Rinay Sahabat Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 December 2015

Pagi ini aku berjalan pelan menuju kelasku. Oh ya, namaku Dinda Syahira. Aku punya sahabat. Sahabatku bernama Rinay.
“Dinda! Cepat sini!! Ini penting!!” teriak Rinay saat aku sudah berada di dalam kelas.
“Ada apa sih Rinay?” tanyaku sambil mendekati Rinay.
“Lihat ini! Syasya murid terpintar di sekolah ini ke luar dari sekolah ini,” kata Rinay frustasi.
“Kamu tahu dari mana?!” tanyaku tak kalah frustasi.
“Masa kamu lupa? Mommy-ku kan kepala sekolah di sini. Oh ya, ini kalau kamu mau,” kata Rinay sambil memberiku selembar kertas.
“Apa ini? Oh pengumuman,” gumamku.
“Mommy-ku menyuruhku untuk membagikan pengumuman ini pada seluruh siswa di sekolah ini,” katanya.

“What?! Nanti kamu cape, aku bantu ya?” tawarku.
“Haa? Nggak ahh.. Nggak usah,” tolak Rinay.
“Bener kamu nggak cape?” tanyaku khawatir.
“Nggak kok! Tenang saja..” Rinay tersenyum.
(Ralat, pengumuman itu pengumuman Syasya keluar dari sekolah ini)
“Oh, udah pada datang! Udah dulu ya Dinda bye!” teriak Rinay berlari kecil menuju teman-temannya.
Aku khawatir banget loh sama Rinay, dia itu pasti kalau cape mestinya sakit! Huuhh..

Sepulang sekolah aku lihat Rinay masih membagikan pengumuman itu.
“Rinay! Sudah siang! Ayo pulanglah!” kataku ketus.
“Maafin aku telah membuatmu khawatir.. tapi ini keingingan mommy-ku, beliau bilang aku harus membagikan pengumuman ini sendiri. Karena Mommy-ku ingin aku mandiri!” jelas Rinay.
“Tapi Rin, lihat dong kertas pengumuman itu! Banyak sekali,” kataku.
“Aku tahu Din, seharusnya kamu tahu! Gimana sifat Mommy-ku! Sudah berapa lama kita bersahabat?!” bentak Rinay. Sepertinya amarahnya tidak bisa dikontrol.
“Oh maafkan aku, amarahku tak bisa ku kendalikan,” kata Rinay sambil memelukku. Aku balas memeluknya.

“Rinay, aku minta sama kamu.. Tolong hentikan membagi pengumuman itu,” kataku sambil melepas pelukan.
“Tapi masih ada dua lagi yang harus ku bagi,” kata Rinay lesu, mukanya juga pucat sekali.
“Biar aku saja Rin,” kataku.
“Tidak usah Dinda… Aku kuat kok! Kamu suruh aku angkat lemari aku juga kuat!” kata dia bercanda, tapi aku tidak tertawa.
“Aku tinggal pulang nggak apa-apa?” tanyaku.
“Yess.. Dont worry,” jawab Rinay.
“Assalamualaikum, bye Rinay,” kataku.
“Waalaikumsalam.”

Sampai dirumah aku masih memikirkan Rinay sampai lupa mengucapkan salam. Tiba-tiba Ibu muncul di hadapanku.
“Kok nggak ngucapin salam?!” tanya Ibu dengan nada tinggi, aku tahu Ibu tidak memarahiku. Karena beliau tahu aku sedang sedih.
“Kenapa Dinda putriku?” tanya ibu sambil merangkulku.
“Ibu.. Rinay kasihan..” kataku.
“Memang kenapa? Oke gini aja kamu ganti baju, makan siang sama Ibu, lalu cerita ke Ibu ya?” usul Ibu. Aku mengangguk.

Setelah ganti baju aku ke ruang makan. Makanan kesukaanku! Telur dadar pedas! Horay!! Setelah makan siang aku menceritakkan kejadian di sekolah.
“Tidak apa-apa Dinda, Rinay tidak ingin merepotkan orang lain. Ibu ingin kamu jadi anak seperti Rinay,” kata Ibu.
“Hmmm.. Insya Allah Bu!” kataku semangat.

Esoknya..
“Huaahh..” aku menguap. Aku membaca doa Sesudah tidur. Akhirnya aku aku bisa bangun sendiri tanpa dibangunkan. Ibu ingin aku menjadi anak seperti Rinay, aku juga pengen loh!
“Eh anak Ayah sudah bangun. Cepat Wudu ya nak, kita akan salat subuh berjamaah sama Ibu,” kata ayah.
“Oke deh yah, Bu,” jawabku. Setelah melaksanakan salat subuh, kami bertiga sarapan bersama.
“Sudah Dinda? Ayo kita berangkat!” kata ayah semangat.
“Tumben Ayah semangat,” godaku.
“Iya soalnya bos Ayah ngasih Ayah lemburan banyak banget jadi gaji Ayah akan dilipatkan. Ayah janji deh kalau kamu ranking 1 dapat hadiah,” janji ayah.
“Bener ya Yah?” mataku berbinar.
“Iya dong!” kata ayah.
“Ayah! Dinda! Cepat ke dapur ambil bekalnya,” kata ibu dari dapur.

Setelah ambil bekal, aku dan ayah segera berangkat. Setelah sampai di sekolah aku salim dengan ayah lalu berlari ke kelasku.
“Hikss.. hikss.. hikss..” tangis teman-temanku.
“Assalamualaikum, teman-teman.. Kenapa nangis?” sapaku plus melemparkan pertanyaan.
Zaby mendekatiku dan memelukku. “Tolong ikhlaskan Rinay Din,” kata Zaby menahan tangis, stop deh! Aku nggak ngerti maksudnya.
“Zaby! Apa maksudmu?” tanyaku.

“Rinay jatuh pingsan di jalan. Bu Andri yang menemukan Rinay setelah dicek denyut nadi Rinay… Tidak berdetak lagi. Hiksss…” isak Zaby sambil menjelaskan.
“Ja..ja..jadi maksudmu Rinay meninggal?!” teriakku. Satu per satu air mataku turun.
“Yang.. Hikss sabar.. Ya Dinda.. Ini kenangan buat kamu dari.. Hiksss. Rinay. Kami juga dapat, tapi lebih bagus punya kamu. Dan ini surat khusus untuk kamu. Ternyata Rinay menulis surat untukmu,” kata salma.
“Hikss.. Rinay! Kenapa kamu ninggalin aku sih?! Tega banget kamu Rin!” tangisku.
Aku membuka surat itu. Mau lihat suratnya? Boleh..

“Dear Dinda Syahira, maafin aku kalau selama ini aku banyak salah sama kamu termasuk saat membagi pengumuman. Please maafin aku.. Tolong ikhlaskan aku Din, aku ingin masuk surganya Allah SWT. Jadi kamu dan kawan-kawan please… Ikhlaskan aku ya! Bye Dinda.. Assalamualaikum.” Aku dan kawan-kawan segera mendoakan Rinay.

Cerpen Karangan: Calystazkia
Blog: Ruangtazkia.blogspot.co.id

Cerpen Rinay Sahabat Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengagum Rahasia

Oleh:
“Jangan kau katakan aku lemah jika kau hanya melihatku ketika aku sedang menangis tersedu-sedu” kalimat itu ku katakan kepada sahabatku, Maryam. Maryam kerap kali disapa Mary oleh orang-orang sekampung.

My Live With My Best Friend

Oleh:
Namaku Arnetta fasya sayyidina, Biasa dipanggil, Fasya. Aku anak tunggal. Setiap hari, aku hanya menari nari kan jari jemariku di keyboard laptopku ini. Ya, hanya untuk berfacebookan, atau sekedar

Mengertilah Bi

Oleh:
Hari hari aku bagaikan awan hitam yang menyelimuti langit di angkasa, tak ada sinar cahaya yang menuntunku untuk bisa menyinari orang yang ku sayangi. Perasaan sakit, tak rela, semua

Cinta Pertama

Oleh:
Bunyi burung yang berkicau begitu indah, ditambah lagi langit yang mendung menambah kan hawa yang sejuk di pagi ini… “Eh ra lo gak papa tuh ngeliatin doi lagi sama

Kasih Sayang Seorang Ayah

Oleh:
Hai namaku Aisyah, aku hidup bersama ayahku. Ibu ku sudah meninggal saat ibuku melahirkanku. Aku tak sempat untuk melihat wajahnya. Tapi foto-foto ibulah yang membuat ku menjadi semangat. Ayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *