Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 September 2015

Hai namaku adalah Nayla Syanitha Lilyani. Aku sekolah di SMPN 54. SD Negeri unggulan kedua setelah SMPIT AN-Nissa. Aku punya ceita saat aku masih duduk di bangku kelas 5 SD. Cerita yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup.

Pagi itu.
“Hi, Nayla cantik!” sapa Runi.
“Hai juga, Runi imut!” kata aku sambil melambaikan tangan.
“Runi, kamu buat PR Agama Islam nggak?” tanyaku.
“So pasti…” jawab Runi.

Aku memang kagum dengan Seruni Natasya Fitri. Walaupun sederhana, dia tetap rajin dan sangat pintar. Dari kelas 1, dia selalu juara 1. Aku tahu, dia punya suatu penyakit parah yang tidak pernah dikatakan padaku. Aku juga tidak tahu. Yang jelas sakitnya parah dan orangtuanya tidak punya uang untuk membiayai perawatannya. Walaupun sakit, dia jago dalam olahraga. Seperti, senam, voli, basket, renang, dan lari. Pokoknya, aku salut bener sama dia.

Dua bulan berlalu. Ini adalah awal semester 2. Semakin ke sini, penyakitnya semakin parah. Aku masih ingin tahu apa penyakitnya. Suatu hari, aku main ke rumahnya yang sederhana. Terkadang, aku iri. Karena, Walaupun sederhana tapi, bersih. Beda dengan rumahku yang besar tapi, ughhh… PENGAP!! Waktu dia akan membantu Ibunya menyiapkan makanan buat kami, tak sengaja aku menemukan buku tulis yang bersampul agak lusuh. Waktu aku membukanya, ternyata, buku diary. Kubaca halaman terakhir

Dear Diary,
“Aku tahu penyakitku sudah parah. Yah, kanker otak ini cukup buatku menderita. Sungguh. Aku gerah. Ya Allah sembuhkanlah penyakitku. 5 bulan yang lalu, aku sungguh merepotkan tante aku. Tante aku membiayai kemoterapi di Rumah Sakit Singapura. Aku divonis sembuh. Tapi, apakah kanker ini masih ingin tinggal di otak seorang Runi? Oh, Tuhan aku sungguh cape dan sungguh menderita. Kata dokter mungkin, sisa umurku tinggal 1 tahun lagi. Ya. Mungkin waktu aku kelulusan dan aku wafat. Padahal aku pengen masuk SMPN 54 bareng my BFF, Nayla si cantik. Sudahlah, aku hanya bisa berdoa. Semoga umurku panjang. Aamiin. Salam, Runi.”

Aku meneteskan air mata. Runi melihatku sambil terheran-heran. Aku mengajak Runi ke sebuah saung di pinggir sawah dekat rumahnya. Aku bilang, “Runi, maaf ya, aku tahu, kau sakit Kanker otak, kan? kamu tidak bisa bohong denganku. Aku melihat diary-mu,” kataku sambil menangis.
Runi menunduk. “Ya, betul. Sudahlah jangan menangis lagi. Anggap saja aku selama-lamanya di sini” kata Runi. Dan, Runi pingsan.

Sejak itu, aku tidak malihat Runi di dunia. Aku sangat sedih. Dua hari aku tidak keluar dari kamar kecuali, saat makan dan pergi. Tapi, aku terkadang memilih untuk di kamar. Dan 2 hari juga, aku hanya bicara secukupnya.

Huh, aku mengingatnya sambil meneteskan air mata. Hari ini Runi Ulang tahun. Aku tahu apa yang disukai oleh Runi. Buku karangan J.K. Rowling. Aku sudah membelikannya. Rencananya, nanti aku akan ke pemakamannya. Dan aku yakin dia pasti bahagia. Oh, my BFF. Kudoakan kamu selalu diterima di Sisi-Nya. Aamiin.

Cerpen Karangan: Marshanda Shafa Aulia
Facebook: Marshanda Shafa Aulia
Hi, teman. Namaku Marshanda Shafa Aulia. Aku berumur sekitar 10-11 tahun. Aku tinggal di Palembang. Jangan lupa add Facebook aku ya. Marshanda Shafa Aulia yang foto profilnya gambar editan 2 cewek tinggi itu aku dan editan 2 cewek itu adek aku. Oh ya… jangan lupa like, komntar dan dimuat yahh.

Cerpen Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jurnal Mama

Oleh:
Pagi ini aku membuka lemari tua ayahku, setelah kepindahan ku kemari, kepindahan kembali tepatnya. Aku belum sempat melihat-lihat rumah tua ini, selain semak belukar di sekeliling rumah yang berencana

Tira

Oleh:
Tira, seorang gadis manis dan periang. Dikenal sebagai murid yang pintar, aktif dan disiplin. Gadis ramah yang tersohor namanya di seluruh penjuru sekolah ini, merupakan murid kesayangan para guru

Maafkan Aku (Part 3)

Oleh:
Terbangun entah setelah sekian lama, lalu kemudian tersadar dan ku melihat samar di hadapanku seseorang seperti berbicara dengan seseorang lainnya dengan jarak yang berjauhan, dengan sakit yang terasa di

Apa kabar

Oleh:
Pagi yang indah, ku sambut dengan penuh semangat. Seperti biasa aku di antar Bapak ke sekolah dengan becak bersama Rara. Aku tak tahu sejak kapan aku mengenalnya, mulai akrab

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sahabat”

  1. Elfira Anzelyna says:

    Waw Ca kmu menghayati sekali cerita yg kmu buat Ca,aku sedih melihat ceritanmu Ca.
    BFF Nurjanah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *