Pikiran yang Harus Dijebak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 March 2016

Apa mereka masih mengira aku gila? Aku muak berada di tempat ini. Apa belum cukup bagi mereka melihat penderitaanku yang duduk di kursi roda ini setiap hari? Apa mereka tidak merasa kasihan? Aku berteriak meminta tolong sekeras mungkin agar aku dapat bebas dari orang-orang yang tidak berperikemanusiaan ini. Aku tidak gila. Aku ingin semua ini dihentikan. Tapi, mereka tidak pernah mendengarku. Mereka egois. “Aku tidak gila!!” Mereka sama sekali tidak menghiraukan teriakanku. Jika aku tidak cacat, aku pasti bisa berlari menjauhi mereka dan bersembunyi di suatu tempat. Jika ada kesempatan, aku bisa mencari sahabatku yang mereka katakan telah tiada.

Kepalaku terasa pusing. Aku menghela napas berat. Lagi-lagi mereka membiusku. Mereka membuatku tak sadar agar dapat menyuntikkan banyak obat ke tubuhku. Ahh, tubuhku terasa begitu lemah. Langkah kaki beberapa orang terdengar. Ya, ada yang datang. Lima orang dengan seragam yang sesuai ketentuan rumah sakit ini memasuki ruanganku. “Aku ingin membantumu, Dera. Kamu pasti sudah sangat lelah merasakan kesedihan dalam waktu yang lama, kan? Mari berbagi rasa sedihmu kepadaku,” ajak seorang pria berseragam putih dengan masker di wajahnya -satu-satunya orang yang memasuki ruanganku- sementara beberapa orang yang lain berdiri tepat di depan pintu. Dia berkata dengan tanpa sapaan.

“Apa Anda tidak bosan menanyakan itu kepadaku? Aku yakin Anda sudah tahu jawabannya. Perlu Anda ketahui, aku masih yakin sahabatku belum meninggal aku tidak percaya dengan pernyataan Anda, petugas lain, bahkan sekali pun pernyataan Ibuku, bahwa sahabatku sudah meninggal!”
“Dera, kamu membutuhkan teman lain untuk menceritakan rasa sedihmu sebelum mereka datang.”
“Aku tidak mau. ”
“Mengapa?”

Aku menatapnya tajam. Pria yang namanya tak akan ku ingat itu memberikan ekspresi tak gentar. “Mengapa?! Karena Anda, teman-teman Anda, dan juga Ibuku! Kalian membawaku ke rumah sakit jiwa ini sejak dua tahun yang lalu! Kalian membuat banyak orang mengira aku sudah gila! Bagaimana mungkin aku bisa percaya dengan kalian?!” Aku ingat saat pertama kali aku dibawa ke tempat ini dengan alasan, aku selalu mengurung diri di kamar dan menangis sepanjang hari.

Saat itu aku memberontak. Orang-orang, terutama anak-anak yang melihatku saat itu berteriak memanggilku orang gila. Begitu juga selanjutnya setelah dua bulan aku diperbolehkan pulang namun seminggu setelahnya aku dibawa kembali ke tempat ini -setiap saat aku dibawa pergi dan pulang, aku selalu dipanggil orang gila. Mata pria itu membesar. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Aku hanya tersenyum sinis. “Tidak. Kamu hanya sedikit tertekan…” Bibirnya bergetar.

Aku membuang muka. Dia kembali melanjutkan, “agar kamu cepat sembuh dan agar kamu dapat melupakan rasa sedihmu.”
Ku tutup telingaku dan terus berteriak histeris. Rasa itu harus selalu ada. Mereka tidak dapat ku lupakan. Tidak akan pernah bisa. “Tidak!! Aku tidak akan melupakannya! Aku bersumpah tidak akan kembali ke tempat ini. Kalian semua penjahat! Aku mau pulang!”
“Psikologimu sedang kurang baik. Perlu kamu ketahui, kamu dibawa ke sini sebagai orang yang tertekan, orang yang harus diperiksa terus menerus kondisi psikisnya. Kamu bukan orang gila, jika saja, ya jika saja kamu tidak memberontak kamu tidak akan dikira seperti yang orang-orang katakan itu.”

Ketukan pintu ku dengar saat mataku terfokus dengan komputerku. Aku mengetahui cara Ibu jika sedang mengetuk pintu kamarku. Namun, bunyi ketukan pintu kali ini terdengar berbeda. Siapa dia? Rasa senang di dalam hatiku membuatku melebarkan sebuah senyum. Kursi roda yang ku duduki bergerak cepat menuju pintu. Seorang laki-laki dengan pakaian casual berdiri di depan pintu dan menyapaku, “Selamat pagi, Dera!” Seharusnya aku membalas senyum itu, tapi aku tidak mengenalnya. Mataku hanya menatap laki-laki itu tajam.

“Jika kamu mau masuk ke dalam kamar saya, tidak diizinkan. Orang asing tidak diperbolehkan masuk.”
“Dera, lo gak inget gue? Yang bener? Ini gue, Amar.”
Aku menghela napas berat. “Tidak. Aku tidak kenal kamu. Siapa kamu?” Dia terdiam beberapa saat untuk berpikir.
“Persilahkan dulu aku masuk. Barulah setelah itu kamu akan mengingatku.” Gaya bicara yang awalnya terdengar gaul berubah menjadi lebih sopan. Aku memandang matanya, mencoba untuk yakin dia bisa ku percaya. Ku alihkan pandangan mataku. Ku persilahkan dia masuk.

Sebenarnya rasa percaya belum memasuki hatiku, aku hanya sedang mencoba percaya. Jikalau dia mencoba melakukan perbuatan aneh-aneh, dalam sekejap aku akan berusaha menghabisinya. Hanya itulah yang terlintas di batinku. “Beritahu aku. Siapa kamu, Amar?” Laki-laki yang mengaku bernama Amar itu tidak menjawab. Pandangan matanya melekat di layar komputerku. Barangkali dia tidak begitu mendengar pertanyaanku. Namun aku bersikeras untuk menunggu jawaban darinya.

“Kamu aktif di media sosial?”
“Tidak, baru beberapa hari selama dua tahun belakangan.” Jawabanku kelihatannya membuat dia bingung, terlihat dari wajahnya. Kecurigaan masuk dalam pikiranku terhadap dia. “Tolong ceritakan tentang kamu atau kamu ku usir keluar!”
Dia bergidik beberapa saat. “Kamu memiliki enam orang teman kan? Aku salah satunya. Amar. Kita….”
“Bagaimana bisa aku tidak mengenalmu? Padahal aku yakin, aku masih mengingat semua tentang teman-temanku.”
“Mengapa kamu bertanya padaku? Kita baru saja bertemu. Tapi, menurutku mungkin saja, kamu ingat apa yang terjadi di antara kita, tapi kamu tidak dapat mengingat lagi wajahku.”

Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Padahal, aku masih yakin aku mengingat mereka. Aku mulai menyadari, sepertinya obat-obatan yang telah disuntikkan ke dalam tubuhku mulai menampakkan kinerjanya setelah hampir dua tahun menempati tubuhku. Aku mulai melupakan mereka. “Baiklah. Aku akan mengingatkanmu kembali. Aku Amar. Aku sahabatmu. Ehm Dera, aku minta maaf. Aku tidak pernah mengabarimu setelah kejadian pesawat itu. Setelah lima orang teman kita dinyatakan meninggal, aku merasa frustasi. Tapi sekarang aku sadar kita harus tetap menatap ke depan. Aku juga sudah menyadari aku harus menemuimu.”

“Aku tahu, kamu pasti masih merasa terpukul. Oleh sebab itu Dera, kita akan melangkah ke depan.” Perkataannya membuat aku teringat akan satu hal. Satu hal yang selalu ku pungkiri.
“Mengapa kamu mengatakan mereka sudah meninggal?”
“Ya, memang benar, mereka sudah tiada. Aku sudah mengunjungi makam mereka. Mengapa kamu tidak mengunjungi makam mereka? Kamu tidak mau?”

Aku memang tidak pernah mengunjungi makam yang menurut ibu adalah makam sahabatku. Karena aku percaya itu semua hanya siasat mereka untuk mematahkan keyakinanku. Pikiranku melayang jauh memasuki memori terdalamku. Aku ingat, serangkaian peristiwa saat kecelakaan pesawat tragis itu terjadi. Semua tubuh terasa lemas dan mulut tak dapat bersuara beberapa detik sebelum pesawat jatuh. Kevin meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Dia berkata, “jika ada di antara kita selamat, ku mohon ingat kenangan milik kita. Begitu juga kenangan bersama sahabat-sahabat kita. Aku berjanji…..”

Beberapa saat setelah terjatuh, aku terbangun dengan kondisi tubuh penuh luka. Aku mencoba untuk berdiri. Ketika kepalaku mendongak dan mataku beralih fokus untuk menoleh ke depan. Mataku terasa perih. Kepulan asap dan bangkai pesawat tampak di depan mataku. Orang-orang beruntung yang nyawanya terselamatkan menangis karena mengetahui sanak saudaranya belum ditemukan ataupun sudah meninggal, membuat air mataku mengalir. Histeris. Aku berteriak histeris dan menangis dalam waktu bersamaan. Aku belum melihat satu pun dari mereka. Aku berlari menuju bangkai pesawat itu. Aku belum berhasil menemukan mereka, sehingga aku tetap bertahan mencari mereka.

Aku tidak mendengarkan peringatan dari orang-orang untuk menjauh dari bangkai pesawat, sebelum pesawat itu meledak untuk kedua kalinya. Hingga aku mendapati tubuhku sudah tidak sempurna, aku masih meyakini mereka berada di suatu tempat untuk mencariku. Tapi, saat ini, setelah aku diyakinkan oleh salah satu dari mereka untuk percaya bahwa selain dia, tidak ada lagi yang selamat, perasaanku begitu berkecamuk. Persepsiku yang ku pikir sangat tangguh untuk tidak menerima pernyataan mereka sudah meninggal malah membuatku meneteskan air mata. Aku tersentak saat tersadar dari bayang-bayang ingatan lamaku karena Amar yang hendak menghapus air mataku. Aku melepas tangannya dari pipiku dan menyeka sendiri air mataku.

“Tapi, itu hanya kebohongan belaka. Kebohongan yang dibuat oleh ibuku dan juga dokter yang ada di rumah sakit.” Bibirku bergetar saat mencoba menyanggah pernyataan itu, batinku terus menolak untuk percaya. “Mengapa kamu begitu yakin untuk tidak mempercayai kabar itu?” Aku hanya diam dan memutuskan untuk tidak menjawab. Seperti janji Amar kemarin, dia kembali ke rumah ini. Tapi, rasa penasaran menyelimuti benakku saat Amar terlihat akan memulai bercakap-cakap dengan Ibuku. Aku mencoba mendengar pembicaraan antara Amar dan Ibuku dari balik pintu.

“Teruslah mencoba meyakinkannya, Dok! Saya sangat sedih dengan keadaan Dera yang seperti ini. Dia tidak dapat menerima kenyataan.”
“Saya sedang mencoba, Bu. Ini adalah tugas pertama saya. Dokter Hakim meminta saya untuk mendekati Dera secara perlahan-lahan. Ada beberapa hal Bu yang ingin saya tanyakan mengenai Dera. Sudah berapa lama Dera berteman dengan enam orang sahabatnya itu?”
“Sejak dia berumur sembilan tahun, Dok.”
“Bisakah Ibu menceritakannya kepada saya?”

“Ayah Dera adalah seorang pemabuk. Dia sering melakukan kekerasan terhadap saya dan Dera setiap kali dia pulang di malam hari. Sejak berumur sembilan tahun, Dera lebih sering menghabiskan waktunya bersama enam orang temannya itu. Tidak jarang dia menginap di rumah salah seorang teman ceweknya hampir seminggu. Dera dan keenam temannya itu semakin dekat lagi saat saya dan Ayah Dera sedang mengurus proses perceraian kami saat Dera berusia tiga belas tahun. Pada saat itu, saya sangat jarang bertemu Dera. Dok, intinya Dera sangat sulit dipisahkan dari teman-temannya itu. Hampir setengah dari memorinya berisi tentang keenam temannya itu.”

“Maaf, Bu. Kesimpulannya, dia tidak bisa mempercayai Anda karena dia tidak merasa dekat dengan ibunya. Ditambah lagi dengan masa lalu yang ibu ceritakan. Saat itu keenam orang itulah sebagai penghilang rasa sedih Dera. Tapi..” Aku melihat ekspresi Dokter itu. Tatapannya nanar.
Aku keluar dari persembunyianku. Dokter itu, begitu juga Ibuku tampak kaget. Aku mencoba tersenyum. “Dokter, berusahalah lebih keras.”
“Kamu tidak terkejut?”

“Kalian memang hebat. Kalian bersiasat dengan lihai. Mungkin ingatanku memang sudah tidak baik lagi dalam mengingat wajah teman-temanku karena obat-obatan dari kalian. Tapi, aku punya cara untuk mencari kebenaran apakah Dokter yang mengaku Amar adalah benar Amar. Walaupun semua foto-foto yang terpajang di dinding sudah ibu buang dan yang ada di komputerku sudah ibu hapus, juga sosial media teman-temanku sudah diblokir.. Untung saja catatan kecilku masih ada. Catatan nama-nama saudara dan keluarga sahabatku. Aku bertanya kepada mereka melalui sosial media. Aku sudah tahu. Sekali pun fakta yang ku dapat melebihi yang ku inginkan.”

“Maaf, Dera. Tapi kami ingin meyakinkanmu untuk tetap melanjutkan hidupmu. Sahabatmu sudah tiada.”
Aku terhenyak. “Kamu tidak mengerti mengenai apa yang ku ceritakan tadi? Aku tahu itu semua -kebenarannya. Aku tidak akan percaya. Tapi, aku akan tetap melanjutkan hidupku. Asalkan kamu tetap berpura-pura sebagai Amar. Aku juga ingin kamu menghapus ingatanku mengenai kamu yang berpura-pura sebagai Amar. Sehingga aku sangat meyakini kamu adalah Amar tanpa tahu kebenarannya. Bisakah itu dilakukan? Bisakah aku kembali memiliki sebuah kepercayaan terhadap orang lain?”

Cerpen Karangan: Pidyatama Putri Situmorang
Facebook: https://www.facebook.com/Pidyatamaputri

Cerpen Pikiran yang Harus Dijebak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesosok Monster

Oleh:
“Dan peringkat pertama kelas kita pada semester pertama ini diraih oleh…” ucap Bu Vira secara perlahan. Semua murid tampak duduk dengan rapi dan tenang. Tak ada seorang pun yang

Teruslah Tersenyum Rachel

Oleh:
Rachel adalah sahabatku. Dia adalah sosok yang baik, saat ada PR dia selalu membantuku.. aku ingin membalas semua jasanya dengan membuatnya selalu tersenyum. Oh iya, namaku Dinda lestari. Biasa

Karenamu

Oleh:
Desau angin berhembus merayap menyingkap jilbab neza malam ini. Getar hati akan getirnya kecewa masih segar terasa di bibir hatinya. Entah sejak kapan tetes bening dari mata menjamah pipinya

Gila (Part 2)

Oleh:
Rian yang bingung akan tingkah Dion akhirnya bertanya, “Kenapa sih? Lo lupa ngerjain PR? Semalem lo nggak belajar karena hari ini ada ulangan? Atau.. kaki lo gue injek? Tapi

Cinta Sahabat

Oleh:
“rara” panggil gadis berjilbab putih itu di koridor sekolah SMA PELITA ke gadis yang berjarak 10 meter darinya. “hmmm…” gumam gadis yang tak lain bernama rara itu sambil menoleh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *