Perempuan Penikmat Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 June 2016

Apa yang kau tahu tentang senja?
Bukan, Bukan senja itu yang kumaksud!
Sejak saat itu, Aku suka sekali melihat senja. Di bukit itu, Kusaksikan saat mentari meninggalkan langit dalam gelap!

“Len, Malem ini kita jadi nontonkan” Ucap seorang gadis dengan berkacamata tebal. “Jadi dong, Emang kamu ga bakal dimarahin sama mami? Kamu kan anak mami! Hehehe kemana aja minta ijin mulu”. “iiiih lena, Aku tuh bukan anak mami tau!” “Hahahahaha ia ia maafff deh” Ucapku sambil memasang muka memelas, Berharap hira hanyut dalam permainanku. “Iah deh iah, Jangan kaya gitu dong mukanya” Jawabnya sambil tersenyum manis bak lembayung senja. “Ahhh apa yang kupikirkan!” Ucapku dalam hati. “Aaaa kena” Kuambil kacamatanya, Gadis itu meraba-raba. Menubruk setiap jiwa yang menghadangnya. Yang kutahu, Hira begitu karena senja! Senja yang datang hanya pada saat perpisahan, Hadir pada setiap jiwa yang merasa sendiri!.

“Maafin dong, Aku kan cuma becanda ra” Ucapku memohon pada hira. Bukan karena aku takut ia marah madaku. Tapi aku takut hira membatalkan janjinya padaku malam ini. “Ah aku ga suka sama becandaan kamu, Kamu tau? Aku malu len. Semua menertawakanku. Tidakkah kau mengerti perasaanku?” Jawabnya dengan bibir yang sedikit dimajukan. “Ya elah, Baku banget sih omongannya. Maafin deh maafin, Ga bakal kaya gitu lagi. kamu cantik deh kalo ga marah” Rayuku padanya. Aku memang sangat pandai merayu, Dalam hitungan detik. Semua akan hanyut oleh itu. “Argggh dia emang nyebelin banget, Sebenarnya aku malas bersahabat dengannya” Gadis itu sering sekali pergi ke bukit itu, Melihat senja yang kupikir hanya sebuah fenomena alam yang biasa saja. Hira bilang, Senja itu indah.

“Wiiih, Keren banget filmnya! Ra minggu depan kita kesini lagi yuk” Ajakku padanya. Kulihat hira hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Hira selalu begitu, Membuatku muak padanya. Aku tak menyukai hira! “Len, Main yuk” Ajaknya padaku. “Ngga ah” Aku menjawab ajakannya dengan malas. Sebenarnya, Aku nyaman dengan hira. Bersahabat dengannya membuat hariku selalu ceria! Tapi hira memang anak yang aneh, Ia menyukai senja. Teman-teman bilang ia gadis gila. Selalu saja ia membicarakan tentang senja, Aku bosan dengannya! Aku tak menyukai senja.

“Len, Akhir-akhir ini kamu selalu menjauh dariku. Apa aku punya salah sama kamu?” “Ngga ra, Tapi aku lagi sibuk aja”. “Sibuk apa len? Aku tau kamu, Kamu ga pernah kaya gini tanpa alasan. Sesibuk apapun kamu. Kamu selalu ada buat aku! kenapa kamu berubah len?” Tanyanya serius. Ia lepas kacamata tebalnya “Apa karena kacamata ini, Aku rela tidak dapat melihat apapun asal kamu masih mau bersahabat denganku!” Hira menangis di hadapanku. Bukan itu, Bukan itu yang kumaksud! Menyakitinya, Melukai hatinya! Aku menyayanginya…

“Sudahlah, Aku memang ga mau lagi bersahabat denganmu. Kamu aneh, Aku tak suka padamu hira. Aku ga mau mereka menyamakanku denganmu” Aku meninggalkannya, Di koridor itu. Tempat dimana aku sering bercanda dengannya. Hira masih disitu dengan hati yang tersayat.

Hira pergi meninggalkanku, Seorang diri. Hari-hariku sepi tanpanya. Kata maminya, Hira pindah keluar kota bersama kakeknya! “Apa ia marah padaku, Apa hira membenciku” Aku salah, Aku kecewa pada diriku. Sahabat yang kusayang, Aku telah melukai hatinya!

Sejak hira pergi, Aku seperti kehilangan diriku. Menyepi, Aku terbiasa sendiri! Aku menyukai kesendirian. Tak ada teman yang mau menemaniku! Aku sangat gila..

Dan pada suatu hari..
Aku melukai diriku sendiri, Entah.. Entah apa yang kulakukan? Tanganku bergerak sendiri. seperti ada dorongan! Aku tak mengingat apapun. Yang kuingat, Aku ********** kedua mataku. Dengan pena itu, Darah mengalir dari balik bilik kelopak mataku.. “Arrrggghhhhh” Teriakanku membuat seisi sekolah tertegun. Pemandangan apa yang mereka lihat, Sungguh aku tak menyukainya..

Kurasa tubuhku berada di pembaringan, Dengan mata terbalut kain putih, Aku merasakan perih di kedua mataku! Hanya suara-suara yang kudengar. “Lena, Sadarlah sayang. Bunda sangat menyayangimu nak, Apa yang kamu lakukan!” Doa-doa dari mereka yang kudengar. Tapi aku terus mencarinya, Mencari suara itu. Suara yang kurindukan..

“Bun, Dimana dia? Apakah ia datang untuk menjengukku?” Tanyaku padanya berharap bunda menjawab ia berada di sampingku.
“Dia siapa nak? Banyak sekali yang menjengukmu. Mereka berharap kau cepat sembuh” Jawaban bunda tak membuat hatiku merasa lebih baik. “Apa dia membenciku bun. Dia tak peduli denganku lagi. Hira bun, Dia marah padaku” Ucapku sambil meremas kedua tangan bunda. “Sayang, Dia akan datang nak. Percayalah”.

Aku menjadi suka kepada senja, “Ini indah, waaah ini menakjubkan!” Tapi aku hanya sendiri disini, Menjadi penikmat senja. Hira benar, Senja itu indah. Aku menyesal telah memarahinya. Andaikan Hira ada disini bersamaku, Melihat senja bersama-sama. Aku telah salah padanya, Menyebutnya gila karena ini! Aku ingin hira kembali..
Tetapi seperti senja, Hira adalah mentari. Meninggalkan aku (langit) dalam kegelapan!
Hira, aku merindukanmu..

Keesokan paginya..
Kenyataan pahit, Bukan fiksi yang kuterima tentang siperempuan penikmat senja! Hira telah meninggalkanku.. Seperti senja itu, Di hadapan batu nisannya. Fakhira binti habi telah wafat pada tanggal 27 oktober, Dimana saat itu aku sedang terbaring! Kepada kedua orangtuanya, Kusampaikan maaf ini! Karena aku, Hira kehilangan kedua matanya! Bukan itu, Hira merelakan nyawanya untukku.. Hira merelakan senjanya untukku.

Sejak saat itu, Aku menyukai senja. Aku menikmatinya, Menikmati setiap hari bersama hira..

(Alen, Menjadi bagian dari hidupmu aku merasa bahagia.
Aku tak ingin kehilangan setiap senyum itu, senyum yang menawan hatiku! Kau sahabat yang baik. Aku rela tak dapat melihat apapun agar kau tetap menjadi sahabatku. Agar kau tak malu, Aku rela melewatkan senjaku demi kamu yang tak menyukainya! Alen, Aku selalu di sampingmu!)
Fakhira..

Begitulah surat terakhir yang hira tujukan padaku! “Aku janji hira, Aku akan selalu menjaga senjamu” Bukan itu hira, Andai kau tahu, Aku tak menyukai senja karena kau lebih mencintainya. Aku tak ingin bersahabat denganmu jika kau masih memperdulikannya! Selalu kau membicarakan tentang senja padahal aku hanya ingin denganmu tanpa senja itu..
Hira, Ku tunggu kau saat mentari itu pulang keperaduannya! Akan kukatakan, (Sampaikan pada hira, Aku menunggumu esok pagi dan tak ingin melihat senja! Karena aku merindukanmu mentari. Aku ingin kita bersama selamanya! Bukan meninggalkanku seperti hira menuju kegelapan)..

-The End-

Cerpen Karangan: Dheea Octa
Facebook: Octavhianie Dheea

Cerpen Perempuan Penikmat Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Seorang Sahabat

Oleh:
Hari ini cuaca sangat cerah. Seperti hari-hari biasanya, aku menyusuri jalanan untuk berangkat sekolah, aktivitas pedagang dipinggir jalan dan para pengamen dilampu merah sudah menjadi pemandanganku setiap hari. Letak

Jika Kau Sahabatku

Oleh:
Kriiiing!!! Bel tanda istirahat berbunyi. Muri-murid berhamburan keluar kelas. Ada yang menuju kantin, ada yang menuju perpustakaan, ada pula yang menuju musola. Amel hendak menuju ke luar kelas ketika

Untuk Nada ku

Oleh:
Sahabat adalah ia yang meraih tangan kita dan menyentuh hati kita. Dia orang yang dapat berkata benar kepada kita, bukan orang yang hanya membenarkan kata-kata kita. Kasih, gadis yang

Kartu Ucapan Terakhir

Oleh:
Mesya dan Elika adalah sahabat sejati, dari Kecil mereka sudah berteman. Mesya menganggap Elika adalah saudaranya sendiri, begitu juga Elika. Mereka bersekolah di SDN 045 jakarta, mereka sekelas dan

Danau Sejuta Kenangan

Oleh:
Lagi-lagi aku termenung di tepi danau. Sendirian. Seharusnya, hari ini menjadi hari yang menyenangkan. Karena sebentar lagi aku akan resmi menjadi siswi sekolah menengah pertama di Yogyakarta. Oiya, perkenalkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Perempuan Penikmat Senja”

  1. Gilan says:

    Waw cerpennya kerennnnn. Terharu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *