One Breath is Enough

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 October 2021

Nev berjalan sempoyongan di trotoar jalan. Bibirnya masih mengembangkan senyuman. Entahlah dia belum pernah sebahagia ini meski dirinya nampak penuh luka namun hatinya merasa bahagia.

Memasuki gerbang panti dirinya disambut Bella yang sedang menyapu dedaunan kering.
“Astaga, Nev! Lo abis ngapain sih? Berantem sama anak mana lagi lo? Ya ampun, Nev! Jojo bopong Nev masuk!”
Nev masih sempat terkekeh pelan sebelum dirinya ambruk di halaman depan panti.

“Kenapa dia?”
“Nggak tau. Sore tadi di halaman udah sempoyongan gitu. Belum jawab apa-apa udah ambruk duluan.”
“Jo, tolong bawain makan malem untuk dia ke sini.”
“Iya, Bang.”
“Bel, bangunin dia suruh makan malem.”

Pria itu hendak berbalik. “Moz.” Panggil Bella.
Nev mengerjapkan mata menghalau sinar lampu di atasnya.
“Duhh Nev anak mana lagi yang lo ajak duel, hm? Nggak kapok lo ya, dipenjara baru tau rasa lo,” omelnya sembari membantu Nev untuk duduk.
“Eh ada Bang Moz. Sehat, Bang?”
“Sinting! Besok-besok berantem lagi sampe masuk UGD sana. Biar nggak nyusahin orang di sini.”
Nev cemberut mendengarnya. Sedikit sakit hati dengan kata-katanya.
“Besok-besok gue langsung dikuburin aja nggak usah masuk UGD segala. Biar kelar sekalian,” balasnya ketus.
“Hush ngomong tuh yang baik-baik,” tegur Bella.

Jojo masuk membawa nampan berisi makan malam. Mendekat ke arah Nev yang cemberut karena menu makan malam yang ia lihat jauh dari ekspektasinya. Selalu.

“Bawa turun sana Jo. Gue nggak makan.”
“Makan!”
“Nggak mau. Gue nggak laper.”
“Makan! Bel suapin dia.”
“Nggak! Gue nggak mau makan.”

Bella yang memegang sesendok bubur dilema. Jojo lebih ketakutan dalam kondisi begini saja mereka masih bersitegang.

Moz merampas sendok di tangan Bella. Satu tangannya mencengkram rahang Nev agar membuka mulut.
“Moz jangan dipaksa Nev-nya.”
“Diem! Bocah manja gini nggak usah dibaik-baikin. Yang ada malah ngelunjak.”
“Hhmmm…” Nev berusaha memberontak untuk lepas.

Bella dan Jojo saling pandang. Serba salah dalam situasi begini.

“Sialan!!”
Umpatan Moz menggelegar mengejutkan mereka bertiga.
“Moz udah biarin Nev jangan dipaksa gitu.”
“Lo harusnya nurut jangan sok-sok bangkang lo ya.”

Sesendok bubur sukses mendarat di mulut Nev yang seketika itu memuntahkannya keluar. Nev bangkit membuat nampan di atas kasur jatuh berantakan. Ia berlari ke kamar mandi memuntahkan sisa bubur dan isi perutnya.

Kepanikan melanda. Bella yang hendak masuk kamar mandi terpental akibat tabrakan tubuh Nev yang tiba-tiba berlari keluar.
Nev berlari keluar kamar menuruni tangga. Teriakan di belakangnya tak ia hiraukan.

“NEV, BALIK KE KAMAR!!”
Jojo mendengar itu meringis ngeri. Seumur-umur dia belum pernah mendengar Moz berteriak seperti ini. Levelnya sudah berbeda. Dirinya juga berlari bersama Moz mengejar Nev yang kabur entah ke mana.

Nev duduk di tepi danau. Pagi hari yang tenang setelah tiga hari lalu bersitegang dengan Moz. Nev melarikan diri ke kosan temannya menjauh sejenak dari panti tempatnya tinggal.

Hari ini ia akan kembali ke panti ada acara amal yang diadakan pemilik yayasan. Setidaknya Nev akan bantu-bantu tenaga walau tak seberapa.

“Hai Kak.”
“Nev! Dari mana aja?”
“Itu gue–”
“Eh bentar pemilik yayasan udah dateng. Panggil Moz di kamarnya sana, Nev,” pinta Bella.
“Iya.” Nev berjalan gontai menaiki tangga menuju kamar Moz di lantai tiga.
Mengetuk pintu dan membukanya setelah dipersilahkan.

“Bang, bokap lo udah dateng.”
Moz menoleh menatap lekat sosok yang menyembulkan kepalanya di celah pintu kamarnya. Dengan geram ia menyentak pintu agar terbuka lebar.
“Nginep di mana lo? Berani lo ya macem-macem sama gue.”
“Gue nggak mau berantem sekarang, Bang. Kalo mau berantem besok-besok aja.”
“Harusnya lo sadar posisi, siapa lo di panti ini sampe berbuat semena-mena kayak gini. Udah untung lo dikasih ijin tinggal sampe sekarang. Kalo enggak udah jadi gembel lo di jalan sana.”
“Bokap lo nunggu di bawah.”

Nev meninggalkan Moz yang kesal padanya. Belum tiga langkah dirinya dicekal.
“Apa-apaan lo hah? Inget siapa yang ngasih lo tempat tinggal, makan, kehidupan layak kayak gini kalo bukan panti ini?”
Nev tersenyum kecut dirinya melepas cekalan dengan sekali hentakan.
“Gue janji setelah acara hari ini kelar gue bakal ninggalin panti secepatnya. Hari ini juga.”
Nev pergi turun ke lantai bawah membaur dengan anak panti dan tamu undangan lainnya.

Moz bergabung tak lama kemudian. Nev masih menghindari dirinya tepatnya menghindari konflik yang akan terjadi di antara mereka nantinya.

“Nev, sini,” panggil Bella.
Nev mendekati tiga orang di sana. Dua pria dengan perawakan wajah yang hampir sama namun berbeda usia. Nev disambut senyum merekah dari pemilik yayasan.

“Halo, Pak Adam. Saya Nev anak panti paling bandel.”
“Hahaha… Nev… Nev… Saya inget kok sama kamu. Anak paling bandel sampe Moz kewalahan sama kamu. Tapi nggak papa selagi tetap di jalur yang benar sedikit bandel itu nggak masalah.” Adam membisikkan pada Nev, “Jangan kayak Moz hidupnya lempeng aja sampe tua gini.”
“Hahahaha… Sip deh kalo gitu. Terima kasih Pak Adam akan saya ingat dengan baik petuahnya.”

Moz menatap datar keduanya. Nev sadar diri akan posisi dirinya.
“Saya permisi kalo gitu. Mari Pak.”
“Saya juga permisi, Pak. Mau lihat adik-adik.” Bella menyusul Nev pergi meninggalkan bapak-anak itu.

“Berapa umur Nev?”
“Kenapa Papa nanya gitu?”
“19?”
“Iya.”
“Selama ini nggak ada yang mau adopsi dia?”
“Ada berapa kali. Tapi dia nggak mau.”
“Keras kepala anak itu.”
“Sebelas dua belas kayak Papa.”
“Kamu juga sama aja.”
“Iya iya.”

Acara selesai lepas jam 9 malam. Anak-anak panti sudah digiring ke kamar masing-masing. Nev dan Moz berdiri berdampingan di dekat jendela yang menghadap halaman depan panti.
Rintik hujan mulai membasahi kaca jendela. Hawa dingin perlahan meraba.

“Tidur di mana lo tiga hari belakangan?”
“Di kosan temen.”
“Kenapa balik lagi? Nggak usah balik aja sekalian.”
“Ya. Harusnya gue dari lama nggak usah balik lagi. Thanks udah nyadarin gue, Bang. Gue pamit sama lo untuk keluar dari panti. Salam sama Kak Bella, Jojo dan yang lain.”

Nev berbalik menaiki tangga untuk mengambil tas di kamarnya.
Moz terpaku, pikirnya Nev selama ini hanya menggertak saja.
Di ujung tangga Nev tersenyum simpul sembari membawa tasnya.

“Bang, boleh gue peluk lo nggak?”
Entah kenapa Moz hanya diam menatap Nev yang melangkah turun mendekatinya.

“Gue minta maaf atas perbuatan gue yang nggak sopan, nggak nurut sama lo, Bang. Maaf karena kehadiran gue buat hidup lo susah. Please, jangan benci gue setelah gue nggak ada. Makasih atas segalanya, Bang.”
Nev mengurai pelukan, mengusap air matanya lantas tersenyum canggung.
“Maaf Bang baju lo jadi basah. Gue pamit ya. Jaga kesehatan, Bang.”

Nev menuju pintu meninggalkan panti di belakangnya. Beruntung orang-orang panti sudah masuk kamar masing-masing. Jadi tak perlulah ia harus basa-basi pamit ke mereka. Jelas ada rasa sesak menghimpit dadanya ketika meninggalkan panti ini. Belasan tahun ia hidup di sini. Menjadi bagian dari keluarga besar di sini. Pergi meninggalkan panti adalah hal terakhir yang ingin Nev lakukan. Dan malam ini adalah waktunya.

Moz masih linglung dengan apa yang terjadi. Nev, bocah itu baru saja menangis memeluknya berkata bahwa ia pamit meninggalkan panti dan dirinya. Apa yang salah? Apa yang salah dengan dirinya hingga merasa aneh seperti ini.

“Moz? Nggak istirahat? Oh ya Nev mana? Gue cek dia nggak ada di kamarnya.”
“Dia pergi.”
“What? Pergi lagi? Dia bilang mau ke mana, nggak?”
Moz menggeleng, “Dia pergi dan nggak akan kembali.”
“Moz?”
“Dia pergi! Paham?”
“Lo bilang apa ke dia sampe Nev pergi?”
Moz menggeleng lemah.
“Astaga. Beneran gue nggak paham sama kalian berdua. Kenapa berantem terus sih? Masalah kalian apa, hah?”
Moz berkacak pinggang menghadap ke langit, ia menghela napas berat.
“Shit!”
“Moz mau ke mana?” Bella berusaha mengejar Moz yang tiba-tiba berlari entah ke mana.

Moz masih bisa melihat siluet Nev yang ada di ujung jalan. Dirinya masih ada harapan untuk menggapainya. Masih ada sebelum ia ambruk ke aspal dengan dada yang berdebar kencang. Moz meringis sedih campur kesal dirinya benar-benar tak berguna dalam situasi seperti ini.

“Moz!”
Terakhir teriakan Bella yang ia dengar sebelum semuanya menggelap dan kesadarannya menghilang.

Pria itu bangun dari tidur panjangnya. Disambut senyum haru ayahnya dan tangis haru orang-orang yang dikenalnya. Rasanya sudah lama sekali ia beristirahat. Ada rasa hangat tiap kali ia mencoba menghayati detak jantungnya.

“WELCOME HOME BANG MOZAR”
Dirinya baru menyadari begitu bahagianya hidup di antara orang-orang ini.

“Mana Nev? Belum pulang?”
Entah mengapa lidahnya gatal sekali ingin bertanya dimana bocah itu di saat yang lain sibuk menyambutnya.
Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Mereka nampak salah tingkah.

“Ikut gue yuk.”
“Ke mana?”
Bella tersenyum menarik lengan Moz menuju anak tangga. Mereka berhenti di kamar dengan pintu bercat putih.

“Gue tinggal ya.”

Bella tersenyum simpul meninggalkan Moz yang kebingungan. Perlahan Moz membuka pintu itu. Ruang yang tak terjamah orang lain selain pemiliknya. Kecuali waktu itu mungkin. Kamarnya terlihat bersih, rapi, namun ia tahu tak ada kehidupan di dalamnya.

Moz membuka kotak yang ada di atas ranjang. Sepasang sneakers putih dan surat.

Hai, Bang? Semoga muat ya sepatunya. Itu gue beli dari tabungan gue kok. Setahun belakangan gue keluyuran buat kerja. Alhamdulillah bisa kasih lo hadiah meski sekali doang sih.

Lo tau Bang kenapa gue nggak suka Bu Rumi? Bukan dia pilih kasih atau dia jahat ke gue (semoga Bu Rumi tenang di sana). Karena dia tau siapa orangtua gue. Mungkin nggak tau pasti tapi dia nyimpen surat yang datang bersama bayi kecil 19 tahun lalu. Surat yang membawa gue sampe pada titik gue menyerah untuk tau lebih jauh tentang mereka.

Gue tau penyakit lo dari Pak Adam beliau benar-benar sosok ayah yang hebat buat lo. Nggak pernah menyerah buat kesembuhan anaknya. Dan gue iri.

Lo orang sinting yang bisa dengan tenangnya bersikap biasa aja ketika diri lo sekarat. Dari Pak Adam, gue tau lo menunggu donor jantung yang cocok. Entah kapan itu datangnya.

Anggap gue gila atau apalah. Gue mempelajari penyakit lo. Gue datangi dokter yang nangani lo. Berita bagusnya, jantung gue cocok sama lo.

Gue nggak mau lo merasa bersalah. Karena gue nggak mau hidup sebagai saudara yang bakal lo benci. Maafin ibu gue, maafin gue Bang. Please jangan benci bokap lo. Kalo gue bisa milih dari siapa gue dilahirkan, gue bakal milih jadi adik kandung lo. Tapi takdir nggak begitu.

Gue harap tubuh lo nerima jantung gue. Cuma itu hal berharga yang bisa gue kasih buat lo. Gue rasa satu nafas cukup untuk kita berdua.

Anak panti paling bandel
Nevish

Getaran di tangannya menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia ambruk terduduk di tepi ranjang. Meremuk erat kertas yang berisi tulisan rapi milik Nev. Tangisnya pecah mengetahui fakta kalau manusia berhati malaikat yang telah mendonorkan jantung untuk keberlangsungan hidupnya adalah orang yang sangat ia kenal. Telapak tangannya meraba dada kirinya, merasakan tiap detak jantungnya adalah berkah baginya tapi juga sakit yang tak terlihat. Moz tak lagi bisa memeluk tubuh mungil itu selamanya tapi bisa merasakan kalau Nev akan terus hidup bersamanya selama Moz masih bernafas.

Sorenya Moz mengunjungi makam Nev. Dirinya mendapat cerita kalau hari di mana Moz ambruk di aspal adalah hari di mana Nev menjadi korban lakalantas. Moz memandang papan kayu bertuliskan nama Nev yang tertancap di gundukan tanah. Ia berjongkok sembari mengelus pelan papan nisan. Doa tulus ia panjatkan untuk sang adik; teman nongkrong; rekan debat; dan kesayangannya, Nevish.

Cerpen Karangan: Galiot Sastra

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 26 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen One Breath is Enough merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibu, Aku Juga Anakmu

Oleh:
Seperti anak lain pada umumnya, aku tumbuh di tengah keluarga yang penuh cinta. Kedua orangtuaku menyayangiku, mereka memberikan kasih sayang yang melimpah padaku. Sehingga tak ada hal lain yang

Kertas dan Pena

Oleh:
Waktu begitu kejam tak pernah mempedulikan siapa pun, ia terus berjalan tanpa beristirahat barang sedetik saja. Meninggalkan mereka yang lalai. Dan berjalan beriringan dengan mereka yang sangat menghargainya. Tanpa

Mengapa Kau Pergi?

Oleh:
Bagaimana jadinya jika engkau memiliki sejuta impian tetapi kau tidak mungkin bisa menggapainya? Tetapi ada seseorang yang bisa mewujudkan seluruh impianmu itu menjadi kenyataan? Tapi, setelah itu dia pergi

Sahabat Sejati Takkan Pernah Mati

Oleh:
Jarum jam menunjukan sekarang pukul 06.30 WIB, aku bergegas menuju kamar mandi dan berpakaian sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku di sekolahku yang baru “Pichi buruan berangakat!!!” seru ibuku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “One Breath is Enough”

  1. Cuma gue says:

    Huuaaa sedih gue ampk air mata ini keluar. Bagus cerpennya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *