Promises on The Hill

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengorbanan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 September 2013

Waktu berjalan sangat cepat. Rasanya baru saja aku, Danny dan Fern lulus dari SMP. Dan sekarang kami sudah harus berpisah untuk melanjutkan studi ke universitas. Beberapa hari sebelum kami memasuki dunia universitas, kami janjian untuk bertemu di bukit favorit kami saat matahari terbenam. Kami bertiga sama seperti perangko dan amplop yang dilem bersama, solid seperti batu dan tak mudah terpisahkan. Kami bertiga ditakdirkan bertemu saat tahun ajaran pertama di SMP. Danny adalah seorang yatim piatu yang gentle dan tangguh yang tinggal bersama pamannya. Fern adalah seorang penyendiri yang tak pernah menerima kasih dari orang tuanya. Sementara aku, aku hanyalah seorang gadis sederhana yang berasal dari keluarga normal.

Danny dan aku masuk ke universitas yang sama di luar kota. Bedanya, Danny masuk fakultas kedokteran dan aku masuk fakultas sastra. Fern kuliah di Amerika, jurusan astronomi. Ia ingin menjadi seorang astronom. Jadi, kami bertiga kembali bertemu di bukit favorit kami untuk yang terakhir kali. Disana pula, kami saling mengikat janji. Dan janji itu kami ukir di batang pohon besar yang hanya ada satu disitu, tapi sangat rimbun hingga bisa menutupi puncak bukit itu.

Disamping kesibukan kami sebagai anak kampus, kami selalu bertukar kabar lewat e-mail. Dengan begitu, hubungan kami akan tetap terjaga. Kami saling membantu mengerjakan tugas dan skripsi, seperti apa yang telah kami lakukan dimasa lalu.

Sepuluh tahun telah berlalu setelah kelulusan universitas kami. Danny dan aku menjadi dokter dan novelis terbaik di negara kami. Fern juga telah menjadi astronom profesional yang bekerja untuk NASA. Bahkan, Fern bilang kalau ia telah menemukan sebuah komet baru di sekitar Sabuk Asteroid, tapi, ia belum menamainya. Jadi, kami kembali janjian di bukit favorit kami di saat matahari terbenam.

Ternyata, selama sepuluh tahun belakangan, tak banyak yang berubah di antara kami. Meski kami telah bertambah tinggi, namun, Danny masih yang paling tinggi di antara kami bertiga. Fern masih lebih pendek antara 2-5 centimeter dari Danny. Kalau aku, well, Danny dan Fern setuju kalau aku lebih mirip laki-laki daripada perempuan. Untuk mengawali pertemuan ini, kami bertiga berdoa pada Tuhan. Kami bersyukur kalau sampai sekarang, kami masih diizinkan berkumpul bersama sebagai sebuah keluarga. Kami berbaring di atas hijaunya rerumputan bukit itu, menikmati indahnya langit senja dan terbenamnya matahari. Setelah mengenang masa lalu berbagi begitu banyak cerita dan tawa, Danny dan Fern memintaku untuk meninggalkan mereka sebentar; ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan. Man to man. Aku menghargai permintaan mereka, jadi aku turun dan membaringkan diriku di jok mobil jeep-ku dan Danny sembari menatap langit bertaburkan bintang dan memikirkan novel yang akan kutulis dengannya.

Beberapa menit kemudian, aku melihat Fern menuruni bukit dengan raut wajah marah dan kesal. Bukannya aku ingin ikut campur, tapi, melihat situasi seperti ini, sepertinya Fern tidak berbicara dengan kepala dingin, ini harus diluruskan. Jadi, aku mengikuti Fern dan membujuknya untuk berbicara dengan kepala dingin. Bukannya menanggapi perkataanku, Fern justru bertingkah seolah-olah aku tidak ada dan mulai menstarter mesin jeep-nya. Tapi, aku takkan berhenti sebelum ia menanggapiku. Aku tetap berusaha mengikutinya dengan memegang pintu mobilnya dan menapakkan kakiku ke pijakan kaki mobil itu sambil terus memintanya untuk menghentikan mobilnya. Namun, pada akhirnya, ia berhasil membuatku berhenti dengan menabrakkan mobilnya ke trotoar yang ada di sebrang jalan. Saat bagian depan mobil itu menghantam jalan, aku terpental dari mobil itu Fern pun tancap gas ke selatan. Untung di trotoar itu berdiri sebuah hotel yang masih buka dengan lobby yang cukup panjang dan luas sehingga aku bisa mendarat dengan selamat.
Tak lama setelah aku keluar dari lobby itu, terdengar suara tabrakan yang keras dari arah selatan. Warga setempat berkumpul di sekitar pembatas jalan yang jebol. Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa dari arah utara datang sebuah jeep berkecepatan tinggi dan jatuh ke jurang. Saksi itu menyebutkan ciri-ciri jeep itu. Dan mobil itu adalah mobil Fern.

Beberapa jam setelah evakuasi…
Dokter yang menangani Fern akhirnya menampakkan dirinya dari ruang operasi. Dokter itu bilang Fern mengalami kerusakan jantung yang parah, ia harus segera menerima donor baru. Bila Fern tidak menerima donor dalam waktu satu jam, nyawanya tak akan tertolong. Mendengar pernyataan sang dokter, Danny langsung merespon. Ia bilang donor sudah siap dan hanya perlu dijemput. Tubuhku merinding mendengar kalimat Danny barusan, aku tahu apa yang akan ia lakukan.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bila aku melarang Danny, sama saja aku membiarkan Fern mati. Tapi, bila aku membiarkannya pergi, aku dan Fern harus kehilangan Danny. Danny sendiri tahu itu, sebab, hanya orang yang sekarat atau sudah mati saja yang boleh mendonorkan jantung mereka. Seandainya aku bisa mendonorkan jantungku, sialnya, golongan darahku AB, sedangkan golongan darah Fern 0. Fern harus menerima donor dengan golongan darah yang sama dengannya. Sebelum Danny pergi, ia memberikanku sepucuk surat yang harus aku dan Fern baca setelah Fern sadar.

Beberapa menit kemudian, aku melihat Danny dilarikan ke ruang operasi yang sama dengan Fern. Ia tak sadarkan diri dan tubuhnya seperti mandi darah dari luka tusukan yang cukup besar di perutnya. Selama operasi berlangsung, aku terus berdoa pada Tuhan untuk memberikan apapun yang terbaik bagiku dan kedua sahabatku. Apapun itu akan kuterima dengan lapang dada.

Beberapa jam kemudian, akhirnya operasi selesai. Fern berhasil lolos dari kematian. Sebagai gantinya, kami kehilangan Danny selamanya. Meski Danny menerima donor jantung baru, itu takkan bisa menyelamatkannya. Kata dokter, Danny terkena hepatitis, entah A, B, atau C, aku terlalu shock untuk mengingatnya. Ia terjangkit penyakit itu saat ia ditugaskan ke Timur Tengah bersama dengan tim WHO beberapa tahun lalu. Hatiku seakan kehilangan satu dari tiga bagiannya. Entah aku harus senang karena Fern bisa selamat atau harus bersedih atas kepergian Danny, namun, ini yang terbaik, dan sesuai janjiku pada Tuhan, aku menerima keadaan ini dengan lapang dada.

Sekitar dua-tiga jam setelah operasi, Fern akhirnya sadar. “Jo, dimana ini? Kok kamu sendiri? Danny mana?” tanyanya bingung.

Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diriku dan mulai menceritakan apa saja yang terjadi setelah mobilnya masuk jurang, termasuk tentang Danny yang membuat dirinya sendiri sekarat demi mendonorkan jantungnya pada Fern. Fern menolak untuk percaya dengan apa yang kukatakan, tapi, aku tidak menjawab dan menunjukkan surat yang Danny berikan tadi dan kami membacanya bersama.

“Fern, Jo, bila surat ini sampai ketangan kalian, kemungkinan besar aku sudah tiada. Melalui surat ini, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih pada kalian karena telah dengan tulus mau mengasihiku dan menganggapku keluarga kalian sendiri. Selama ini, baru kalianlah orang yang menganggapku demikian. Aku juga ingin minta maaf bila aku tidak dapat lagi mengukir kenangan bersama kalian. Fern, aku minta maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk melihat bukti janjimu sepuluh tahun silam. Jo, maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk menulis sebuah novel denganmu seperti yang kujanjikan. Sahabat-sahabatku, kalian harus terus bergerak maju tanpaku. Jangan melihat ke belakang jika kalian ingin menapaki masa depan kalian. Jaga diri kalian baik-baik, sahabat-sahabatku. Let us meet again in the other shore of life.
Sahabat kalian,
Danny”

Seminggu setelah kematian Danny…
Di bukit favorit kami, aku dan Fern berbaring di samping kanan kiri makam Danny dan menanti komet yang Fern temukan melintasi bumi. Kata Fern, komet itu akan muncul dalam hitungan menit dari saat ini. Benar saja, tiga menit kemudian, komet itu muncul. Komet itu sangat indah, besar, dan terang. Ekornya panjang sepanjang horizon. Mungkin komet itu adalah yang terindah dari semua komet yang kutahu. Fern akhirnya menepati janjinya sepuluh tahun lalu, yaitu menunjukkan kami bukti prestasinya di NASA.

“Danny, Jo, akhirnya aku tahu nama yang tepat untuk komet itu.” Kata Fern.

“Apa itu?” tanyaku penasaran.

Fern menamai komet itu ‘Agape’. Fern menamai komet itu demikian karena ia ingin terus mengenang kasih ‘Agape’ Danny yang benar-benar tulus. Aku setuju dengan Fern. Dalam hidupnya, Danny selalu memberikan yang terbaik bagi teman-temannya dan tak pernah meminta sesuatu untuk dirinya sendiri. Komet itu benar-benar melambangkan kepribadian Danny. Sinarnya seterang, sebesar, dan seindah kasih yang Danny berikan. Ekornya sepanjang kesabaran dan kasih Danny yang tak berkesudahan bagi kami dan orang-orang yang mengenalnya.

Kami berdua beranjak dan menyandarkan punggung kami ke batu nisan Danny dan menikmati indahnya pemandangan kota dari kejauhan. Lampu-lampu dari gedung pencakar langit tersebar sepanjang mata memandang bagai ribuan bintang di tengah langit malam. Cahaya-cahaya yang bergerak maju mundur atau berbelok dari kendaraan bermotor yang berlalu lalang juga tak mau kalah menghiasi pemandangan malam. Aku mendongakkan kepalaku ke langit biru gelap dan memejamkan mataku. Danny, apa kamu juga lihat apa yang kami lihat?

Aku tidak tahu apakah Danny mendengar pertanyaanku atau tidak dari atas sana, tapi entah kenapa hatiku berkata ya.

Iya, Jo. Aku melihat komet itu bersama kalian. Terima kasih.

The End

Cerpen Karangan: Jovita Amanda S
Facebook: Jo Zhao

Cerpen Promises on The Hill merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Impian Dan Kematian

Oleh:
Umur 2 tahun kematian hampir menjemputnya, tapi Allah masih mengizinkan ia untuk merasakan bagaimana kehidupan. Ada seorang gadis yang berkelahiran tahun 1990. Dia memiliki impian yang sangat mulia, dia

Jangan Bohong Kak

Oleh:
Aku punya kakak. Dia tinggi dan tampan. Dia segalanya bagiku. Sejak orangtuaku meninggal, aku hanya bergantung padanya. Dia selalu melakukan hal yang benar. Dia sempurna. Kadang, jika aku punya

7200 Hari

Oleh:
Hari ke 6120 dalam hidupku. Dari pertama aku lahir, sampai tepat pada ketujuh belas usiaku. Aku tidak setua itu, kan? Tujuh belas tahun adalah masa di mana aku harus

Cinta Tak Sampai

Oleh:
Sudah lama ku mengenalnya. Kira kira 5 tahun yang lalu. Ketika aku duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama. Sampai saat ini kita satu kelas dan satu sekolahan.

Cinta Dalam Diam

Oleh:
“Memang aku bukan pendengar yang baik tapi aku mampu merasakan apa yang kamu rasakan.. Inginku selalu ada dekatmu tapi apa daya tak cukup nyaliku untuk mendekatimu.. mungkin rasa yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *