Lost World

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 November 2017

“Kehidupan memang seperti roda berputar. Kadang kita merasa sangat bahagia namun tiba-tiba masalah muncul. Itu lah hidup.”
Begitu kata orang-orang dulu. Namun pada masa yang kelam ini, tidak ada satupun orang yang mendapat kebahagiaan.

Sekarang tahun 2087. Masa ini merupakan masa terkelam umat manusia. Ya, kini dunia telah rusak. Bahkan lebih parah dari yang kau bayangkan. Apa kau tau? Saat ini lapisan ozon sudah sangat menipis. Sedikit dari sinar ultraviolet telah dapat menembus bumi. Oksigen sulit didapat. Bahkan untuk menghirup oksigen saja kita harus membayar. Air susah didapat. Sungai-sungai telah menghitam tercemar dan penuh sampah. Tak ada satupun pohon yang masih bertahan. Semuanya tinggalah orang. Orang-orang yang mati tergeletak di jalan sudah pemandangan biasa bagi kami. Setidaknya ada 2 orang yang mati tiap harinya. Miris bukan? Dan yang lebih miris lagi, pemerintahan sekarang ini sudah tak karuan. Bayangkan saja pemerintah zaman sekarang sudah tak lagi mengurusi keperluan rakyatnya. Mereka hanya mementingkan dirinya sendiri. Berita tentang korupsi sudah tak asing lagi di telinga kami.

Namaku Putri Anandita, orang-orang di sekitar memanggilku dengan sebutan Putri. Aku tinggal bersama keluarga sederhana. Di sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Keluargaku hidup pas-pasan karena gaji ayahku hanya 3.000.000 per bulannya. Itu pun hanya bisa untuk membeli makanan dan satu galon air saja.
Aku berbaring di ranjang kamarku. Melihat langit-langit kamarku. Mungkin telah menjadi kebiasaanku akhir-akir ini. Membayangkan tentang sebuah kehidupan masa lalu. Seperti yang diceritakan kakekku, masa lalu adalah masa-masa bahagia. Udara masih sangat segar, pohon-pohon dapat tumbuh dengan subur, air masih sangat jernih. Namun manusia malah maerusaknya.

“Ini tidak adil,” gumamku, “mereka tidak memikirkan masa depan anak cucunya, mereka malah merusak masa depan. Mereka memang egois.”
“Aku juga ingin merasakan sejuknya udara, rindangnya pohon, segarnya air. Aku ingin melihat burung-burung yang bernyanyi, semuanya. Andai saja dulu manusiatak merusak hutan.”

Aku mencoba meraih diaryku yang berada di kolong tempat tidurku, “Ah.. Ini dia, bolpoinnya masih ada.”
Diary itu cukup menarik menurutku. Diary itu terlihat bersampul cokelat dengan pita di bagian kanan atasnya, tapi jika kau arahkan diary itu ke cahaya matahari, kau akan melihat buku itu berwarna merah. Menarik bukan?
Aku membuka diary itu. Pada halaman pertama bertuliskan “CATATAN-CATATAN HARIAN PUTRI ANANDITA”. Aku membuka lembaran-lembaran selanjutnya dan membaca kembali apa yang telah kutulis. Di halaman yang kosong aku menuliskan:

Dunia semakin mengganas..
Kini dunia tidak lagi bersahabat dengan manusia..
Akankah aku melanjutkan hidup?
Atau mengakhiri hidup.
Tuhan…
Aku sudah bosan dengan ini semua.
Orang-orang yang tergeletak di pinggir jalan.
Orang-orang yang mengemis dengan tangan dan kaki yang sudah tak karuan.
Dengan pemerintahan yang seperti itu.
Aku bosan dengan semua ini, Tuhan…
Aku ingin hidupku berubah.
Aku ingin kembali ke masa lalu.
Sejuknya udara.
Rindangnya pohon.
Segarnya air.
Aku ingin merasakan semua itu.

Seketika aku langsung tertidur. Saat aku memasuki dunia mimpi. Aku tak tahu apa yang aku impikan. Ini seperti sebuah kehidupan. Ya kehidupan masa lalu.
“Inikah kehidupan sebenarnya?”. “Seperti inikah kehidupan masa lalu yang pernah diceritakan kakek?, sungguh menabjukkan” gumamku di dalam mimpi.

Keesokan harinya, Aku terus membayangkan tentang mimpiku semalam. Hingga aku lupa, bahwa aku mempunyai janji dengan seseorang. Ya, hari ini sekolahku terpaksa diliburkan. Entah apa alasan yang jelas.
Aku pergi ke sebuah sungai dekat dengan rumahku. Di sana sudah ada Sam yang sedang duduk di atas batu yag cukup besar.
Tinggi, bermata biru, berhidung mancung, dan berambut pirang. Mungkin itu yang bisa kubayangkan ketika mendengar nama “Sam”. Ia adalah sahabatku sejak SD. Menurutku dia baik, sangat baik. Satu hal yang aku kangumi darinya, pada masa sekarang ini aku tak pernah melihat ia tampak murung. Entahlah aku bingung, bagaimana ia bisa selalu terlihat bahagia di masa seperti ini?

“Eh Sam, sorry ya, nunggu lama,” kataku.
“Gak begitu lama juga kok, baru aja sampai beberapa menit yang lalu,” jawab Sam.
“Eh Sam” panggilku.
“Apa?”jawab Sam dengan halus.
“Semalam aku bermimpi tentang masa lalu, ternyata kehidupan masa lalu indah banget ya” kataku.
“Ya gitu lah, kata kakek nenekku juga begitu” jawabnya.
“Inilah dunia kita” aku menghela nafas. Sesaat suasana menjadi hening.
“Aku ingin mengakhiri hidup” ucapku spontan.
“Jangan menyerah gitu aja dong, kan kita masih harus menggapai cita-cita kita”.
“Sampai kapan kita akan meraihnya, Sam,” kini aku tak dapat membendung air mata.
“Sampai kapanpun” jawab Sam. Aku hanya bisa menangis tanpa kata.
“Kita pasti bisa kok,” lanjut Sam yang berusaha menghiburku.
“Itu mustahil,” kataku, “Di zaman seperti ini sudah tak ada lagi harapan.”
“Nothing Is Impossible, Tidak ada yang mustahil di dunia ini asalkan kita berusaha, yakin, dan percaya,” ucap Sam.

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah. Aku memiliki janji untuk Pergi bersama Sam ke toko buku.
“Putri, kamu mau ke mana?” tanya ibu.
“Mau pergi sama Sam bu, mau ke toko buku” jawabku.
“Putri, apa kamu belum dengar berita ya?” tanya ibuku lagi.
“Berita apa bu”.
“Sam sudah nggak ada, Sam sudah pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya”. Deg.. Spontan aku langsung terkejut.
“Apa benar bu, Sam meninggal. Ibu tau dari mana?”
“Iya nak, tadi ibu Sam bilang. Katanya Sam meninggal kerena keracunan air yang dia minum” jelas ibu.
“Tadi ibu Pilar menitipkan ini untuk kamu,” Ibu memberikan sebuah kotak. Aku pun membuka kotak tersebut. Ada secarik kertas di dalam kotak tersebut yang bertuliskan.

“Dear Sahabatku Putri”
Hai, Putri. Aku sudah bertemu dengan Tuhan. Aku akan bicarapada Tuhan tentang keadaan bumi. Kau harus tetap semangat ya. Ingat kata-kataku “Nothing Is Impossible” Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Semua akan terjadi asalkan kita percaya bahwa kita bisa menggapainya.

Sahabatmu,
Pilar

Cerpen Karangan: Aisya Nasywan ‘Azizah

Cerpen Lost World merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kematian Tanpa Sesal

Oleh:
“Rara, bangun..!” “Hoamm.. iya ibu, Rara sudah bangun”. Kulirik jam dinding yang tergantung manja di tembok kamarku. Jarum-jarum mungilnya menunjukkan bahwa saat ini jam berjalan pukul 04.50 pagi. Saatnya

Benayuk Dan Menjelutung

Oleh:
Di desa Pelita Kanaan terdapat sebuah permukiman warga suku Dayak Abai yang terletak di tepi sungai Kabiran, Kabupaten Malinau. Itulah desa yang akan dikunjungi oleh Gilang dan keempat temannya.

Sahabatku Mencintai Pacarku

Oleh:
Haloo. Namaku Frisya Gita Ramadhani. Panggil aja Gita. Aku diam diam suka sama kakak kelasku. Namanya Dylan Pratama. Namun ternyata sahabatku juga mencintai Kak Dylan. Nama sahabatku Zaskia Adriani.

Diary Kecilku dan Sahabat Dua Alam

Oleh:
Aku Keisya, siswi kelas VII-4 SMP Negeri *3 Kota Bekasi (sensor). Aku mempunyai hobi membaca. Sebagai wanita, aku juga wajar menyukai seorang pria, orang tersebut bernama Arya. Arya adalah

Masa Ku Dibalik Masa Lalu

Oleh:
Ku duduk termenung di bangku taman kota, ku memperhatikan setiap kegiatan orang-orang di sekitar ku, pandangan ku tertuju pada satu kelompok keluarga yang sangat bahagia menikmati hari ini, mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *