My New Sister

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 November 2013

Hari ini adalah hari pertamaku menggunakan baju putih abu-abu. Aku merasa senang karena pakaian putih abu-abu adalah pakaian kebanggaan setiap remaja. Dimana seorang remaja akan benar-benar dinamakan remaja atau seseorang yang akan mengalami akhir balig. Dan pakaian ini adalah pakaian terindah yang akan selalu diingat kami hingga tua nanti.

Lebih senangnya lagi, aku diterima di SMA favorit di kotaku. Aku senang sekali. Bukan hanya diriku, tapi semua orang yang diterima di SMA ini pasti akan merasakan hal yang sama dengan diriku. Kecuali dia.

Setelah beberapa hari aku masuk sekolah, aku sering melihatnya. Dia. Entah siapa. Dia adalah seorang gadis manis yang pendiam dan selalu menyendiri. Aku melihat tidak ada tanda-tanda kehidupan dalam dirinya.
Aku pikir, dia tidak senang diterima di sekolah ini. Tapi, jika tidak senang untuk apa daftar di sekolah ini?

Setelah pulang sekolah, aku mengikutinya pulang. Aku tahu ini sangat tidak sopan. Tapi, aku benar-benar penasaran. Mungkin ini salah satu kelemahanku. Ingin mengetahui sesuatu yang sama sekali bukan urusanku.

Aku mengikuti gadis itu yang berjalan melintasi gang kecil. Tapi, tiba-tiba saja langkahnya berubah menjadi cepat sekali sehingga aku kehilangan arahnya. Aku takut dia menyadari keberadaanku.

Tapi, usahaku tidak terhenti begitu saja. Esok harinya, aku mencari identitas gadis itu. Aku tahu ini keterlaluan. Tapi, aku penasaran sekali. Apa yang terjadi dengan gadis itu. Sepulang sekolah, aku tidak mengikuti gadis itu pulang lagi. Aku pergi ke TU untuk meminta data diri gadis itu. Staff TU itu menanyakan nama gadis itu. Aku sendiri tidak tahu siapa namanya. Tapi, aku bisa menceritakan ciri-ciri fisik gadis itu dan asal kelasnya. Staff TU itu langsung mengetahui siapa yang aku maksud.

Tak lama aku menunggu, Staff TU itu kembali sambil membawa selembar kertas HVS yang pastinya adalah kertas yang aku maksud. Aku mengucapkan terima kasih kepada staff TU itu dan melesat pergi.

Setelah tiba di rumah, aku langsung membaca formulir yang aku pegang. Aku melihat photo yang tertera pada formulir itu. Benar-benar membosankan. Tersenyum pun tidak. Sama sekali tidak menarik. Apakah gadis itu tidak mempunyai ekspresi? Benar-benar photo yang buruk.

Aku membaca nama yang tertera dalam formulir itu. Agnes Zahara. Nama yang bagus dan menarik. Tapi, tidak semenarik dirinya.

Aku melihat asal sekolahnya. SMP itu… itu SMP favorit. Bahkah sudah Berstandar Internasional. Mana mungkin dia alumni SMP itu?

Esok harinya, pada saat istirahat aku mencari info tentang Agnes dari teman-teman yang dulu pernah dekat dengannya. Aku menanyakan semua hal tentang Agnes. Teman-temannya bilang, awalnya Agnes adalah gadis yang periang. Tapi, setelah ibunya meninggal Agnes berubah 100 derajat. Ia menjadi lebih senang menyendiri dan tertutup. Sedangkan dia tidak tahu ayahnya dimana. Dari kecil Agnes memang tidak pernah diberi tahu tentang ayahnya oleh ibunya.

Setelah pulang sekolah, aku mengikutinya lagi. Aku mengikuti Agnes hingga ke pesawahan. Dia duduk di sebuah saung sambil menikmati daun-daun berwarna hijau, pohon-pohon liar di atas tebing dan burung-burung berkicau yang ingin mencuri padi. Benar-benar suasana yang menyejukkan.

Aku memperhatikannya dari balik pohon besar tak jauh dari tempatnya duduk. Kakiku sudah terasa pegal. Aku sudah memperhatikannya entah berapa lama tanpa berkedip. Kapan dia akan pergi…
“Duduklah,”

Aku melebarkan mata mendengar Agnes berbicara. Aku melihat ke belakang, ke samping, ke kanan, ke kiri, hingga melihatnya kembali.

“Kau masih di belakang pohon, kan? Kamu gak dengar? Duduk sini.”

Oh My God! Agnes benar-benar berbicara kepadaku. Bagaimana dia bisa menyadari keberadaanku? Aku terkejut setengah mati. Bagaimana jika dia marah? Bagaimana jika dia ingin meminta alasan tujuanku?

Berbagai pertanyaan negatif menyelimuti otakku. Aku melangkah pelan meghampirinya dan duduk di sampingnya dengan hati-hati. Aku melihat Agnes masih terdiam, memandangi pepohonan hijau dari bawah tebing. Aku mengikuti arahan matanya, mencoba menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi langsung dari alam. Walaupun cuaca panas, terik matahari menyengat. Tapi, kini aku tidak merasakannya lagi. Mungkin itu kenapa sejak kecil aku selalu diajarkan untuk menanam pohon, tidak menebang hutan secara liar oleh guru-guru atau ayahku. Karena mereka ingin kami menikmati kesejukan alam langsung. Bukan dari AC.

“Kamu juga kemarin yang ngikutin aku, kan?”

Aku menoleh ke arah Agnes. Lalu, mengangguk ragu.

“Kamu udah dapat informasi apa aja tentang aku?” tanya Agnes lagi kepadaku.

Aku mengangkat alis tidak mengerti. Apa Agnes marah?

“Kamu mencari informasi apa saja tentang aku?” tanya Agnes lagi.

Aku terdiam. Bukannya tidak mendengar, hanya saja aku tidak tahu akan menjawab apa.

“Kenapa? Apa yang mau kamu tahu tentang aku?”

Aku menoleh ke arahnya. Aku membuka mulutku hendak menjawab. Tapi,
tiba-tiba Agnes menyela.

“Ibuku meninggal saat aku menginjak kelas IX semester II. Saat itu, aku dan ibu sedang bertengkar hebat. Tapi, ketika aku sedang sekolah, ada seorang tetanggaku yang menjemputku untuk pulang — padahal waktu itu jam KBM belum selesai. Setiba di rumah aku melihat banyak orang di rumahku. Aku bingung. Dan betapa terkejutnya aku saat aku masuk ke dalam rumah. Tubuhku langsung lemas tak bertenaga. Aku melihat ibu terbaring tak bernyawa. Ibu tidur dengan tenang sambil tersenyum kepadaku. Padahal saat itu kami sedang bertengkar.” Kata Agnes menyela ucapanku. “Sekarang, kamu udah tau, kan?”

Aku terharu mendengar cerita Agnes. Mungkin ini peristiwa yang akan ia sesali seumur hidupnya. Aku melihat Agnes berdiri dan bergegas pergi.
Tapi, tidak semudah itu aku membiarkannya pergi. Aku menahannya. Aku berdiri dan berteriak.

“Aku hanya ingin menjadi temanmu.” Teriakku. Agnes berhenti, dia berdiri membelakangiku. “Aku pengen jadi teman kamu.” Kataku mengulangi.

Sejak saat itu, kami berteman. Aku mengenalkannya pada ayahku.
Ternyata, Agnes adalah anak yang baik, pintar, manis dan sifat periang yang dulu hilang dan selalu diinginkan teman-temannya telah kembali.
Bahkan Ayah ingin mengadopsi Agnes menjadi anaknya. Mungkin dia merasa aku sangat cocok dengan Agnes. Karena aku anak tunggal dan ibu sudah berpisah dengan ayah, mungkin dia ingin Agnes menemaniku ketika dia sedang pergi bekerja atau keluar kota.

Aku sangat senang sekali akhirnya aku memiliki kakak yang selalu aku inginkan.

SELESAI

Cerpen Karangan: Aryn Chan
Blog: arinapri.wordpress.com
Facebook: https://www.facebook.com/1998aryn?ref=ts&fref=ts

Nama Aryn Chan. Lahir di Wonogiri (Jawa Tengah) , 16 Agustus 1998. Saat ini aku berumur 15 tahun dan kini aku menetap di Subang, Jawa Barat. Aku duduk di kelas X di SMAN 1 SUBANG. Untuk yang ingin mengenalku lebih jauh, bisa menghubungiku melalui akun-akun milikku dibawah ini :
Facebook : http://www.facebook.com/pages/Andarini-Prihapsari/171373489596297
Twitter : @1998aryn
E-mail : arin.prihapsari[-at-]gmail.com
Atau kalian bisa mengunjungi blog milikku di arinapri.wordpress.com 😀
Terimakasih…
Salam Penulis Muda… ^^

Cerpen My New Sister merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Piala Untuk Riska

Oleh:
Aku mempunyai saudara kembar. Namanya Riska. Wajah kami sama. Dan, hobi kami juga sama, yaitu bermain basket. Sore hari, kami sedang bermain basket. Tiba tiba bola basket yang aku

Senyuman Kakak Di Langit Malam

Oleh:
Kurebahkan tubuhku di kasur empukku Semilir angin malam menerpa tubuhku. Pandanganku langsung terarahkan ke jendela kamarku, tepatnya di bintang bintang yang berkilauan memancarkan cahaya terangnya meskipun dinginya malam. Aku

Sahabat Sejati

Oleh:
Pada waktu acara mop (masa orientasi pramuka) diselenggarakan di sekolah dan berwisata ke Wulandira yang bertempat di serang banten dan tak jauh dari sekolah kami. Jika kami ingin berwisata

Tersenyumlah Kawan

Oleh:
Tak pernah kulihat wajahnya tersenyum. Atau pun tertawa. Apa beban hidupnya terlalu berat? Tertawalah kawan. Rara. Gadis yang selalu ku ingin beri 1000 pertanyaan sekaligus. Kenapa ia tak pernah

Aku Selalu Menyayangimu

Oleh:
Berulang kali ku menghela nafas. Sudah lebih dari lima belas menit aku terkurung di dalam sekolah karena hujan deras sedang mengguyur belahan bumi tempat ku berpijak. Entahlah, meski sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *