Matahari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

‘Seandainya aku pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Apakah dunia akan mencariku? Apa yang mereka rasakan? bahagia? Atau.. tidak tahu…’
Aku tidak akan melanjutkan tulisan itu lagi. Aku terdiam sejenak lalu menghela nafas secara perlahan. Aku tidak tahu, apakah aku bisa bertahan hidup setelah keadaanku memburuk? Aku menghempaskan tubuhku begitu saja di tempat tidur. aku memandang satu lembar print out. Yah.. itu Photoku bersama papa dan mama.
‘Aku merindukan kalian..’ batinku.
Aku berharap setelah aku terbangun nanti, semua akan terasa baik. tidak seperti saat ini. aku diperlakukan seperti pembantu di rumah paman. Bahkan lebih dari seorang pembantu. Mungkin seperti…

“Ann!!” bentak paman dengan seenaknya masuk kekamarku.
Aku sontak terduduk. Dia pasti akan memarahiku walaupun aku tidak melakukan apa-apa. Dia memang seperti itu. tapi kali ini aku rasa dia akan memaksaku untuk melakukan sesuatu. Aku yakin itu.
“kau harus kerja di situ. Gajinya banyak Ann!” katanya lagi dengan nada membujuk. Aku tahu apa yang dia maksud. Tawaran menjadi wanita penghibur. Yah.. itu keinginannya. Dia sudah gila atau bagaimana sih! Apa nasibku memang seburuk ini harus tinggal bersama pria tidak waras seperti dia!. Dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Apa lagi dia melakukan ini pada keponakannya. Anak dari kakak kandungnya sendiri!
Aku hanya memandang paman dengan datar. Mau memasang wajah apapun dia tetap sama. tetap memaksaku untuk seperti saat ini.

“Ann!!” bentaknya. Aku tidak peduli! Kali ini aku harus berontak. Aku tidak mau terus menerus menuruti perintahnya. “kalau kau tidak mau. Silahkan pergi dari rumahku!!” ucapnya kemudian membuat aku bingung setengah mati. Aku ini hanya gadis berusia 11 tahun dan masih perlu sekolah! Aku belum terbiasa hidup sendiri di luar atau bekerja seperti orang lain. Mungkin teman seusiaku yang bernasib sama sepertiku, bisa bekerja atau hidup mandiri. Tapi ini aku! aku barusan ditinggal orangtuaku 2 bulan yang lalu. Dan aku perlu bimbingan hidup mandiri!
“Ann!!” kata paman membuat aku tersentak.
Itu mungkin menjadi keputusan final. Ya Tuhan.. apa yang harus aku lakukan.
“baik aku pergi!” ucapku kemudian. Aku tidak menyangka aku bisa senekat ini. biarlah! Aku pasrah harus hidup di luar daripada menjadi wanita penghibur. Itu menjijikan!

Paman tiba-tiba menghentikanku. Dia berusaha mencegahku untuk pergi dari rumahnya. “kau harus bekerja untukku, Ann! Kau sudah numpang selama 2 bulan di rumahku! Kau harus membayarnya!” katanya.
Ingin kutampar saja mulutnya saat ini juga. Bisa-bisanya dia mengungkit kebutuhanku. ‘Heii… kau sadar tidak. Aku hidup di rumahmu saja sudah kau anggap pembantu. Kau hanya memberikan aku makan sehari satu kali. Itu pun hanya nasi basi!’ Batinku.

Aku langsung lari ke luar kamar. Astaga! Aku benar-benar malang. Dia berhasil menangkapku lalu mengurungku di dalam kamar. “paman!! Buka pintunyaa!!” teriakku sembari mendobrak dan memukul pintu kamar. Dia tidak menggubrisku. Aku menjerit histeris. Aku benci padanya!

Malam harinya, Paman membuka pintu kamarku. Dia menghempaskan pakaian wanita di atas kasur. “pakai ini” ujarnya.
Aku jijik melihat pakaian itu. pakaiannya terlalu minim. Aku memandang paman penuh ketakutan. “paman. Kumohon. Jangan pekerjakan aku dengan pakaian minim ini” ucapku lirih. Dia mendengus. “bodoh! Kalau kau memakai ini. pria hidung belang akan tertarik padamu!!”

Mama! Papa! Kau dengar itu. paman menyiksaku! kenapa kalian menitipkan aku pada pria sebodoh dia. Aku tidak tahan! Aku tidak mau!! Lebih baik aku mati saja sekarang!!
“tolong!! Tolong!!!” teriakku sembari berlari ke luar kamar.. akhirnya kali ini aku bebas darinya. Aku tahu dia sedang mengejarku. Aku terus berlari sekencang mungkin.
“hei kau!!” ucap seorang pemuda dari arah samping paman. Dia langsung memukul dan menghantam keras paman. Aku tidak mengerti. Sekarang paman tergeletak di tanah. Wajahnya sudah babak belur dan penuh darah. Rasakan itu! bila perlu dia mati saja!

Pemuda itu mendekatiku. Aku sedikit mundur menjauhinya.
“kamu tida apa-apa dek?” katanya. Sykurlah… berarti pemuda itu sedang menolongku. Aku sontak menangis. Aku takut. aku takut paman akan berbuat lebih gila padaku.
‘Kak.. bantulah aku. aku ketakutan’ Batinkku sembari menatap lekat-lekat pemuda itu. dia tersenyum padaku.
“apakah kamu perlu bantuan?” tanyanya. Aku mengangguk dengan cepat.
“tolong aku kak. Dia pasti mencariku setelah ini. dia mau mempekerjakan aku sebagai wanita pengihibur” ucapku histeris tak kuasa menahan tangis. Pemuda itu terkejut dan menoleh ke Paman.

“aku antar kamu ke panti asuhan” ucapnya kemudian membuat aku bahagia. Aku menghela nafas lega. Dia benar-benar menitipkan aku kepanti asuhan. Aku berterimakaih padanya sebelum kami berpisah di panti ini.
“jaga dirimu baik-baik” ucapnya lalu meninggalkanku.

Aku hidup bebas sekarang. Aku dapat tinggal bersama teman yang memiliki nasib yang sama sepertiku. Aku bisa merasakan, bahwa mereka menerima kehadiranku di sini. di panti ini. untuk pemuda itu, aku harap dia juga bahagia. Selamanya.

Selesai

Cerpen Karangan: Sanniucha Putri
Facebook: Sanniucha Putri

Cerpen Matahari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kepergian Seorang Teman

Oleh:
Mentari telah bersinar terik. Sang burung pun hilir mudik berterbangan. Jalan raya padat tak bersela, itulah pemandangan yang selalu kulihat ketika aku berangkat sekolah. Kenalin gue zenita putri azzahra,

Nestapa Hidup Mutia

Oleh:
Ibuku sayang, masih terus berjalan… Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah… Seperti udara, kasih yang engkau berikan… Tak mampu ku membalas… ibu Mutia larut dalam sedih dan meneteskan

Hujan dan Mata Pelangi

Oleh:
Mata pelangi itu tak lagi tersenyum. Tatapannya menusuk ke ulu hatiku. Bahkan kali ini, menohok sampai ke jantungku. Aku menunduk. Padahal, aku sempat melihat rembulan hadir menghiasi kerinduannya padaku.

Pulanglah Bu

Oleh:
Tap! Tap! Tap! Kaki mungilku bergerak memasuki pintu yang terbuka. Aku berdiri mematung di depan pintu masuk cukup lama, memastikan penglihatanku tidak salah. Bapak sedang duduk menghadap dinding dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *