Memandang Lewat Matamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 August 2016

Aku bisa merasakan betapa dingin tangannya. Aku juga bisa mendengar alat pendeteksi detak jantung dengan nada putus putus di sampingnya. Entah di samping mana. Kiri atau kanannya aku tidak tahu. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang. Apakah pucat?. Oh Tuhan kenapa mata buta ini menjadi penghalang untuk melihat detik-detik terakhirnya.
Dazel sahabatku dari kecil terbujur lemah di atas kasur rumah sakit di ruang ICU dengan penyakit yang mendampinginya selama empat tahun terakhir. Kanker otak, penyakit yang membuatnya terbujur lemah saat ini.

Lima menit aku memegangi tangannya. Perlahan-lahan otakku mulai mereplay kenangan-kenangan indah persahabatan kami. Aku dan Dazel mulai menjalin hubungan tanpa rasa cinta sejak umur dua belas tahun saat duduk di bangku sekolah dasar. Dia cukup terkenal di kalangan siswi perempuan. Buktinya aku mengenalnya meskipun sebenarnya dia tidak mengenalku. Kami dipertemukan di ruang musik sekolah. Saat itu pada jam istirahat, Suara itu perlahan merambat di dinding sekolah, menerjang banyaknya siswa siswi, memasuki kelas, semakin dekat merambat melalui kedua kaki, melewati badan, tangan, dan leher hingga sampai ke tujuan akhir. Telinga, kedua telinga ini mendengar suara alunan piano yang berbunyi di sela-sela ramainya siswa siswi yang tengah asyik mengobrol satu sama lain. Entah mengapa hanya aku yang mendengarnya. Apa memang telingaku yang paling peka di antara telinga siswa lain. Ah sudahlah itu tidak penting. Aku mulai penasaran dengan siapa yang memainkan piano tersebut. Aku yang berada di dalam kelas pun langsung beranjak dari tempat duduk kayu dan langsung melangkahkan kakiku berjalan keluar kelas mengikuti alunan piano tersebut. Aku berjalan menyusuri ruangan per ruangan di sekolah ini. Hingga suara piano tersebut terdengar keras tepat sekitar tujuh langkah dari tempatku berdiri.

Ruangan musik, aku yakin suara itu berasal dari sana. Aku membulatkan tekadku untuk memasuki ruangan tersebut. Dengan menggunakan langkah jinjit dan sedikit rasa penasaran perlahan lahan aku mendekat ke pintu masuk ruangan tersebut.

1 menit 26 detik berlalu Sampailah aku tepat di depan pintu ruang musik. “Ya tepat sekali pintunya sedikit terbuka” batinku girang. Aku mulai menjulurkan sebagian badanku ke arah sela-sela pintu yang terbuka agar mataku dapat melihat pelaku dari suara piano tersebut. Tak butuh waktu lama aku sudah bisa melihat bagian dalam ruangan tersebut. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan.
Mataku langsung tertuju pada seseorang yang duduk di atas kursi pemain piano. Seorang lelaki, memakai seragam merah putih. Jari jemarinya yang indah dengan mahir memainkan piano. Rambutnya standar seperti anak laki-laki lainnya. Kulitnya putih bersih. Itu adalah tampangnya saat membelakangiku. Tak lama kemudian dia menoleh ke arahku. Mungkin dia menyadari kedatanganku. Tiba-tiba laki laki berhidung mancung sekitar 80 derajat itu berhenti bermain dan langsung mengangkat tangan kanannya ke arahku dengan sedikit mengayunkan jari jemarinya ke bawah. Aku sedikit melamunkan bulu matanya yang lentik saat itu. Tiga kali dia melakukan hal itu kepadaku. Aku baru bisa mencernanya kalau dia mengajakku masuk ke dalam ruangan.
Dengan sedikit bercak rasa malu, aku pun langsung berjalan mendekatinya lalu mendaratkan pantatku di atas kursi kecil yang tersedia di sampingnya. Bibir standarnya yang berwarna seperti mulberry yang hampir matang pun langsung bergerak ingin mengucapkan sesuatu padaku “Siapa namamu?”, tanpa ragu aku menjawab “Nayla”. Itulah the first pembicaraan kita.

Aku melamun sambil menatapnya. Dia pun langsung memecah lamunanku dengan pertanyaan “Apakah kamu Nayla si pemain piano itu?”. Aku pun sontak kaget. Tak kusangka dia mengenalku. “I…Iya” jawabku sedikit terbata bata. “Gak usah grogi gitu dong, ayo main piano sama-sama” ajaknya padaku, “Ayo” dengan semangat aku menyetujuinya. “Siapa dulu nih yang mulai” lontaran pertanyaanku mendarat di telinganya. “Coba kamu dulu yang main” sedikit lama aku mencerna perkataannya aku pun langsung memainkan piano sebisaku. Sekitar lima menit aku bermain, dia tampak kagum dengan permainan pianoku. Padahal aku belum begitu mahir bermain piano. “Bagus sekali permainan pianomu, siapa yang mengajarimu?” pujian sekaligus pertanyaan untukku. “Gak begitu bagus kok. aku diajari ayah.” tolakan pujiannya padaku sekaligus jawaban dari pertanyaannya.

“Ting… tong… ting… tong” bel bunyi tanda waktu istirahat sudah habis. “Aku ke kelas dulu ya” Izinku mengakhiri permainan hari ini. “Iya aku juga” jawabnya satu pemikiran denganku. Aku dan dia pun bersama-sama melangkah berjalan ke luar ruangan yang menghadap ke arah barat itu. Arah kelas kami berlawanan, dia ke arah Utara aku ke arah Selatan. Aku pun mulai melangkahkan kakiku menuju kelas dengan perlahan. Tujuh kali kakiku melangkah tiba-tiba suara teriakan terdengar menggema di lorong tempat kami berpisah “Namaku Dazel…!”. Ternyata teriakannya. Aku pun menoleh sambil menganggukkan kepala. Dibalasnya lambaian tangan sambil berteriak “daahhhh…”. Aku pun merespon lambaiannya dengan lambaian pula. Dazel pun langsung berbelok ke arah kelasnya. Tak tampak lagi batang hidungnya. Yang terdengar hanya suara langkah kakinya yang beralaskan sepatu. Tak terasa aku juga telah sampai tepat di depan kelasku. Mungkin ini menjadi pembukaan jalinan persahabatan kami.

Ternyata benar, kami telah menjalin persahabatan selama tiga tahun. Kami memasuki sekolah menengah yang sama dan memilih ekstrakulikuler yang sama, musik. Aku dan Dazel sering mengikuti lomba bermain piano di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Aku sangat bangga pada diriku sendiri. Mungkin orang lain juga. Aku sangat bangga ketika memandangnya. Foto berukuran 20×20 cm yang dengan bingkai warna coklat mengkilap dan motif ukiran flora di pinggirannya. Foto tersebut mengabadikan kami berdua saat memenangkan kejuaraan piano kelas 8 tingkat nasional. Tampak tubuh idealku difoto mengenakan gaun cream bermotif bunga-bunga selutut dengan renda melingkar di bagian kerahnya. Kulitku yang berwarna putih ini nampak cocok dipakaikan gaun tersebut. Dengan rambut coklat terurai panjang sepinggang dihiasi hatban bunga berwarna cream di bagiaan atasnya. Lain lagi Dazel kulitnya yang tak kalah putih denganku dipasangi kaos berwarna coklat polos dipadu dengan jeans berwarna abu-abu sedikit kebiruan di bagian kakinya. Dazel tampak sedikit lebih tinggi dariku, mungkin tingginya saat itu sekitar 165 cm, sedangkan tinggiku saat itu hanya 155 cm.
Mengingat hal itu senyuman kecut menyertai lamunanku saat mengingat kenangan-kenangan masa persahabatan kami. Tapi satu hal yang membuat senyuman kecut itu hilang berbalik menjadi tangisan. Entah mengapa tiba tiba aku mengingatnya. Kejadian itu. Kejadian yang merenggut pengelihatanku saat umurku 15 tahun.

Saat itu aku berangkat ke sekolah bersama Dazel dengan menaiki sepeda kayuh biru muda melewati jalan di tengah-tengah kebun teh. Segarnya udara beraroma teh rasa mint menemani perjalanan kami. Saat itu posisiku sebagai seseorang yang dibonceng Dazel di atas boncengan yang berlapis spon agar pantatku tidak sakit saat melewati jalanan yang tidak rata. Sedangkan Dazel, dia menjadi seorang pembonceng yang duduk di tempat duduk utama di sepeda yang kami naiki saat ini.
Yang terdengar saat ini hanyalah kayuhan Dazel sebagai sumber tenaga menjalankan roda bagian belakang sepeda. Tapi lama kelamaan kayuhan sepeda itu tak terdengar lagi. Suara kayuhan itu teredam oleh suara klakson mobil yang keras. Sepertinya berasal dari belakang. Kulihat ke arah belakang sepeda, sebuah mobil avanza hitam melaju sangat cepat ke arah kami. Sontak yang kubisa kini hanyalah berteriak sangat kencang hingga teriakan itu terdengar sampai jarak 100 meter. Kini kayuhan Dazel tak tentu arah. “Gubraaaak…!” suara tabrakan itu terdengar sebelum aku memejamkan mata. Kepalaku terbentur batu. Samar-samar aku mengintip melalui sela-sela mataku yang sedikit terbuka. Kulihat Dazel berusaha meraihku. Lalu aku pun tak tahu sandiwara selanjutnya.

Aku pun tersadar. Aku serasa membebani sebuah kasur yang lumayan empuk. aku berusaha menebak-nebak keadaan sekitar. Dengan selimut yang menyelimutiku setengah badan dan bau obat dimana-mana. Rumah sakit. Tebakanku benar. Aku sekarang tengah berada di rumah sakit. Kepalaku sakit, aku berusaha meraih keningku. Tanganku pun telah sampai mendarat tepat di kening berselaput perban. Aku bisa merasakan kasarnya perban yang menyelimuti kepalaku. Walaupun masih terasa sakit aku berusaha membuka mata. Aku berasa sudah membuka mataku tapi kenapa semua masih berwarna hitam. Sesuatu yang kutakutkan terjadi. Kebutaan. Benturan itu memutus syaraf penglihatanku. Dan aku pun hanya bisa menangis sejadi jadinya karena tidak bisa melihat semuanya. Hitam. Gelap.

“Tiiiiiiiiiiiitt…” Tiba-tiba bunyi itu membuyarkan lamunanku tentang kenangan-kenangan persahabatan kami. Bunyi pendeteksi detak jantung itu datar. Dia sudah tidak berpola lagi. “Dazel, dia sudah tak bernyawa” batinku setelah mendengar bunyi tersebut. sontak aku langsung pingsan mendengarnya.

Entah berapa lama aku pingsan. Kepalaku pusing. Aku merasa ada sesuatu menancap di punggung tanganku. Infus, lagi-lagi tebakanku benar. Tapi aku merasa ada sesuatu mengganjal di kedua mataku. Aku mulai meraba-raba mataku. Ternyata ada perban yang dililitkan dari mataku hingga menuju ke arah kepala belakang lurus dengan mataku. Aku mulai berusaha membuka lilitan itu. Hingga sampailah pada lilitan yang terakhir aku perlahan-lahan membukanya. ternyata masih ada kapas yang menghalangi mataku. Kubuka kedua kapas itu dengan perlahan menggunakan tangan kiri dan kananku. Sekarang mataku sudah telanjang, tak ada lagi yang menutupinya. Perlahan ku membuka mata sedikit samar. Tapi lama kelamaan jelas terlihat tembok yang berwarna putih, seragam rumah sakit yang kugunakan berwarna biru, vase bunga putih bermotif ksatria kuda coklat dengan bunga berwarna kuning yang menempati vas tersebut. “Aku bisa melihat” batinku dengan ekspresi sangat bersyukur terpampang di wajah cantikku.

Di sampingku tengah berdiri ayah dan ibu ku serta orangtua Dazel tengah tersenyum, sepertinya mereka ikut senang dengan bisanya aku melihat. “Kapan aku dioperasi?” tanyaku pada mereka, “tiga hari yang lalu sayang” jawab ibuku dengan ekspresi sedikit sedih. Tiga hari yang lalu. Aku berusaha mengolah kata-kata itu. Aku pun teringat kalau aku sedang menemani Dazel waktu itu. “Darimana mata ini didapatkan?! Dari siapa?!” tanyaku dengan sedikit nada membentak. Mereka semua hanya diam tidak merespon pertanyaanku. Aku pun beralih bertanya pada satu orang, ibu “Ibu siapa yang mendonorkan mata ini pada Nayla bu?!…”, “D..D…Dazel nak…” jawab ibuku terbata bata. Mendengar nama Dazel mata ini serasa tidak kuat membendung air mata yang ditahan oleh kelopak mata ini. Sekarang air mata ini tumpah mengalir menuruni pipiku. “Dimana Dazel sekarang?!” tanyaku sambil menangis. “Dia sudah tiada nak” jawab ibu Dazel ikhlas. “tidaaaaaakkk…!” teriakan tanda tidak terima ku menggema memenuhi kamar. Sekarang yang kubisa hanya menangisi kepergian Dazel menggunakan kedua matanya.

3 hari berlalu aku separuh bisa mengiklhaskan kepergian Dazel. Setelah tangisan yang membuat kedua mataku bengkak, sekarang yang kulakukan adalah bersyukur sambil berdiri di atas bukit teh menikmati pemandangan alam ini dengan menggunakan kedua mata Dazel. “Matamu adalah penglihatanku” kata kata itu keluar dari bibir tipisku. Perlahan hilang tertiup angin sepoi sepoi yang juga meniup beberapa helai rambut coklatku. Aku tertawa kecil saat mengetahui hidungku tak semancung Dazel. Tapi bagaimana pun aku harus mensyukurinya seperti aku mensyukuri penglihatan ini. “Terimakasih Dazel” hanya kata itu yang bisa aku bisikkan pada angin atas pemberianmu.

Cerpen Karangan: Vika Syabina Fitria Putri
Facebook: Vika Syabina Fitria Putri
VIKA SYABINA FITRIA PUTRI, TTL Banyuwangi,23 Desember 2002.Tinggal di Banyuwangi. Sekolah di SMPN 3 Peterongan, PONPES Darul Ulum Jombang. Asrama 13 Sulaiman Bilqis

Cerpen Memandang Lewat Matamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keluarkan Aku Dari Kesepian

Oleh:
Aku duduk di bangku taman yang masih basah setelah terkena rintikan air hujan. Untuk beberapa saat, aku terdiam. Lalu aku memindahkan tas punggungku ke depan. Memeluknya erat. Aku melirik

Biola Hitam

Oleh:
Nisa menyusuri trotoar menuju halte bus. Terik matahari menyoroti wajah Nisa yang putih bening. Nisa melihat sepanjang tempat duduk di halte, penuh tidak memungkinkan untuk duduk, dengan terpaksa dia

Pertengkaran Pertama

Oleh:
Jumat, 25 Agustus 2013. Seperti biasa hari ini aku pergi sekolah. Aku adalah siswi di salah satu sekolah menengan pertama di kota Pasuruan. Sekarang aku sudah berada di kelas

Aku Iri

Oleh:
Aku tak memiliki satupun sahabat, berbeda dengan Ayra, dia memiliki 3 orang sahabat, yaitu Bella, Nisa dan Chika. Aku iri dengan mereka. Rasanya aku ingin memutuskan persahabatan mereka. oh

Berteman, Lebih Menyenangkan Bukan?

Oleh:
Kriing.. Kriing.. Kriing, jam istirahat berbunyi, semua anak berhamburan keluar kelas. Sebagian menuju kantin, sebagian lagi bermain. Anita, Amira, dan Rara pergi menuju kantin yang berbeda. Setelah membeli jajan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *