung ini adalah surat ke-11 yang kudapat. Semenjak kejadian di gereja kala itu, setiap harinya aku selalu mendapatkan surat dengan warna amplop yang berbeda. Bahkan dalam sehari aku bisa mendapatkan lebih dari satu surat. Isi suratnya tak pernah jauh dari memberiku motivasi, menghibur, juga rayuan kecil.

Anehnya, kadang jika aku merasa sedih, surat ini juga akan datang dan memberiku penghiburan. Jika aku merasa sangat senang, surat ini juga akan datang dan memberi pertanyaan ‘kenapa kau terlihat sangat senang hari ini?’. Jika aku merasa kebingungan, surat ini juga akan datang dan membantuku untuk menyelesaikan kebingunganku. Aku sampai berpikir, apakah lelaki bernama Richard ini seorang peramal hingga ia bisa tahu bagaimana situasiku kala itu. Atau mungkin dia menguntitku selama ini?

Tapi, aku tidak peduli. Kedatangan surat ini setiap harinya membuatku merasa tidak kesepian. Kadang aku berharap si pengirim surat ini berhenti untuk mengirimkanku surat dan langsung menemuiku agar kami bisa menjadi teman. Terdengar menyenangkan bisa berteman dengannya.

Baru saja ingin kubaca isinya, mataku tertuju pada seseorang yang melihat ke arahku melalui jendela. Saat mata kami saling beradu, ia melambaikan tangannya. Aku bangkit dan mendekati jendela panjang itu. Tidak terlalu jelas aku melihatnya lantaran ia berada di bawah dan aku di atas. Tapi samar-samar aku melihat ia memakai masker.

Oh, aku yakin ia pengirim surat ini!
“Hei, kau! Tunggu di sana!” Aku tidak tahu apakah dia mendengarkanku atau tidak. Segera saja aku berlari keluar dan menuruni tangga dengan terburu-buru. Sayangnya, setelah aku sampai di depan gerbang rumah, aku tidak menemukan siapa pun. Mungkin tadi dia tidak mendengar ucapanku. Atau, hanya halusinasiku saja?

Helaan nafas kecewa keluar dari belah bibirku. Mungkin suatu saat nanti aku bisa bertemu dengannya. Teringat akan surat yang belum kubaca, langsung saja kubuka lipatannya. Pupilku bergerak membaca serentetan kalimat yang tertulis di sana, dan seketika senyum lebarku terukir.

Terwujud. Aku bisa bertemu dengannya.

Aku suka suaramu. Sangat merdu dan menenangkan hati. Seperti seorang malaikat.
Aku juga bisa memainkan alat musik. Mungkin lain kali aku akan mengiringi nyanyianmu dengan kemampuan bermusikku.
Teruslah bernyanyi. Aku menyukainya.
Hm, bisakah kita bertemu besok? Aku sangat ingin bertemu denganmu.
Pukul 9 di danau dekat taman anak-anak. Aku akan mengenakan sweater coklat dan topi.
Tertanda,
Richard.

Aku terus berteriak meminta tolong. Tanganku meronta-ronta agar dapat dilepaskan oleh dua lelaki yang tidak kukenal. Mereka membawaku masuk ke dalam rumah kosong, mengikat kedua tanganku dan langsung menelanjangiku. Saat itulah aku menangis pilu. Aku disentuh oleh dua lelaki asing, dan yang menyakitkannya lagi aku juga disiksa.

Awalnya aku tengah dalam perjalanan menuju danau untuk menemui Richard. Namun, tiba-tiba dua orang lelaki menghadang jalanku. Awalnya mereka merayuku, tetapi aku menolaknya dengan cara kasar.

Aku terus berdoa dalam hati agar ada yang datang menolongku meski sudah terlambat. Pemerk*saan dan siksaan itu membuatku menjadi tidak berdaya. Wajahku sudah penuh luka, pakaianku berantakan dan sobek, suaraku juga habis karena terlalu banyak menangis dan berteriak.

Kejadian buruk itu berakhir dengan tubuhku yang terhempas keras ke lantai dengan darah sedikit keluar dari mulut. Aku merasa sudah tidak dapat bergerak lagi. Tulangku serasa sudah patah. Paru-paruku juga menyempit sehingga aku merasa sesak. Meski pandanganku memburam aku masih dapat menangkap dua lelaki itu mendekatiku. Mengangkat tubuhku dengan cara mencekiknya dan menghempaskan punggungku ke dinding.

“Jangan biarkan dia hidup. Jika dia kita biarkan hidup, dia bisa melaporkan kejadian ini pada polisi.” Seseorang yang mencekikku mengambil pisau lipat dari saku celananya. Aku hanya bisa pasrah. Aku yakin hidupku akan berakhir hari ini. Dan saat pisau itu menembus kulit perutku, mataku tertutup erat lantaran merasa sakit yang amat sangat. Jemariku memegang pisau yang menusukku hingga jari-jariku sekarang penuh dengan darah. Pisau itu didorong semakin dalam dan mataku semakin tertutup rapat.
Sepersekian detik kemudian, pisau itu ditarik kembali. Tubuhku terjatuh lagi bersamaan dengan aku yang merasakan nyawa keluar dari tubuhnya.

Aku pergi di akhir tahun. Tanpa mengetahui siapa sosok Richard. Si pengirim surat yang menemani hari-hari sepiku.

Siapa kau, Richard?

Cerpen Karangan: Raptanaria S
Facebook: Raptanaria Sinurat

Cerpen Letter merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Warisan Yang Terputus

Oleh:
Pintu tertutup dengan tiba-tiba. Lampu tua yang berdebu berkedip-kedip. Sesosok kakek tua muncul dari sisi gelap ruangan. Setelah itu menyusul si nenek dan cucunya yang kepalanya mengucurkan darah entah

Sang Penyelamat

Oleh:
“Andra!” Sandara merengut kesal saat seseorang memanggil namanya seperti itu. Ia berbalik dan mendapati seorang lelaki melambaikan tangan padanya. Raut wajahnya tambah kesal saat melihat pria itu. “Aku mau

Janji Yang Membisu

Oleh:
Janji kebersamaan kita yang tak akan pernah pupus terlekang oleh waktu. Kini kau telah tenang disana sayang, menanti kehadiranku kembali untuk melanjutkan cerita kita dulu. Tuhan punya cara untuk

Membenam Rasa Kepedihan

Oleh:
Hati ini belumlah lupa bagaimana ia menilaiku. Tak melihatku dan semakin melupakanku, terdiam tiba-tiba aku di tepi jembatan kota jakarta ini. Dengan berlinangan air mata dalam hati ku pantulkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *