Puisi Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 March 2016

Aku kalah dalam sebuah pertaruhan. Pertaruhan konyol yang sudah diketahui pemenangnya. Gio. Bodohnya, aku tetap mengikuti keinginannya untuk bertaruh. Dan sebagai akibatnya, sekarang aku harus menuangkan isi pikiranku di atas secarik kertas untuk membuatkannya sebuah puisi. Hingga setengah jam berlalu, aku belum berhasil menentukan apa yang akan ku tulis. Gio mulai gusar, dia mulai banyak bertanya.

“Kapan sih selesainya? Satu kata aja belum, gimana sih?” tanyanya tak bersalah. Laki-laki satu ini memang orang yang sangat menyebalkan. Dia begitu sering mengajakku untuk melakukan sebuah pertaruhan, dan setiap kali bertaruh aku selalu kalah. “Lo pikir gue penyair apa? Kenapa lo sering banget nyuruh gue nulis puisi?” Ucapku dengan nada ketus. Dia menatapku geli. “Siapa suruh gak bisa menang taruhan? Lo kan bisa usaha supaya menang.”

“Huh, benar-benar. Tadi kan lo yang maksa taruhan.”
“Udah, jangan ngeluh. Lo jadi cewek jangan suka cari kesalahan orang. Apalagi cari kesalahan cowok. Nanti cowok-cowok pada gak suka sama lo.”
“Yee, tanpa cari kesalahan pun, cowok-cowok gak ada yang akan suka sama gue.”
Hahaha.. benar juga ya. Siapa juga yang akan suka sama lo..”

Ekspresi wajahku berubah drastis, aku menyadari itu. Seharusnya aku tidak mengatakan itu tadi. Sebab ucapan itu telah memancingnya mengucapkan sesuatu yang membuat perasaanku mendadak berubah menjadi tidak keruan. Perasaan ini seakan membuat napasku tertahan di tenggorokan. “Tadi gue mau bilang gak ada cowok yang akan suka sama lo. Tapi, ada satu orang cowok yang sedang menyukai lo, yaitu gue.” Dia memamerkan senyum lebarnya dan mengangkat sebelah alisnya. Matanya berbinar-binar. “Ahh, kepala gue tiba-tiba sakit dengerin gombalan lo. Udah deh, gue lanjutin aja buat puisi untuk lo.”

Mengapa harus terjadi? Mengapa jantungku harus berdetak begitu cepat setelah mendengar dia mengatakan gombalan itu? Padahal, aku tahu bagi dia itu hanya sebuah lelucon. Dia bahkan hanya menganggap semua yang telah terjadi antara kami sejak pertama kali bertemu adalah pertemanan biasa seperti yang dirasakannya dengan orang lain. Aku teringat kejadian 3 tahun lalu. Saat pertama kali aku bertemu Gio. Kami bertemu di sebuah tempat wisata air. Aku dan teman-temanku sedang dalam tugas kelompok pembuatan video wisata air.

Aku sedang menggenggam semangkuk mie instan saat teman-temanku memanggilku untuk merekam mereka yang sedang berenang. Menit itu juga, tiba-tiba tubuhku tersenggol oleh seseorang. Gio. Dalam sekejap, tubuhku basah. Mie dalam genggamanku juga ikut masuk ke dalam kolam renang. Aku tidak membawa baju ganti, sebab hari itu aku memang sedang sakit dan tidak berniat berenang. Dia meminta maaf kepadaku dengan mimik wajah yang menunjukkan penyesalan. Dengan keadaan hati yang begitu buruk dan tubuh yang menggigil, jelas bahwa saat itu aku memaki-maki dia sebisaku.

“Lo gak bisa lihat atau gimana?”
“Kalau seandainya gue mati kaget karena kecebur ke kolam renang gimana?” omelan-omelanku saat itu jika diingat-ingat benar-benar menggelikan. Apalagi jika ku ceritakan kembali pada Gio yang sudah menjadi temanku ini.

Ya, kami mulai sering berkomunikasi sejak saat itu. Dua tahun terakhir, aku dan Gio menjadi teman baik. Tanpa ku sadari, waktu membuatku perlahan memiliki rasa cemburu saat dia bersama orang lain. Sikapnya kepadaku memang sangat biasa, bahkan terkesan menyebalkan, entah kenapa aku bisa menyukai sosok ini. Mungkin karena dia orang yang perhatian. Gio memang sering menghabiskan waktu bersamaku, menyempatkan waktunya untuk datang ke rumahku. Jika tidak tahu apa yang akan dilakukan, kami terkadang membantu ibu memasak untuk nasi kotak jualannya.

Gio tiba-tiba menepuk pundakku, “Hei.. Nentuin kata-kata aja selama itu mikirnya.” Ucapan itu sontak memecahkan lamunanku. Aku menjadi sedikit salah tingkah. Dia mengembangkan senyumnya, “Jangan terlalu romantis kali, yang buat gue agak tersentuh aja. Tapi jangan sampe bikin gue nangis sesenggukan,” ucapan itu diikuti dengan tawa kebahagiaannya. Aku begitu ingin mencekiknya dengan cengkeraman di lehernya yang super kuat agar dia bisa meminta maaf kepadaku. Namun, aku terhenyak sesaat.

“Eh… ya iyalah. Untuk apa juga gue nulis puisi yang romantis buat lo.”
“Idih. Ya udah deh gue mau baca komik lo aja. Entar kalau gue ngelihatin lo mulu, lo jadi salah tingkah, puisinya nanti gak selesai lagi.” Aku menarik napas panjang dan membuangnya dengan berat. “Terlalu percaya diri deh lo. Ambil aja komiknya di rak buku yang ada di dekat tv.”

Dia beranjak dari sofa ke rak buku untuk mengambil sebuah komik setelah mendengar petunjuk dariku. Dia memilih-milih komik yang akan dibacanya. Setelah mendapatkannya, dia kembali ke sofa di sampingku dan mulai membaca komik itu. Perasaanku agak sedikit terguncang dengan semua percakapan tadi, tapi aku bisa mengendalikannya. Aku bisa tertawa keras setelah menangis. Aku mengendalikan perasaanku, berubah menjadi ceria kembali, dan kembali menulis. Yuhu! Puisi karyaku sudah selesai. Aku melirik Gio. Aku menyenggol tangannya dan tersenyum lebar. “Gio, sudah selesai nih puisi gue.” Dia menoleh dan langsung mengambil puisiku.

Dia membacanya dengan pandangan yang fokus sambil melakukan hal yang menjadi ciri khasnya. Menggigit bibir bagian bawah. Entah kenapa dia melakukan itu. Sesuatu melintas di benakku. Sejak satu tahun lalu, setiap hari, tepatnya setiap sore hari seorang bajingan selalu datang untuk mengganggu hidupku dan ibuku. Badan kekarnya digunakan untuk meminta uang dan makanan dalam jumlah banyak. Bahkan, permintaan makanan dalam jumlah banyak itu tidak jarang membuatku dan ibuku tidak bisa makan karena apa yang dimintanya terlalu banyak sehingga tidak ada lagi sisa untuk kami. Apabila ada keinginannya yang tidak kami berikan, lantas aku dan ibuku mendapat kekerasan darinya.

“Gio, bajingan itu ke mana ya? Sudah lebih dari seminggu dia gak datang ke rumah ini.”
Matanya melirik tajam ke arahku. Aku sudah tahu, dia pasti merasa heran mendengar pertanyaanku.
“Bajingan? Oh iya. Preman itu ya? Mana gue tahu. Kenapa juga lo nanya gue? Bukannya bagus kalau dia gak datang ke mari?” Benar juga. Sangat bagus jika dia tidak datang ke rumahku. Ibuku tidak perlu merasa khawatir apa yang harus diberikan kepada bajingan itu. “Iya sih.. lo bener.”

Aku melebarkan mulutku dan mulai menguap. Perlahan, aku terus mengusap mataku agar tidak kembali merasa mengantuk. Aku hendak mengecek ponselku. Selama seminggu setelah aku menuliskan puisi untuk Gio, dia tidak menghubungiku lagi. Padahal, aku tidak menginginkan banyak dari Gio, hanya sebuah pesan singkat yang berisikan sebuah kalimat ucapan terima kasih sudah membuat perasaanku tenang.

Sudut-sudut bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman saat ku dengar ponselku berbunyi menandakan sebuah pesan singkat yang diterima. Hatiku menjadi sangat girang saat akan membuka pesan itu. Sontak mataku terbelalak saat membaca isinya. “Terima kasih untuk puisinya. Tiara, kau tahu kan setiap hal di dunia ini ada masanya? Kau sekarang tidak perlu lagi berpikir keras untuk menciptakan sebuah puisi untukku. Masa-masa untuk menuliskan puisi untukku sudah berakhir.” Isi pesan itu membuatku tercengang.

Aku mencoba meneleponnya, namun ponselnya tidak aktif. Bagaimanapun, aku harus mendapat penjelasan mengenai isi pesan singkat itu. Aku mencari ke rumah kontrakan yang ditempatinya. Kosong. Tidak habis pikir, aku mencari informasi ke tetangganya. Para tetangga itu menunjukkan wajah penyesalan dan juga kecewa saat menjawab pertanyaanku. Aku betul-betul terkejut saat mengetahuinya. Dia dibawa oleh polisi? Tanpa banyak tanya, aku langsung bergegas pergi ke kantor polisi. “Kenapa? Apa yang terjadi?” Aku begitu ingin memeluknya saat aku melihat tatapannya yang nanar. Aku ingin membuatnya merasa lebih nyaman, dia pasti sedang merasakan sebuah ketidakadilan. Polisi pasti menangkap orang yang salah.

“Aku melakukan kesalahan. Kesalahan yang tidak akan ku sesali.” Gaya bahasanya tidak seperti Gio yang ku kenal. Gio yang biasanya sangat gaul dan ceria. Tapi, Gio yang berdiri di hadapanku sekarang? Dia amat berbeda. Bahkan, dia tidak bertanya tentang kehadiranku di sini.
“Apa maksud lo? Gak akan ada yang lo sesali karena lo kan memang gak melakukan apa-apa. Ini nggak adil, Gio. Lo ngomong gini karena lo diancam kan?”
“Bajingan itu, kau tahu? Aku telah membunuhnya.” Aku memandangnya tidak percaya. Namun, tatapan matanya berusaha untuk meyakinkanku. Matanya menatapku dalam.

“Semua puisimu sangat indah. Maaf jika aku tidak pernah mengakuinya. Tiara, aku belajar dari puisimu dan juga setiap hal yang telah berhasil kau lakukan dengan baik. Aku memahami, apa pun yang memiliki rupa indah di dunia ini, tentunya dia telah melewati banyak proses yang sulit. Begitu juga hidupmu saat ini, Tiara. Proses yang menyakitkan sudah kau alami, ini saatnya untuk mengakhirinya. Kau perlu tahu, aku membunuhnya bukan hanya untukmu, orang yang berhasil membuatku selalu bertekad membuatmu selalu hadir di dekatku. Tapi juga untuk Ibumu yang pastinya sudah tidak kuat lagi menerima kekerasan darinya. Aku sadar ini tindakan yang salah. Oleh sebab itu, aku menyerahkan diriku ke polisi sekarang. Kau lihat kan? Hidup berbahagialah, karena pengganggu hidupmu sudah tidak ada lagi.”

Air mataku mengalir. Dia meraih tanganku dan mengelusnya.
“Tenang saja. Aku tidak apa-apa kau berbahagia tanpaku untuk beberapa tahun. Aku yakin akan ada akhir bahagia.”
“Tapi…”
“Sudahlah… Jadilah kuat dan pegang keyakinanmu untuk membangun sebuah kehidupan yang lebih baik. Aku menyayangimu. Begitu juga Ibumu.”

Aku tersenyum. “Kau perlu tahu, Gio. Bajingan itu Ayahku. Ayah yang tidak pernah menyayangiku. Dia meninggalkan Ibuku tidak lama setelah aku lahir. Selama ini, aku tidak pernah mengakui Ayahku masih hidup, aku selalu mengatakan dia sudah meninggal. Gio, aku pernah bertekad membunuhnya karena dia kembali dan berlaku tidak manusiawi. Aku hanya ingin memberitahumu yang sebenarnya.”

Cerpen Karangan: Pidyatama Putri Situmorang
Facebook: https://www.facebook.com/Pidyatamaputri

Cerpen Puisi Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Itu Menyenangkan

Oleh:
Mentari pagi membangunkan Deril dari tidur lelapnya malam ini. Ia bangun cepat, karena hari ini adalah hari pertama ia menjadi siswa di SMA Tunas Bangsa. Ia segera mandi, mandi,

Tiga Sekawan

Oleh:
Berawal dari jam 24:00 tepat pada hari Jum’at, itu adalah hari kesukaan saya, “Ah…!!!, sial aku hari ini kesiangan”. Jam dinding menunjukan pukul 06:00, aku langsung bergegas ke kamar

Perpisahan

Oleh:
Dulu pada saat kelas 1-2 sd aku bersahabat dengan Nichlah dan Knya. pada kelas 2 semester 2 knya pindah sekoalah, entah apa alasannya ia meninggalkan kami. Tahun terus berlanjut

Merpati Persahabatan

Oleh:
Ini kisahku ketika masih duduk di bangku SMK. Aku mempunyai 5 orang sahabat yang aku sayangi, Dewi, Dian, Erna, Lezta dan Rahma. Kala itu kami kenal akrab sejak kelas

Pangeran Mendung Pagi

Oleh:
Pagi meruapkan aroma yang khas, dingin membisu, penuh magis yang bisa membuat orang-orang tertegun pada indahnya mentari bangkit dari persembunyiannya. Seusai shalat subuh, aku segera menyambar segala aktivitas pagi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *