Rusy, Kelinciku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 December 2013

“Hoaaamm…!” aku terbangun di pagi yang cerah. “Wah, sudah pagi rupanya! Aku sholat subuh dulu, deh!” gumamku. Lalu, aku pun membereskan ranjangku, dan pergi ke kamar mandi yang kebetulan berada di kamarku. Kemudian, aku segera mengambil air wudhu. Setelah itu, aku menunaikan ibadah shalat subuh. Allahu akbar! gumamku pelan.

Tujuh menit kemudian, aku sudah selesai shalat subuh, dan sudah melipat sajadah dan mukena yang kupakai saat shalat tadi. “Wah, mama sudah bangun belum ya?” tanyaku kepada diriku sendiri. Aku adalah anak tunggal. Dulu aku mempunyai adik. Tetapi, adikku meninggal karena terkena penyakit demam berdarah, dan telat masuk RS. Lalu, aku turun ke bawah, menuju kamar mama. Papaku sekarang sedang dinas di Singapura. Jadi, aku di rumah bersama mama dan bi Minah, PRT ku.

“Halo, ma!” sapaku kepada mama. “Eh, Rani sayang. Sudah bangun? Sudah shalat subuh belum?” tanya mama. “Sudah dong, ma. Mama sendiri?” aku balik bertanya. “Mama juga sudah shalat. Baru saja selesai. Sarapan yuk, sayang!” ajak mama. “Ayuk, ma!” Lalu, kami pun sarapan pagi di ruang makan. “Mari, Nyonya, Non Rani. Silakan dimakan,” ujar bi Minah yang sudah memasakkan sarapan pagi itu. “Hmm… lezat sekali!” seruku seraya membuka tudung saji yang berwarna hijau tua itu. “Wah, pantas saja lezat. Bi Minah emang oke!” seruku yang melihat pancake cokelat plus keju dan saus karamel yang nikmat dan susu hangat untuk sarapan kali ini. “Ayo, sayang!” Lalu, aku dan mama pun berdoa terlebih dahulu, dan langsung menyantap sarapan pagi ini.

“Hmm! Kenyang!” seruku senang sambil mengelus-elus perutku. “Ma, aku mau lihat Rusy dulu, ya,” pamitku. Mama mengangguk. Aku segera pergi ke luar rumah untuk melihat Rusy. Rusy adalah kelinci kesayanganku. Kalaupun dia mati, dia tak akan terganti oleh siapapun, walaupun ada yang memaksa untuk membelikan kelinci yang baru. “Hmm, kira-kira, Rusy sedang apa ya?” tanyaku. “Hai Rusy!” sapaku ramah saat aku berada di depan kandangnya. “Rusy? Rusy!” panggilku saat Rusy tak bergerak. Biasanya, setelah aku memanggil Rusy, dia selalu terbangun dan berlarian di kandangnya. Mengapa sekarang tidak? Oh ya! Aku baru ingat! Dia kan sedang mengandung! Rusy adalah kelinci betina. Yap! Tepat sekali! Kata temanku Reina, jika kelinci sedang mengandung, dia akan malas bergerak walaupun kita sudah memanggilnya berkali-kali. “Rusy sedang tidur, ya?” tanya mama yang tiba-tiba muncul di sampingku. “Iya, ma. Dia kan sedang mengandung,” jawabku pelan. “Hmm, pasti sebentar lagi dia akan melahirkan. Dan benar saja! Rusy tiba-tiba saja sangat gelisah dan merintih kesakitan seperti orang yang sedang ingin melahirkan. “Ayo ma! Kita ke dokter hewan!” ajakku panik. “Ayo!” Lalu, kami pun memasukki mobil dan membawa Rusy ke dokter hewan.

Senang, panik, takut, gembira, dan sedih akan Rusy bercampur aduk menjadi satu di dalam benakku. Aku ber-istigfar berkali-kali. Akhirnya sampai juga, gumamku dalam hati saat melihat tulisan ‘KLINIK DOKTER HEWAN’. “Ayo, sayang! Jangan lupa bawa Rusy juga!” perintah mama. “Baik, ma!” Akupun berlari mengikuti mama yang sudah berjalan duluan ke dalam klinik. “Permisi, hewan ini akan melahirkan. Bisa minta tolong pertolongan secepatnya?” tanya mama yang wajahnya juga gelisah tak karuan. “Baik bu. Sini sayang, kelincinya,” sahut pegawai itu yang lalu membawa Rusy ke dalam kamar persalinan. “Kami boleh ikut kan?” tanyaku yang sudah menangis tersedu-sedu. “Tentu boleh, adik kecil,” jawab pegawai itu sambil tersenyum.

Kemudian, kami pun memasukki ruangan yang cukup besar. Rusy pun diminta oleh pegawai itu untuk mengeluarkan anak-anaknya dari perutnya. “Ayo, Rusy. Keluarkan anak-anakmu. Ayo! Kamu pasti bisa!” seruku memberikan dukungan semangat untuk Rusy. Rusy seakan mengangguk dan mengerti apa yang kukatakan, dia pun melakukannya. 10 menit kemudian, anak-anak Rusy yang sangat lucu dan imut pun sudah keluar. Anak-anak Rusy ada 5. Mereka semua kuberi nama: Syra, Runa, Refitt, Kiene dan Fred. Aneh-aneh semua, ya? Lalu, aku bertanya kepada pegawai itu. “Mbak, apakah Rusy dan anak-anaknya sudah boleh dibawa pulang?” tanyaku cemas. “Kalau anak-anaknya boleh. Kalau Rusy…” ucapan pegawai itu terputus. “Kalau Rusy kenapa mbak?! Kenapa dengan Rusy?!” seruku tak tahan. Akhirnya aku menangis. “Kalau Rusy… dia sudah mati,” sahut pegawai itu menunduk. “APA?! TIDAK! TIDAAAKK! TIDAAAKK! RUSY! KAMU MASIH HIDUP! RUSSYYY…!!! Rusy…” teriakku sembari menangis sejadi-jadinya. “Rusy…” ucapku lirih.

“Sayang! Rani sayang, jangan menangisi Rusy. Dia sudah tenang di alam sana. Sudahlah sayang, jangan menangis lagi, ya?” ujar mama yang menenangkanku saat sudah sampai di rumah. “Tapi ma… Aku sangaaat sayang Rusy. Setiap harinya kuberi makan dia, kubersihkan kandangnya, kuperhatikan dia, kurawat dia, kulindungi dia, kuratapi saat dia sakit. Tetapi sekarang, Rusy sudah mati… Hiks hiks hiks… Aku sangat sedih ma. Rusy sudah kuanggap sebagai adikku sendiri walaupun dia binatang. Aku sangat sayang dia…,” ujarku yang masih saja menangis. “Sayang, bagaimana kalau mama belikan kelinci baru?” tanya mama. “Enggak mau!” teriakku. Brak! Aku pun menutup pintu dengan keras.

Aku segera mengambil kertas HVS dan bolpoin. Aku ingin menulis puisi untuk Rusy. 30 menit kemudian, aku sudah selesai menulis puisi. Aku segera memperlihatkan kepada mama. Mama yang membacanya sangat terharu. Aku pun ikut menangis kembali. I love you, Rusy… You are always my lovely pet… gumamku dalam hati sambil tersenyum sedih.

TAMAT

Cerpen Karangan: Quintania HB
Facebook: Quint Angel

Cerpen Rusy, Kelinciku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jadilah Seperti Si Kelinci

Oleh:
Dahulu kala, di hutan yang jauh dari kehidupan manusia, hiduplah beberapa hewan. Dimana mereka saling membutuhkan satu sama lain, saling bekerja sama, dan mereka menganggap seperti keluarga walaupun berbeda

Tersenyum Untuk Kebahagiaanmu

Oleh:
Tya. Gadis yang selalu ceria. Namun, hari ini hatinya semendung seperti cuaca mendung hari ini. Semuanya bermulai dari seminggu yang lalu. “Riana!” sapa Tya. Tya berlari menghampiri Diana yang

Dongeng Gadis Pemimpi

Oleh:
Namanya Leyra Amartha. Nama indah pemberian ayah dan ibunya. Tahun ini Leyra genap berusia 16 tahun. Kata orang-orang, ia memiliki wajah bulat yang manis, dengan bola mata coklat, dan

Langit Hijau Kelabu

Oleh:
Hari ini adalah awal Syamina menyegerakan perintah wajib bagi setiap muslim maupun muslimah dengan membentuk hubungan sah ikatan tali pernikahan dan membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rusy, Kelinciku”

  1. Selly Doang says:

    sdih kli lh crta.a smpe ikt nangs jga aq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *