Rene Maafkan Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 August 2013

Hari ini hari selesai UN hari ini pula aku dan sahabatku melepas tegang dengan berjalan-jalan ke puncak bersama teman teman kami yang lain. Aku, Renata, Sindy, Chika, Aldy, ROY dan Beny pergi ke puncak. awalnya aku merasa nyaman dengan keadaan disini. Namun ada yang terlihat aneh dengan sikap Rene. Dia lebih diam dari biasanya dan menjadi sering melamun. Aku menghampirinya yang sejak tadi sendiri. Aku menanyakan tentang keadaannya. Namun dia hanya berkata tidak apa-apa. Ya sudah aku ajak saja Rene menghampiri yang lain.

Kami disini sudah 3 hari dan di hari ketiga ini Aku dan Rene berantem hebat setelah aku tau bahwa Rene sahabat sejak kami dilahirkan hingga saat ini ternyata selama ini dia hanya memanfaatkanku. Aku kesal sekali setelah tidak sengaja aku mendengar obrolan Sindy dan Chika tadi malam. Aku tak menyangka yang selama ini aku anggap sahabat ternyata musuh dalam selimut. Aku menanyakan semua itu pada Rene dan Rene mengakuinya sebelum dia sempat menjelaskan Aku menghentikan ucapannya karena sudah cukup yang aku tau dan aku tak mau jauh lebih sakit dari ini.

Sepanjang perjalanan aku tak bersuara. Rene pun hanya diam sambil menunduk. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Yang jelas aku marah sekali dengannya.

Hari kelulusan diumumkan. Aku melihat kepapan pengumuman dan.. “Waahhh.. Aku lulus. senangnya..” sempat aku mencari nama RENATA KANIA PUTRI di papan pengumuman tersebut. ALHAMDULILAH ternyata sahabatku pun lulus. Selama ini aku tidak tegur sapa dengannya lagi semenjak kejadian di puncak waktu itu. Sebenarnya aku ingin seperti dahulu namun rasa sakit hatiku masih terasa hingga sekarang.

Aku dan teman-temanku berfoto-foto dengan rasa bahagia karena sebentar lagi kami akan memasuki dunia kuliah. Saat berfoto dengan teman-teman aku melihat Rene pergi bersama kedua orang tuanya dengan mobil orang tuanya.
Sempat bertanya dalam benakku mau kemana mereka padahal kelulusan baru saja diumumkan dan Rene pun Lulus. ada apa sebenarnya?

aku memutuskan untuk pulang bersama kedua orang tuaku. Di mobil mama sempat menanyakan mengapa aku tidak mengantar sahabatku Rene ke bandara? mungkin ini jumpa terakhirku bersamanya. Aku bingung dengan ucapan mamaku. Aku bertanya padanya “memang Rene mau pergi kemana?” Mama hanya menjawab “ke Vanesia, Itali. Apakah kamu tidak mengetahuinya?”. “jam berapa pesawatnya berangkat?” Kini ayahku yang menjawab pertayaan ku. “Mungkin setengah jam lalu”. Saat mendengar itu aku meminta pada ayahku agar mengantarku ke bandara. Ayahku mengerti dengan permintaanku.

Setelah sampai bandara ternyata benar pesawat Rene telah terbang sekitar 20 menit yang lalu. Betapa menyesalnya aku.

Aku kebingungan dan setelah sampai di rumah. Kediaman Rene yang bersebelahan dengan rumahku memang tampak sepi tanpa penghuni. Aku langsung masuk ke dalam dan langsung mengunci kamarku. Menangis yang kini bisa aku lakukan. Menyesali pertengkaran itu. Dan menyesal karena tak sempat berpamitan dengannya.

Saat aku keluar kamar Bi minah memberiku selembar kertas yang dititipkan Rene sebelum ke bandara.

Dear best friend

Kanzha
Maafkan aku sebelumnya, aku baru dapat memberi tahu semuanya setelahku pergi. Tak ada maksud untuk ku membuat kau sedih, kecewa, marah, kesal akan tingkah lakuku. Semua yang kau tanyakan padaku itu benar. Tapi aku lakukan itu karena aku ingin bisa sepertimu Zha. Bukan maksudku memanfaatkan keberadaanmu di sisiku. Aku hanya ingin mempunyai banyak teman sepertimu. Sungguh aku sangat menyesal karena sebelumnya tidak jujur padamu. Zha Selama ini aku menderita kanker stadium empat, aku tak kuasa menahan kepedihan. Aku sadari, kau segalanya bagiku, tapi ku tak ingin kau sedih atas penderitaanku. Aku tak ingin canda tawamu harus tergantikan oleh kepedihan. Maafkan aku atas sikapku selama ini padamu yang membuatmu marah padaku. Aku tak memaksamu agar memaafkan ku tapi aku menyesal telah melakukan itu. Maaf… setelah kejadian di puncak lalu, aku sadar akan kesalahan yang aku perbuat. Sebenarnya aku mau jujur dari dulu padamu. Namun, melihat sikapmu yang amat marah padaku. Ku urungkan niat itu. Kau memang pantas marah padaku.
Aku harus berobat keluar negri Zha.. aku akan pergi ke Vanesia.
Aku akan berangkat setelah kelulusan.
Maaf karena aku tak jujur padamu segalanya tentang apa yang aku sembunyikan selama ini. Maafkan aku, Sobat, aku telah mentorehkan luka di hatimu …
Your Friends,
Renata

Ternyata selama ini kau memiliki penyakit kanker Rene.. mengapa kau tak bicara padaku? Aku sayang kamu Rene, aku akan menjagamu Rene… selama ini kau menanggung beban berat. Mengapa kau tak jujur padaku… pikiranku penuh dengan pertanyaan dan keterkejutan dengan isi surat itu.

Aku menyesali semua perbuatanku padanya. Aku ingin menyusulnya ke Vanesia. Aku ingin bisa merawatnya. Aku meminta agar kuliahku di Vanesia saja dengan alasan agar bisa bersama Rene bersekolah disana. Dengan lamanya aku membujuk kedua orang tuaku akhirnya aku diijinkan.
Aku bernapas lega. Vanesia, Aku datang!

Setelah dua hari aku tiba Di Vanesia aku belum juga menemukan kediaman Rene. Setelah lelah menanyakan kesana kemari dengan bahasa Italiku yang pas pas-an. Seharian telah mengelilingi lapangan San Marco. Pencarian Rene diberhentikan sementara. Aku dan ayahku mengunjungi kafe yang bernuansa Indonesia di pinggiran kota yang mendapat julukan The Queen of of the Adriatic. Aku menyimpan foto Rene di meja. Setelah pelayan mengantarkan makanan, pelayan itu mengatakan
“bukankah itu Nona Renata tuan?” Serentak kami kaget. “Apakah kau mengenalnya?” Aku langsung bertanya padanya. “Iya Nona, sebelum aku bekerja disini aku sempat bekerja bersamanya”. “Kau tau tempat tinggalnya bukan?” “Iya Nona”. “Bisakah kau antar kami sekarang kesana”. “Maaf Nona aku masih harus bekerja dan selesai pukul 8 nanti”. “Kumohon antar kami ketempatnya sekarang. Kumohon Nona”. “Tapi Nona..”
Ayahku langsung menghentikan perdebatan kami dan mengatakan kepada pelayan tersebut “biar aku yang meminta izin pada manajer mu”. “Baiklah tuan”.

Entah apa yang dikatakan ayah sehingga manajer itu mengijinkan pelayan itu mengantar kami. Tapi yang jelas aku sudah tak sabar lagi menemui mu sobat. Dalam hatiku terus berkata seperti itu.
Namun, setelah sampai disana yang membuka pintu adalah Tante Indri ibunya Rene. Dia kaget dengan kedatangan ku dan ayahku.

“Khanza…?”
“Tante, Rene ada tante?” Aku langsung menanyakan keberadaannya.
Sebelum menjawab Tante Indri mempersilahkan kami masuk terlebih dahulu. Aku mengulangi pertanyaan ku tadi. “Tante, Rene adakan? Bolehkah Kanzha bertemu dengannya Tante?”
Tante Indri terdiam sejenak sambil mengeluarkan air mata. “Ada apa tante? Apa yang terjadi? Mana Rene tante?” Semua pertanyaan ku lontarkan padanya. Perasaanku mulai tak enak. “Ada apa ini?”

Akhirnya Tante Indri pun bercerita. “Setelah 4 bulan kami berada disini, Keadaan Rene semakin Parah dan saat operasi terakhirnya Rene… Re..ne..”
Tante Indri tak meneruskan ceritanya. Dia hanya tersendu-sendu Menahan isak tangis yang sejak tadi ia tahan.
“Ada apa dengan Rene Tante…”
“Rene baik-baik sajakan tante?”
Tanpa ku sadari air mata jatuh di pipiku.
“Re..ne.. Rene meninggal”. Tangis Tante Indri makin terasa di telingaku dan Aku pun ikut menangis seperti Tante.
“Bolehkah aku melihat makamnya Tante?”
“Ya, akan Tante antar..”

Setelah sampai di makamnya. Aku menangis di pinggir makamnya. Nona pelayan yang juga baru mengetahui bahwa majikannya dulu kini telah tiada. Dia membisikan padaku “Calma gente7, Non, memang sulit sekali menerima kenyataan”.
Mereka akhirnya meninggalkanku dan menungguku di mobil.
“Rene, Aku ke sini untuk menemuimu. Mi macherai8”.
“Rene, stai bene10”.
“Semoga kau baik-baik disana”.
“Rene, Ti Amore11. Maafkan aku Sobat!”

7. Calma gente = Tenanglah
8. Mi piace = aku merindukanmu
10. stai bene = aku baik-baik saja.
11. Rene, Ti amore != Rene, aku menyayangimu!

Cerpen Karangan: Shinta Regita Cahyani / Tata
Facebook: Shinta Regita Cahyani

Cerpen Rene Maafkan Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dream Started in Japan

Oleh:
Alarm berdering terus menerus, aku terbangun dari tidur lalu melamun ke arah jendela dengan gorden berwarna ungu, ya warna favoritku. Tak tahu asal-usul bagaimana aku menyukai warna itu. Aku

Surat Untuk Ibu

Oleh:
Pagi berembun pengingat masa kecilku. Ketika ibu bercerita bahwa sebelum diinjak oleh orang lain ibu berusaha membangunkanku untuk berjalan di air embun pagi itu. Kasih sayang ibu tak terbalas

Ucapan Terakhir Di Ulang Tahunku

Oleh:
Bel alarm berbunyi dengan keras, aku terbangun dari tempat tidurku segera beranjak menuju ke dalam kamar mandi. bersiap untuk segera ke sekolah, setelah beberapa menit di kamar mandi aku

Pesan Untuk Alya

Oleh:
Udara pagi yang sejuk mulai menyapa pagiku. Berjalan dan berlari-lari kecil setiap minggu pagi adalah kegiatan rutin yang biasa aku lakukan untuk program penurunan berat badan (diet), meskipun kelihatannya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *