Nasehat Sang Nenek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 October 2014

“Pagi, ayah…, pagi, ibu…”
Jeritan Suzy yang keras itu sempat membangunkan kedua orangtuanya yang tersayang. Dengan wajah yang bersemangat Suzy yang baru saja terbangun langsung pergi ke toilet untuk mandi, sikat gigi, nengganti pakaiannya. Setelah itu dengan cepat ia membereskan tempat tidurnya.

“Ayo ayah, ibu… bangun. Sudah pagi nih. Nanti aku terlambat sekolah.”
“Iya, iya ibu bangun…”
“Ayah juga bentar lagi bangun, sayang.”
“Ayo, cepetan, bu…, yah…”
“Iya, iya.” kata ayah dan ibu Suzy dengan bersamaan.

Dengan cepat, kedua orangtua Suzy terbangun. Setelah sarapan, Suzy pamit kepada orangtuanya, untuk berangkat sekolah.
“Ayah, ibu, Zizi pergi dulu ya…” kata Suzy sambil mencium kedua tangan orangtuanya.
“Hati-hati di jalan nak” jerit ayah dan ibunya.

Sayangnya, ketika di perjalanan menuju sekolah Suzy dikagetkan dan dihambat oleh seorang nenek yang terjatuh tersandung batu. Dengan cepat, anak itu menolong sang nenek yang terjatuh.
“Nenek, apa yang terluka?”
“Ti… ti… tidak… cuuuu. Nenek tidak ada yang terluka…”
“Ngomong-ngomong nama nenek siapa?”
“Nama ne… ne…nek Misha.”
“Rumah nenek dimana?”
“Rumah nenek di sa… sa… sana. Tidak jauh dari sini.”
“Baiklah, maaf aku tinggal dulu nenek, aku takut terlambat ke sekolah. Dah, nenek.”
“Hati-hati di jalan.”
“Iya nek.”

Sesampainya di sekolah, gerbangnya hampir saja sudah ditutup. Andaikan ia terlambat 10 detik lagi, habislah riwayatnya.
“Pak satpam tunggu dulu.” sambut Suzy dengan ngosngosan
“Cepat nak… masuk!!!” jerit Pak satpam.

“Tok, tok, tok”
“Masuk!!!” jerit Pak Achmad.
Rasa gembira Suzy pun sirna. Pak Achmad adalah guru PPKN yang paling galak, dan tidak disukai oleh para murid. Guru itu juga paling tidak suka dengan anak yang terlambat. Apabila ada anak yang terlambat, pasti ia keluarkan dari kelas.
“Baik, Pak.”
“Kenapa kamu hari ini terlambat? Anak pintar apabila terlambat, sama saja seperti anak bodoh yang suka dengan kelalaian!!!” teriak Pak Achmad.
“Ma.. ma.. maaf Pak. Tadi, anu, anu…”
“Sudah!!! Duduk!!! Kalau masih mau mengikuti pelajaran saya, duduk dan jangan ganggu saya.” sambar Pak Achmad.
“Baik, Pak. Maaf.” kata Suzy.

Sepulang sekolah, Suzy langsung mencari keberadaan nenek yang tadi pagi ia temui. Rencananya untuk mengetahui keadaannya. Sepengetahuannya, kakinya yang bersama dengan sandal yang sudah usang itu, berlumuran darah.
“Bapak, apakah anda tahu, dimana letak rumah nenek yang bernama Nenek Misha?” tanyaku kepada seorang warga Komplek Muarmi.
“Oh, rumahnya, berada di sebelah sana. Dari sini, belok ke kiri, lalu lurus terus, kamu nanti akan menemukan sebuah kolam ikan yang berpancuran. Dari sana kamu belok ke kanan, lalu ada rumah yang memiliki pagar berwarna kuning. Itulah rumahnya.” jelas Bapak itu.
“Terimakasih Pak.”

Setelah disusurinya jalan tersebut, ternyata ia menuju jalan yang benar. Setelah ditemuinya rumah itu, ia langsung membuka pagar yang tidak terkunci, kemudian mengetuk pintu rumah sang nenek.
“Tok, tok, tok. Nek, Nek Misha… Ini aku, anak yang nenek temui waktu pagi.”
“Oh, sebentar… Sebentar, nenek keluar.”
“Baik nek.”
“Krekekek… Eh cucu, masuk cu… Ada apa cucu datang kemari?”
“Tadi pagi, aku melihat kaki nenek yang terluka. Aku takut kaki nenek kenapa-kenapa. Oh, iya. Aku lupa, kenalkan nek, namaku Suzy.”
“Su… Su… Suzy?”
“Iya nek. Namaku Suzy.”
“Oh, jadi manamu Suzy? Kaki nenek sudah baikkan. Terimakasih ya bantuan cucu waktu pagi tadi.”
“Sama-sama nek.”
“Kamu, tidak pulang saja dulu? Hari sudah mulai sore.”
“Oh, iya. Aku lupa. Aku pulang dulu ya nek.”
“Iya, hati-hati cu.”
“Baik nek.”

Matahari sudah mulai terbenam
Waktu terus berjalan
Kejadian yang terjadi terus berlangsung
Menjadi sebuah pengalaman
Namun, esok hari telah menunggu
Sang mentari pun begitu
Sinarnya sudah ingin kembali terpancarkan
Hangatnya sudah ingin kembali memeluk diriku
Hari esok
Hari yang penuh dengan misteri
Namun itu tetap harus kita jalani
Dengan hati yang gembira

“Ayah, Ibu. Bangun.”
Seperti biasa, Suzy kembali berteriak untuk membangunkan kedua orangtuanya. Namun, hari ini ada yang berbeda darinya. Hari ini ia lebih bersemangat untuk sekolah. Dandanannya lebih rapih. Setelah semuanya selesai sarapan, Suzy bersiap untuk berangkat sekolah.
“Ayah, Ibu aku pamit ya.”
“Iya, nak… Hati-hati di jalan ya.”
“Baik, Bu.” “Nananana, nanananana, nana.. Astaga, astaga… Hari ini hari ulang tahun Sasha.”

Sesampainya di sekolah Suzy mengucapkan selamat ulang tahun kepada sahabat dekatnya, Sasha. Dengan wajah yang gembira ia mengikuti pelajaran di kelasnya.
“Sasha, Sasha. Selamat ulang tahun!!!”
“Hai, Suzy… Terimakasih.”
“Sama-sama.”

Sepulang sekolah, Suzy mengunjungi kembali rumah Nenek Misha itu. Namun, di sebelah tangannya ia memegang erat sebuah keresek yang berisi buah-buahan. Yaitu: Apel, jeruk dan beberapa buah markisa.
“Nenek, nenek. Aku Suzy, tolong buka pintunya, nek.”
“Iya, tunggu sebentar nak.”
“Baik, nek.”
“Krekeeeeek, kreeeekek.”
“Mari masuk…”
“Nek, ini saya bawakan sedikit buah untuk nenek.”
“Oh, cucuku… Tidak usah repot-repot. Cu, memangnya cucu tinggal dimana?”
“Aku tinggal di Jalan Candiwa.”
“Oh, jauh-jauh kamu kesini hanya untuk menengok nenek?”
“Betul, nek. Mengunjungi seseorang bukanlah paksaan dari hati, tapi sebuah keikhlasan dari hati.”
“Oh… iya Nek, aku pulang dulu ya…”
“Buru-buru amat… Ya sudah, hati-hati di jalan ya…”
“Ya, nek.”

Sehari-sehari
Kulewati dengan rasa syukur
Tak terasa
Hari hari telah jalani
Kenangan
Merupakan perbuatanmu
Segala pengisi, yang mengisi
Hari-harimu
Sayangnya
Semua perbuatanmu
Telah banyak orang yang menyaksikan
Dengan matanya sendiri

Saat di perjalanan pulang, Suzy melihat seorang kakek yang kerepotan mencari sandalnya. Dicarinya sandal itu, oleh sang kakek. Kesana kemari, jalannya mondar-mandir di sebuah gang yang letaknya tidak jauh dari rumah Nenek Misha.
“Aduh, dimana ya sandalku…? Kalau hilang aku bisa-bisa celaka…”
“Kakek, kakek mancari sandal?”
“Betul, nak. Apa kamu menemukannya?”
“Belum, kek. Tapi kalau aku membantu mencarinya siapa tahu saja ketemu.”
“Nah, ide bagus.”
“Krek, krek, krek…” suara dari kursi tua reyot.
“Nah, ini kek.”
“Betul, itu sandal tuaku. Sudah selama 15 tahun sandal in kupakai. Sandal keramat. Terimakasih, nak.”
“Sama-sama.”

Setelah selesai Suzy mengisi hari-harinya, ia menuliskan kejadian-kejadian hari kemarin dan hari ini di buku hariannya. Semua kesan-kesan dari hati kecilnya ditulis di buku hariannya. Keesokkan harinya, seperti biasa ia berteriak membangunkan kedua orangtuanya, dan selesai sarapan Suzy berangkat sekolah.
“Bu, Yah Suzy pergi dulu.”
“Ya, hati-hati di jalan, nak.”
“Ya, Bu…” jawabku dengan penuh semangat.
“Woi, woi… awas…”
“Wah, kelewatan, Lu…”
“Anak sialan!!!”
Jeritan-jeritan itu dolontarkan oleh mulut para pelaku kerusuhan. Sebagian dari mereka membawa senjata tajam. Diantaranya pisau. Dengan seenaknya mereka menyodorkan pisau kepada siapapun.
“Turunkan RT…”
“Ganti RT…”
“RT gak becus…”
“Pak, Bu… ada apa?” tanyaku heran.
“Turunkan RT kita…”
“Ganti RT kita.”
“Bu, Pak ada, apa?!!” tanyaku dengan sedikit berteriak.
Namun dengan tidak sengaja, pisau dari salah seorang pelaku kerusuhan menusuk tepat di perut Suzy. Sang ayah dan ibu yang mendengar jeritan kerusuhan dari luar pintu rumahnya langsung keluar. Ternyata dilihatnya Suzy anak mereka tersayang tertusuk oleh pisau.
“Suzy, Suzy… anakku tersayang…” jerit ibu
“Bangun nak… bangun…” jerit ayah.

Sayangnya semua telah berlalu. Waktu tidak bisa diputar mundur. Semua telah terjadi, telah berlalu. Semuanya pula telah terlambat. Dengan segera kedua orangtua Suzy membuat berita di Koran meninggalnya seorang anak akibat kerusuhan, anak itu bernama Suzy.

Singkat cerita, saat upacara pemakaman, semua orang yang mengenal Suzy serta orang yang pernah ditolong oleh Suzy berbondong-bondong datang memenuhi tempat pemakaman. Namun, seorang nenek tiba-tiba berkata “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” dan nenek itu adalah Nenek Misha.

Tamat

Cerpen Karangan: Davina Senjaya
Facebook: Davina Senjaya

Cerpen Nasehat Sang Nenek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berlibur Ke Paris

Oleh:
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Shilla, kenapa? Karena hari ini adalah hari penerimaan rapot. Perasaan cemas dan senang bercampur di dalam hati Shilla. Mamanya sudah datang di

Melawan Harimau

Oleh:
Aku berjalan, berjalan dengan cepat. Kemudian berlari, berlari, terus berlari, lebih cepat, lebih cepat. Kemudian berhenti, seperti ada yang mengikutiku. Aku tahu, tapi aku hanya melihat bayangan hitam berlalu

Ujian Akademi

Oleh:
Aku duduk di bangku taman. Kerajaan ini semakin sepi dan aku ditinggal sendiri. Menurut kalian tidak, karena ada pelayan di sini. Dayang istana, koki dan pekerja lainnya. Ayah kembali.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *