Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 February 2018

“Yah, karena kejadian itu, aku hilang ingatan dan hanya mengingat Anggia, Mama dan Papa.”

Aku bisa melihat jelas jika di jaketnya terukir nama ‘Aldebaran’ yang indah dengan benang. Satu nama yang sangat kurindukan.

Dua puluh menit lalu, adiknya, Anggia, menabrakku hingga jatuh. Awalnya, Anggia merasa takut jika aku akan marah karena dia menabrakku, tapi wajah ketakutan itu hilang ketika aku memberikannya lolipop. Matanya berbinar dan senyum langsung merekah saat itu juga. Dan karena kejadian dua puluh menit lalu itu, aku berada di sini, duduk di bangku taman dengan seorang lelaki yang sedang mengawasi adiknya bermain.

Ia bercerita tentang kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan setelah aku menanyakan bekas luka di dahinya.

“Apa kau mengingat sekeping masa lalu? Apa kau ingat sesuatu yang yang seharusnya hadir setelah hujan malah bermain saat hujan?”
“Tidak.”
“Apa kau tak ingat warna-warni ceria?”
Lelaki yang bernama Aldebaran itu tampak berfikir, sampai akhirnya, wajahnya kembali murung. “Tidak.”

“Kak Al! Pulang yuk, Anggia capek, besok kan kita mau pulang ke London lagi!” Anggia berlari menghampiri Aldebaran dengan wajah yang sudah kucal.
Tapi Aldebaran hanya tersenyum pada Anggia tanpa beranjak dari tempatnya berada.
“Ayooo, kak! Aku rindu pada James, Fey, dan Blinda,” rengek Anggia

Aldebaran menoleh ke arahku lalu tersenyum. “Aku pergi dulu, ya,” ucapnya.
Lalu setelah itu, aku sendiri lagi. Bersama angan yang terus bermimpi.

Tiga belas tahun yang lalu…
Gadis kecil itu berjalan dengan senyum yang terus merekah di wajahnya. Ia berjalan dengan membawa boneka Barbie di tanggannya menuju rumah Lyn, temannya.

Sesampainya di sana, banyak teman-temannya Lyn, tapi gadis itu tidak disambut dengan baik. Wajahnya dicoret-coret, bonekanya dirusak, dan rambutnya dibuat acak-acakan.

Gadis itu keluar dari rumah Lyn. Ia sangat beruntung karena di luar sedang hujan, dan dia bisa menangis sepuasnya tanpa perlu khawatir ada yang mengetahuinya.

Gadis itu terduduk di samping lampu jalan sambil memeluk kedua lututnya. Wajahnya mendongak kala ia tak lagi merasakan tetes air hujan.

Payung biru.
Ia sedang di bawah payung biru.
Bersama lelaki yang dua tahun lebih muda darinya, yang bahkan belum ia kenal.

“Kamu ngapain?” tanya anak lelaki itu.
Gadis kecil itu hanya menggeleng. “Kata Mama, aku nggak boleh ngomong sama orang yang belum kukenal.” ucap gadis kecil itu polos.
“Kalo gitu, ayo kita kenalan,” anak lelaki itu tersenyum sambil mengulurkan tanggannya ke arahku. “Aku, Aldebaran. Jadi, siapa namamu, Nona?”
Aku ikut tersenyum sambil membalas uluran tangan anak lelaki itu. “Pelangi.”

Keesokkan harinya…
Pelangi menggedor rumah Aldebaran dengan ceria, rambut yang dikucir seperti buntut kuda itu bergoyang-goyang dengan lucunya.

“Aldebaran! Main yuk! Pelangi bosen, nih,” ucap Pelangi sambil terus menggedor-gedor pintu rumah Aldebaran. Merasa tak mendapat jawaban, Pelangi beralih mengintip dari jendela yang terletak di samping pintu.
Ia menempelkan wajahnya pada kaca jendela, kedua tangannya ia letakkan di samping wajah untuk menghalau cahaya agar tidak menyilaukan kaca.

“Aldebaran! Al! Baran! Main yuk! Ini Pelangi,” kening Pelangi mengkerut saat mengetahui isi rumah Aldebaran kosong. “Aldebaran?”

“Hei, Pelangi,” Pelangi menoleh ke belakang, ternyata itu teman-temannya Aldebaran. “Aldebaran kan sudah pindah. Ngapain kamu di sana?”
“Pindah?” Pelangi membeo. “Pindah ke mana?”
“Jauh. Ke luar negeri katanya,” ucap salah satu anak berambut keriting. “ya sudah, ya, Pelangi, kami duluan.”

Tunggu. Aldebaran pindah?
Tanpa berpamitan padaku?
Tanpa izin dariku?

Tunggu.
Siapa aku ini?
Menuntut pamit dan izin.
Seharusnya, semenjak hari itu aku tahu; Pelangi dan Bintang hanya diciptakan untuk menghias bumi, bukan untuk mengharap sehati.

Seharusnya, aku tahu; Takdir berkata tidak, dan Semesta menyetujui itu semua. Jika sudah seperti itu adanya, aku bisa apa?

Cerpen Karangan: Abyzier
Facebook: Abell

Cerpen Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tegar, Sahabat Kecilku

Oleh:
“Kak sepatunya disemir, ya?” Janu melihat anak kecil dekil dan kurus sedang tersenyum menawarkan jasanya. Dengan sebal, Janu mengibaskan tangannya. “Hus! Sana kamu! Ganggu aja, entar sepatuku malah rusak!”

Cadangan Abadi

Oleh:
“Aku akan mengatakan apa pun atau sekasar apa pun untuk memotivasimu untuk bergerak, Val.” Seorang laki-laki sedang menghabiskan jam olahraganya di lapangan sepak bola sendirian, ia menendang dengan kasar

Tuhan, Aku Tak Ingin

Oleh:
Semua bermula di sore itu, sore tanpa senja, awal dari perpisahan yang abadi. Ketika sayup lafadh-lafadh indah mengalun merdu di setiap rumah suci-Mu, bergema menelusup ke dalam lubuk hati

Perjalanan Hidup Dalam Cinta

Oleh:
Perkenalkan nama saya Angga. Mahasiswa aktif UAD semester 2, prodi PBSI. Aku akan bercerita singkat tentang perjalanan cinta dalam kehidupanku. Pada awalnya aku mengenal jatuh cinta pada masuk Sekolah

Pikaichi

Oleh:
“Jadi benar, nama vas bunga ini fikaichi nona sela?” “Bukan pak! Namanya PIKAICHI! Bukan FIKAICHI!” “Diam! Saya tidak peduli vas ini di sebut apa..! Yang penting sekarang akui kejahatan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *