Pantai Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 August 2015

Dia termenung memandangi langit merekah. Dia sedang memikirkan seseorang yang dulu pernah meraja di hatinya. Seperti sedang mengimbas sesuatu yang menyenangkan hatinya, dia tersenyum. Dia membiarkan rambutnya dibelai angin senja. Sepoi-sepoi, sesekali menutupi kehangatan Bumi. Dia terlena dalam khayalnya. Dia, Dian.

Dua tahun yang lalu.

“Dian, lihatlah jauh ke dalam bola mataku. Katakanlah, katakanlah bahwa dalam hatimu ada ruang untuk hatiku.”
“Sanggupkah kau menjaga hati ini dengan kelembutan Bayumu, Bayu?”
“Akulah Bayu dan aku akan menyejukkan hatimu. Percayalah, aku akan menjagamu layaknya sang Bayu yang senantiasa memberi ketenangan untuk hatimu.”

Dian diam sejenak.
“Bayu, kupercayakan hati ini dalam genggaman alunan lembutmu.”
“Jadi, kamu menerima aku, Dian?”
“Iya.”
“Terima kasih ya Dian. Aku janji akan selalu menjagamu.”

Malam itu merupakan malam yang indah bagi Dian dengan langit berbintang menjadi saksi. Desiran-desiran santai ombak seolah ingin mengungkapkan kebahagiaannya melihat sepasang kekasih bersatu dalam hati yang dipertemukan.

“Dian, ini adalah tempat terindah dalam hidupku. Aku tidak akan pernah melupakan kisah yang terjadi di tempat ini.”
“Aku juga, Bayu. Berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu menjadi Bayu yang senantiasa menyejukkan hatiku.”
“Aku janji, Dian. Aku janji.”

Hari-hari pun menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi Dian dan Bayu. Rasa cinta dan sayang yang agung dalam hati mereka menumbuhkan rasa rindu setiap saat ingin bertemu. Mereka berdua melalui hari-hari yang sangat indah dengan beribu momen mengisi memori mereka berdua. Setelah sebulan mereka menjalani tali kasih, mereka kembali menatap langit beribu bintang diiringi desiran-desiran ombak menghempas bibir pantai.

“Bayu, jika kau menjadi Bayu (angin), mampukah kau memadamkan dian (api) yang seandainya menggerogoti rasa cinta kita?”
“Aku telah berjanji bahwa aku akan selalu menjagamu, menemanimu dan aku akan menyejukkan api yang membara.”
“Bagaimana jika suatu saat nanti, ternyata takdir memisahkan kita?”
“Percayalah, kita akan bertemu kembali.”

Kepercayaan dan kesetiaan mereka berdua membawa pada kedamaian dalam setiap kegundahan melanda. Pertengkaran-pertengkaran kecil sering menjadi bahan pembicaraan mereka berdua ketika mereka sedang asik bercerita. Canda tawa mengiringi pertemuan-pertemuan mereka di tepi pantai tempat mereka menyatukan hati.

Di tepi pantai inilah mereka mencurahkan segala isi hati dan berbagi kisah dalam kehidupan mereka. Tepi pantai ini menjadi tujuan utama ketika rindu tak mampu lagi dibendung. Sehingga suatu malam setelah dua tahun menjalin kasih, Bayu mengajak Dian untuk melihat langit penuh bintang di tepi pantai itu. Raungan gagah motor lelaki Bayu memanggil-manggil Dian di depan rumahnya. Mendengar suara bising motor yang sudah sangat dikenalnya, Dian segera mendatangi Bayu.

Lalu mereka menerobos dinginnya udara malam. Di tengah-tengah perjalanan menuju pantai, hujan turun sangat lebat. Tetesan-tetesan hujan bertubi-tubi membuat Bayu kesulitan untuk melihat jalan. Ketika Bayu hendak melewati sebuah mobil dihadapannya, tanpa disadari ada truk dari arah berlawanan.

“Bayu, jangan!”

Namun terlambat. Motor yang dinaiki mereka berdua berada dalam posisi terjepit di antara mobil dan truk. Bayu merasa panik. Bergegas ia mengerem untuk menghindari tabrakan truk, namun terlambat. Bagian depan truk itu menabrak motor Bayu sehingga membuat Bayu dan Dian terpental kemudian terhempas ke jalan.

“Bayuuu!!!”

Kepala Bayu membentur jalan dengan sangat keras. Darah berlumuran menutupi sebagian wajahnya. Sementara Dian, badannya membentur ke pembagi jalan membuatnya tidak sadarkan diri.
Semuanya gelap!

Dian mencoba membuka matanya walau terasa sangat sulit baginya. Semua terlihat kabur dan terasa seperti kepalanya tertindih beban yang sangat berat.

“Bayu. Bayu. Dimana Bayu? Dimana saya sekarang?”
“Harap tenang ya mbak. Mbak sekarang berada di rumah sakit. Mbak mengalami kecelakaan dan koma selama seminggu.”
“Dimana Bayu, dokter?”
“Kami sudah berusaha semampu mungkin. Tapi takdir berkata lain. Harap mbak tegar menghadapi kenyataan ini.”

Sekujur tubuh Dian terasa lemas. Semuanya terasa seperti mimpi. Mimpi yang terlalu nyata. Air mata deras membasahi pipinya. Kenyataan itu diperparah lagi ketika dokter juga sudah tidak mampu menghentikan maut yang sewaktu-waktu akan menjemput Dian karena pendarahan di kepalanya yang cukup parah. Terasa perih dalam hatinya harus menerima kenyataan ini.

Tanpa disadari hari sudah mulai malam. Dian tersadar dari kenangan-kenangan itu. Terasa dingin mengibas kulit tubuhnya. Dipandangi langit bertaburkan bintang yang indah dan nyanyian ombak menggulung lalu menghempas lembut ke bibir pantai.

Di sinilah, di pantai cinta inilah Dian dan Bayu menyatukan hati. Langit beribu bintang, angin semilir dan desiran ombak menjadi saksi kekuatan cinta mereka berdua. Dengan wajah yang pucat dan tubuh yang lemah, Dian mencoba menuturkan kata.

“Bayu, aku kedinginan tanpa kau menemaniku di sini. Aku takut tanpa kau menjagaku. Aku tidak kuat menghalangi api yang menggerogoti cinta kita tanpa kau memadamkannya. Bayu, aku butuh Bayu itu.”

Tiba-tiba darah merembes keluar dari hidung Dian. Ia duduk lalu menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon. Ia teringat sesuatu.

“Bagaimana jika suatu saat nanti, ternyata takdir memisahkan kita?”
“Percayalah, kita akan bertemu kembali.”
“Bayu (angin) telah mencatat janjimu, Bayu. Kau benar, kita akan bertemu kembali. Tunggu aku, Bayu. Aku datang menemuimu.

Cerpen Karangan: Frida
Facebook: Frida Ayu Mandana

Cerpen Pantai Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Doa Amira

Oleh:
Si putri tunggal jelita mendiang pak dirman mantan kepala desa itu mau tak mau harus teruskan hidup berdua bersama ibunya, tiada lagi harta benda yang tersisa semua telah raib

Kepergian Beliau

Oleh:
Masih di dalam mobil, perjalanan ini terasa amat panjang. Tatapanku masih kosong, lamunanku terbang entah kemana. Rasanya air mata ini tak dapat menetes lagi, sudah terlalu kering mungkin. Aku

Bahagiamu Untukku

Oleh:
Di dalam sebuah kamar yang sunyi, sepi tanpa suara, perlahan… samar-samar mulai terdengar sebuah petikan gitar dan diiringi dengan suara yang bernyanyi mengikuti nada gitar tersebut. Tujulah tempat yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *