Sahabat Tinggal Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 June 2017

“Dasar pengkhianat. Kamu hanya memanfaatkan kami”, itulah kata-kata yang keluar dari mulut CLara dan Giskha setiap kali Devi ingin menjelaskan kepada mereka.

Bagaikan bintang yang setia menemani malam, embun yang setia pada pagi hari, dan mentari yang tak pernah lelah menerangi dunia. Begitu juga sahabat yang selalu setia tanpa diminta.
Devi, Clara, dan Giskha adalah sahabat. Mereka bersahabat sejak SMP, hingga sekarang mereka masih bersama-sama.
Devi hanyalah seorang anak miskin, ayah dan ibunya telah lama meninggal, ia hanya tinggal di sebuah gubuk kecil peninggalan orangtuanya. namun itu tidak membuat kedua sahabatnya itu menjauhinya.

Pagi yang Cerah, di kantin sekolah Clara dan Giskha sedang duduk bersenda gurau. Sedangkan Devi lebih memilih belajar di kelas.
“eh Clara, Giskha, kalian itu belum sadar ya, Devi itu hanya memanfaatkan kalian”, kata Fei siswi yang buruk wajah maupun sifatnya itu.
“apa maksud kamu Fe?”.
“Lihat ini”, Fei menunjukan sesuatu.
Clara yang melihat itu sangat kaget seakan tidak bisa menerima kenyataan itu. Fei menunjukan foto Devi yang sedang berpelukan dengan Angga, pacar Clara.

Waktu itu Devi sedang duduk belajar di kelasnya. Angga tiba-tiba datang. “Dev, Aku tidak bermaksud menghancurkan persahabatan kalian, tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku, aku cinta sama kamu Devi!” kata Cowok berwajah tampan itu. Devi tersentak kaget mendengarnya, Lalu dia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun Angga menghalanginya dan Langsung memeluknya. “tolong Dev!”, “aku tidak bisa Anggga”, ucap Devi sambil melepaskan pelukan Angga kemudian pergi. Tetapi Fei dan Andin telah menjalani rencana mereka.

Braakk, Clara Langsung menampar Devi.
“apa salah aku Clara?”, ucap Devi dengan polosnya sambil memegang pipinya yang memerah.
“kau pengkhianat yang hanya memanfaatkan kami!”, ucap Clara seraya menarik Giskha pergi.
Devi bingung dengan kelakuan sahabatnya itu.

Hari demi hari Devi hidup tanpa kedua sahabatnya itu. Setiap kali Dia menghampiri mereka, “dasar pengkhianat, kau hanya memanfaatkan kami”, itulah yang ia terima. Hidupnya terasa hampa. Dia menjalani hari-harinya dengan menangis dan menangis. Ia memutuskan untuk berhenti sekolah.

“Clara, aku yang salah. Maafkan aku. Aku telah mengkhianati kamu. Tapi tolong jangan sakiti Devi”, kata Angga setelah mendengar penjelasan Giskha kenapa mereka menjauhi Devi. Lalu Clara pergi dengan wajah penuh kebencian, entah dengan siapa.

Sudah lima hari Devi tidak Ke sekolah. Clara juga sudah dua hari tidak ada kabar. Giskha dan Angga bingung.
“Angga, kamu ada kabar Clara tidak?”, kata Giskha, gadis cantik bermata bulat yang baik hati itu.
“aku tidak mendapat kabar tentang Clara maupun Devi”.
“sama, aku juga. Aku khawatir dengan mereka. Bagaimana kalau kita ke rumah Clara sepulang sekolah?”.
Angga mengangguk.

Giskha dan Angga pun tiba di Rumah Clara. Mereka mendapati Clara sedang duduk sendiri di taman belakang.
“kalian ngapain?” Ucapnya tanpa senyum.
“kita ke sini mau jenguk kamu, kami khawatir sama kamu”, balas Giskha dengan senyum.
“iya Clar, aku minta maaf ya”, sambung Angga.
“aku baik-baik saja. Aku menyesal telah menyakiti Devi. Aku egois”, Ucap Giskha dengan berlinang air mata.
Giskha memeluknya.

Mereka pun memutuskan untuk pergi menemui Devi di rumahnya. Namun sayang, Devi baru saja dibawa ke rumah sakit. Ia ditemukan pingsan di halaman rumahnya. Mereka mendapat kabar itu dari tetangga dekat Devi.
“ibu tahu dimana Rumah sakit itu?”, tanya Clara panik.
“tahu Non”.
Mereka semua dengan panik menuju Rumah Sakit.

Sesampainya di sana, Clara, Giskha, dan Angga sangat terkejut melihat Devi yang tebaring lemas di ranjang. Begitu juga dengan Devi, dia kaget sekaligus terharu melihat kedatangan sahabat-sahabatnya.
“kamu kenapa Dev?, maafkan aku. Aku egois”, ucap Clara dengan berderai air mata sambil memeluk Devi.
“iya Dev, aku juga minta maaf. Aku baik-baik saja. Makasih ya, kalian sudah menjenguk aku”, katanya dengan berusaha tersenyum walau hanya terpaksa.
“kenapa kamu tidak Ke sekolah Dev? Aku khawatir sama kamu. Aku menyayangi kamu”, kata Clara disertai bulir-bulir bening di kedua mata indahnya itu.
“maafkan aku Gis, aku hanya tidak enak badan”.
“Angga, maafkan aku yah!”, sambung Devi.
Angga hanya mengangguk menahan sedih.

Mereka semua berpelukan. Seakan tak ingin berpisah lagi. Namun Tuhan berkehendak lain.
“aku menyayangi Kalian, aku mencintai persahabatan kita, tapi aku harus pergi. Aku pergi dengan bahagia. Jaga persahabatan kita”, Ucap Devi dengan dengan berlinang air mata di wajahnya.
Dan pada saat itu ia menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan sahabat-sahabatnya.
Kata dokter, dia menderita penyakit Tumor yang selama ini dirahasiakannya.

Cerpen Karangan: Martha Hepo Lado
Facebook: MarthaaYoulliana Hepo Lado

Cerpen Sahabat Tinggal Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Kenanga

Oleh:
Terik matahari di Jakarta pagi ini tidak sedikit pun menghapus semangat gadis berusia 19 tahun ini. Ia sibuk sekali dengan perabotan yang sedang ia masukan ke dalam sebuah kardus

Happy Birthday Fay

Oleh:
Sabtu 11 desember, Jarum jam menunjukkan tepat pukul 11 malam, tapi belum juga ku lihat tanda kehadiran Fay dan Nabil, padahal pada waktu itu aku, tante Lina dan Om

Misteri Pesan Dhion

Oleh:
Bruuuk… “aduh sakit”, keluh dita saat mendapati tubuhnya terjatuh dari tempat tidur. Dengan sedikit kesal, dita beranjak dari tempat tidur menuju sofa kesayangannya yang terletak di ruang tamu. Duduk

Sahabat Terbaik

Oleh:
Cerita ini berawal saat aku kuliah di Yogyakarta. Aku bersyukur bisa mengenal seorang sahabat seperti kamu bahkan tak cuma mengenal tapi kita sahabatan. Betapa bahagianya aku punya sahabat seperti

Dia, Si Mayla Yang Malang

Oleh:
Minggu sore, di kediaman sepupu Mayla. Aku sudah satu jam berada di sini, mendengarkan ungkapan rindu dan amarah Mayla. Ada rasa sesal terhadap apa yang diucapkannya, bagaimanapun juga aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *