Mungkin Ini Saatnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 July 2016

“Malam ini sungguh sunyi, aku hanya termenung dikamar dengan memegang sebuah pensil untuk mengisi Dairyku. Dairy yang berisi sebuah tulisan yang berarti bagiku. Situasi ini membuatku mengantuk dan aku pun tertidur lelap menunggu matahari terbit.

Pagi pun tiba, aku sudah siap untuk berangkat sekolah. Dan berpamitan sama Ayah dan Ibu. “Ayah Ibu Rila berangkat sekolah dulu ya, asalamualaikum” ucapku, sambil melangkah kedepan pintu. Seperti biasa aku berangkat sekolah berjalan kaki.

Setibanya di sekolah aku langsung menuju ke kelas dan duduk termenung menunggu Bel masuk kelas berbunyi. Tiba-tiba temanku datang menghampiriku.
“Hai, Rila kok cuma sendiri?” tanya Thatha, temanku.
“Iya” ucapku sambil tersenyum menghadap Thatha.
“Gimana, perut kamu masih sakit enggak?” tanya Thatha, sambil memegang tanganku.
“Iya nih masih sakit” ucapku gemetar, karena saat Thatha tanya perutku pas sakit.
“Aw Aw.. aduh” aku merintih kesakitan, sambil memegang perutku.
“Ril, ayo kita ke UKS aja!”
“Enggak, ah enggak aku gak mau, nanti aku malah ngerepotin kamu. Enggak ah, biarin aja.” ucapku gemetar.
“Ya udah deh, enggak. Eh, Ril aku saranin ya mendingan kamu priksa aja ke Dokter.” Thatha menyaranin.
“Iya ya, nanti coba aku tanya sama Ayah dan Ibu aku. Makasih ya Tha, kamu memang sahabatku.” ucapku, sambil tersenyum menghadap Thatha.
‘Tet-tet-tet’ bel masuk kelas berbunyi. Aku dan Thatha segera masuk kelas dan siap siap untuk pelajaran.

Beberapa Jam kemudian.. ‘Tet-tet-tet’ bel istirahat, tepat pukul jam setengah 12 siang.
“Tha, kita ke masjid aja yuk, siap-siap untuk Shalat Dzuhur.” ucapku, mengajak Thatha.
“Ok, ayo ‘Let’s Go!” Thatha menjawab, sambil berjalan melangkah ke luar kelas.

‘Tet-tet-tet’ bel pulang sekolah berbunyi.. aku segera bersiap siap untuk pulang sekolah.
“Ril, jangan lupa nanti periksa ke Dokter, supaya kamu bisa tahu penyakit apa yang ada di tubuhmu. Semoga sakitnya gak parah cuman sepele aja. Amin.” ucap Thatha, sambil berjalan untuk pulang ke rumah.

“Akhirnya, sampai rumah juga. O, iya aku kan harus beritahu Ayah sama Ibu. Semoga Ayah sama Ibu di rumah. Amin” ucapku sambil, berlari masuk rumah.
“Ya cuma ada Ayah.” ucapku dengan pelan.
“Gak papalah” ucapku sambil mendekati Ayah.
“Yah, ada yang aku mau omongin sama Ayah dan Ibu. Tapi Ibu kan gak di rumah, jadi Ayah aja yang aku omongin” ucapku dengan rintih.
“Ada apa sih ini, memangnya ada apa nak.” ucap Ayah, memotong ceritaku atau pembicaraanku.
“Sebenarnya Yah, Rila itu sering sakit perut. Sakit banget Yah.” ucapku sambil melirik Ayah.
“Oh, jadi kamu itu sering sakit perut. Ya udah nanti kita periksa ke rumah Tante Detha ya.”
“Kok, ke rumah Tante Detha Yah. Kita kan mau periksa karena Rila sakit perut. Bukanya ke RS atau ke Klinik?” ucapku
“Ya, kan Tante Detha itu Dokter.” ucap Ayah menerangkan.
“O, iya Rila lupa Yah, He He He.” ucapku sambit tertawa.
“Kamu tuh ya.” ucap Ayah, sambil mengelus elus kepalaku.

Sore pun tiba.. aku segera siap siap untuk ke rumah Tante Detha.
“Rila!” Ayah memanggilku dengan lantang dan keras.
“Iya, Yah. Bentar.” ucapku, sambil berlari menuju Ayah.
“Ayo, kita pergi” ucap Ayah.
“Ayo Yah, Let’Go.”

Aku dan Ayahku pergi ke rumah Tante Detha naik Mobil. Dan aku duduk di samping Ayah. Beberapa menit kemudian.. sesampailah di rumah Tante Detha. Aku dan Ayah segera masuk ke rumah Tante Detha.
“Waw, banyak juga pasienya Ayah.”
“Iya.” ucap Ayah.
“Yuk, kita masuk ke Ruang periksa.” sambil menggandeng aku untuk masuk.
“Ayo.” ucapku sambil melangkah ke depan.

Sesampai di ruang periksa Tante Detha.
“Hai, Rila.” ucap Tante Detha.
Aku tersenyum menghadap Tante Detha.
“Kata Ayah kamu, kamu sering sakit perut ya?”
“Iya, Tante Detha.”
“Ok, biar Tante Detha periksa dulu ya.”
“Ok Tante.” ucapku gemetar merasa takut.

“Kak, ternyata Rila menderita sakit Kanker di perut, Kanker ini sudah menyebar di seluruh tubuh. Mungkin umur Rila tidak lama lagi. Kita hanya menunggu saja, kapan ajal menjemput Rila.” Tante Detha mebisiki Ayah, sambil menangis.
“Apa, gak mungkin. Lalu apakah tidak ada jalan lain agar Rila bisa sembuh?”
“Tidak ada.” ucap Tante Detha.
Tiba tiba Ayah dan Tante Detha menangis. Dan aku kaget kenapa mereka menangis.
“Kenapa sih kok pada nangis.” aku bertanya.
“Rila, kata Tante Detha umur kamu tidak lama lagi.” ucap Ayah dengan pelan dan masih meneteskan air mata.
“Gak mungkin Yah. Gak mungkin”. ucapku dengan mengalirkan air mata.
“Sabar ya Rila. mungkin ini sudah takdir dari Tuhan.” ucap Tante Detha sambil memelukku.

Beberapa menit kemudian, Ibu datang ke rumah Tante Detha, karena ditelfon Ayah. Dan Ayah pun memberitahu Ibu kalau aku menderita sakit Kanker di perut dan umurnya tidak lama lagi. Disaat Ibu mendengar ucapan Ayah ibu menangis sambil memelukku.
“Nak, ibu gak nyangka, kalo Allah akan memanggilmu Nak. Ibu gak nyangka.”
“Ibu tenang saja, jangan menangis seperti ini, mungkin ini kehendak Allah dan mungkin ini takdir yang diberikan untuk Rila.” ucapku gemetar dan menghapus air mata di pipi Ibu.
“Tapi Nak, Ibu hanya punya 1 anak yaitu kamu, kamu anak Ayah dan anak Ibu satu satunya.” semakin deras air mata Ibu yang mengalir.

Hari berganti Bulan, Bulan berganti Tahun.. 2 bulan kemudian.. Disaat seperti ini aku menulis surat untuk Ayah dan Ibu, dan Thatha sahabatku di sekolah. “Ok, haduh mana sih buku dan pensilku..” ucapku, sambil mencari cari. “Hah, ini dia.” ucapku sambil tersenyum senyum. Ok mulai.. mendingan aku tulis untuk Ayah dan Ibu dulu aja…

To: Ayah dan Ibu
Rila berterimakasih sama Ayah dan Ibu yang telah membesarkan, mendidik Rila dari kecil, terutama Ibu yang mengandung 9 bulan, menyusui Rila, melahirkan dengan susah payah dan mempertaruhkan nyawanya demi Rila. Terima Kasih Ayah Ibu. Ayah Ibu kalo Rila punya salah sama Ayah Ibu tolong maaafkan ya. Ayah Ibu jangan khawatir, Rila disana pasti akan baik baik saja.. Doakan Rila ya!!
From: Rila

Sekarang aku tinggal menulis untuk Sahabatku.. Thatha..

To : Thatha
Halo Thatha,
Maaf ya Thatha klo aku punya salah sama kamu. Dan maaf juga kalo aku selalu ngrepotin kamu..
Tolong maafin aku ya.. kamu itu sahabatku yang paling lucu, perhatian, dan selalu memberiku motivasi agar aku menjadi Rila yang BISA. Tapi Tha, mungkin Persahabatan kita sampai disini saja. Aku tidak bisa nerusin Persahabatan kita.. kita tidak bisa ngelanjutin persahabatan kita.. hanya bisa sampai disini saja..
BYE…
From: Rila

‘Ok.. semuanya udah sekarang tinggal aku robek kertas ini lalu aku masukin ke dalam Amplop.’ ucapku dalam hati
“Sruek” suara sobekan kertas.. setelah disobek lalu aku masukin ke dalam Amplop itu.. Haduh, akhirnya selesai juga..

“Ayah sama Ibu mana sih?” kok gak datang datang ke RS. Ahhhhh.. aku tunggu saja lah..

“Aaaaaaaaaa… sakit, tiba tiba badanku sakit semua.. ini kenap…aaa..” menghembuskan nafas terakhir.

Cerpen Karangan: Magnavia Devita A
Facebook: Magnavia Devita Aha

Haii!! Perkenalkan:
Nama lengkap: Magnavia Devita Anggraini
Nama Panggilan: VITA
Alamat: Sidoharjo, Bangunkerto Turi Sleman Yogyakarta.

Cerpen Mungkin Ini Saatnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kursi Roda untuk Maria

Oleh:
Angel. Itulah namaku. Nama yang sering didengar dan dikenal oleh banyak orang. Aku adalah seorang penyanyi cilik. Sudah 7 album yang aku miliki. Padahal, aku masih menginjak kelas 5

Balas Budi Seekor Anjing

Oleh:
“Ma, Shelin jogging dulu ya!” ujar Shelin sembari mencium telapak tangan ibunya. “Iya, hati hati ya” jawab ibunya. Di taman kota, Shelin berolahraga dan jogging di sana. Setelah 90

Celengan Ayam

Oleh:
Di musim hujan kala itu sama seperti apa yang ku rasakan sekarang di depan bangunan lapuk di sebuah kota bernama Solo, kota yang ku kenal dengan batiknya yang menusantara.

Surat Untuk Idolaku

Oleh:
Ini adalah kisah hidup gadis sederhana yang mengakui bahwa dirinya adalah pecinta BoyBand, terutama SMASH. Vindy namanya, dia adalah gadis yang periang. walaupun dia berada dalam keadaan yang memprihatinkan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *