Permintaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 August 2018

Rian mengambil tas ranselnya. Semua tugas sudah selesai. Ekskul piano juga sudah usai. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.
“Eh, lo belum pulang, Ri?” tanya seorang gadis dengan rambut dicepol rapi. Namanya Clara. Gadis itu bersama dengan gadis yang rambutnya dikepang dua. Namanya Lisa.
“Belum. Tadi tugas numpuk. Kalian sendiri kenapa belum pulang?” ujar Rian.
“Kita ekskul badminton. Ada kejuaraan besok, jadi latihan ekstra.” jawab Clara sambil mengemut lolipop bola.
“Ya udah, gue pulang dulu. Semoga menang, Clar, Lis,” ucap Rian sambil berlalu pergi.

Trrrt …! Handphone Rian bergetar, lalu terdengar nada dering. Rian mengambilnya dan menjawab panggilannya. “Halo, Ngga. Kenapa?” tanya Rian.
“Ri, lo ada waktu besok? Gue sama temen laen mau ke kafe Souldtra. Jarang-jarang ngafe, Ri.” kata Angga.
“Jam berapa?”
“Setengah sembilan.”
“Bisa, Ngga. Tapi jam 10 gue ada perlu. Jadi gak bisa lama-lama. Gue tutup, ya.”
“Oke.”
Rian mengakhiri panggilan. Rian terdiam. Jam 08.30 … Tapi ada perlu juga. Tapi Rian tetap ingin ke kafe. Jarang dia main bersama teman. Tugas numpuk. Di sekolah dia banyak mejabat sebagai ketua ekskul dan lainnya.
Rian menatap jam. Jam 22.30. Rian merebahkan diri ke kasur dan menarik selimut. Lama-lama Rian terlelap.

Hari H — ulang tahun Rian
“HBD, Kak! Lo beneran mau ke kafe? Muka lo udah pucet banget begitu. Nanti penyakit lo kambuh lagi!” tegur Layla, adik Rian.
“Gue nggak apa-apa, La.” ujar Rian.
“Coba lo liat ke kaca! Tuh, mata lo udah agak iritasi trus pucet begitu. Gue nggak mau lo kenapa-napa. Gue sayang sama lo tau!” seru Layla terisak.
“Gue nggak bakalan kenapa-napa. Tenang aja, La,” kata Rian mengacak rambut Layla.

Rian langsung menuju ke kafe Souldtra. Kafe Souldtra sepi. Padahal, sudah pukul 08.30. Rian mencari teman-temannya. Tidak ada, hanya ada 6 pengunjung, bukan teman Rian.
HP Rian bergetar. Dari Angga, katanya disuruh ke taman Fanville, taman dekat kafe. Rian menuju ke taman Fanville.
Di taman Fanville juga tidak ada siapa pun dari teman Rian. Tiba-tiba terdengar suara petasan kertas. “HBD, Rian!”
Rian menengok ke belakang. Angga, Lisa, Clara dan lainnya. Lisa memegang kue. Tulisannya HBD Rian. “Makasih, ya.”
Mereka merayakan ulang tahun Rian. Tiba-tiba Rian merasa kepalanya sakit sakit. Darah mengucur dari hidungnya. Penglihatannya buram. Rian mendegar teman-temannya meneriaki namanya. Tapi Rian sudah tidak sadar.

“Beneran lo kanker otak?!” seru Clara tak percaya. Rian hanya mengangguk.
“Pantesan lo kadang enggak masuk.” timpal Angga.
“Sudah stadium berapa?” tanya Lisa.
Pertanyaan itu membuat semuanya diam. “Empat.” jawab Rian.
“Lo bohong, Ri?! Itu stadium akhir, kan?! Sumpah itu udah parah.” celoteh Clara.
Rian diam. “Ngga, jam 10 itu gue pengen ke rumah sakit. Tapi akhirnya masuk RS juga. Emang nasib gue tempatnya di sini.” Rian tertawa.
“Lo gak bakal buat kita ketawa, Ri. Itu gak lucu.” kata Angga.
“Mungkin waktu gue tinggal sedikit, ya.”
“Ri, lo gak boleh bilang begitu.” tegur Lisa.
“Tapi itu bener. Seminggu lalu, dokter bilang waktu gue hanya sekitar seminggu. Ini hari kelima gue dalem seminggu itu.” jelas Rian.

“Gue punya permintaan.”
“Apa?” tanya Angga.
“Janji selamanya tetep sahabatan.”
“Itu pasti.” jawab Clara, Angga, dan Lisa.
“Ngga … Jaga hubungan lo sama Clara. Dan Lisa, Clara, semoga pertandingan badmintonnya menang.”
Lisa dan Clara mengangguk sambil menangis.
“Lis …, gue pengen bilang sesuatu ke elo …,” kata Rian. “Sebenernya, gue suka sama lo.”
Muka Rian dan Lisa memerah. “Gue juga suka sama lo.” kata Lisa.
Layla datang. “Kak, jangan pergi. Gue sayang banget sama elo!” seru Layla sambil memeluk Rian.
“Gue juga sayang sama elo, La dan juga sama ayah, bunda. Bentar lagi gue ketemu bunda.”
Angga menangis. Lisa menangis. Clara menangis. Dan Layla menangis.

“Makasih untuk semuanya …,” kata Rian.
Mata Rian lama-lama tertutup. Jantungnya berhenti berdetak. Denyut nadinya tidak terasa. Dia sudah tidak bernapas. Rian meninggal.

10 tahun berlalu …
Mereka megunjungi makam Rian. Mereka menabur bunga dan memanjatkan doa untuk Rian.
“Kak, gue udah jadi dokter!” seru Layla.
“Kita udah nikah, nih, Ri!” seru Clara dan Angga.
“Aku tetep nyimpen kamu di hati aku. Tapi aku punya pria lain. Jadi kamu jangan cemburu. Aku udah jadi chef yang sukses. Aku sama Clara juga jadi pemain badminton internasional.” ungkap Lisa.
Semuanya belum berakhir. Rian mendengar semuanya. Namun, ia akan menjawab nanti. Tanpa diperkirakan waktu.

Cerpen Karangan: TripS
Shara Salsabila Shara

Cerpen Permintaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rene Maafkan Aku

Oleh:
Hari ini hari selesai UN hari ini pula aku dan sahabatku melepas tegang dengan berjalan-jalan ke puncak bersama teman teman kami yang lain. Aku, Renata, Sindy, Chika, Aldy, ROY

Maaf Untuk Ayah

Oleh:
Aku dibesarkan di tengah pemukiman kumuh. Di lingkungan yang orang-orangnya hidup dengan mengais sampah. Di rumah yang hanya terbuat dari kardus, yang bisa runtuh jika diterpa angin. Ayahku sendiri

I Love Indonesia

Oleh:
Kalina Candrika Candrawati adalah seorang gadis kelahiran Washington DC, Amerika Serikat, 30 Oktober 2002. Tapi Kalina, seperti orang Indonesia kebanyakan, berambut hitam dan bermata cokelat bening. itu karena Mama

Pumba

Oleh:
“Wooooo! Tumben banget lo, Fel?,” tanya Riska dengan menyalami Felly seperti biasanya. “Sejak kapan lo jadi hijabers dengan gaun kayak begitu, hah?!,” tanya Billy. “Kalau bukan karena aturan sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *