Lukisan di Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 July 2014

Aku ingin melukiskan dirimu, terutama senyuman manismu, layaknya leonardo da vinci yang telah berhasil melukiskan monalisa hingga sekarang dengan senyuman misteriusnya…

Angin berdesir gemuruh ombak membahana, kicauan burung memperindah suasana indah pantai. Dari kemarin dengan aktivitas yang sama, aku masih duduk termangu di bibir pantai dengan kanvas putih berdiameter 150 cm, kuas dan cat yang mulai mengering. Mencoba melukiskan senyumannya dan semburat jingga saat senja tiba.
Ya, senja. Mungkin Tuhan sengaja menciptakan cahaya indahnya untukku, sehingga tak tahu apa alasannya aku sangat suka senja dari pada hal-hal terindah yang pernah Tuhan ciptakan; taburan bintang, cahaya rembulan serta bianglala yang muncul setelah guyuran hujan.

Dan seperti biasa, aku melihatnya disana bersama cahaya senja. Berdiri di antara pasir yang basah dan ombak yang berlarian ke tepi pantai. Entah telah berapa kali aku melihatnya, setiap kali aku ke sini menikmati salah satu anugerah Tuhan.
Dia selalu ada di sana; kadang berdiri, berselonjor kaki dan terkadang duduk memeluk lutut. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai dihempas angin.
Wajahnya mendongak, menatap lekat pada senja yang mulai mendekati bentuk sempurna. Ia tak asing bagiku, bagi hidupku. Mengingatnya, aku merasakan damai sekaligus luka meski semua kini telah menjadi sejarah panjang.

Senja. Warna jingga yang bertabur di sana selalu mengingatkanku kepadanya saat kami bersama menikmati senja. Terkadang selain menikmati cahaya indahnya, Ia mengajakku lari-larian, membuat perahu kertas lantas melepasnya ke lautan dan membagun istana dari pasir.

Di sana, di antara ombak yang berlarian ke tepi pantai, aku ingat awal pertemuan kami. Aku ingat jelas senyum syahdunya kala itu, saat aku melukiskan perahu-perahu nelayan yang memadati lautan.
“Lukisan yang indah.” sapanya waktu itu seraya melempar senyuman ke arahku.
Aku tak dapat berkata apa-apa, bibirku serasa kelu saat dia tersenyum. Aku hanya bisa membalas dengan senyuman.
“Bisakah kau melukiskan aku saat menatap senja itu?” ia menunjuk pada senja keemasan di ufuk barat. Aku masih terdiam, tanpa bisa berbicara apa-apa.
“Tenang saja hasil jerih payahmu akan kubayar.” Tetap saja bibirku kelu untuk sekadar mengucapkan kata ya. Aku menoleh kepadanya, mengernyitkan dahi. Ia mengangkat alis, sebuah respon segera membalasnya.
“Baiklah, silahkan cari tempat yang nyaman”.
Ia tersenyum, manis sekali, lantas beranjak ke arah ombak yang berlarian ke tepi pantai. Ia duduk memeluk lutut tepat di pinggiran pantai. Wajahnya mendongak, menatap senja dengan warna keemasannya. Lalu aku mulai menjalankan tugasku mencampur beberapa cat, lalu memoleskannya pada kanvas yang baru.

Namun kini, entah mengapa aku tak berani mendekatinya sekadar mengajaknya kembali bermain seperti dulu. Aku tak ingin mengganggunya menikmati senja. Aku lebih memilih diam di sini, di bawah rimbun pepohonan dengan berteman kanvas yang telah kulukiskan senja yang tengah terapung di lautan lepas.

Sore ini kembali kusapa senja dan ombak yang sedari tadi bergemuruh saling bersahutan. Akan tetapi, kurasa ada yang lain suasana senja kali ini. Warna jingga yang bertabur di antara senja kini telah tiada, berganti dengan warna merah pekat.

Dan kulihat dia menangis, tangisan sendu yang amat memilukan. Entahlah aku tak tahu kenapa dia menangis, ingin sekali rasanya diriku menghampirinya sekadar menanyakan apa yang telah terjadi sehingga membuatnya menangis.
Isaknya menyayat hati, aku tak tahan lagi kualihkan pandangan ke kanvas yang sedari tadi kosong. Aku kembali melihatnya. Namun dia telah tiada, hanyalah ombak yang beradu, berlari ke tepi pantai dan menghapus jejaknya.
Ah… selalu saja begini dan di setiap kali dia menghilang seketika mataku sembab dan di saat itu pula, sosok yang selalu ada untukku, Ibu mengulurkan tangan lembutnya kepadaku untuk segera melupakan masa lalu dan perlahan menghapusnya dalam memory ingatanku.

Seperti biasa, di akhir kisah ini aku akan mengeluarkan sesuatu dari saku celanaku, sesobek surat kabar usang yang bertuliskan; HEADLINE NEWS: Sesosok wanita ditemukan tenggelam di tengah lautan.

Cerpen Karangan: D Hasany Achmad
Facebook: Sany Acdovic

Cerpen Lukisan di Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alasan

Oleh:
Pahit begitu terasa di pengkal tenggorokannya setiap kali ia menelan air ludah. Suara bergemuruh selalu muncul dari arah perutnya memprotes kepada sang pemilik yang tidak kunjung memberikan haknya. Entah

Selamat Jalan Bun

Oleh:
Hai! Namaku Zharine Dyllana Aika. Panggilanku Ana. Suatu sore yang indah, sehabis pulang sekolah, aku mendengar ayah dan bunda sedang membicarakan sesuatu yang serius. Aku mengupingnya dari balik pintu

Biola Hitam

Oleh:
Nisa menyusuri trotoar menuju halte bus. Terik matahari menyoroti wajah Nisa yang putih bening. Nisa melihat sepanjang tempat duduk di halte, penuh tidak memungkinkan untuk duduk, dengan terpaksa dia

She’s My Best Friend Forever

Oleh:
Hari selasa itu aku melihat Hira diantar kakaknya ke sekolah. Ia terlihat masih sangat pucat setelah 1 hari tak masuk sekolah karena sakit. Sahabat karibku yang genius itu memang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *