Roo dan Na

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 June 2016

Kring… kring… wekerku berbunyi dengan sangat kencang sehingga menganggu pendengaranku. Aku masih segan untuk bangkit karena mataku yang masih ingin terpejam. Aku keluar dari kamarku dengan rapih, siap untuk sekolah. Mama, papa, dan kak Arkan dimeja makan tepat di samping ruang keluarga. Aku menghampiri mereka. Oh ya, namaku Alvina Audrey Artemisia. Kalian bisa memanggilku dengan sebutan ‘Na’.

“Pagi” aku duduk di sebelah kak Arkan.
“Pagi” jawab kak Arkan sambil tersenyum yang membuatku iri. Iri karena ia memiliki lesung pipi yang dalam.
“Kok yang jawab cuma kak Arkan” protesku.
“Pagi sayang” jawab mama dan papa langsung. Aku hanya tersenyum puas. Setelah sarapan yang membuat perutku sedikit terisi, aku berangkat sekolah diantar kak Arkan.

“Kak berangkat yuk” ajakku semangat. Sekolah baru akan menjadi sesuatu yang menyenangkan bagiku.
“Ayo lah. Ma, pa, Ar sama Na pergi dulu ya bye.” lagi-lagi kak Arkan tesenyum dengan manis lagi.
“Kak jangan senyum ih. Gue kesel kalo liat lo senyum” ucapku kesal.
“Kenapa sih, suka-suka gue lah senyum kek, enggak kek.” Balasnya tak mau kalah.
“Kenapa mama sama papa curang ya, lo dikasih lesung pipi dalem banget lagi. Kok gue enggak ya. Gak adil” protesku. Aku menopak daguku di pintu mobil.
“Emang gue yang terlahir dengan wajah yang sempurna ya gak” ucapnya sambil menaik naikan alis beberapa kali yang membuatku mengindik geli.

Aku dan kak Arkan memang sangat dekat walaupun umur kita berbeda tiga tahun, tapi hanya dia yang siap menampung uneg-uneg aku dan menenangkanku disaat aku sedih. Berantem dengannya juga adalah hal yang sangat jamak. Bahkan, itu sudah menjadi rutinitas bagiku dan dia. Tapi, aku sangat sayang dengannya.

Sampai di sekolah aku turun dan masuk ke dalam sekolah. Aku menelusuri sekolah, mencari kelasku. Aku melewati lapangan basket dan melihat banyak anak anak yang menurutku adalah club basket sedang bermain.

“Awas!!!” teriak seseorang yang membuatku menghentikan langkahku dan “Aw!” aku meringis karena aku merasakan benturan keras di kepalaku. Aku jatuh namun masih sadarkan diri. Kepalaku sangat pusing aku tidak sadarkan diri.

Aku merasakan ada bau busuk yang sangat menusuk di hidungku. Aku perlahan membuka mataku, melihat satu kaos kaki yang menempel tepat di hidungku. Langsung saja aku menyingkirkan kaos kaki bau itu dari hadapanku. Aku bangun hinngga posisiku setengah duduk.

“Ih apa-apaan sih lo” aku mendecak kesal.
“Lagian lo gak bangun-bangun” jawab corek alias cowo resek itu.
“Gak usah pake kaos kaki bisa kan!” aku turun dari ruang kasur UKS yang aku tiduri.
“Ditolongin malah ngomel-ngomel” sekarang dialah yang berbalik kesal padaku.
“Tapi kan lo yang buat gue pingsan” balas balik gue
“Siapa suruh lewat lapangan” balasnya tak mau kalah.
“Siapa suruh lo lempat bola ke gue”
“Gue mana tau ada lo”
“Gue mau balik. Bye maksimal” ucap gue dan meninggalkan ruang UKS. Aku menuju ruang kelasku yang ternyata bertepatan samping ruang guru. Kelas yang bertuliskan X IPA 1. Aku menelusuri tempat dudukk dan yap, ada tempat duduk yang kedua bangkunya masih kosong.

Bel telah berbunyi. Aku baru saja melegakan perasaanku karena tidak sekelas dengan corek. Tiba-tiba corek menghampiriku dan duduk disebelahku.

“Ngapain sih lo” sinisku padanya
“Suka-suka gue lah, ini tuh sebenernya tempat gue. Liat tuh tasnya ada di bawah meja” aku melihat kebawah dan benar saja tas warna hijau itu ada di bawah meja.

“Auah dasar corek” aku membuang muka terhadapnya.
“Corek? Apaan tuh?” tanyanya
“COWOK RESEK” ucapku dengan menekan di setiap katanya.
“Lo bener-bener aneh ya.” Ucapnya dengan lagaknya yang mengesalkan.
“Lo tuh”
“Lo”
“Elo”

Dan begitu terus sampai guru masuk kedalam ruang kelas. Bu Rani, nama yang tertera pada badge di bajunya. Pandangannya langsung tertuju padaku.

“Kita punya teman baru ya. Silahkan perkenalkan diri kamu” ucap bu Rani padaku. Aku maju ke depan.
“Hai, gue Alvina Audrey Artemisia” perkenalan singkat yang tentunya menurutku cukup. “Baik, silahkan duduk” ucap pelan bu Rani. Aku menatap tajam si corek yang menatapku dengan tawa gak jelasnya.

“Oh, nama lo Na” Eh tau dari mana dia kalau aku dipanggil Na. Dia paranormal? Ih gak usah mikirin si corek. Gak penting.
“Lo bingung gue tau dari mana?” aku kehilangan kata-kata untuk bicara.
“Au ah terang” jawabku kesal.

Waktu berjalan begitu cepat, bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Aku menunggu datangnya kak Arkan yang menjemputku. Hujan deras yang menemaniku menunggu. Udara yang sangat dingin membuat aku memeluk tubuhku sendiri. Ini sangat dingin.

“Nih, pake ini” aku tersentak kaget. Jaket yang disodorkan kepadaku itu berasal dari corek. Kesambet apa nih orang.

“Gak perlu” jawabku dengan gengsi.
“Gak usah bohong, lo pasti gak bisa kena angin kan?” lagi-lagi aku dibuat bingung olehnya. Kok dia tau sih.
“Sotoy lo”
“Gue tau ten- lo” gumamnya kecil yang samar samar terdengar di telingaku.
“Hah? Lo apa?” tanyaku sampai memiringkan kepalaku.
“Enggak gue gak ngomong apa-apa” ucapnya.

Hari ini adalah materi jam olahraga, semuanya telah berkumpul dilapangan. Permainan hari ini adalah bola basket. Itu adalah kelemahanku. Aku akui aku sangat payah dalam bermain basket. “Prit..” pluit dibunyikan dan kami bermain.

Bruk

Aku terjatuh dengan posisi tengkurap. Lututku mengeluarkan darah. Rasanya perih sekali. Darah yang terus mengalir tak berhenti.

“Tolong angkat ke UKS yang merasa laki-laki” ucap panik pak Radi guru olahgara.

“Biar saya aja pak” ucap si corek. Mataku membulat kaget. Seribu satu pertanyaan sekarang muncul begitu saja dibenakku. “Ada apa ya? Seperti ada sesuatu, apa akunya aja yang baper?”. Corek mengangkatku ke UKS, mengambil kotak P3K dan mulai membalut lukaku. Setelah selesai aku membaringkan tubuhku lemas.

“Istirahat dulu aja” ucapnya pelan
“Ih lo kok jadi aneh sih”
“Aneh apa?”
“Lo jadi baik”
“Makasih lo barusan muji gue”
“Gue cabut omongan gue tadi”
“Najis lo”
“Magsud ah lo udah gue mau tidur, keluar sana”

Perlahan aku memejamkan mataku masih dalam keadaan sadar namun aku ngantuk. Samar-samar aku mendengar suara corek. “Lo gak inget gue na? Andai kejadian itu gak pernah ada” aku kaget namun aku masih belum membuka mata. Aku hanya ingin mendengar sampai habis. Tangannya membelai lembut rambutku yang sekarang benar membuat mataku terbuka.

“Paan sih lo” ucapku sembari menyingkirkan tangannya kasar
“Kasar amat sih!” kesalnya
“Suka-suka gue lah. Siapa suruh lo pegang-pegang rambut gue. Nanti kutuan lagi”
“Magsud banget sih lo” jawabnya tak terima
“BODO” ucapku dengan menekan katanya.

Aku berada di dalam kamarku. Kalimat yang mulai mengusik fikiranku. Sebenarnya ada apa ya?. Aku jadi kepo berat. Mungkin kak Arkan tau. Aku masuk ke dalam kamarnya dan mendapati ia sedang bermain PC.

“Kak” panggilku
“Apa?” tanyanya dan memalingkan pandangannya ke aku yang sekarang duduk di sofa kamar.
“Gue pernah kecelakaan gak sih kak dulu?” Kak Arkan terdiam. Aku tau ada rahasia dibalik tatapan aneh yang sekarang terpancar dari matanya.
“Kok lo ngomongnya gitu?” tanyanya yang kembali memfokuskan pandangannya pada PC di hadapannya itu.
“Ya nanya aja, emang gak boleh?” ucapku yang tak mendapat jawaban dari kak Arkan.
“Pernah” jawabnya dengan waktu berselang 5 menit.
“Trus, gue gimana? Kejadiannya gimana? Ada orang gak sih kak dimasa lalu gue? Gu-“ ucapanku terhenti “Apa kakak mesti jawab pertanyaan lo semuanya?” tanyanya dan menatap tajam mataku. Sebenarnya masih ada 1001 pertanyaan yang belum dapat ku ungkapkan disini.

“Harus biar aku tau semuanya” jawabku yakin
“Lo siap?”
“Siap”
“Dulu, sewaktu lo umur 10 tahun, lo ketabrak mobil selagi lo main bersama teman kecil lo” ucapnya menggantung. Kini, aku semakin penasaran. “Siapa?” tanyaku. Satu lintasan nama di kepalaku. “Corek”
“Namanya Alvaro Gabvriel yang lo suka sebut dia dengan nama, Roo” lanjutnya. Aku berfikir dua kali. Alvaro Gabvriel, aku tak merasa punya teman bernama Alvaro. “Lo amnesia” lanjutnya lagi.

“Jangan-jangan corek” gumamku kecil
“Hah?” tanya kak Arkan bingung.
Pintu kamar kak Arkan terbuka dan menampakan mama berdiri diambang pintu sana. Aku langsung bangkit dan menghampirinya.

“Ada apa ma?” tanyaku
“Ada telepon buat kamu dari hm..” ucap mama tergantung dan terlihat seperti mengingat-ingat “Corek. Mama baru tau ada orang yang namanya corek- ” lanjut mama yang membuat aku langsung menuju telpon tanpa mendengarkan omongan mama.

“Halo” ucapku
“Halo, lo bisa ke rumah sakit sekarang, di kamar Aster. Ada yang mau gue omongin. Gue-” ucapnya terputus karena sambungannya putus. Aku langsung saja mengambil kunci mobilku dan berlari keluar. “Na, mau kemana?” tanya kak Ar yang ada di belakangku.
“Ke rumah sakit.” Ucapku cepat.
“MA, PA, Na pergi dulu” teriakku.
“Gue ikut” lanjut kak Arkan dan mengambil kunci mobil dari tanganku. Aku langsung naik kekursi samping kemudi.

Mobil terhenti di rumah sakit. Aku langsung mencari kamar Aster. “Sus, kamar Aster dimana?” tanyaku.
“Lurus, belok kanan” jawab suster. Aku langsung saja mengikuti arahnya. Didepan kamar yang tertera tulisan ‘Aster’ itu, aku mencoba mengatur nafasku yang terengah- engah.
“Masuk” ucap kak Arkan pelan. Perlahan aku membuka pintu dan benar saja, itu corek yeng terbaring lemas di sana. Corek menoleh dan mengangkat tangannya seperti memberi tanda hai pada kak Arkan yang juga ikut mengangkat tangannya.

“Gue yakin lo butuh berdua, lo bisa masuk sekarang. Gue disini” ucap kak Arkan sembari mempersilahkan aku masuk kedalam.
“Hai rek” ucapku asal
“Hai Na” jawabnya
“Sakit lo?” tanyaku asal omong. Dia hanya menjawab dengan senyuman termanis yang pernah aku lihat
“Lo inget gue gak?” tanya corek dan hanya aku balas dengan gelengan kepala.
“Gue-” darah mengalir dari hidungnya dan mulutnya, membuat aku panik sekali. Aku langsung memencet tombol darurat, tak lama kemudian dokter dan suster datang. Aku berlari ke pelukan kak Arkan, tak sanggup melihat semuanya.

Wanita paruh baya itu menghampiriku dan kak Arkan. Menangis dengan tersendu-sendu. Aku yakin itu adalah mama Corek.

“Tan, sabar ya tan” ucap kak Arkan menenangkan.
“Corek sakit apa?” tanyaku yang membuat mata kak Arkan dan mamanya itu menatapku. Kak Arkan langsung menghampiriku dan mengajakku sedikit menjauh dari mama corek.
“lo jangan manggil dengan corek” jelas kak Arkan
“Gue gak tau namanya. Oke to the point aja, dia sakit apa?” tanyaku.
“Leukemia” jawab pelan kak Arkan. Entah kenapa, aku merasakan ada sesuatu yang menggerogoti hatiku. Aku gak tau corek siapa tapi, aku merasakan ada hubungan yang dekat yang baru kurasakan sekarang.

Dokter keluar dari kamar rawat corek dan menghampiri mamanya. Aku dan kak Arkan juga ikut mendengar.

“Bu, maafkan saya. Saya dan seluruh pihak rumah sakit telah berusaha semaksimal mungkin. Namun, nak Al suadah tidak bisa tertolong, sel kangker di dalam tubuhnya sudah menyebar diseluruh anggota tubuhnya.” Jelas dokter yang membuat tangis mama corek pecah. Aku juga merasakan kesedihan itu, aku memeluk kak Arkan erat, mataku yang panas dan ingin menitikkan air mata.

“Siapa yang bernama Alvina?” tanya dokter.
“Saya dok” ucapku langsung.
“Ini ada surat dari nak Al sebelum ia pergi” ucap dokter. Dan memberikan sepucuk surat untukku. Rasanya aku tak sanggup untuk membukanya. Aku menatap kak Ar sekilas dan mendapat anggukan pelan darinya. Perlahan aku membuka surat putih itu. Membaca pelan didalam hatiku.

“Dear Na,
Hai na, mungkin setelah lo baca ini, gue udah disana melihat lo dari atas sana. Lo masih gak inget gue? Gue sedih lho. Gue Roo, Alvaro. Sahabat kecil lo yang lo lupakan. Harusnya kan gue tak terlupakan ya kan, tapi lo ngelupain orang seganteng gue. Sekarang lo udah inget gue kan? Gue harap udah. Gue cuma mau cerita singkat masa kecil kita yang lo lupain mungkin? Sejak kejadian itu. Dulu, gue suka banget isengin lo kayak sekarang, dan lo juga marah-marah ke gue. Maaf ya kalo gue agak menjengkaelkan bagi lo selama ini. Oh ya, gue juga bingung loh gimana kita sahabatan deket tapi, kita sering marahan karena gue isengin lo. Unik ya persahabatan kita. Mungkin lo udah dengar dari kakak lo yang nandingin kegantengan gue soal kecelakaan lo karena gue. Anndaikan aja gue sigap buat bantu lo, pasti lo gak akan ngelupain gue. Gue inget banget juga kalo lo gak suka liat gue senyum kan? Kata lo, senyum gue terlalu manis dan ditambah lesung pipi gue yang dalem. Menurut gue senyum lo gak kalah manis walaupun gak semanis gue. Lo tersenyum aja gue bahagia setengah mati, bisa ngeliat orang yang gue sayang tersenyum karena gue. Gue agak aneh sih, tadi gue senyum lo gak marah? Udah deh gak penting ya? Yang penting kemauan gue sekarang cuma satu, lo harus selalu tersenyum, gak boleh lagi ada air mata yeng menetes dari mata indah lo. Kalo lo nangis, gue bakal gentayangin lo. Awas ya! Kasih senyum lo ke semua orang, karena senyum lo adalah alasan untuk semua orang tersenyum. Kepanjangan ya? Maaf deh gue juga udah capek nulisnya padahal masih kepengen. Maaf juga tulisannya jelek soalnya gemeter nih tangan gue. Bye, samai jumpa lagi ya.

Salam Bahagia,
Roo, Corek.”

Tangisku pecah dipelukan kak Arkan, aku tak menyangka dan tak menduga. Orang yang selalu di sampingku adalah sahabatku sendiri. Kak Arkan yang terus memberi belaian pelan dirambutku tak mempan bagiku untuk menerima semua ini.

“Udah Na, lo gak usah nangis.” Ucap kak Arkan yang sama sekali tak membuatku berhenti menangis.

Hari ini, aku berlibur ke pantai, setelah seminggu aku mengurung diriku dikamar. Aku duduk diantara ribuan pasir dipantai yang indah ini, aku masih melihat surat pemberian Roo padaku. Terdapat foto foto masa kecilku dan dia. Entah dari mana asalnya, air mataku mengalir hingga membasahi pipiku. Tiba –tiba saja foto dan surat dari Roo, dirampas oleh kak Arkan.

“Lo gak bisa begini, lo mesti melihat kedepan Na, lo gak boleh jatuh dan terpuruk di satu keadaan. Dengan lo menangis, Alvaro gak akan hidup lagi kan? Biarlah semuanya berlalu seperti air di sungai. Jangan karena hal ini lo menjadi lemah. Gue gak pernah liat seorang Na yang lemah dan jatuh. Gue mau liat lo Na yang dulu, Na yang ceria, Na yang selalu tersenyum” ucap kak Arkan

“Tapi, lo gak tau perasaan gue!” ucapku pelan
“Gue tau, gue tau banget perasaan lo. Gue izinin lo sekarang menangis sepuas lo sekarang tapi, setelah ini jangan harap lo bisa menangis lagi, gue akan cegah lo. Sekarang, nangis sepuas lo. Gue bakal siap menjadi penopang lo dan meminjamkan bahu gue.” Ucap kak Ar.
“Makasih kak” Aku memngis sejadi-jadinya mengeluarkan semua uneg-unegku pada orang yang memelukku erat, yang selalu memberiku motivasi untuk selalu bangkit di setiap keterpurukanku.

Pagi yang indah dan cerah ini, aku sudah siap dan duduk di meja makan bersama mama, papa dan kak Arkan. Aku sudah kembali, menjadi Na yang seperti dulu. Aku memancarkan senyumku.

“Kakak seneng lo udah balik kayak dulu” ucap kak Arkan dan mengeluarkan sesuatu di sakuya.
“Ini gue balikin, lo bisa simpen ini buat mengenang Alvaro.” Ucak kak Arkan lagi.
“Makasih kak” jawabku pelan.

Aku sangat senang dengan kembalinya aku tentunya, aku harap, Roo melihatku disini dang tersenyum dengan senyum manisnya itu. Melihatku sudah bangkit seperti yang ia inginkan.

Cerpen Karangan: Yovita Tanujaya
Facebook: Yovita Tanujaya
Aku, Yovita Tanujaya, umurku 13 tahun dan duduk dikeal 7 SMP

Cerpen Roo dan Na merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akhir Hayatku

Oleh:
Diwaktu senggangnya, Annira gadis remaja berusia 17 tahun senang menyanyikan lagu-lagu KPOP, yaaa, Annira adalah seorang fangirl KPOP, dia adalah seorang yang berkepribadian introvert plegmatis, dia sangat slow, bahkan

Dentingan Bersayap

Oleh:
Dunia telah bersaksi, tiada yang abadi. Rambut indah juga akan rontok, pakaian mahal tak juga dibawa mati. Perbuatanku yang akan menentukan, Surga atau Neraka? Jika harus memilih, pastilah aku

Kesempatan Kedua

Oleh:
“Azka, aku ingin bicara denganmu.” Kalimat yang membuat Azka terkejut kepada teman satu jurusannya itu, Efrida. “Azka? Kau mendengarku tidak? Aku ingin bicara denganmu. Jangan beralasan lagi untuk menghindariku

Tiada Yang Tahu

Oleh:
“Hahaha,” Gelak tawa dan tepuk tangan penonton menyudahi stand up yang baru saja Ardi pertunjukkan. “Terima kasih untuk kalian semua, kalian adalah penonton yang hebat!” Seru Ardi seraya menuruni

Jangan Pergi

Oleh:
Aku termenung sendirian di depan rumahku, entah kenapa aku selalu ingat dengan kejadian yang telah menimpaku tiga tahun yang lalu, dimana pada saat itu terjadi pertengkaran hebat antara ayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *