Remy ku yang Malang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 September 2014

Remy.
Kelinci putih berbintik bintik hitam yang selalu menemani hari hariku. Remy sangat lucu, imut, manis, namun sayangnya, ia kelinci jantan. Padahal aku sangat berharap untuk memiliki kelinci betina. Dan sayangnya, papa berkata, “satu kelinci saja sudah cukup, Shafa. Jangan terlalu banyak.. Kamu juga kan dulu yang menginginkan Remy?” Begitulah kata papa. Seringkali aku memohon untuk dibelikan kelinci betina, papa selalu mengucapkan kata kata itu. Dan akhirnya aku menyerah.
Namun, aku memiliki kucing betina. Bubble namanya.
Bulu Bubble berwarna oranye, lucuu sekali. Hidungnya merah muda, sama seperti Remy.
Mereka sangat akur.
Mereka sering bermain bersama, makan bersama, bahkan tidur bersama.
Aku sangat senang mereka akur.

Suatu hari…
Aku akan memberi makan Remy dan Bubble.
Pertama, kuambil piring kecil untuk Bubble. Kemudian meletakkan nasi putih di atas piring tersebut, plus ikan teri kesukaan Bubble. Bubble segera melahap makanannya.
Aku berlari kecil menuju ke dapur. Kuhampiri mama yang sedang memasak.

“Mama, mama…” Panggilku tergesa gesa.
“Iya? Ada apa sayang?” Tanya mama yang sedang berkonsentrasi pada masakannya.
“Ada wortel nggak? Buat Remy makan…” Kataku.
“Mmm…” Mama tampak berfikir. “Mmm… Kemarin sudah habis…” Lanjut mama.
“Yahh… Mm… Kalau sayur kangkung, ma?” Tanyaku lagi. Wajahku terlihat sedikit cemas.
“Memangnya kemarin kita ada beli sayur kangkung?” Mama terlihat bingung. Begitu juga aku. Aku menggeleng seraya berkata, “nggak ada, ma… Yahhh, terus, Remynya gimana nih?” Tanyaku panik. Mama menyodorkanku uang lembar lima puluh ribu. “Beli gih, sana… Nanti Remynya nggak kuat lho…” Kata mama.
Aku pun pergi.

Aku pun pergi ke pasar dengan mengayuh sepeda berwarna merah muda milikku.
Setelah selesai membeli makanan untuk Remy, aku pun bergegas untuk segera pulang.

Saat pulang, aku terlebih dahulu disambut oleh Bubble. Ia mengeong lembut di telingaku. Aku tahu, jika dia begitu, pasti ingin mendapatkan makanan lagi.
“Maaf, Bubble. Makananmu yang tadi kan sudah cukup untuk siang ini. Kasihan Remy. Ia belum makan…” Entah Bubble mengerti atau tidak, aku tak peduli. Aku khawatir dengan Remy.

“Remy… Pus… Pus…” Begitulah aku memanggil Remy.
“Remy? Pus… Pus…” Remy tak juga datang menghampiriku.
“Remy? Kau dimana? Pus… Pus… Pus… Wortelmu sudah datang Remy… Pus… Remy?” Aku sedikit cemas dan panik. Dimana Remy? Apa yang terjadi pada Remy? Bagaimana kalau ia… MATI?

Tak terasa, air mataku meleleh. Mengalir deras bagai hujan yang jatuh ke bumi.
“Re… My…” Tangisku. “Re… Re… Remy…” Air mataku semakin deras.
Sesuatu menyentuh kakiku dari belakang. Aku menoleh. Dan yang menyentuh kakiku adalah… REMY!
Lega rasanya. Syukurlah, Remy tak apa.
“Remy, ini wortel kesukaanmu. Dimakan yah!” Seruku sembari menghapus air mataku.
Remy segera melahap 4 buah wortel yang kuletakkan di atas piring kecil.

“Meong… Meong…” Tiba tiba, suara manja Bubble terdengar di telingaku.
“Bubble!” Seruku.
“Meong…” Jawabnya seolah olah mengerti ucapanku.
“Bubble… Makananmu yang tadi sudah cukup…” Kataku seraya meninggalkan Bubble bersama dengan Remy.

“Ahh…”
Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidurku yang empuk.
Hari ini aku sangat lelah. Benar benar lelah.
Seketika, semuanya menjadi gelap dan berubah…

Aku bermain main di taman bersama Remy dan Bubble. Senang rasanya. “Ahh… Aku lelah. Aku ingin duduk dulu…” Kataku. Mereka tampak sedih.
“Haha… Jika kalian ingin bermain, silahkan saja… Tapi ingat, kalian harus hati hati…” Pesanku.
“Baik, Shafa”
“Apa? Kalian bisa bicara?!” Tanyaku kaget.
“Tentu saja…” Jawab mereka serentak. Mereka hewan ajaib, gumamku mengada ada.

Aku memejamkan mata. Kurang dari satu menit…
“Meong… Shafa, Shafa…!” Panggil Bubble.
“Ada apa? Eh, Remy mana?” Tanyaku.
“Cepat, cepat! Lihat, Remy disana!” Aku pun mengikuti langkah Bubble.

Begitu kagetnya aku, bagai disambar petir.
“Re… My…? Kau… De… Ngar… A… A… A… Aku? Re… My?! Remy?!” Air mataku mulai berjatuhan. Remy tewas karena ditabrak truk mobil.

“RRREEEMMMYYY!!!” Teriakku. Keringat dingin bercucuran. Kuperhatikan sekelilingku… Ini kamarku! Tadi itu mimpi! Syukurlah…

MIIAAAUWWW!!
MIIAAAUWWW!!
MIIAAAUWWW!!

“Kyaaa!” Aku tersentak kaget. Aku segera bangkit dari tempat tidurku dan berlari tergesa gesa, menuju ke asal suara.

Kulihat ada mama, papa, dan tetangga tetangga sebelah sedang berkumpul di halaman rumahku. Ada apa ini?

Aku menghampiri mama dan papa disana.
“Ada apa, ma, pa?” Tanyaku.
“Remy…” Mama tak sanggup berbicara.
“Remy kenapa?” Tanyaku panik.
“Meninggal…” Lanjut mama. Tubuhku kaku, mulutku membisu. Apa benar?

“Dimana Remy sekarang, ma?” Tanyaku.
“Di halaman belakang. Telah terbungkus plastik hitam…” Jawab mama.
Aku berlari cepat dengan air mata yang berderai derai.

Mulutku menganga, melihat plastik hitam di hadapanku.
“Remy? Be… Benarkah… Kau di… Da… Lam…? Remy?!” Aku membuka plastik hitam itu.
“REEMYYYYY!!!!” Jeritku saat melihat Remy yang terkapar. Banyak bekas luka cakaran di tubuhnya.
Tunggu… CAKARAN? Pikiranku langsung tertuju pada Bubble.

Air mataku semakin lama semakin deras, deras dan semakin deras.
Aku berlari ke kamar.

Klik!

Aku mengunci pintu kamarku. Menangis tersedu sedu. Hanya itu yang kulakukan. Begitu cepat rasanya, Remy meninggalkanku. Aku sayang Remy… Aku mencitai Remy… Tetapi, mengapa ia pergi?

Tok! Tok! Tok!
“Sayang… Buka pintunya… Ini mama, nak…” Teriak mama.
“Mama?” Aku segera membuka pintu dan segera menghamburkan diri kepelukan mama.
“Ma… Shafa rindu Remy, ma… Shafa ingin Remy kembali, ma, sekarang… Shafa sa… Sa… Sayang… Remy…” Tangisku menjadi jadi.
“Iya, iya… Mama tahu perasaan kamu, nak. Udah ya, jangan nangis lagi… Cup… Cup… Cup… Anak mama kok cengeng sih. Nanti papa akan membelikanmu kelinci baru, kok…” Mama berusaha menenangkanku.
“Nggak! Shafa nggak mau kelinci baru… Shafa cuma ingin Remy… Shafa sayang Remy…!”
“Nak, jika Tuhan berkehendak mencabut nyawanya, mau bagaimana lagi? Kita tidak tahu takdir… Berusahalah untuk mengikhlaskannya, nak…” Aku terdiam. Perkataan mama benar.
“Kita beli kelinci baru saja, ya?” Tanya mama. Aku menggeleng

“Lho, kok nggak mau?”
“Shafa kan masih punya Bubble, ma…”
“Kamu nggak marah ya, sama Bubble?”
“Nggak, kok, ma. Shafa nggak mau menyakiti hewan. Bagaimanapun juga, Bubble kan ciptaan Tuhan. Kita sebagai manusia harus menjaganya…”
“Anak mama pinter…” Puji mama kepadaku…

“Pus… Pus… Pus… Bubble…” Aku memanggil Bubble dan bermain bersamanya. Bubble tampak senang. Begitu juga aku. Walaupun begitu, aku takkan pernah melupakan REMYKU YANG MALANG.

TAMAT

Cerpen Karangan: Hannisa Tsabitah Aura

Cerpen Remy ku yang Malang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Remang Cahaya Di Sela Ranting Cemara

Oleh:
Remang-remang cahaya di sela ranting cemara, terpancar indah menyorot mataku. Aku menatapnya dengan tatapan kosong dan lamunan di benakku. Aku melamun, melamun merindukannya, merindukan dia yang selalu menemani hari-hariku.

Wayang Indonesia

Oleh:
Teet… teet… teet… {bel tanda masuk kelas berbunyi}. Tak seperti biasanya kali ini bu Eni {wali kelas kami} datang dengan seorang anak perempuan di sampingnya. “Anak anak hari ini

Sahabat Yang Terpisah

Oleh:
“Pokoknya aku nggak mau digituin, Ra! Please!” teriakku keras. “Oke, tapi kalau begitu pertemanan kita putus sampai sini!” teriak Gita tak kalah sengit. Aku menyeringai, “Okelah, deal!” Yah, begitulah

Seekor Anjing Peliharaan dan Seorang Pencuri

Oleh:
Seekor anjing peliharaan yang telah dikebiri lantas kehilangan hasrat dan naluri liarnya, dibelai dengan kasih sayang dan dibuai oleh kesenangan dalam berbagai permainan, karena ia telah menjadi milik seseorang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *