Mimpi Buruk Aron

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 June 2014

Tidakkah seorang sahabat itu akan melakukan apapun untuk sahabatnya sendiri?

“kamu mimpi ya? bisa-bisanya kamu bermimpi hal seperti itu hahaha” Vellon tertawa getir.
“tapi itu tidak seperti mimpi, sama sekali tidak!” kata Aron berusaha membela diri.
“aku menyerah, hanya kamu yang tahu, itu mimpi atau bukan, yang jelas, itu tidak akan terjadi padaku!”
“aku tahu, mungkin ini hanya perasaanku saja. maafkan aku Vellon”
Percakapan dua anak itu sangat terdengar oleh mama yang sedang membuat kue jahe di dapur. Mereka memang sangat senang bermain di atap rumah, putrinya Aron pernah bilang, dari atap rumahnya, dia bisa melihat langit yang begitu luas daripada rumahnya sendiri. Tentu saja, kata-kata itu selalu membuat mama tersenyum, anak seperti Aron adalah anak yang penuh dengan imajinasi dan keceriaan. Mama tidak pernah menghalang-halangi apapun kemauan Aron.

“Vellon, kamu masih marah padaku?” tanya Aron saat sedang menuruni tangga.
Tapi Vellon tidak menjawab, ia hanya memasang muka yang sungguh-sungguh tidak enak. Seperti orang dewasa yang tiap hari lembur kerja, tapi tidak dapat tambahan upah.
“wah, lihat Vellon, mamaku membuat kue jahe lagi!” kata Aron ceria, ia tahu betul, Vellon tidak pernah menolak untuk makan kue jahe buatan mama.
“ini masih panas sayang” kata mama pada Aron.
“ma, Vellon marah padaku hanya karena mimpiku yang tidak masuk akal, bukannya, mimpi itu memang tidak masuk akal ya ma?” tanya Aron pada mama, sambil sesekali melirik Vellon yang masih berdiam diri dia atas tangga terbawah.
“Vellon… coba kemari, nih mama beritahu ya. Orang-orang menyebut mimpi itu adalah bunga tidur, mama juga pernah baca majalah, biasanya, mimpi itu bersambungan dengan apa yang kita pikirkan sebelum tidur.” jelas mama halus pada Aron dan Vellon.
“berarti, sebelum tidur, Aron memikirkan hal itu?”
“hem, memangnya Aron bermimpi apa?” tanya mama pada anaknya.
“aku bermimpi… Vellon meninggal ma” jawab Aron polos.
“Aron? kenapa kamu bisa bermimpi itu?”
“ma, sungguh deh, sebelum tidur, aku tidak memikirkan hal buruk seperti itu! mungkin itu hanya mimpi buruk yang datang tiba-tiba, memangnya, aku bisa mengontrol kesadaranku saat tidur?”
“tapi itu sungguh menyakitkan ARON!” kata Vellon marah, sambil berlalu pulang menuju rumahnya.
“VELLON!!!” teriak Aron.
“ma… Aron tidak bermaksud seperti itu”
“iya sayang mama tahu”

Pagi-pagi sekali, Vellon sudah bangun. Dengan baju tidur yang masih dikenakannya, Vellon mengeluarkan sepeda kesayangannya diam-diam. Setelah sukses ke luar rumah, Vellon bersama kaki kecilnya mengayuh sepeda yang sama kecilnya itu mengelilingi kompleks.

Begitulah menurut cerita yang ada di mimpi Aron. Vellon ingin membuktikan, bahwa mimpi Aron itu memang hanya mimpi, dan tidak akan terjadi padanya. Pagi-pagi begini, komplek ini begitu sepi, ini adalah suasana yang mendukung, sama seperti mimpi Aron. Tidak ada siapa-siapa lagi yang bermain sepeda kecuali dirinya.

Untuk itu, Vellon membawa sepeda kecilnya itu dengan lebih cepat. Tanpa ada perasaan lelah sama sekali. Dan tanpa dirasa olehnya, ternyata dia sudah berada di ujung jalan komplek, dia tidak pernah bermain sejauh ini. Dan ini tidak ada dalam mimpinya Aron.

Vellon melirik jam tangan dengan gambar power ranger merah miliknya, ternyata sudah pukul 7. Ini adalah saatnya dia harus sarapan bersama papa dan mamahnya. Vellon pun memutar balik sepedanya itu.

Seseorang itu tidak sadar, sesuatu hal yang membuatnya terburu-buru itu membuatnya tidak menyadari sekeliling. Ini masih pagi, pikirnya. Pagi-pagi seperti ini jalanan masih lengang, terburu-buru pun mungkin tak apa. Sambil berkaca membetulkan dasi, kaki seseorang itu tetap menekan gas kuat-kuat, dengan mata yang masih melirik cerminan wajahnya di kaca spion dalam, tanpa terasa, sesuatu yang buruk telah melaksanakan tugasnya.

Dia baru sadar, ketika suara yang sangat akrab dengannya menjerit memanggilnya “PAPAAAA” katanya, dan terasa olehnya ketika badan mobil membentur daging dan tulang seorang anak kecil. Hatinya pun berdebar, berharap tadi hanyalah khayalan atau bayangannya saja. Tapi ternyata tidak, ini nyata, di depannya kini, tergeletak seorang anak kecil. Dengan darah yang bercuran dimana mana, hatinya mengenali anak itu. ANAKKU, katanya dalam hati.
Seseorang yang disebut, papa itu juga langsung tersadar, bahwa anak kesayangannya itu, tewas di tempat karena papanya sendiri.

Aron tidak terima, mimpi buruknya menjadi kenyataan. Ketakutan yang awalnya hanya dirasakan dalam mimpi, kini benar-benar terjadi. Aron tidak mengerti, mengapa bisa begini. Aron merasa putus asa dan bodoh. Kalau saja dirinya tidak bercerita tentang mimpi mautnya itu, Vellon pasti tidak akan benar-benar meninggal.

Tapi, Aron berfikir ulang, mencoba mengingat skenario kematian Vellon dalam mimpinya. Sungguh berbeda! Vellon tidak meninggal karena dihantam oleh mobil ayahnya sendiri. Tapi Vellon meninggal karena jatuh dari sepeda, dan kepalanya membentur batu besar di taman.

Ini sungguh memilukan, di satu sisi, Aron merasa bersalah dan berhutang nyawa pada Vellon, tapi sisi lain, Aron sama sekali tidak mengetahui apapun. Aron hanya bermimpi, kemudian menceritakan mimpinya pada Vellon. Sudah! itu saja!

Aron memandangi makam Vellon, tepat di depan batu nisannya, foto Vellon dengan kalung kesayangannya dipajang. Aron meneteskan air mata, itu kalung pemberian Aron untuk Vellon. Walaupun tidak seberapa, tapi Aron sangat terharu. Vellon selalu menganggap semua pemberian Aron yang biasa saja itu, istimewa. Terutama kalung itu.

Aron memandangi sepeda Vellon. Ia menangkap sesuatu yang berbeda dari tempat duduk belakang sepeda itu. Ada kertas berbentuk burung terselip di tempat yang biasa ia duduki ketika bermain sepeda dibonceng Vellon.
Aron mengambil kertas itu segera. Bagus sekali!
Ternyata ada sebuah tulisan di kertas itu.
Aku akan membuktikan padamu, bahwa aku akan selalu bersama kamu sampai aku besar nanti.

Sahabatnya Aron

Aron menitikan air mata, sebegitu pentingnyakah arti persahabatan untuknya?

Aku janji Vellon! kita akan selalu bersama sampai kita besar nanti!

Sahabatnya Vellon

Aron pun menyimpan kertas berbentuk burung miliknya, di jok sepeda yang biasa Vellon duduki. Aron tersenyum memandangi sepeda Vellon dengan dua kertas berbentuk burung di masing-masing joknya. Aron mengerti sekarang, jika nanti ia mempunyai sahabat, ia akan melakukan apapun untuk sahabatnya. Dengan kondisi apapun! walaupun nyawa taruhannya. Seperti yang Vellon lakukan.

Mama lalu memberi tahu Aron dan Vellon. Bahwa mimpi hanyalah bunga tidur. Aron betul, mimpi itu memang terkadang tidak masuk akal. Mimpi juga terkadang berasal dari apa yang kita pikirkan sebelum tidur.

Cerpen Karangan: Dita Merdekawati
Blog: ditamerdeka.blogspot.com
Nama: Dita Merdekawati (17) duduk di bangku 3 SMA di Bandung.

Cerpen Mimpi Buruk Aron merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Four For Forever (Fo3)

Oleh:
Suatu Hari di kelas, kedatangan murid baru (perempuan). Anak itu datang dari Surabaya, ia pindah karena Ayahnya yang bekerja di Bank memiliki tugas disini. Pada hari pertama kedatangannya itu

Sahabatku Cintaku

Oleh:
Namaku Ranti aku lahir di keluarga yang bisa dibilang tidak bahagia, karena aku lahir di keluarga yang “Broken Home”. Ya… Kedua orangtuaku telah berpisah sejak aku kecil, dulu aku

Karena Mereka Berharga

Oleh:
Siang yang mendung dengan milyaran rintik hujan turun dari langit. Matahari bersembunyi di balik awan kelabu, seakan enggan melakukan aktivitasnya menyinari bumi. Hujan selalu bisa membuatku nyaman. Terkadang aku

My Best Friend’s Eye

Oleh:
“Hati-hati, Non…” Mbak Irma berteriak melihatku menuruni tangga menuju lantai pertama sendirian. Mungkin saat ini ia sedang berlari menghampiriku. Dan benar saja, tak ada satu menit tangannya sudah menggenggamku

Mak Uti

Oleh:
Dua hari terakhir ini ibuku tak henti menelpon menyuruhku pulang. Aku heran, tak biasanya ibu bertingkah seperti ini. Mengapa tak suruh aku pulang jauh-jauh hari sehingga aku bisa mempersiapkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *