Pukul 15.00

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 March 2017

“kau tetap temanku, walau dirimu tak menganggapku ada.”

Mata Vina melihat langit-langit kamarnya setelah terbangun dari mimpi buruknya, peristiwa dimana dirinya melakukan dialog terakhir dengan salah satu temannya, Syifa.

flasbakc on
“…hasilnya 237. (melihat dari 20 siswa kelas 10 IPA 3 hanya kalangan murid berstatus nerd yang masih terjaga.) bangunkan teman kalian yang tertidur.” perintah pak bambang dengan suara yang tak pernah terkesan galak.

“membangunkan mereka akan membuang waktu saja.” pendapat siswi berbando biru toska yang masih asik membuat catatan di buku bersampul coklat kardus mie instan itu.

Pak bambang melanjutkan pelajaran matematikanya yang hanya didengar tak lebih dari 10 penghuni kelas itu.

14.00
“Cukup sekian dari bapak, ketua kelas” pak bambang mengakhiri pelajarannya.

“siap, berdoa mulai” ketua kelas memimpin doa yang hanya dipatuhi setengah teman kelasnya, karena lainya masih bermimpi.

14.10
“nanti ke warnet ya, kau jangan lupa bawa banyak uang” siswa bertubuh bulat itu merangkul pada lelaki berkacamata tebal sebelum mengangkat kaki dari kelas 10 IPA 3.

Di belakangnya Vina berniat keluar kelas dengan ragu ragu karena Syifa, siswa yang menganggapnya sebagai satu satunya teman yang Syifa miliki, kini tengah tertidur pulas walau yang lainnya sudah terbangun dari tidur rutin mereka di setiap mapel matematika.

“dor!” Dela mengagetkan syifa, gadis yang tak lelah ia bully di masa putib abu abu nya bersama 2 anak buahnya.

Terlihat di mata kepala Vina, syifa mengerjap kecil saat dikagetkan Dela dkk.
Ah, dia pasti bangun dan akan segera pulang. Pikir Vina di batinnya, lalu pergi pulang.

Namun tidak, syifa masih terduduk dengan kepala menunduk. Setelah Dela dkk menjahili syifa, siswi malang ini tak kunjung bangun sampai Dela puas membullynya, lalu meninggalkan syifa.

15.00
Syifa menghembuskan nafas terakhirnya.
Ditemani dinginnya malam, ia baru diketemukan pukul 9 malam setelah penjaga mengecek seluruh bangunan sma cakrawala.

Flasback off

11 IPA 3
1 tahun meninggalnya Syifa.
Vina mendekati lokernya, kemudian dilihatnya foto yang menampakkan dirinya dengan Syifa teman rahasianya ‘kau tetap temanku walau dirimu tak menganggapku, karena ku takut kau juga dibully.’ tulisan Syifa dengan tulus, berhasil membuat tangis Vina pecah.

“Mengapa saat itu tak ada satu orang pun yang bertanya apakah anakku baik baik saja?”

Ucapan mama Syifa saat mengadakan rapat disiplin siswa terbayang di kepala Vina yang membuat dirinya makin menyesal.

“Vina sudah waktunya,” Anna sahabat Vina merangkul Vina dan menenangkan Vina, lalu menuju kelas 10 IPA 3 untuk memdoakan syifa, sahabat yang menyadarkannya apa arti teman sesungguhnya.

Mapel matematika di 11 IPA 3

Pak bambang melotot marah
“cepat bangunkan teman kalian yang tertidur!”

Siswa di sana lantas membangunkan teman mereka yang tengah tidur dengan cara unik

“riko, ada guru cantik di depan” seketika berkat bisikan andri, riko membuka mata.

“seila, lagu bts-I need you diputar di speaker sekolah” cara Luna membangunkan army IPA 3 dan berhasil.

“syifa, bangunlah. Melangkahlah ke surga” batin vina, kepada syifa yang tak bisa dilihatnya lagi di dunia.

Cerpen Karangan: Yusriyyah Adibah
Facebook: Yusri.adibah

Cerpen Pukul 15.00 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenalkan Aku Pada Cinta

Oleh:
CINTA, aku rasa semua orang sudah mengenal cinta, mulai dari anak-anak, remaja, dan yang usianya sudah tidak muda lagi pun tau. Kini aku sudah kelas 1 smp, aku ingin

Perasaan Ini

Oleh:
“Perasaan ini.. rasanya tidak akan pernah berubah, sampai kapan pun.” Namaku Azka Amrina Natalia. Aku tidak tahu, alasan apa aku hidup di dunia ini. Aku tidak memiliki kesukaan yang

Ahh… Hidup (Part 1)

Oleh:
Aphan namaku. Umurku 16 tahun saat ini. Dan di sinilah aku, di bawah naungan pondok kecil yang aku buat beberapa pekan lalu bersama teman-temanku. Perempuan itu duduk di tepi

Senyum Seindah Pelangi

Oleh:
Semuanya seperti deja vu. Masih terukir dengan jelas di benakku, tentang hari itu. Di saat butiran-butiran air berjatuhan dari langit. Petir pun seolah tak mau kalah meramaikan suasana dengan

Bukan Titik

Oleh:
Sudah seminggu sahabatku, Dinda meninggalkanku. Bukan pergi untuk satu dua hari, tapi untuk selamanya. Ya, dia meninggal dunia. Karena penyakit itu, penyakit hati yang menggerogoti tubuhnya. Ternyata, lama sebelum

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *