Pesan Untuk Alya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 February 2016

Udara pagi yang sejuk mulai menyapa pagiku. Berjalan dan berlari-lari kecil setiap minggu pagi adalah kegiatan rutin yang biasa aku lakukan untuk program penurunan berat badan (diet), meskipun kelihatannya bentuk tubuhku masih langsing-langsing saja. Jarak yang biasa aku tempuh untuk kegiatan jogging dari rumah kurang lebih sekitar 2 Km, atau bahkan bisa lebih jika sekiranya kegiatan itu belum mencapai batas waktu hingga dua jam. Kini, jarak yang aku tempuh sudah sekitar 250 meter. Namun, seketika aku berhenti karena di depanku ada seorang gadis kecil yang sedang mengayuh sepedanya tiba-tiba terjatuh. Aku menghampirinya, lalu membantunya untuk kembali berdiri.

“Terima kasih Kak,” kata gadis kecil itu dengan senyum manisnya.
“Iya, sama-sama Dik. Lain kali harus hati-hati ya mengendarai sepedanya,” jawabku sembari memberikan nasihat kepadanya.

Aku memandang wajahnya lekat-lekat. Sepertinya aku pernah melihat wajahnya, tapi di mana? Seketika terlintas di pikiranku seorang wanita yang dulunya pernah aku kenal. Dan akhirnya aku ingat sekarang. Gadis kecil ini sangat mirip sekali dengan Alya, teman kecilku saat masih sekolah di taman kanak-kanak dulu. Rambutnya yang keriting, lesung pipinya yang mencolok, dan kedua bola matanya, benar-benar mirip dengan Alya. Jadi, pertanyaanku adalah siapakah gadis kecil ini? Pertanyaan yang terlintas di kepalaku dengan cepat langsung terjawab, oleh seorang wanita paruh baya yang datang menghampiri aku dan gadis kecil ini. Wajahnya yang bersih dan memancarkan ketenangan jiwa seorang ibu, nyatanya sudah tidak asing lagi buatku. Ya, beliau adalah ibunya Alya.

“Zahra, kamu enggak apa-apa kan, Nak? Apa ada yang terluka? Ya Allah, hati-hati lain kali ya Nak,” kata ibunya Alya yang terlihat panik.
“Ibu jangan khawatir, Zahra enggak apa-apa kok. Ada Kakak ini yang menolong Zahra barusan,” jawab gadis kecil itu. “Eh, kamu… Fahri kan? Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lama Tante enggak ketemu kamu. Sekarang kamu udah perjaka ternyata, hehehe,” kata ibunya Alya sedikit meledek.
“Iya Tante, saya Fahri. Ah Tante ini bisa aja meledek saya, hehehe. Oh iya, Zahra ini anaknya Tante ya?” tanyaku penasaran.
“Kamu benar, Zahra adalah anaknya Tante, lebih tepatnya anak ketiga. Anak yang kedua laki-laki. Pasti kamu kaget karena Zahra memang mirip dengan almarhumah Kakaknya dulu, Alya.”

Seketika aku berada dalam lamunanku. Sebuah perjalanan hidup pada masa kecil dulu, tiba-tiba kembali terlintas di benakku. Memang tidak terlalu jelas dan rinci, tetapi tetap bisa dipahami dengan pemikiran logis manusia normal. Semua yang ku tahu tentang Alya, teman kecilku dulu, akan aku ceritakan dengan sebuah pemaparan logis dan sederhana. Bermula pada suatu hari, di cuaca yang terlihat kurang bersahabat, aku pulang sekolah bersama dengan keempat temanku. Kami semua memiliki rataan umur yang sama, yaitu umur 5 tahun. Sekolah kami memang berada agak jauh dari rumah, jadi harus berjalan kaki sekitar 500 meter. Bagi anak-anak kecil seperti kami, itu adalah jarak yang lumayan jauh. Itu semua kami lakukan selama hampir setiap hari. Namun, pada hari itu ada yang membuatku memisahkan diri dari keempat temanku itu. Salah satu alasanku adalah seorang gadis mungil berambut keriting, bernama Alya.

Aku berhenti dan menunggu Alya yang terlihat tergopoh-gopoh mengejar laju jalan kami berlima. Salah seorang temanku, namanya Angga, bisa dibilang dia adalah ketua geng dari kami berlima, dia heran karena aku berhenti sendirian. Sedangkan yang lain, kakak beradik Mia dan Anis, serta Muchlis, terus melanjutkan perjalanan mereka.
“Eh kok kamu berhenti sih. Ayo jalan lagi, nanti aku tinggal ya. Pokoknya kalau enggak mau pulang sama-sama lagi, kita enggak temenan ya,” kata Angga dengan sedikit mengancam. Namun begitu, postur badannya yang gemuk malah membuat hal itu menjadi kelucuan tersendiri untukku.
“Udah duluan aja, aku mau nunggu Alya, kasihan dia pulang sendirian,” jawabku.
“Ya udah oke, temenin aja Alya sana! Kita enggak temenan ya,” kata Angga seraya melanjutkan langkahnya menyusul teman yang lain di depan.

Aku sedikit geli bila harus mengingat itu. Kebiasaan para anak-anak kecil yang rata-rata selalu memperdebatkan pertemanan saat seorang teman mereka berperilaku tidak seperti yang mereka inginkan. Sungguh kekanak-kanakan memang, tetapi pada dasarnya umur kami pun menyatakan bahwa kami memang masih anak-anak.
“Fahri, tunggu aku. Aku cape nih,” kata Alya yang mulai mengeluh.
“Ya udah istirahat dulu kalau cape. Nih aku ada minum, kamu haus enggak?” tanyaku sembari mengambil botol air minum di dalam tas.
“Enggak kok, aku enggak haus. Makasih ya Fahri. Ayo kita jalan lagi,” jawab Alya dengan senyumannya yang manis.

Kami berdua kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di depan rumah Alya. Rumahnya cukup luas, namun dalam tatanan dan mode yang sederhana dari tiap-tiap sisi rumahnya itu. Aku sempat berpikir untuk langsung pulang ke rumah, namun di saat yang sama, Alya merengek agar aku tetap menemaninya bermain sampai tengah hari nanti. Mula-mula aku tidak mau, tetapi karena hujan, dan sedang deras-derasnya saat itu, aku terpaksa menuruti permintaan Alya.

“Fahri jangan pulang ya, di sini aja kita main. Aku sendirian, enggak ada teman. Mama sama Papa kerja,” kata Alya sambil menatapku penuh harap.
“Iya, aku temenin deh. Tapi sampai dzuhur aja ya. Mamaku di rumah pasti nyariin aku nanti,” jawabku.
“Hmm.. iya deh,” kata Alya yang mulai terlihat gembira.

Aku akhirnya menemani Alya bermain di rumahnya. Meskipun tidak ada orangtuanya, masih ada seorang pembantu yang bekerja di rumahnya, namanya Teh Sumi. Kami berdua benar-benar sangat merepotkan beliau, karena kami selalu mengacak-acak ruangan yang menjadi tempat main kami. Terlebih lagi, Alya adalah anak yang tidak bisa diam, cenderung hyperaktif. Sedangkan aku adalah anak kalem, pendiam, namun bisa berbaur dengan suasana apa pun yang ada di sekitarku. Aku pada awalnya heran dengan Alya. Mengapa dia ingin sekali bermain denganku? Mungkin memang karena tidak ada teman lagi yang membuatnya nyaman untuk diajak bermain. Aku sendiri pada awalnya agak sedikit terpaksa menemaninya bermain. Tetapi, dalam hati aku merasakan bagaimana jika kesepian dan tidak mempunyai teman akrab. Sejak saat itu, Alya selalu mengajakku bermain, mau dalam situasi apa pun, dan kapan pun. Dan aku pun selalu menyanggupi kesediaanku untuk bermain bersamanya.

Pernah suatu ketika, aku sedang bermain sepak bola bersama dengan kelompok laki-laki di sekolahku, sedangkan Alya berbaur dengan kelompok perempuan yang bermain dengan permainan perempuan mereka. Ketika aku sedang asyiknya menggiring bola, Alya tiba-tiba berlari ke arahku dan menarik tanganku. Aku yang terkejut terhadap tindakannya, seketika memasang ekspresi wajah yang marah.

“Fahri, enggak suka ya? Maaf, Alya cuma mau Fahri ikut main sama Alya di sana, sama teman-teman perempuan,” katanya dengan nada yang sedih.
“Aduh.. Alya, aku malu kalau main permainan perempuan. Nanti kalau anak-anak yang lain lihat gimana? Enggak ah,” jawabku. “Yaaahhh, Fahri gak mau ya?” kata Alya yang terlihat ingin menangis.
“Hmm.. iya deh aku mau. Kamu jangan nangis ya,” jawabku seraya menghiburnya.

Pada akhirnya, aku bermain permainan perempuan. Entah apa nama permainannya, tetapi yang jelas tidak menguras tenaga yang banyak seperti permainan untuk anak laki-laki pada umumnya. Sejujurnya aku malu melakukan hal itu, namun apa pun itu jika untuk membuat Alya senang, aku rela melakukannya. Banyak hal yang sering kami lakukan bersama, mulai dari berangkat sekolah, main, mengerjakan PR, dan seabrek kegiatan lainnya. Sampai pada suatu hari, ada hal unik yang terjadi, tepatnya saat ibunya Alya dan ibuku sendiri sedang mengobrol di depan rumah Alya. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi seingatku mereka membicarakan tentang kami berdua, aku dan Alya tentunya. Pembicaraan mereka yang terlihat serius, membuat aku dan Alya pun ikut mendengarkan.

“Alya anak yang baik. Dia periang, pintar, aktif, dan selalu mengajak Fahri bermain hampir setiap waktu. Apa sebaiknya nanti kalau sudah dewasa, kita jodohkan aja mereka berdua?” kata ibuku dengan penuh keyakinan.
“Iya, maunya saya juga begitu. Fahri itu kan pendiam, baik, penurut sama orangtua. Semoga aja kalau enggak ada halangan ya, Bu. Hehehe,” jawab ibunya Alya dengan sedikit candaan.

Aku sendiri sampai saat ini tidak mempercayai hal itu. Bayangkan saja, anak 5 tahun sudah dijodohkan oleh orangtua. Mungkin bagi orang yang baru mendengar cerita semacam itu akan merespon dengan ketidaksetujuan mereka, atau bisa saja hal itu dikatakan sebagai lelucon yang nyeleneh, padahal tidak. Itu semua fakta apa adanya yang terjadi. Jika menilik kembali dari awal hingga bagian ini, semua kenanganku dengan Alya terlihat indah dan menyenangkan. Tetapi pada akhirnya, ada satu bagian yang membuatku sedih, yaitu saat Alya menderita sakit. Pada waktu itu, musim pancaroba tiba. Banyak sumber yang menyatakan bahwa musim pancaroba adalah di mana berkumpulnya penyakit-penyakit yang dapat membahayakan tubuh manusia. Kebetulan, saat itu Alya memang sedang tidak enak badan entah apa penyebabnya. Aku tahu Alya sakit karena ibuku sendiri yang memberitahu, dan pasalnya aku pun sudah dua minggu tidak melihat Alya.

“Fahri sini deh,” kata ibuku memanggil.
“Iya, ada apa Ma?” tanyaku penasaran.
“Kamu udah tahu belum, kalau Alya sakit?” kata ibuku. “Dia udah dirawat di rumah sakit selama hampir 2 minggu,” tambahnya.
“Aku belum tahu Ma. Ayo kita jenguk Alya, Ma. Kasihan dia di rumah sakit,” jawabku yang mulai sedikit cemas.
“Ya udah, kamu ganti baju sana. Tapi Mama kasih tahu ya sama Fahri, nanti kamu kasih pesan buat Alya, biar semangat buat sembuh, dan kamu nanti minta maaf ya sama Alya, kalau waktu dulu pernah gak mau ngajak main Alya. Mau ya?” kata ibuku menjelaskan.
“Iya Ma, Fahri mau. Aku juga enggak tega lihat Alya sakit. Aku mau main lagi sama Alya,” jawabku dengan nada cemas.

Aku segera berlari ke dalam kamar tidur, dan menghampiri lemari besar untuk mengambil pakaian yang akan aku kenakan ke rumah sakit saat itu juga. Setelah siap, aku langsung berlari kembali ke ruang tengah untuk menemui ibu, untuk segera berangkat ke rumah sakit.

Sebuah tulisan besar terpampang pada papan tanda masuk rumah sakit. Papan tersebut bertuliskan, “Rumah Sakit Usada Insani”. Rumah sakit yang terletak di kota Tangerang ini, tidak asing lagi buatku karena beberapa waktu lalu pernah datang ke sini untuk menjenguk seorang tetangga yang sakit. Beberapa ruangan yang sudah pernah aku lihat di sini sudah menjadi daya tarik tersendiri, terlebih lagi dengan wewangian obat-obatan yang khas. Daftar pasien rawat inap yang berada di dinding dekat pintu lorong rumah sakit aku pandangi lekat-lekat. Nama Alya terpampang di sana, ada di pavilion Shinta, kamar nomor 5. ‘Akhirnya..’ gumamku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil langkah cepat bersama dengan ibu, menuju kamar nomor 5. Ada rasa senang karena bisa kembali bertemu dengan Alya dan akan memberikan pesan khusus untuknya. Semoga saja dengan semua yang aku siapkan untuknya nanti, dia semangat untuk sembuh dan kita berdua bisa kembali bermain seperti sedia kala.

Seketika langkahku terhenti di depan kamar nomor 5, pavilion Shinta. Aku memberanikan diri untuk membuka pintu. Ku lihat sekeliling kamar yang bersih dan wangi itu. Namun anehnya tidak ku temukan Alya di sana. Aku heran dan sedikit kaget, mengapa saat itu Alya tidak ada di kamarnya? Apa yang terjadi di sini sebenarnya? Aku hanya bisa menatap ibu dengan penuh kekecewaan. Tetapi, tiba-tiba ada seorang suster yang masuk ke kamar itu untuk membersihkan kamar.

“Maaf, ada perlu apa ya Bu?” tanya suster itu.
“Begini suster, saya dan anak saya mau besuk pasien kamar ini. Tapi kok kamarnya kosong ya?” kata ibuku heran.
“Oh pasien di kamar ini sudah pulang tadi pagi, Bu. Karena memang keadaannya sudah tidak memungkinkan lagi,” jawab suster dengan nada sedikit cemas.

Aku dan ibu hanya bisa terdiam mendengarkan penuturan suster. Kami pun tidak mau berbicara panjang lebar. Setelah berterima kasih dan pamit, kami kembali bergerak menuju rumah Alya. Rasa rindu dan khawatir bercampur aduk seketika. Aku sangat cemas dengan keadaan Alya saat ini. Namun, apa pun yang terjadi, aku tetap berdoa semoga Alya lekas sembuh dan tidak terjadi apa-apa. Sudah sekitar satu jam lebih perjalanan kami menuju rumah Alya. Aku dan ibu menggunakan kendaraan umum, jadi wajar bila terjebak macet dan memakan durasi waktu yang lama. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 11 siang. Aku terkejut ketika mulai mendekati jalan masuk ke arah rumah Alya.

Ada bendera kuning terpampang di sudut jalan, terikat pada sebuah tiang listrik yang menjulang tinggi. Tanpa menghiraukan ibu, aku berlari sekencang-kencangnya menuju gerbang depan rumah Alya. Banyak sekali orang berkerumun untuk masuk ke dalam rumah Alya. Semua pakaian mereka serasi, menggunakan baju yang dominan berwarna hitam. Aku berjalan masuk melalui pintu depan yang notabene ramai dikerumuni banyak orang. Aku tak peduli dengan itu. Beberapa langkah perlahan aku tiba di ruang tengah. Aku melihat seorang gadis kecil tertidur di atas meja dengan ditutupi kain putih yang sedikit tembus pandang. Aku terdiam seribu bahasa. Pikiran dan imajinasiku yang terbatas mulai menerawang. ‘Apakah itu Alya?’ gumamku dalam hati. Seketika, ada suara wanita paruh baya yang memanggilku. Sorot mata yang lemah dan berkaca-kaca itu terlihat jelas penuh dengan kesedihan.

“Fahri, kemarilah Nak. Apa kamu mau cium kening Alya untuk terakhir kalinya?” tanya ibunda Alya. Aku yang saat itu memang belum sama sekali mengerti, apakah itu istilah meninggal dunia atau mati, karena memang masih berusia 5 tahun. Bukannya menjawab, aku dengan polosnya malah berbalik bertanya kepada beliau.
“Kalau aku cium kening Alya, apakah dia nanti bakal hidup lagi, Tante?”
“Tante enggak tahu pasti, tapi yang penting kita berdoa untuk Alya ya. Semoga Alya bisa tenang di alam sana,” jawab ibunda Alya dengan air mata yang bercucuran di pipinya.

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada saat itu. Aku takut dan tidak berani mendekati jenazah Alya, apalagi mencium keningnya, aku sangat takut. Bahkan, saat Alya dimakamkan, aku terus bertanya-tanya pada ibu, bagaimana nanti Alya bisa bermain denganku jika dia dikubur di bawah tanah seperti itu? Dengan sabar, ibuku menjelaskan mengapa Alya bisa sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.

Alya menderita penyakit Leukimia yang kronis. Selain penyakit itu, dia juga menderita cacar, namun tidak terlalu parah. Selama hampir setiap hari setelah Alya divonis mengidap Leukimia, hidungnya tidak henti-hentinya mengeluarkan darah, terutama saat suhu badannya mulai naik. Hal yang lebih buruk lainnya adalah Alya ‘bandel’. Dia tidak mau istirahat dan yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana bisa bermain sepanjang hari, padahal dengan kondisi seperti itu. Sungguh anak gadis yang malang. Karena seringnya bermain, penyakitnya bertambah parah hingga dia harus dilarikan ke rumah sakit. Namun akhirnya, nyawanya tidak terselamatkan.

Hari itu aku sangat menyesal karena tidak bisa memberikan pesan kepada Alya. Kalaupun pesan itu tersampaikan, itu merupakan pesan terakhir untuknya dariku. Kini sudah tidak ada lagi gadis kecil itu, gadis kecil yang selalu meminta agar ditemani bermain sepanjang hari. Aku mulai paham dengan arti kematian sesungguhnya bagi seseorang. Mereka yang telah meninggal sejatinya sudah tidak berada di alam dunia. Berpulang kepada Sang Khaliq dengan membawa amal ibadah dan setumpuk dosa yang telah diperbuatnya di dunia. Air mataku mengucur membasahi pipi dan menetes bagaikan sebuah kebahagiaan yang pergi seketika tanpa pamit. Tangisku seketika meledak. Ibu menenangkanku dan memelukku dengan erat, seraya berkata, ‘Alya akan baik-baik saja. Doakan agar dia termasuk orang-orang mukmin penghuni Surga Allah.’

Itu merupakan sebuah kisah perjalanan hidupku mengenang mendiang almarhumah Alya. Mungkin memang sulit dipercaya bagi seorang bocah berusia 5 tahun yang sudah terbiasa bermain bersama, namun seketika harus berpisah untuk selama-lamanya. Seperti itulah kehidupan, selalu menyajikan sebuah konteks yang berbeda dari yang kita inginkan. Meskipun terkadang ada beberapa impian dan keinginan yang benar-benar terjadi, tentunya atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Seketika lamunanku tentang masa lalu Alya berakhir. Ibunya Alya dan Zahra (adik perempuan Alya), untuk kedua kalinya mengucapkan terima kasih kepadaku karena telah menolong Zahra yang terjatuh dari sepedanya dan segera berpamitan untuk pulang. Namun sebelumnya, ibunya Alya menawarkanku untuk berkunjung ke rumahnya.

“Tante enggak keberatan kok. Udah lama juga Tante enggak lihat ‘pacar almarhumah’ main lagi ke rumah Tante,” kata ibunya Alya. “Iya, mungkin lain kali ya Tante, kalau saya ada waktu luang. Terima kasih,” jawabku singkat.

Mereka berdua pun berlalu, meninggalkanku sendiri dalam bayang-bayang wajah Alya kecil berumur 5 tahun. Tidak terbayangkan jika Alya masih hidup, bagaimana raut wajahnya, senyum manisnya, rambut keritingnya. Mungkin saja hanya sebelas dua belas dengan Zahra, adiknya. Benarkah? Entahlah. Ngomong-ngomong, predikat ‘pacar almarhumah’ yang tadi dikatakan memang aneh, tetapi itu diberikan oleh ibunya Alya kepadaku karena memang Alya hampir tidak mau bermain dengan teman yang lain, selain denganku. Aku pun tidak mau berlama-lama memikirkan itu, dan kemudian meneruskan kegiatan jogging yang nyaris molor setengah jam. Namun, di pikiranku terus terlintas gadis kecil itu, Alya. Seandainya dia memang masih hidup. Sungguh sangat disayangkan, pesanku tidak tersampaikan.

Cerpen Karangan: Fahrizal Khalifatullah
Blog: Fahrizalkh.blogspot.com
Nama: Fahrizal Khalifatullah
TTL: Jakarta, 13 Oktober 1996
Pekerjaan: Mahasiswa
Alamat: Jalan Darussalam 2, No.52, Rt001/01, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Cipondoh, Tangerang, Banten

Cerpen Pesan Untuk Alya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah, Aku ini Anakmu

Oleh:
Di pagi hari yang cerah, aku seperti biasa melakukan aktivitas yang mungkin tidak pantas untuk anak seusiaku. Aku Zakri, umurku masih 5 tahun. Setiap hari aku selalu bangun pagi-pagi

Derita Tanpa Batas

Oleh:
Aroma kematian masih menguap ke segala penjuru arah, suasana duka sampai saat ini terus begeriliya menyesakkan dada. Ibunya masih di sini tapi sudah kaku sejak dini hari. Dian menangisi

Candy Girl

Oleh:
Candy Girl. Julukan yang tepat buat Da Vinci Mozart. Pasti kalian langsung mikir Leonardo Da Vinci seorang pelukis (1452-1519) yang melukis The Last Super dan Mona Lisa. Dan pastinya

Cinta Dalam Bayang

Oleh:
Dulu hingga sekarang aku hidup di dalam kegelapan. Di setiap jengkal hidupku tak begitu banyak kekurangan. Hanya aku yang kurang, satu kekuranganku. Aku begitu benci hidup ini. Mengapa hanya

Perginya Sahabatku

Oleh:
Hari ini adalah hari liburku kerja, dari pagi ku habiskan waktuku untuk nongkrong di warung kopi, sebelum ku disibukkan dengan kegiatanku mempersiapkan perlengkapan berburu. memang kalau hari libur gini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *