Rhina

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 January 2016

Ai berlari dengan kencang. Kekhawatiran tergurat di wajahnya. Kaki mungil itu terus meluncur sepanjang koridor berlantai keramik putih. Tatapan cemas beradu dengan kecepatan mata: mencari nomor itu di antara deretan angka yang berjajar. 446. Setelah melihat tanda nomor yang ditempel di depan, Ai meraih gagang pintu. Kaki melangkah getir saat tatapan itu menangkap sosoknya yang terbaring di ranjang. Tangisan terdengar. Ai masuk, berjalan lambat mendekati ranjang. Tya, seorang wanita paruh baya menoleh. Sadar Ai yang baru masuk itu wanita itu mengusap air mata.

“Hari ini Rhina dipindahkan. Rehabilitas tak cocok untuknya,” isaknya. Ai terpekur. Ingatannya berloncatan pada kejadian seminggu yang lalu.

“Ai–” suara menggema di belakang Ai. Terik panas mentari tak membuat gadis itu segera menoleh. Baru setelah namanya dipanggil kembali Ai menolehkan kepala. Tatapannya menangkap Gea, teman sebangkunya.
“Apa?” tanya Ai dengan sedikit bernada kesal.
“Hari ini antar aku beli baju ke mall, ya?”
“Mall?”
“Iya, mau ya?”
“Nggak. Aku sibuk.”

“Sibuk?” Gea mengernyitkan alis, “Bukankah kau selalu belajar jika pulang sekolah,” katanya. “Daripada seperti itu lebih baik ikut aku. Mau ya?”
Ai terdiam sejenak. “Baiklah. Aku akan ikut.”
“He, Thank You!” Window Shopping di mall tak membuat Ai senang. Hanya Gea yang bersemangat berkeliling, mencari barang-barang yang ingin dibelinya. Gea berteriak ketika mereka di depan toko sepatu.

“Aii, ke mari!”
Langkah Ai disetir lambat. “Apa?”
“Yang mana menurutmu yang bagus?”
Dua model sepatu bermerek terpampang di depan Ai. Ai memperhatikan malas, tak sadar Gea kehilangan kesabaran karenanya. “Ai, yang mana?” jerit Gea. Ai menatap Gea datar, “Kenapa kau bertanya padaku?” tanyanya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Gea mengernyit. Tapi tak lama, gadis itu tersenyum sambil berkata, “Karena kau sahabatku!” jelasnya.

“Kau juga jago soal ini. Ayo, mana yang bagus?”
Alis Ai mengernyit. “Sahabat?” gumamnya.
“Tentu saja, makanya yang mana?”
Ai menunjuk sepatu di sebelah kiri. “Selera kita sama,” ucap Gea. “Mbak, tolong bungkus yang ini.”
Gea menyerahkan sepatu yang dipilihnya pada Mbak Penjaga.

“Oh ya, kau tahu Rhina, anak IPA 4?”
Gludug! Ai terperanjat. “Oh. Kenapa dia?” tanyanya balik.
“Dia Wapenja.”
Ai berjengit. “Wapenja?”
“Ya, ku dengar begitu, tapi aku tidak tahu apa itu benar atau tidak.”
Ai seketika diam. Wapenja?

“Kita ke toko itu ya?” pinta Gea tapi respon Ai lambat sehingga ia memperbesar suaranya. “Ai, kita ke sana, hei… kau mendengarku?”
“Ah, maaf. Lebih baik kau sendiri saja. Aku mau pulang.”
“Apa? Ai, kau sudah janji tadi.”
“Aku minta maaf, aku pulang saja.”
“Kenapa? Ayolah…”
“Aku mau pulang!”
Teriakan Ai membuat Gea terpekur.
“Baiklah.”

Ai memencet bel di depan gerbang sebuah rumah mewah. Berdiri dengan cemas, menunggu seseorang ke luar. Tak lama, Bi Eni tergopoh-gopoh membuka pintu gerbang.
“Eh, Nak Aira. Tumben malam-malam main?”
Ai masuk. “Ina ada, Bi?” tanyanya.
“Non Ina, iya ada. Ayo, masuk!”
Ai masuk ke dalam rumah, mengekori Bi Eni ke sebuah kamar. Setelah mengetuk pintu, Bi Eni mengatakan kalau Ai ada di sini.

“Apa?” Suara keras dibalut ketidaksenangan terdengar di dalam.
“Ada teman Non, Nak Aira!”
“Ini aku, Aira!” Ai juga ikut membantu Bi Eni.

Hening. Tak lama pintu dibuka. Rhina muncul dengan rambut acak-acakan. Matanya kuyu, Ai menatapnya cemas. Khawatir dengan kebenaran perkataan Gea. “Apa aku boleh masuk?”
Dengan gelagat malas, Rhina mempersilahkan Ai untuk masuk. Kamar Rhina acak-acakan. Bantal dan guling berserakan di lantai. Ai memungut guling dan menaruhnya di atas ranjang. Rhina duduk di sisi ranjang. Ekpresinya kecut. “Ini ku bawakan kue dari Ibuku!” Rhina menatap kantung yang dipegang Ai lalu mengambilnya. “Terima Kasih.”

Ai terdiam sesaat, “Sebaiknya kau berhenti.”
“Apa maksudmu?”
Ai menghela napas. Mengumpulkan keberanian. “Bagaimana kalau berhenti saja?”
“Berhenti? Apa maksudmu?” Rhina sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Ai.
“Maksudku… sebaiknya kau hentikan saja. Aku tidak mengerti apa alasanmu untuk mencuri morfin. Orang-orang mungkin akan mengetahuinya.”

Rhina terdiam. “Keluar.”
“Apa?” Ai kaget dengan ucapan Rhina.
“Aku bilang keluar!”
“Rhina?”
“Apa kau tuli? Aku bilang keluar! Kalau kau menyuruhku berhenti, aku minta kau keluar sekarang!”

“Rhina, dengarkan dulu. Aku hanya ingin kau berhenti saja. Aku sebagai temanmu hanya ingin kau sadar! Aku tak mau orang-orang membicarakanmu!”
“Biarkan saja. Urus saja dirimu! Lebih baik kau pergi!”
Ai berdiri, “Apa gunanya? Apa gunanya kalau kau menggunakannya. Itu hanya akan membuatmu sakit.”
“Gunanya? Kau tahu jika aku tidak menggunakannya, aku akan kesakitan. Apa kau pikir aku bisa menghentikannya? Apa kau pikir aku bisa mengatasi rasa sakit ini? Kau tidak tahu apa-apa. Jangan menyuruhku berhenti melakukannya. Aku melakukannya untuk hidupku. Kau tahu itu kan?” teriak Rhina keras.

“Rhina!”
“Lebih baik kau urus dirimu, mengerti!”

Ai terbangun dari tidur. Tidur di siang hari membuatnya haus. Ai bangun ketika suara Ibunya terdengar di luar kamar. “Aira, kau sudah bangun?”
“Ya, Ma!” Pintu terbuka dan terlihat wajah ibunya berdiri menatapnya dari jarak pintu kamar. Karena ekspresi Ibunya aneh Ai merasa heran.
“Ada apa, Ibu?”
“Tadi Ibu Rhina telepon katanya…”

Lari sekencang mungkin, itu yang dapat dilakukan Ai agar segera tiba di rumah sakit. Dia berharap hal itu sama sekali tidak terjadi. Baru kali ini Ai tahu alasan Rhina mencuri obat-obatan. Alasan yang sama sekali tak diduganya. Langkah Ai berhenti di ruang tunggu. Sebuah lampu merah menyala di atas pintu transparan. Tya, Ibu Rhina melihat kedatangannya dengan mata sembab.

“Tante?” ucap Ai dengan nada penuh ketidakpastian.
“Ai, Rhina….” Ai semakin was-was. Ibu Rhina menangis sesegukan. Ini tidak benar, kan?
“Ibu yang tenang ya, semoga Rhina….”
Seorang dokter ke luar dari pintu transparan. Keletihan tergambar di wajah pria tua itu, “Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami turut berduka cita.”
“Tidak,” Ai menggeleng. Itu kata-kata yang selalu ada dalam drama. Tidak mungkin Rhina…

Ledakan tangis Ibu Rhina menyadarkan Ai untuk berusaha tegar. Digenggamnya tangan wanita itu dengan kuat. Ai menggigit bibir. Teringat perkataannya pada Rhina. “Aku tahu, itu mungkin sangat susah untukmu. Tapi aku hanya… ingin kau tak merusak tubuhmu, hanya itu. Aku tak peduli jika itu orang lain, tapi kau temanku, aku memintamu berhenti karena aku peduli.” Rhina terpekur, Ai menatapnya kemudian bergegas pergi keluar.

“Itu yang kau inginkan?”
“Tentu,” angguk Ai.
Rhina berjengit, “Pergilah!”
Ai tak sadar ucapannya adalah bumerang. Rhina sudah lama ingin berhenti. Sesak yang sama membuat Rhina marah, ketika Ai berpikir hal itu adalah alasan yang tepat.

Angin sepoi menerpa Ai di tengah atap rumah. Di atap rumah ini, Rhina selalu menghabiskan waktu dengannya. Sudah hampir sebulan sejak Rhina beristirahat tanpa pamit. Ada hal yang selalu terkenang dari Rhina. Cara berpikirnya yang berbeda. Ai tak tahu apa yang dilakukan Rhina adalah untuk dirinya sendiri. Meski Ai heran, setidaknya jika Rhina berbicara, Ai tak akan memintanya berhenti.

“Kau mendengarkanku, ya?” Ai menatap langit biru. Sebuah hembusan angin menerpanya sekali lagi. Mata Ai terpejam, angin ini membawa kedamaian.

“Ai- Kau di sana? Kau baik-baik saja?” terdengar suara Gea di bawah.
Ai melongok dan tersenyum, “Iya. Aku baik-baik saja sebelum kau datang!”
Gea berkacak pinggang. “Apa? Apa maksudmu? Kau tak suka aku datang?”
Ai bergedik membuat Gea mendelik kasar. “Aku tahu, kau memang tidak suka padaku kan?”

Cerpen Karangan: Chiruna

Cerpen Rhina merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dan Kelulusan

Oleh:
Bulan Mei sudah tiba, saatnya bagiku dan semua teman temanku mengucapkan kata kata terakhir untuk bangku sekolah kami. Masa sekolah kami terisi oleh banyak hal yang tidak terlupakan. Begitu

Senyap Untukmu

Oleh:
Kriiinggg… Kriiinggg… Gubrak! Aku melempar jam berisik itu sekuat tenagaku. Sungguh aku masih ingin terlelap, menghabiskan sisa mimpi semalam. Tapi belum saja genap lima menit aku tenggelam lagi, suara

Meet You

Oleh:
Jomblo, adalah status yang sulit dirubah, tak semudah merubah status di facebook. Kata Jomblo seolah adalah sebuah kata yang sangat menyeramkan untuk diucapkan. Tapi itulah kata yang tertancap padaku.

Mengapa Kau Pergi?

Oleh:
Bagaimana jadinya jika engkau memiliki sejuta impian tetapi kau tidak mungkin bisa menggapainya? Tetapi ada seseorang yang bisa mewujudkan seluruh impianmu itu menjadi kenyataan? Tapi, setelah itu dia pergi

Humor Tuhan

Oleh:
Terkadang, Tuhan punya selera humor yang aneh. Seperti apa yang ku alami hari ini. Lagi, hingga lelah aku menanti, mengusahakan segalanya. Genap 20 kali sudah aku mengikuti berbagai lomba.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *