Maaf Yang Tak Berarti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 May 2017

Bermula dari salah seorang gadis kecil yang terlihat sedang menangis. Wajah mungilnya terendam oleh deraian air mata. Ia menatap senyap ke arah depan. Helaian senyum bak mentari, meninggalkan secercah bekas pada relung jiwa.

“Tidak…”
“Ini tak mungkin nyata!” Gemuruh hatinya kian menolak.
Ia mendekap kedua kakinya dengan tangan bergemetar. Di hadapannya, pintu besar seakan membungkam.
“Mengapa mereka tega melakukan ini? Apa salahku…”

“Hahaha.”
Suara gelak tawa terdengar dari balik pintu.
“Dasar cupu.”
“Huuu, bisanya hanya mengadu saja! Kamu pikir, penderitaanmu akan berhenti?”
“Lupakan saja mimpi indahmu itu.”
‘Ya Allah, kuatkan dan tabahkanlah hamba, sehingga dapat melewati bukit terjal ini.’

Tiba-tiba.
“Teman-teman, guru sedang menuju kemari. Ayo cepat!”
Mereka dengan panik, mulai berupaya membuka pintu yang terkunci tersebut.
Pintu terbuka. Mereka bergegas masuk. Tatapan mata sinis, memenuhi ruangan yang tampak semu.
“Haha, sampai ketemu besok, gadis cupu.”
Seorang lelaki berkulit putih, berambut hitam, menyunggingkan senyum indah pada gadis itu.
‘Mengapa?’

Derap langkah kaki kian mendekati ruang kelas. (Kelas 4-A). Seorang wanita berkacamata, memasuki kelas. Pandangan matanya terkunci padanya. Ia memperhatikan bulir air mata yang masih mendiami wajah si gadis.
‘Bungkam.’
“Miyuki, apakah kamu sudah selesai mengerjakan soal-soal tersebut?”
Miyuki, nama dari seorang gadis mungil yang tersiksa, hanya mengangguk singkat. Wajahnya memucat.
“Kalau begitu, kamu boleh pulang. Dan, ini, untuk uang sakumu besok.” Sang guru nan baik hati, mengeluarkan beberapa utas uang, dan menyodorkannya pada Miyuki. Dan…, ia tersenyum, tanpa mengetahui bagaimana na’asnya kehidupan gadis itu.
‘Ayah sudah meninggal. Mungkin inilah mengapa ia sangat baik terhadapku. Tetapi…, sikap guru lain pun begitu. Aneh…’

Miyuki menoleh sekitar, dan, tatapan sinis lagi dan lagi, mampu membakar kalbu.
Mereka…, sepertinya iri.
Ia pun mengalihkan pandangannya pada sang guru. Menggapai uang tersebut, berterimakasih, lalu tersenyum…, palsu.
Hati ini menangis.
“Saya pulang dulu ya, bu.”
Tergopoh-gopoh, ia melenggang pulang.

Keesokan harinya.
Di saat pelajaran sedang berlangsung, dan guru melangkah ke luar karena beberapa kepentingan mendadak. Miyuki terlihat sedang menulis sesuatu dalam bukunya. Ia tak sadar jika dari arah belakang, salah seorang murid, yang ternyata adalah lelaki berambut hitam dan juga merupakan lelaki yang kemarin tersenyum padanya, mengendap-endap. Makhluk kecil sejenis serangga, di genggamnya. Tanpa basa-basi, ia menaruhnya di atas kepala Miyuki. Miyuki terhentak. Sepertinya, ia mengetahui jika ada yang menggeliat di atas kepalanya.
‘Ini…, bukanlah yang pertama kali.’
Air mata menggenangi kelopak matanya.
‘T-tidak. Mengapa? Mengapa harus aku? Ini membuatku kesal. Tetapi, aku harus bersabar. Biarlah Allah SWT yang akan membalasnya.’
‘Takumi…, sebenarnya aku menyukaimu.’ Tatapan sendu, ia berikan pada Takumi.
“Mengapa kamu memandangku seperti itu, gadis cupu?”
“T-tidak.”
Miyuki membalas dengan nada tertatih,

Keesokan harinya.
Pada saat Miyuki sedang menuju bangkunya, sebuah kaki terulur menghalanginya, Ia terjerat, dan terjatuh dengan anggunnya.
“Aduh, sakit,” ringisnya pelan.
Seberkas goresan kecil berwarna merah, hinggap pada lututnya.
“Dasar lemah!”
“Huuu.”
“Cupu lemah.” Gunjingan emas, terlontar dari mulut manis murid lainnya.
Amarah Miyuki sudah tak dapat terbendung lagi. “Mengapa kalian melakukan hal ini padaku? Menghina, dan menaruh racun ke dalam benih kebaikan, lalu mengikisnya hingga habis.”
Seorang murid, menjawabnya dengan senyuman mengejek. “Karena kamu lemah. Dan juga, para guru lebih menyayangimu!”
“A-aku…”
Tangan Miyuki bergemetar, seakan badai menghempaskannya. Ia menatap kosong pada goresan merah di lututnya.
Perih…
‘Mengapa mereka terlihat gembira di atas penderitaanku?’ Ia bertanya dalam hati.
Berupaya berdiri, rupanya angin tak mampu menahan perjuangan gadis ini.
‘Ayolah…’
Perlahan, ia dapat berdiri, walaupun dengan tertatih.

Beberapa saat kemudian, bel istirahat berbunyi. Semua murid merencanakan sesuatu untuk bersenang-senang. Bermain petak umpat, basket, sepak takraw dan lain sebagainya.
Miyuki memandang dengan penuh ketertarikan. Ia menghampiri beberapa orang yang terlihat sedang bermain petak umpat. Dengan setengah berharap, ia bertanya, “A-aku… Bisakah aku bergabung?”
Lalu, salah seorang dari mereka, berbicara dengan nada sarkasme. “Huh? Gadis cupu sepertimu ingin bermain dengan kami? Lucu sekali.”
“Hei teman-teman, jangan dekati gadis cupu ini ya!” teriaknya dengan suara nyaring.
Miyuki tentu saja menjadi tertunduk dengan perasaan gelisah. Ia pun berjalan meninggalkan mereka dengan mata berkaca-kaca.

Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Miyuki berjalan menuju kantor guru. Ekspresinya sangat gelap. Ia berbicara serius dengan kepala sekolah. Dan, tak terdengar apa yang ia bicarakan, namun sepertinya telah selesai. Menutup pintu secara perlahan, tatapan matanya mulai mereda. Ia kembali ke kelas. Berkemas, dan bersiap untuk pulang.
Tanda tanya, muncul di benak murid yang berada di kelas.
“Bukankah ini belum waktunya pulang? Oi, gadis cupu! Kamu ingin bolos ya?”
Bukannya marah, Miyuki hanya membalasnya dengan senyum simpul. Lalu, ia pun berjalan meninggalkan sekolah.

Keesokan harinya.
Miyuki absen.
Hari berikutnya.
Absen.
Dan begitu seterusnya.
Hingga seminggu berlalu.
Seorang guru agama, menerangkan.
“Jika kita mendzhalimi seseorang, hendaknya segera meminta maaf. Karena, di akhirat kelak, semua akan dibalas dan pertanggungjawabkan. Dan juga, kita akan diliputi oleh perasaan bersalah.”
Lalu, seorang murid bertanya,
“Membully…, apakah termasuk?”
“Ya, tentu saja!”
“Benarkah?!”
“Oh iya, pak. Miyuki ke mana ya? Sejak seminggu yang lalu, ia tak masuk sekolah.”
“Ia pindah sekolah ke suatu tempat. Bapak belum benar-benar mengetahui lokasi pastinya.”
“Ehh??”
“Apa mungkin…”
‘Karena kami sering membullynya?’
Mereka bertanya-tanya dalam hati.
‘Bagaimana ini?? Jika perkataan guru ini benar…, Berarti, aku harus segera meminta maaf pada Miyuki.’
‘Lokasinya di mana ya? Aku ingin meminta maaf pada Miyuki’
‘Seharusnya aku tak membullynya. Arrgh, aku menyesal!’
‘Diliputi oleh perasaan bersalah? Tolong katakan kalau itu bohong!’
‘Jika tak mengetahui lokasinya, dan tak segera meminta maaf…, itu sama saja dengan maaf yang tak berarti.’
Mencoba menghubungi Miyuki, dan mencari lokasinya, tetapi hasilnya nihil. Yang pasti, mulai saat itu, mereka selalu diliputi oleh perasaan bersalah.

Cerpen Karangan: Dian Mayangsari
Facebook: ndgladiator1992[-at-]gmail.com
Dian Mayangsari, seorang gadis yang cinta akan menulis. Baginya, itu adalah kesehariannya yang tak dapat dipisahkan. Mulai menulis saat masih di bangku SMP. Hobby membaca novel, cerpen, menulis cerpen dan juga puisi.

Cerpen Maaf Yang Tak Berarti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sorry

Oleh:
Tawaku mendadak berhenti ketika melihat sebuah nama yang tak asing bagiku mengirim permintaan pertemanan ke akun facebookku. Ia tidak memakai wajahnya untuk dijadikan foto profil. Ia memakai foto seorang

Cause Too Much

Oleh:
Saatku mulai membuka mata, tanda akan memulai hal-hal baru yang tidak dapat ku ketebak. Namaku Nia Augustina Valeri. Aku melihat ke jam bekerku, “What, udah jam 6?!”, teriakku. Aku

Kenapa Aku Bolos Sekolah

Oleh:
Namaku Munira, yang biasa di panggil irha. Kini aku duduk di bangku SMA kelas 12, di sebuah sekolah yang cukup terfavorit di tempatku tinggalku, yah SMA Negeri 1 Barru

10 Tahun Lalu (Part 1)

Oleh:
Hari itu senin, hari pertamaku memakai seragam putih biru, aku berdiri cukup lama di depan cermin, aku tersenyum bangga setelah 6 tahun memakai seragam merah putih akhirnya berganti juga.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *