My Friend, Come Back Please!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 February 2014

Dua tahun telah berlalu. Ya, saat-saat ketika Ayar sudah pergi meninggalkan aku dan aku selalu dihantui oleh bayang-bayangnya. Ayar pindah ke Makassar meninggalkan aku karena dia ikut dengan ayahnya yang bekerja disana.
Hingga saat ini aku selalu terbayang kebaikan dia dan keluarganya, teringat kenangan-kenangan manis bersamanya. Dia adalah sahabat kecilku.

Malam itu aku berdoa “Ya Tuhan, apakah Ayar masih ingat padaku? Atau mungkinkah dia sudah melupakanku? Kembalikan dia padaku Ya Tuhan…!”
Itulah doaku yang selama ini sering aku ucapkan sehabis sholat tahajud.

Keesokan harinya, aku berangkat sekolah diantar oleh ayahku. Sesampainya di sekolah, aku duduk di bawah pohon glodok bersama Febri.
Tiba-tiba… “Eh, Nil aku mau tanya sesuatu boleh gak?”
“Boleh, tanya apaan Feb?” Jawabku dengan penuh penasaran.

Kemudian Febri diam sejenak. Hatiku terus berdebar-debar menunggu pertanyaan dari Febri. Ah, paling Febri ingin menanyakan tentang tugas IPA yang kemarin belum sempat terselesaikan. Namun, itu semua tidak sesuai dengan fikiran dan hatiku. Febri malah bertanya tentang keadaan Aray padaku.
“Feb, dua tahun ini sudah gak ada kabar lagi tentang Aray, aku sms dia gak dibales, di Facebook aku inbox dia juga gak dibales.”
“Emang, kamu gak punya alamat Twitternya ya?”
“Apa? masa sih Aray punya twitter? kok dia gak follow aku.”
Kriiingg… Kriiing.. bel tanda masuk berbunyi. Aku dan Febri menyudahi pembicaraan kami.

Di kantin, aku sempat bertemu dengan Febri dan teman-temannya. Aku dan teman-temanku duduk di sebelah selatan kantin. “Vi Devi, geser dikit donk tempat duduknya.” Meiya menyuruh Devi menggeser agar dia kebagian tempat duduk. “Nin, Febri tuh keren ya… coba lihat, dia berjalan ke arah sini deh kayaknya.” Ya, ucap Ika temanku yang menyukai Febri.
Febri berjalan menghampiriku dan memanggilku. Kelihatannya, Ika cemburu padaku. Mungkin, Febri ingin melanjutkan omongan yang di bawah pohon glodok tadi. Ternyata dugaan ku tidak salah. Febri mengajakku ke kantin sebelah Utara dan aku pun dipersilahkan duduk.

“Nil, sebenarnya, ada yang mau aku omongin ke kamu tentang persoalan tadi pagi. Tapi aku takut kamu menjadi sedih dan terpuruk nantinya.”
“Emang ada apaan sih Feb? kalau ngomong yang jelas donk… don’t make me worry. You know!” Ucapku dengan nada tinggi kepada Febri. Tapi entah mengapa, wajah Febri sepertinya menjelaskan sesuatu yang begitu amat menyedihkan tentang Ayar. “Nil, sebenarnya aku dapat berita tentang Ayar ini barusan aja.”
“So, what the berita?”
Tiba-tiba… Kriiingg.. Kriing… Kriing… Bel masuk pun sudah berbunyi. Aku begitu kesal dengan Febri. Aku langsung mengikuti teman-temanku kembali ke kelas kami.

Siang itu, pelajaran berakhir dengan penuh ceria. Hemm, so, gak ada kata galau dalam hati aku. Say no to GALAU. hahaha…
Namun, di jalan aku bertemu Febri lagi. “Feb, apaan sih? minggir sana!! aku mau lewat tau…”
“Nil, ayo ikut aku, jangan pulang dulu… Please, follow me in the class 7E.. I want tell something to you…”
“Ya deh, so, I will follow you…”

Setelah sampai di kelas 7E, aku dan Febri duduk-duduk di teras kelas. Febri menceritakan semuanya padaku. Aku benar-benar terkejut dengan omongan Febri, seakan aku berada di alam mimpi. Aku tak menyangka, ternyata Sahabatku kini sudah tiada. “FEBRIII kamu serius kan? Do you honest to me? I don’t agree with you… OH GOD, mengapa semua bisa terjadi?”

Aku benar-benar histeris dan meneteskan air mata. Setelah mendengar cerita bahwa Ayar disana kecelakaan bus karena akan berangkat ke bandara. Kini pasrah sudah. Febri mendapat berita tersebut katanya sih sudah 7 bulan yang lalu. Tetapi, dia menceritakan padaku baru sekarang karena aku sedang berada dalam masa sibukku. Febri takut menggangguku.

Kini lenyaplah sudah harapanku ingin bertemu sahabatku. TUHAN, andai saja aku dapat memutar waktu. Aku ingin TUHAN mengembalikan Ayar kepadaku. Selamat jalan sahabatku Ayar, selamat tinggal sahabat kecilku. Semoga arwahmu diterima di sisinya. Satu hal yang ingin ku katakan padamu, “Aku menyayangimu sahabatku, bahkan aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat.”

“Sabar sahabatku, tabahlah, ini sudah ketentuan dari TUHAN. Doakan Ayar, semoga dia layak di tempatkan di surga.”
Hanya saja aku juga tidak bisa membohongi hati kecilku yang ingin berteriak “MY FRIEND, COME BACK PLEASE!!!”

Cerpen Karangan: Anila Imroatul M S
Facebook: Anila Imroatul Marifah Sulha

Nama: Anila Imroatul Marifah Sulha
Kelas: 9 E
No.absen: 04
Sekolah: Smp Negeri 2 Trenggalek
Hobi: Buat Karya Sastra, Main Musik, Membaca
Cita-cita: Dokter Dan Penulis
Warna Kesukaan: Biru

Cerpen My Friend, Come Back Please! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Diaryku

Oleh:
Aku dan diaryku sudah berteman semenjak aku duduk di kelas 1 smp. Sukaku, dukaku maupun kekesalanku aku tumpahkan di pena dan ku tulis dalam sebuah buku diary kecil kesayangan

Kegelisahanku Malam ini

Oleh:
Terbangun malam ini aku di balik selimutku yang hangat. Terdengar hujan seperti membangunkanku dari tidur, dari luar jendela kamar. Dingin ketika aku mencoba membuka sedikit selimutku itu, dan ingin

Doa Dalam Diam

Oleh:
Andai aku seperti manusia yang lain, pasti ku tak akan sesedih ini, ya seperti hari-hari ku yang selalu larut dalam kesedihan ini. Sejak dulu aku selalu menjadi cacian orang-orang

Tinta Hitam

Oleh:
“Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah, salah satu rekan kita, Bapak Abdullah. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin.” Pengumuman itu disampaikan tepat sebelum jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *