Pengorbanan Seorang Istri


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 8 June 2013

Suara benturan ombak memecahkan keheningan pantai pada sore hari ini. Terlihat matahari sudah mulai beranjak pergi dari peradabanya. Warna awan mulai terlihat kemerah-merahan. Burung bangau berterbangan di atas batu karang. Tidak terlihat seorangpun di pantai ini kecuali aku dan Vina kekasihku. Suasana yang begitu tentram jauh dari suara bising kendaraan dan udara yang begitu segar tanpa polusi asap knalpot.

“Vina”. Kucoba untuk memulai pembicaraan. Kupegang tanganya dan kukeluarkan sebuah kotak berwarna merah yang berisi cincin didalamnya. Dia hanya mentapku dan nampak sedikit bingung. “Sudah dua tahun kita menjalin hubungan ini”. Hanya sedikit senyum kebingungan yang terlihat dari raut wajahnya saat ini. “Dan aku rasa sudah saatnya kita membawa hubungan ini kejenjang yang lebih serius”. Kulanjutkan kata-kataku. “Vina, maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu untuk menemaniku serta menjadi ibu dari calon anak-anaku kelak”. Pintaku sambil membuka kotak cincin yang berada di tanganku. Raut wajah yang tadi terlihat sedikit bingung kini berganti menjadi raut muka gembira sekaligus kaget. “Iya. Aku mau menghabiskan sisa hidupku denganmu dan menjadi calon ibu dari anak-anakmu kelak”. Setelah aku mendengar jawaban itu, aku langsung memasangkan cincin itu pada jari manisnya sambil kukecup keningnya.

Waktu terus berjalan dan hari itupun telah tiba. Hari yang sangat penting dan sakaral bagi kami berdua. Perasaan senang dan gugup berkecaamuk menjadi satu dalam diriku ketika sang naib mulai memegang tangan kananku. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi keningku. “Sudah dua kali kamu gagal. Jika kali ini kamu salah lagi mengucapkanya, maka ijab qobul ini akan batal”. Kata sang naib padaku. Lalu ku coba lagi mengucapkan ijab qobul untuk yang terakhir kalinya, dan Alhamdulillah kali ini aku dapat mengucapkanya dengan benar.

Setelah kami melakukan ijab qobul dan berbagai ritual adat, akhirnya waktu yang kami tungu-tungu itu datang. Malam pertama. Sebuah moment yang aku harap dapat berjalan dengan sangat spesial dan akan menjadi sebuah kenangan yang takkan terlupakan nantinya. Dan benar saja. Malam itu benar-benar menjadi momen yang sangat tak terlupakan. Namun bukanya kebahagiaan yang kurasa. Melainkan perasaan kecewa yang teramat sangat besar, ketika aku mendapati mahkota istriku telah di renggut lelaki lain 4 tahun silam.

Hari-hari telah kami lalui bersama, dan semakin hari rasa cintaku seakan semakin terkikis oleh rasa kecewa yang aku alami. 3 minggu setelah malam itu berlalu, ketika aku tengah terduduk di sofa sambil menikmati acara televisi kesukaanku, tiba-tiba ia datang menghampiriku. “Mas Galih, aku hamil”. Katanya. Aku hanya tersenyum tipis. Karena jujur saja saat ini aku menyesal karena telah memilihnya sebagai pendamping hidupku. Apa lagi ketika ku ingat ia sudah pernah tidur dengan lelaki lain.

Keesokan harinya ketika aku pulang dari kantor, istriku datang menghampiriku yang tengah duduk beristirahat di teras depan rumah. “Mas aku ingin bubur ayam”. Katanya. “Nanti saja dek, aku masih capek”. Jawabku dengan sedikit cuek. “Ini bukan mauku mas, tapi ini kemauan anak kita”. Walau rasanya masih berat untuk berdiri dari kursi ini akhirnya aku pergi meninggalkan istriku untuk mencarikan bubur ayam. Sesampainya di rumah, aku berikan bubur itu. Tapi ia hanya memakan beberapa sendok saja. Dan hal ini sontak membuatku sangat jengkel. Hingga kami terlibat sebuah percekcokan. Ingin sekali aku tampar muka perempuan jalang ini. Namun ketika aku beru mengangkat tanganku, tiba-tiba seperti ada sebuah mata pisau yang tepat menghujam ke arah jantungku. Nafasku terasa sesak dan seketika pandanganku mulai kabur. “brruuuk”. Aku jatuh terseungkur ke lantai.

Perlahan ku buka mataku. Pandanganku masih terlihat samar-samar. Ku toleh disekelilingku terlihat beberapa selang yang menempel pada tubuhku. “Selamat siang pak”. Kata seorang wanita yang mengenakan pakaian serba putih. “Bagaiman keadaanya. Sudah baikan?”. Sambil menyuntikan sesuatu ke dalam infuse yang tergantung disampingku. Aku hanya sedikit tersenyum sambil memandangi wanita itu. Aku baru tersadar, ternyata penyakit jantung yang ku derita selama ini kambuh lagi. Sebulan sudah aku di rawat di rumah sakit, hingga akhirnya hari ini dokter memperbolehkanku untuk pulang ke rumah. Namun seminggu sekali aku masih harus kontrol kerumah sakit. Dokter juga mengatakan, aku harus selalu menjaga emosiku serta tidak diperbolehkan melakukan aktifitas yang dapat membahayakan kesehatan jantungku.

Tubuhku masih terasa lemah dan tak jarang jangtungku terasa seperti ditusuk-tusuk oleh mata pisau. Aku mulai beranjak bangun dari tempat tidurku dan berjalan keluar kamarku. Ku hirup udara pagi yang masih terasa segar dan belum tercemari oleh asap kendaraan. “Mas, ini sarapanya di makan dulu sebelum minum obat”. Aku menoleh ke belakang, terlihat istriku sedang meletakan sebuah piring dan obat-obatan beserta air putih kemeja dekat ranjang. “Aku berangkat ke kantor dulu mas, jangan lupa obatnya nanti di minum”. Kata istriku sambil berlalu meninggalkan kamar.

Semenjak penyakitku kumat, Vinalah yang menjadi tulang punggung keluarga sekaligus merangkap sebagai seorang ibu rumah tangga. Selain itu kini ia juga lebih sabar dalam menghadapiku walaupun akhir–akhir ini aku sering marah tak jelas padanya. Karena selain ini semua akibat ulahnya, aku juga masih belum dapat melupakan kekecewaanku itu. Belum lagi ketika aku tau penyakitku ini tak dapat lagi disembuhkan, jika tidak ada seseorang yang rela mendonorkan jantungnya untukku. Namun siapa orang bodoh yang mau mengorbankan hidupnya untuk kehidupanku. Sepertinya memang ini sudah menjadi takdirku. Menunggu ajal yang akan datang hanya dalam hitungan bulan. “Lagi-lagi ini gara-gara pelacur itu”. Keluhku dalam hati.

Jarum jam terus berputar, matahari juga sudah mulai terlihat tinggi. Sementara aku masih terduduk di kursi depan kamarku semenjak pagi tadi. Hari ini aku merasa begitu bosan, karena tidak ada satu halpun yang dapat kulakukan. Di tambah lagi suasana rumah yang begitu sepi. Tidak ada seorangpun di rumah ini kecuali aku. Hingga akhirnya aku mulai beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju sebuah komputer yang terletak tak jauh dari tempat ku duduk. Kunyalakan komputer itu dan ku buka facebooku. Disana terlihat ada sebuah permintaan pertemanan. Ku lihat foto orang itu, aku sedikit heran. Wajahnya terlihat sangat familiar. Tidak lama berselang setelah kukonfirmasi permintaan itu, tiba-tiba muncul sebuah pesan pada jendela chatingku. Ternyata itu orang yang tadi, seorang wanita yang kurasa aku sudah pernah mengenalnya. “Hay, gimana kabarnya?”. Sapanya dalam pesan itu. “Baik. Maaf ini siapa iya?”. Aku mengkernyitkan dahiku, karena sampai saat ini aku belum ingat siapa wanita itu. “Masa lupa. Aku Dhila”. Balasnya. Dan akupun baru teringat, ternyata ia adalah Dhila mantan pacarku sewaktu aku masih duduk di bangku kuliah.

Seminggu, dua minggu telah berlalu, aku dan Dhilapun semakin dekat. Dan akhir-akhir ini dia juga sering main kerumahku. Tentunya tanpa sepengetahuan Vina istriku. Hingga pada suatu hari ketika aku sedang duduk melamun di runag tengah, tiba-tiba ku dengar bunyi dari handphoneku. Setelah ku lihat, ternyata ada sebuah pesan dari dhila. “Mas aku di depan rumah”. Kata Dhila dalam pesan itu. Aku langsung beranjak meninggalkan ruang tengah dan menuju ke pintu depan. Setelah ku buka, ku lihat sosok Dhila mengenakan dress warna hijau. “Silahkan masuk”. Kataku sambil tersenyum. Dhilapun masuk, namun aku melihat ia agak sedikit aneh hari ini. Bukanya menuju ruang tamu, ia malah berjalan menuju ke kamarku. Dan tak kan kusia-siakan kesempatan ini. Itung-itung sebagai pelampiasan kekecewaanku pada istriku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menidurinya. Setelah semua itu berlalu, akhirnya kini kekecewaanku terhadap istriku dapat sedikit terbayarkan.

Kini waktu telah menjelang malam. Istriku juga sudah pulang dari kantor. Ku lihat ia tengah asyik mengotak-atik ponselku. Dan aku baru tersadar, kalau aku lupa belum menghapus pesan-pesan dari Dhila. Lebih parahnya lagi di dalam pesan itu terdapat pembahasan tentang apa yang telah kami lakukan tadi siang. Dibukanya pesan itu dan seketika istrikupun marah besar. Tetapi aku tidak mau kalah. “Aku hanya ingin semuanya impas. Tubuhmu sudah pernah dinikmati lelaki lain, apa salahnya kalau aku juga menikmati tubuh wanita lain. Dasar wanita jalang”. Kataku sambil ku tampar istriku hingga tubuhnya tersungkur ke lantai. Dan seketika itu juga dadaku seperti di hujam oleh ribuan mata pisau. Nafasku mulai terasa sesak dan pandanganku mulai kabur. Hingga pada akhirnya aku jatuh pingsan.

Setelah mengalami koma selama 2 minggu, hari ini aku mulai sadar. Namun aku masih di rawat di dalam ruang ICU. Setelah tiga hari, akhirnya dokter memindahkanku ke bangsal dan keadaankupun semakin membaik. Hingga pada suatu hari dokter mengijinkan aku untuk pulang. Namun aku merasa sedikit bingung, sudah beberapa hari ini aku tidak melihat sosok istriku datang membesuku. Mungkin masih marah denganku atau karena ia terlalu sibuk dengan urusan kantornya. Ahh entahlah, pikirku. Hingga sebelum aku pulang, seorang suster menghampiriku dan memberikan sebuah surat untuku. Kubuka surat itu, dan ternyata itu surat dari istriku. Iya, istriku meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan dan keguguran sehingga ia mengalami pendarahan dan nyawanya tak dapat diselamatkan. Namun sebelum ia meninggal ia sempat berpesan untuk memberikan jantungnya padaku. Setelah mengetahui kabar itu, aku merasa begitu sedih dan kehilangan. Dengan berderai airmata ku buka surat yang diberikan oleh suster tadi.

“Dear suamiku tercinta.
Maafkan aku mas, jika aku selama ini tidak dapat menjadi istri yang baik seperti yang engkau harapkan. Aku juga tidak dapat mempersembahkan mahkotaku padamu, lelaki yang menjadi imamku. Mungkin saat ini ragaku sudah tidak dapat mendampingimu seperti janiku dulu sebelum menikah denganmu. Namun jantungku yang akan senantiasa menemanimu sampai nanti engkau menyusulku. Lanjutkan hidupmu mas, dan wujudkanlah mimpimu untuk membangun rumah tangga walaupun tidak dengan aku. Karena aku dan buah hati kita akan senang jika melihat ayahnya tersenyum bahagia di dunia sana.
Salam istrimu. Vina.”

Tanpa terasa air mata semakin deras membasahi pipiku, ku remas surat dengan tulisan cukup berantakan itu. Kini aku merasakan kehilangan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku begitu menyesal, karena aku telah menyia-nyiakan orang yang begitu mencintaiku. Andai ia dapat kembali, aku akan mencintaimu dan akan aku terima segala kekuranganmu itu. Oh tuhan, manusia macam apa aku ini. Engkau telah anugerahkan wanita yang sebetulnya telah sempurna untuku, namun aku malah menyia-nyiakanya hanya karena kegoisan kubiarkan merajai pikiranku.

Singkat cerita, lima tahun telah berlalu, namun aku masih hidup sendiri. Karena aku tidak dapat melupakan almarhum istriku dan hingga detik ini penyesalan itu selalu menghantuiku. Hanya satu yang aku nanti saat ini, yaitu waktu dimana ajal akan datang menjemputku. Sehingga aku akan dapat bertemu dengan anak dan istriku di alam sana nanti.

Cerpen Karangan: Nanang Suhendri
Blog: http://advocad.pusku.com

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Pengorbanan Cerpen Penyesalan Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 Responses to “Pengorbanan Seorang Istri”

  1. jamah says:

    Gue terharu bngett

  2. Noir says:

    bagus ceritanya…

    tapi saat istrinya ada di mobil ambulans dengan luka parah, kesakitan karena janin yang keguguran, masih bisa nulis pesan kematian sedemikian panjangnya? wew hebatt XD

  3. gina says:

    ya alloh,,
    berderai air mata saya membacanya.

Leave a Reply