Mahameru, Tidak Seru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 September 2017

“Feb, aku tunggu di bawah ya”. Teriak Kiki dari bawah.

Namaku Febi, Mahasiswa di salah satu perguruan swasta di Bandung, aku kini ada di semester 3 dalam Fakultas Ilmu Psikologi.
Aku memiliki sahabat dia adalah Kiki, perempuan yang telah aku kenal sejak kelas 1 SMP, semenjak itu pula hingga kini aku masih tetap bersahabat baik dengannya, kami selalu bersama-sama dan itu berlaku untuk berbagai hal kecuali ketika dia ingin ke toilet dan aku tidak boleh mengantar.

Hari ini kami akan naik gunung dan puncak Mahameru adalah tujuannya, ini adalah pengalaman pertamaku naik gunung, sedangkan untuk Kiki ini akan jadi yang ke lima kalinya atau lebih dari itu. Kiki memang sangat suka naik gunung dan melakukan aktivas lain yang umumnya dilakukan laki-laki, dia bisa main gitar, suka taekwondo, dan makan lima cabe, bahkan aku kalah. Aku justru kebalikan darinya tidak banyak aktivitas laki-laki yang aku jagoi, paling aku suka futsal itu pun aku lebih sering memilih jadi kiper karena setidaknya itu mengurangi rasa cape karena lari.
Kata tetanggaku, si Mang Daman mungkin nama kami itu tertukar, karena kalian tahu sendiri nama Febi kebanyakan dipakai oleh perempuan dan nama Kiki kebanyakan di pakai oleh laki-laki. Tapi aku tidak setuju dengan si Mang Daman karena nyatanya selama bersahabat dengan si Kiki hanya aku yang bisa kencing berdiri.

“Iya ini lagi packing, tunggu sebentar”. Jawabku.
Hari ini, jam 4 sore nanti aku akan berangkat menuju Malang dengan menggunakan kereta api dari Stasiun Kota Bandung. Tiketnya sudah kami pegang masing-masing sejak seminggu lalu, dipesan oleh Kiki dan pakai uangnya pula, kalau lagi baik kami memang suka saling mentraktir setidaknya itu adalah salah satu alasan kami awet sahabatan.

Tiga puluh menit sebelum kereta datang kami sudah ada di stasiun dengan tas besar yang dibuat gemuk karena barang bawaan, tasku lebih gemuk daripada punyanya Kiki karena mungkin barang bawaanku lebih banyak, dan aku membuat diriku repot sendiri.
“Bentar ih, capek.” Aku rehat di sebuah kursi depan stasiun karena merasa lelah berjalan dari turun taksi hingga stasiun. Kau tahu tasku lah itu yang membuat capek.
“Karek ge nepi dieu ges capek” Jawabnya.
Itu Bahasa Sunda, artinya adalah Baru juga sampai sini sudah capek.
“Berat ini tasnya, Kiki”
“Emang bawa apa aja sih itu?”
“Makanan, minuman, jaket..”
“Terus ini apa?” Tanya Kiki memperlihatkan satu barang yang aku bawa
“Itu ya kain, masa gak tau sih”
“Iya aku tau, tapi buat apa bawa ini, Febi..?”
“Ya biarin weh atuh”
“Mana warnannya merah lagi, aku gak suka tahu warna merah”
“Kenapa?”
“Ya gak suka aja”

Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai kegiatan naik gunung, meskipun aku tahu bahwa naik gunung adalah salah satu kegiatan menyenangkan, kata si Kiki sebagai manusia kita ini harus pernah minimal satu kali naik gunung agar nanti saat tua kita punya cerita untuk anak cucu, dan aku setuju itu, hanya saja aku tidak suka naik gunung karena takut kehilangan sesuatu apalagi jika itu berharga.
“Cemen banget sih kamu” Jawab Kiki ketika waktu itu aku sempat menolak ajakannya naik gunung.
“Ya aku kan belum pernah naik gunung sebelumnya”
“Tenang kan aku udah sering naik gunung, pengalaman itu bisa jadi jaminan yang aku kasih supaya kamu aman di sana”.
“Ya udah deh aku mau”. Setelah menghabiskan beberapa menit untuk bicara akhirnya waktu itu aku menerima ajakan Kiki untuk naik gunung.

Tepat jam 4 sore kereta kami berangkat, kami menggunakan kereta api Malabar jurusan Stasiun Kota Malang dan perkiraaan kami akan sampai di sana jam 7 atau 8 pagi besok, maka Aku dan Kiki akan bermalam di kereta untuk menikmati keindahan alam yang gelap lewat kotaknya jendela kereta.

Sesuai prediksi kami tiba di stasiun kota Malang jam 8 pagi, dan langsung mencari kendaraan untuk ke pasar tumpang.
Dari pasar tumpang kami naik mobil jeep bersama beberapa rombongan lain, itu akan mengantar kami ke Ranu Pane untuk selanjutnya mengurus beberapa perizinan untuk bisa mendaki, di mobil jeep itu aku lihat Kiki bisa begitu akrab dengan rombongan lain, dan itu membuatku percaya bahwa ia adalah pendaki sejati.

Setalah itu pada akhirnya perjuangan kami benar-benar dimulai, kami akan memulai perjalanan, kata salah satu orang yang tadi satu jeep dengan kami idealnya untuk sampai di puncak mahameru bisa sampai 3 hari 2 malam, dan itu sudah merupakan waktu yang cepat. Jalur utamanya kami akan melalui Ranu Pane – Ranu Kumbolo – Kalimati – Arcopodo – Puncak Mahemeru dan dari semua tempat itu kami akan mengawalinya dengan Bismillah.
Bismillahirohmanirrohim.

Harus tahu saja aku merasa cukup baik, maksudku di pendakian ini aku tidak mudah merasa lelah atau malah aku merasa lebih bersemangat dari si Kiki, malah si Kiki aku lihat beberapa kali ia terhenti untuk seperti merasa kelelahan. Iya ini memang aneh.
Tapi ketika tiba di Kalimati aku sempat bicara padanya meminta untuk tidak melanjutkan pendakian ini, kau harus tahu aku bicara begitu bukan karena capek walau akhirnya aku bicara seperti itu juga.
“Kenapa?” Tanyanya saat aku minta untuk berhenti.
“Capek”
Sebenarnya aku tidak capek, atau iya cukup capek tapi tidak parah dan masih sangat bisa untuk lanjut jika mau, alasanku meminta berhenti adalah karena aku lihat wajah Kiki pucat, dan itu kulihat jelas, putihnya memang karena pucat bukan karena warna kulit cantiknya.
Padahal tadi saat di pos perizinan, Kiki dinyatakan sehat dan baik-baik saja, untuk apa yang membuatnya menjadi pucat mungkin itu disebabkan oleh hawa Mahameru juga dakiannya yang memang berat.
“Udah ayo lah Feb tanggung, atau biar gampang itu tasnya disimpen di sini aja, bawa barang-barang yang perlu aja”
Aku pun akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan dakian bersama Kiki, dan juga 4 orang dari rombongan lain, dan tas besarku memang ditinggal aku hanya membawa tas kecil yang isinya air minum dan kain warna merah itu.
“Kenapa ini kain masih dibawa, Febi..?”
“Ya gak apa-apa atuh, bebas kan”
“Ih penting banget sih”

Semakin mendekati puncak aku bisa merasakan sendiri rintangan yang semakin berat, di sini bukan hanya dakian yang harus dilalui melainkan juga yang lainnya, di sini mental juga bicara bahkan langkah dan arah mata angin pun harus kau pahami betul, maka aku sekarang jadi menyesal saat sekolah dulu sempat menyepelekan pelajaran fisika dan biologi.
“Feb hati-hati” Bilang Kiki yang langkahnya ada di depanku.
Sekarang para pendaki memang harus sangat ekstra hati-hati, di atas beberapa bebatuan mulai turun dan akan membuat siapa pun yang terkena akan terpental, itu membuat aku waspada atau takut dan tentu aku berharap di antara kami tidak ada yang terkena itu.
“Awass…” Kami berteriak untuk saling mengingatkan ketika melihat ada batu yang jatuh.
Secepat mungkin aku menyamping ketika melihat ada batu mendekat, dan itu juga yang dilakukan yang lain.

“Kiki Awas…” Aku berteriak saat melihat ada batu besar yang mendekatnya.
“Kikii…” Aku teriaknya lagi

“Kiki…”
Dan aku lihat Batu besar itu menerjang Kiki, berat bebannya membuat sahabatku itu terpental ke bawah, membuatku harus segera menghampirinya.
“Ki..? Aku memegangi wajahnya dengan sebagian badannya ada di dekapanku “Ki bangun ki”
Aku bersimpung dengan rasa panik, yang aku lihat matanya terus tertutup dan dia tak ada respon ketika berulang aku memukul pelan pipinya.

Beberapa orang yang satu rombongan di dakian ikut menghampiri untuk sama-sama memberi pertanyaan “kenapa?”.
“Ini darahnya keluar terus” Bilang salah satu orang “coba pakai apa gitu biar ketahan dan gak keluar terus”.
Setahuku jika manusia mengeluarkan banyak darah di tubuh itu akan memberi efek tidak baik bagi dirinya, dan setahuku juga darah bisa ditahan tidak keluar dengan menggunakan sesuatu yang padat dan melar seperti kain kurasa.
“Aku ada kain ini” Sontakku
“Iya-iya itu pakai kain bisa”
Lalu aku menempelkan kain merahku itu di keningnya, di antara luka-luka yang membuat darahnya terus mengucur.
“Ki bangun ki, ayo dong ki kamu jangan pura-pura tuli”
Aku lebih panik dan sangat panik, apa yang aku takuti seperti sedang mendekat.
“Coba nadinya cek” Bilang salah seorang.
Lalu aku memegang nadinya, mengecek apakah masih ada atau tidak, dan aku tidak perlu memberi tahu jelas apa hasilnya.
“Kiki…”
Aku tertunduk di antara kepalanya. meneriaki namanya dengan kencang, dan membiarkan air mataku terjatuh membasahi kain merah itu.

Satu minggu setelah itu, aku berada di teras rumah sendirian bersama iringan lagu My Immortal dari Evanescene, aku masih bisa ingat di sini, di kursi di sampingku Kiki pernah bilang “Kita harus pernah minimal satu kali naik gunung agar saat tua nanti punya cerita buat anak cucu”.
Dan aku telah lakukan itu, telah satu kali naik gunung tapi aku selalu bingung apa yang harus aku ceritakan pada anak cucuku kelak.
Kiki tak sempat memberitahuku apa yang harus kita ceritakan jika saat naik gunung itu kita kehilangan sesuatu yang berharga.
Tapi jikapun kelak nanti aku harus tetap bercerita pada anakku, aku hanya akan bilang begini.
“Nak, Mahemeru tidak seru”.

Cerpen Karangan: Ridwan Handani
Blog: bacasatutangandani.blogspot.com

Cerpen Mahameru, Tidak Seru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bumi Tak Seindah Dulu

Oleh:
Sangat memprihatinkan keadaan bumi saat ini, bencana seolah olah tak kunjung hilang dari muka bumi. Berbagai macam bencana yang sering melanda bumi, dikarenakan ulah manusia yang tidak bertanggung jawab,

2 Hati Berbagai Rasa

Oleh:
“apa kau pernah merasakan bagaimana pacaran itu?” “tentu saja.” “aku belum.” “benarkah? Kau serius belum pernah pacaran?” Gadis berparas cantik itu mengangguk, jari-jari tangannya saling bertautan, mata bulatnya terus

Harapan Mulia Si Penjual Jagung Rebus

Oleh:
Ada sebuah keluarga kecil di desa terpencil… terdiri dari kakek nenek dan seorang anak perempuan bernama Nifa… mereka sangat kekurangan sehingga harus berjualan jagung rebus… biasanya nenek dan kakek

Senja Merah Jambu

Oleh:
Kata orang, sahabat itu adalah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Gila segila-gilanya, malu semalu-malunya, namun satu hal yang tidak pernah bisa dilakukan, yaitu marah semarah-marahnya.

Sahabatku (Bukan) Cintaku

Oleh:
Hari ini merupakan hari yang kurang baik bagiku. Aku bekerja di salah satu kantor media massa sekaligus online sebagai editor juga pencari berita. Pada suatu hari terjadi insiden di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *