Nada Tanpa Re

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 December 2013

Mataku terkatup. Aku melihat gelap. Pekatnya kurasakan. Seperti menyatu dengan asaku yang selalu hitam. Re biasa teman-teman memanggilku. Aku bukanlah nada Re yang menghiasi not-not lagu sehingga tampak indah. Atau nada Re yang menyatu dengan nada yang lainnya hingga tercipta simponi yang menyejukkan jiwa. Aku hanyalah perempuan. Yang dalam mata mereka hijau dan kecil. Yang terjebak dalam langkah yang salah. Yang terlempar dan terbuang tanpa ada yang menangkapnya.

Hari–hariku selalu gelap. Sinar harapan tak pernah melingkupi jiwaku. Sejak ayah kembali pada Sang Pencipta. Aku seperti kehilangan segalanya ketika ayah pergi. Bukan hanya separuh jiwaku yang melayang tetapi semua yang ada padaku. Sekarang aku kosong dan hampa.

Rumahku dan sepi sama. Sama-sama sunyi. Sama-sama hening. Hanya ada dua manusia di sana. Aku dan ibu tiriku. Ibu yang tak pernah kupanggil namanya. Dan kutatap matanya. Ibu yang yang tak pernah memelukku dengan hangat. Ibu yang tertawa, berpesta dan menari di atas kesendirianku. Sejak ayah tidak menginjakkan kakinya di rumah, aku selalu mendengar riuhnya pesta dan teriakan–teriakan jiwa-jiwa yang mabuk.

Malam setelah ayah tak bernafas menjadi malam pertama ibu menggelar pestanya. Pesta kebebasan. Waktu itu aku hanya terdiam di kamar. Hatiku terasa perih. Aku memeluk foto ayah yang tersenyum memandangku meneteskan air mata.

Sejak waktu itu aku masuk dalam suatu petualangan. Petualangan mencari sosok yang bisa menemaniku. Yang mampu mengusir sepiku. Yang mampu membuatku tertawa lepas, melepas penatku. Yang mampu membuatku terbang bersama mimpi–mimpi indahku.

“Re” Panggil Didi. Mataku pun terbuka. Aku melihat Didi jongkok di depanku. Ia menatap kedua mataku yang terkurung dalam tembok putih kamar kostnya. “Nih, lebih asyik. Lebih buat kamu tenang. Satu aja.” Kata Didi sambil memindahkan pil yang ada di tangannya ke tanganku. Aku pun mengambilnya dan berusaha membuka telapak tangannya. “Aku mau ini, ini, ini.” Kataku membuat Didi kaget. “Eh, satu aja” Kata Didi sambil merebut pil–pil yang aku rampas dari tangannya “Jangan Re!!!” teriak Didi terlambat. Aku sudah meminumnya.

Bangku Re masih kosong hari ini. Padahal aku sudah kangen. Dulu setiap istirahat, aku Nada dan Re sahabatku selalu bersenda gurau melalui lorong–lorong sekolah dan berhenti di depan kantin. Kantin begitu ramai tetapi kamilah yang paling riuh. Kami selalu tertawa lepas. Ada saja cerita lucu darinya dan dariku. Itu berlangsung sangat lama hingga hari-hari Re dipenuhi kesedihan. Kepulangan Ayahnya tak bisa di gantikan oleh apapun. Termasuk aku. Cerita lucuku tidak membuatnya tertawa. Senyumku tidak membuatnya tersenyum. Sejak itu pula aku tak pernah mendengar ceritanya. Ia semakin menjauh sehingga aku pun tak bisa meraihnya.

Dari kejauhan aku sering melihatnya berjalan dengan sekelompok anak yang selalu dipandang negatif oleh kami yang taat peraturan. Sedang dari hati kecilku, aku merindukan hari-hari bersama Re.
“Eh ngelamun sendirian di kelas. Kesambet baru tahu tuh” Nina membuyarkan lamunanku. “Apa sih?” Kamu tuh mikirin sahabatmu itu. Udah gak usah di pikirin. Dia tuh gak pernah mikirin kamu Nada. Lihat tuh, sekarang dia sama anak–anak gak bener. Kamu mau ketularan?” Nina mengomel panjang lebar.

“Bagaimanapun dia sekarang. Aku tetep sahabatnya. Eh kamu tahu rumah Didi gak? Re kan, akrab banget sama dia sekarang. Re udah gak masuk seminggu mungkin di kostnya. Nina melotot karena hampir tersedak. “Hu-uk… aduh ngapain kamu ke sana… gila… mau apa heh? Didi tuh kostnya di jalan sinpang sana. Yang lingkungan kumuh. Banyak pemakai. Kalau kamu maksa ke sana saranku hati-hati” Kata Nina sambil meninggalkan Nada.

Sepulang sekolah tekadku tetap kokoh. Aku tetap ingin menemui Didi. Jalan simpang yang diceritakan Nina tampak lenggang. Aku memasuki rumah nomor dua belas sesuai dengan saran teman-teman. Rumah itu mempunyai lorong kecil dan aku memasukinya. Lorong itu tidak terlalu panjang. Dari lorong itu tiba-tiba aku mendengar teriakan yang tak asing. Aku mempercepat langkahku. Kakiku terhenti pada kamar no 2 sumber dari teriakan itu. Ternyata itu kamar Didi.
“Re, Re!!!” Teriak Didi. Aku terkejut. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu kamarnya. Jantungku berdebar sangat kencang ketika melihat Re terbaring lunglai di lantai kamar didi. Aku meraih tubuh Re. Dari hidung dan telinganya keluar darah. Aku memeluknya.
“Re ini aku, Nada” bisikku. Tapi Re tetap menutup matanya. Jantung Re sudah tidak berdebar. Nadinya sudah mati. Aku menangis sekeras mungkin sambil mengoncang-goncang tubuh Re sedang Didi berlari mencari pertolongan. Re tetap bergeming. Tekadku menolongnya sudah terlambat.

Cerpen Karangan: Amelia Priscilla
Facebook: amelia priscillawati

Cerpen Nada Tanpa Re merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta itu Murah Hati

Oleh:
Dewi Handayani merasa terpekur setelah membuka mukenanya dari menjalani shalat subuh. Ia tahu akan ucapan ibu di sebelahnya yang menjadi tahanan bersamanya di sel penjara wanita itu. Dewi masih

Diam

Oleh:
Kubuka novel misteri kesukaanku, aku ingin membaca lebih dalam lagi isi dari novel ini. Novel ini adalah novel yang pertama kali kubeli, karena sebelumnya aku tak tertarik dengan bacaan-bacaan

Selamat Jalan

Oleh:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung.

Teruntuk Bapak

Oleh:
Bangunannya hampir roboh, cat yang menempel pada permukaan mulai mengelupas, warnanya pun memudar, daun kering berserakan, tiang penyangga tak sekuat dulu lapuk termakan usia, rumah yang dulu sangat indah

Pacarmu Bukan “Ninja”

Oleh:
Siang ini di kelas aku menatap keadaan di luar kelas dari jendela, minggu ini aku mendapat giliran duduk di bangku paling pinggir dekat jendela yang memang berukuran besar dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *