R.I.P

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan), Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 May 2013

Kau terbang menghampiriku.
“Sendiri?” tanyamu.
Aku menggelengkan kepala, tidak mau menjawab, maksudku. Tetapi sepertinya kau salah mengerti.
“Ooo. Di mana sahabat-sahabatmu?”
Sebenarnya kamu siapa? Untuk apa menanyakan sahabat-sahabatku? Pergilah. Aku ingin sendiri. Ku tak ingin seorang pun mengganggu, tidak juga kau.
Aku mengangkat bahu sekedarnya hanya untuk menghargai pertanyaan dan kehadiranmu yang tak kuharapkan. Tapi, nampaknya kau masih salah mengerti.
“Mereka belum datang?”
Mereka telah pergi.
“Atau mereka pergi sebentar?”
Tidak seperti yang kau bayangkan. Kau tentu berpikir, barusan sahabat-sahabatku ada bersamaku, lalu beberapa menit sebelum kau datang, mereka pergi meninggalkan aku. Mungkin ke ujung kampung, mungkin ke tengah kampung, mungkin ke toilet atau entah ke mana saja. Kau pikir mereka pergi sebentar saja untuk satu keperluan kecil dan akan segera kembali.
Maaf, aku tak sedang ingin menjawab pertanyaan-pertayaanmu.
Kuhela nafas dalam-dalam dan hembuskan sekaligus. Aku berharap dengan begitu engkau dapat mengerti kalau yang terjadi tak sesedarhana yang kau pikirkan.
“Ya” katamu seraya menghembuskan nafas pula, “hari-hari terakhir ini memang sangat panas.”
Benar. Hari-hari terakhir ini memang sangat panas. Tetapi, lagi-lagi kau salah mengerti. Rupanya kau tak begitu pandai membaca bahasa tubuh. Tarikan dan hembusan nafasku tadi bukan karena panas yang menyengat ini.
“Aku sering memperhatikan kalian berkumpul di sini.”
“O ya?” Kau sering memperhatikan kami? “Terima Kasih.” Tapi, apa itu penting bagi kami?
“Sepertinya kalian begitu akrab.”
Sebenarnya lebih dari sekedar akrab, karib, dekat, erat, maupun…
Ya sudahlah, tak mengapa jika kau gambarkan hubungan kami seperti itu. Itu yang kau lihat. Meski memang berbeda dengan yang kami jalani. Tidak apa-apa.
“Apa kau sedang ada masalah?”
“Mmm? Tidak.”
Maaf sobat, aku sedang tidak ingin menceritakan padamu apa yang sebenarnya sedang ku alami.
“Apa kau sedang bersedih?”
Lebih dari sedih sobat.
“Tidak.” Sebaiknya aku tidak jujur padamu. “Aku tidak sedang bersedih.”
“Ooo.”
Syukurlah jika kau percaya pada jawabanku. Aku tak perlu menjelaskan kepadamu mengapa aku bersedih. Aku pun tak mesti menceritakan kepadamu apa yang tejadi baru-baru ini.
“Ke mana sahabat-sahabatmu? Mereka belum juga kembali. Lama sekali mereka pergi?”
Tidak salah lagi. Kau telah salah mengerti. Kau kira sahabat-sahabatku pergi ke suatu tempat yang tak terlalu penting, untuk keperluan sepele. Kau pikir mereka pergi sebentar dan akan kembali lagi. Sekali lagi, kau salah.
“Apa mereka menyuruhmu menunggu di sini?”
Tidak pernah. Mereka tak meninggalkan secarik pesan pun.
“Tunggu saja. Mungkin mereka akan segera datang. Mungkin juga…” mereka tak akan kembali.
“Apa kau tidak keberatan jika aku menemanimu menunggu sahabat-sahabatmu datang?”
Aku ingin sendiri tetapi… “Terima kasih sobat. Aku senang bila engkau tulus ingin menemaniku.”
Jika ingin berkata jujur, aku sebenarnya ragu dengan niatmu. Sampai kapan kau akan bertahan bersamaku menunggu mereka?
“Maaf. Apa boleh ku tanyakan sesuatu lagi padamu?”
“Tanyakan saja.” Aku pun ingin bertanya padamu sobat, apa kau wartawan? Sejak tadi kau hanya bertanya. “Jika aku dapat menjawab, akan ku jawab.”
“Maafkan aku jika aku lancang. Apa kalian berlima datang dari tanah Timur Jauh? Aku bertanya demikian karena warna sayap kalian…”
“Kau benar sobat.” Sadarkah kau? Ini kali pertama kau berkata benar. “Kami datang dari tanah seberang, tanah Timur Jauh. Sayap kami hitam, jauh berbeda dengan punyamu.”
“Maukah kalian menerimaku sebagai sahabat?”
“Hahaha…” Menjadi sahabat? “Benarkah sobat?” Mestinya akulah yang bertanya demikian kepadamu, sebab diriku jauh dari sempurna. “Aku tentu sungguh bahagia bisa menjadi sahabatmu”
“Hahaha… sudah kuduga, kalian begitu bersahabat.”
“Terima kasih.” Andai saja kejadian itu tak terjadi, tentu sahabatmu kini tak hanya diriku.
“Bagaimana jika sambil menunggu mereka pulang, aku pergi sebentar mencari sedikit makanan dan minuman. Kau tentu haus dan lapar. Aku akan bawakan pula untuk mereka berempat”
“Terima kasih, Sobat.”
Sobat, apa kau satu-satunya kumbang yang tak tahu apa yang terjadi beberapa hari lalu di kota ini? Tentang sekelompok manusia bertopeng yang lari berhamburan masuk gedung itu. Mereka membawa serta masing-masing sepucuk senjata api yang dapat meletus kapan saja, membunuh siapa saja.
Ketika itu, kami sedang menikmati angin sepoi. Kelompok manusia bertopeng itu lari berhamburan melintasi taman ini. Kami panik. Beberapa saat sebelum terdengar bunyi letusan senjata api dan pekik kemenangan di gedung itu, isi perut sahabat-sahabatku telah terburai keluar di taman ini. Sepatu kulit mereka sudah meremukkan tubuh empat sahabatku.
Sahabat-sahabatku telah pergi dan tak akan kembali. Kini, kau pergi pula. Semoga hanya sebentar. Aku di sini. Apa yang dapat ku lakukan? Aku hanya bisa menunggu.
Kumbang-kumbang yang malang. RIP.

Cerpen Karangan: Oan Wutun
Facebook: oan wutun
Penulis adalah seorang pemula. Semoga ada yang berkesempatan membaca tulisan ini. Kritik dan saran, sungguh penulis harapkan, demi perkembangan penulis. teriam kasih samua…
Facebook:oan wutun

Cerpen R.I.P merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aksara Tak Bisu

Oleh:
Bukit itu terlalu sunyi untuk di katakan wajar. Setelah dipersilahkan masuk ke rumah orang tua itu, aku duduk pada kursi di ruang tamu. Ia meraih sebungkus tembakau kasar. Disodorkannya

You Are My Chingu

Oleh:
Memiliki chingu (sahabat) memang indah. Benar kata orang-orang kalau sahabat memang selalu ada didekatmu walau bagaimanapun keadaanmu. Begitulah yang kurasakan sekarang ini. Aku memiliki 4 orang chingu yaitu Yuri,

Ayah

Oleh:
Seperti biasa ketika liburan sudah mulai tiba aku selalu menginap di rumah nenekku, kebetulan ketika itu aku sedang kesal kepada ayahku karena ayah tidak mengizinkanku pergi ke dunia fantasi

The Way

Oleh:
Mentari berwarna oranye mulai menghiasi wajah langit di atas sana. Lagit biru dengan goresan lembut berwarna putih itu menambah penampilan yang kian cantik. Suara nyanyian merdu si makhluk bersayap

Kesedihanku

Oleh:
Sampai saat ini, yang menurutku telah 21 hari aku berada di sini, seingatku tak ada seorang pun dari keluargaku yang datang menjenguk. Suamiku, anak-anakku, ayah, ibu, mertuaku, semuanya. Tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “R.I.P”

  1. MisterAdli says:

    Perfect !!

    Saya rasa kita berlindung pada pakem yang sama gan.. :D. Meracik fakta-fakta yang tertutupi kepentingan maksud dan tujuan. Mlihat sisi lain dari peristiwa. Rindu atas perimbangan informasi. Namun ada batasan bagi setiap apa itu.

    Sastrta memberi tuang lebih bagi tiap eksplorasi. Memasukkan fakta dalam cerpen mengarahkan pembaca akan sebuah memoar kelam yang semua orang pun tahu arahnya kemanana, yang di tuju apa dan siapa. Salut.

    Maaf..saya baru hari ini sempat membaca cerpen sahabat Oan Wutun. Setelah membaca penuh.. Saya jadi mengerti kenapa sahabat tertarik membaca cerpen pertama saya. Ada kesamaaan pandangan dan orientasi di dalamnya. Ada nafas yang sama. Saudara Oan pasti mengerti yang saya maksud. Proses kelahiran cerpen Ayah, Aku Bangga Padamu!! Catatan putra seorang koruptor. Bibit idenya Tak jauh berbeda dengan cerpen ini. Keterbatasan dan batasan.

    Salam satu jiwa..terakhir saya kutip quote dari seorang penulis yang secara tridak langsung “mengajarkan” saya bagaimana caranya menyampaikan…

    “Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara!” ~ SGA.

    Salam.

  2. oan wutun says:

    Mantap!!! makasih mas Bro…
    Senang bisa punya pandangan yang sama tentang realita sekitar. Yang mapan, yang tetap, yang seragam, yang otoriter, mesti kita bongkar. Semoga kisah-kisah yang kita lahirkan sungguh bisa meneriakkan suara kaum tak bersuara…
    Ada banyak penulis. Tapi tak banyak yang menulis dengan kepekaan terhadap realita.
    OK. Lanjutkan “tulis-tulis” kita. Angkat tangan tinggi-tinggi, lalu teriak: “Ini zaman kita!!!”

  3. Dwipayana K says:

    gaya penulisan yg saya sukai ada di cerpen ini, tidak perlu menjelaskan panjang lebar dengan metafora yg ada, kata – kata di endingnya sudah membuat saya terharu sekaligus tersenyum karena salut dengan karya saudara, keren!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *