Pertemuan Singkat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 November 2013

Mentari mulai menampakkan sinarnya dan sudah siap untuk menerangi sebagian dari belahan bumi ini. Sama seperti Netta yang sudah siap untuk memulai lembaran baru di SMA Harapan Bangsa. Ya, baru saja Netta pindah dari Manado ke Jakarta karena Ayahnya ditugaskan untuk bekerja di sana. Sebenarnya ia merasa keberatan harus meninggalkan kampung halamannya, tapi mau bagaimana lagi jika kenyataannya memang harus begitu.

Netta membuka kaca jendela mobilnya dan melihat ke luar. Hhh, Jakarta macet, begitulah pikirnya. Dia membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi di Sekolah barunya nanti.
“Semoga semua kan baik-baik saja” batin Netta yang kemudian melanjutkan acara melamunnya itu.

15 menit kemudian Netta telah sampai di gerbang sekolah barunya. Dia berjalan melewati lorong-lorong kelas, ternyata tak seburuk yang di pikirkannya, beberapa siswa tersenyum ramah kepadanya. Netta merasa lega.

Sesampainya di depan kelas, Netta masih tidak yakin itu kelasnya atau bukan, dia celingak celinguk dan…
“BRUKK”
Netta terjatuh, dan dia berusaha secepatnya bangkit sebelum menjadi bahan tertawa anak-anak di kelas itu. Saat akan berdiri, seorang laki-laki mengulurkan tangannya untuk membantu Netta berdiri.
“Maaf ya, aku tadi buru-buru dan gak lihat kamu” ucap cowok yang menabraknya tersebut seraya membantu Netta berdiri.
“Iya gak apa apa, makasih ya” Jawab Netta tersenyum ramah pada anak laki-laki tersebut. Sosok tinggi, putih, ganteng juga manis itu berada di hadapan Netta persis.
“Eh, kamu anak baru rupanya, kenalin aku Ryansyah” ucap anak laki-laki tersebut yang ternyata bernama Ryansyah.
“Iya namaku Netta” Netta memperkenalkan dirinya pada Ryansyah. Entah mengapa Netta merasa grogi saat didekat Ryansyah. Mungkin inilah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.

Suatu kebetulan, Netta duduk di sebuah bangku kosong tepat di sebelah Ryansyah, karena, baru saja anak yang duduk bersama Ryansyah sebelum Netta pindah sekolah. Semua teman-teman di kelas itu tak perlu repot-repot berkenalan dengan Netta, karena jauh-jauh hari sebelumnya guru-guru sudah memberitahukan bahwa akan ada seorang anak baru pindahan dari Manado.

Bel istirahat berbunyi, Netta ingin sekali ke perpustakaan tapi ia tak tau dimana tempatnya.
“Syah, perpustakaan tempatnya dimana ya?” Netta bertanya pada Ryansyah yang sedang asyik ngumpul bareng teman-temannya.
“Enak aja panggil ‘Syah’! Namaku Ryansyah bukan Syah tau!” Omel Ryansyah pada Netta yang sebetulnya hanya bercanda. Netta cemberut mendengar omelan dari Ryansyah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Belum sempat ia pergi, Ryansyah segera mencegah Netta.
“Hey mau kemana? Cuma bercanda kali, gitu aja ngambek! Ayo aku antar, perpus di lantai dua” ajak Ryansyah sembari menarik Netta menuju lantai dua.

Sebuah ruangan yang bisa dibilang cukup besar, dengan rak-rak buku yang tertata rapi disana. Banyak juga yang mengunjung perpustakaan saat istirahat ini. Termasuk Netta dan Ryansyah yang menghabiskan waktu istirahat untuk membaca buku di perpustakaan. Mereka bersahabat seperti sudah lama sekali. Ryansyah memang anak yang supel dan mudah akrab dengan orang, karena itu juga dia terpilih sebagai ketua OSIS.

Netta mulai bosan dengan buku bacaanya dan mengajak Ryansyah untuk pergi ke kantin saja. Tanpa basa-basi mereka langsung menuju ke kantin.

“RYANSYAH!!!” Beberapa anak perempuan berteriak histeris saat melihat Ryansyah, dengan ramahnya Ryansyah mengaggukkan kepala sambil tersenyum.
“Gila, kamu punya banyak fans ya di sekolah ini? Memang kamu artis atau penyanyi?” goda Netta pada Ryansyah yang terlihat malu-malu itu.
“Ahhh… apaan sih kamu, aku sama kok seperti yang lain. Cuma Aku lebih ganteng” Jawab Ryansyah narsis.

Jam pelajaran telah usai, Ryansyah mengantarkan Netta pulang karena memang jalannya searah dan sebagai langkah awal persahabatan mereka katanya. Selama di perjalanan, mereka bercanda hingga satu pernyataan aneh terlontar dari mulut Ryansyah.

“Netta, andaikan nanti aku mati kita bakalan tetap bersahabat kan? Kamu jangan lupa sama aku”

Netta tertegun mendengarnya. Apa maksudnya? Tapi Netta mencoba untuk berpikir positif dan menganggap omongan Ryansyah hanya bercanda.

Malam itu, Netta kepikiran terus dengan Ryansyah. Dia merasa gelisah. Apa yang terjadi pada sahabat barunya tersebut? Netta mencoba untuk menghubunginya tapi hasilnya nihil! Handphonenya tidak aktif, dengan terpaksadia harus sabar menunggu hari esok untuk mengetahui keadaan Ryansyah sebenarnya. Netta menghempaskan tubuhnya di atas kasur nya. Dia berharap waktu berjalan lebih cepat!

Keesokan harinya, Netta buru-buru lari menuju sekolah, hari ini dia jalan kaki karena supir pribadinya sedang sakit. Dia tertegun ketika melihat hampir semua teman-temannya memasang wajah sedih, dan tak jarang juga yang menangis!

“Chels, ada apa ini?” Tanya Netta pada Chelsea teman barunya. Chelsea menangis sesenggukkan.
“Ryansyah Netta, Ryansyah… Kemarin saat pulang sekolah, Ryansyah mengalami kecelakaan dan meninggal dunia”

Deg! Netta seperti tersambar petir di siang bolong mendengar ucapan Chelsea. Jantungnya serasa ditusuk-tusuk seribu jarum. Mengapa? Sahabat sekaligus cinta pertamanya yang sangat ia sayangi pergi secepat itu? Ternyata, kemarin adalah hari pertama sekaligus yang terakhir Netta bertemu dengan Ryansyah. Sungguh tak terbayang sebuah persahabatan singkat berakhir dengan tragis.

Cerpen Karangan: Diah Retno Anggraini
Facebook: http://facebook.com/diahretn.PasMada

Cerpen Pertemuan Singkat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesedihan Yang Melanda

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah hutan yang sangat lebat hiduplah berbagai macam hewan salah satunya ialah si anak kelinci yang bernama Lulu, Lulu adalah anak kelinci yang barusan lahir

Beautiful Dream in Paris

Oleh:
“Apa?? Liburan ke Paris?” Tanyaku tak percaya saat mendengar pernyataan Papa yang menginginkan aku liburan ke Paris, Perancis. Mataku membulat dan tidak berkedip untuk beberapa detik, mengingat Paris bukanlah

A Gift

Oleh:
Friendship is everything But love is a gift Bandung, Februari 2001 Sore itu cuaca tidak cerah mengingat saat ini mendung gelap menggantung, menyembunyikan matahari yang seharusnya masih berdiri gagah

Biola Callis

Oleh:
Sore ini begitu dingin. Tergengar gemuruh air hujan, juga tercium aroma khas debu yang basah. Saat itu juga, menetes darah dari jari telunjuk Callis yang tergores senar biolanya yang

Surat Terakhir Dari Ayah

Oleh:
Aku bukan terlahir dari orang kaya dan berpendidikan. Hidup dengan sederhana dan tidak kemewah-mewahan. Kini usiaku 17 tahun. Aku bersekolah di SMK N 1 Karanganyar. Mungkin ayahku mencari uang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *