Sahabat Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 December 2017

Seorang guru berjalan menuju kelasku. Ia adalah ibu Sari, seorang guru yang mengajar sebagai guru IPS di sekolahku. Namaku Annisa. Teman-temanku biasanya memanggilku Nisa. Aku memiliki dua orang sahabat yang sangat aku sayangi bernama Fitra dan Vania. Fitra gemar sekali bermain bola volly, sedangkan Vania sangat senang menggambar.

Aku, Fitra dan Vania bersekolah di tempat yang sama. Di salah satu SMP negeri favorit yang ada di daerah asalku. Di kelas 1, kami hanya berteman seperti biasa. Namun sejak kelas 2 kami mulai bersahabat. Sejak saat itu, ke mana pun pergi kami selalu saja bertiga. Tak hanya disaat senang, bahkan dihukum pun kami bertiga. Hingga orang-orang menamai kami 3 serangkai.

“Anak-anak, kalian akan mengikuti TO yang diselenggarakan oleh bimbel di GOR ya. Ketua kelas tolong didata nama anggota kelas yang mau ikut, besok ibu akan membagikan kupon TO kalian.” Ujar bu Sari.

Di kelas, tempat dudukku berada di dekat Vania. Kami biasanya mengadakan rolling tempat duduk selama 2 minggu sekali dan kebetulan aku mendapat tempat duduk di dekat Vania. “Van, ada TO nih. Ikutan yuk” aku mengajak Vania. “Hm, tengok dulu lah ya. Kalau bisa.” Jawabnya.
Fitra mendekat..
“Ikutt yook.. nanti pulangnya jalan-jalan, hehehe.” Ujar Fitra dengan semangat. “Ayoklah, tapi tuh Vania masih belum pasti.” Aku melanjutkan. “Tengok dulu.” Jawab Vania. “Ayolah, biar asik sama-sama. Bertiga.”
Vania memang seperti itu. Ia berbicara tergantung dari mood yang ia rasakan dihari itu.

Keesokan harinya, Vania mengatakan bahwa ia diperbolehkan mengikuti TO. “yes lengkap deh, bertiga akhirnya pergi. Besok kita pergi bareng ya Van, Nisa katanya bareng Sarah.” Kata Fitra yang semangat. “siip” jawab Vania.

Kring.. kring..
“siapa ya pagi-pagi nelepon?” ujarku dalam hati. Ternyata itu adalah Sarah. Ia ingin memastikan tentang berangkat bersama nanti. Lalu aku dan Sarah menuju GOR. Vania menelepon untuk memastikan dan aku bilang langsung saja ke GOR. Akhirnya aku dan Sarah menunggu Fitra dan Vania bersama teman-teman lainnya yang sudah datang sejak tadi.

Tak lama setelah itu, mereka datang. Kami pun masuk ke dalam aula untuk mencari tempat duduk. Lalu kami duduk bersama. Bercerita dan bercanda bersama. Senang sekali rasanya. Fitra dan Vania tak hanya kuanggap sebagai sahabat, tetapi juga sebagai keluarga. Kami bertiga adalah anak tunggal. Oleh sebab itu banyak sekali kejadian yang aku alami ternyata dialami juga oleh Vania dan Fitra.

Lembar jawaban dibagikan. Kami mengerjakan soal-soal dengan seksama dan TO pun selesai. “Makan yok, lapar” ujar Sarah yang dari tadi mengeluh karena belum sarapan. “Yok, cari makan di mana ya bagusnya?” jawab Fitra. “Tanya emak gih” kata Vania sambil menyuruh Fitra bertanya padaku. “Jalan aja dulu, ntar kalau ketemu tempat enak, baru makan.” Jawabku.

Kami pun jalan dan akhirnya memutuskan untuk makan di McD. Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk menuju kerumah Vania. Sesampainya di sana, Sarah memberitahu bahwa ia tak bisa lama-lama. Karena dia mau pergi bersama orangtuanya. Akhirnya tinggallah kami bertiga.

Kami bersenda gurau bersama, seperti biasa. Tertawa, indah sekali rasanya. Beragam tingkah lucu kami bertiga membuat perutku terasa sakit. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke kamar. Kini tak hanya bertiga. Ada kucing lucu peliharaan Vania yang sangat menggemaskan. Melihat kami duduk di tempat tidur, ia dengan lincahnya melompat untuk ikut bergabung. “meong” kucing Vania mendekati Fitra. “aaa.. seram” ujar Fitra yang memang agak takut kucing. Aku dan Vania tertawa terbahak-bahak.
Kami terus bermain hingga tak sadar waktu menunjukkan pukul 16.30 akhirnya aku dan Fitra pun pulang.

Keesokan harinya, kami mengikuti simulasi UNBK. Namun ada sesuatu yang berbeda. Vania. Ia tampak cuek dan tak ingin mendekat dengan aku dan Fitra. Aku bertanya pada Fitra “Vania kenapa Fit?”. “Gak tau, kita ada salah ya?” jawabnya yang malah balik bertanya. Sejak itu aku dan Fitra terus berusaha mendekati Vania. Namun tetap saja. Ia berbeda.
Sesekali kami bertanya dan jawaban darinya agak sedikit menyakitkan. Aku dan Fitra semakin bingung. Semalam kami bermain hingga sore, namun kenapa pagi harinya malah ia tak mau berbicara dengan kami.

Hingga akhirnya ia bermain dengan rombongan yang lain. Terus berjalan seperti itu hingga beberapa saat Vania sudah mulai berbicara dengan Fitra. Lalu aku mendekat, dan mengajaknya ke kantin. “jajan yok”. “awaslah Nis, aku lagi malas” jawabnya ketus. Perasaanku mulai tak enak. Aku bertanya-tanya dalam hati apa salah aku dengannya.

Hari terus berjalan, Fitra dan Vania tetap bermain berdua. Seolah menjauhiku yang tak tau salah apa. Aku sangat merasa kehilangan, selama Fitra dan Vania tidak di dekatku aku hanya bermain dengan Sarah dan Fika. Pikirku, aku hanya bisa terbuka dengan mereka. Aku sedih. Aku sudah mencoba mendekati Vania, namun ia tetap menjauh. Setiap aku ingin bertanya pada Fitra, seolah-olah Vania menahannya.

Hingga suatu hari, Vania tak datang karena suatu hal. Fitra mendekatiku. Ia menggenggam tanganku dan berkata, “Baikanlah kalian, aku mau kalian kayak dulu lagi”. Aku terdiam. Bahkan ini bukanlah keinginanku. Lalu aku menjawab “Apa salah aku Fit? Kok tiba-tiba dia ngejauh gitu”. Fitra menatapku dalam, seolah mencoba mengerti. Lalu ia berkata “Tadi malam aku chat dia, aku tanya kenapa dia kayak gitu. Awalnya dia cuma jawab aku malas. Tapi ujung-ujungnya dia jujur”. Aku tertunduk mendengarnya. “dia bilang, kau adalah orang terdekatnya. Dia sadar, dia adalah tipikal orang yang sulit untuk bersosial. Dia menjauh, supaya dia terbiasa. 2 bulan lagi kita bakal pisah. Aku sama dia kemungkinan satu sekolah dan kau beda. Jadi dia mau membiasakan diri tanpa kau.”

Sontak aku terdiam. Tak sanggup rasanya berkata apa-apa. Aku berusaha menahan air mataku agar tak terjatuh. Lalu aku menguatkan diri untuk menjawab “Sudah tau tinggal 2 bulan, kenapa gitu? Justru baiknya 2 bulan itulah dihabiskan untuk kenangan yang indah kita.” “aku sudah bilang padanya, tapi dia tetap mengeras.” Jawab Fitra menguatkan.

Hari-hari selanjutnya bagiku terasa sepi. Rasanya tidak sama, seperti ada sesuatu yang kurang. Jelas, itu adalah sahabatku. Terkadang Fitra mendekatiku, lalu mendekati Vania. Aku tak marah. Karena aku tau pasti berat di posisinya yang berada di tengah-tengah.

Hingga suatu hari. Aku terduduk di kelasku. Siswa yang lain ke panggung untuk mengambil nilai seni budaya, dan tinggallah aku dengan Wulan. Salah seorang teman 1 kelompokku di kelas. Lalu Fitra dan Vania masuk ke kelas. Melihatku ada di sana, mereka pun pergi. Namun sekilas Fita memandangku tersenyum.

“kok kalian gak bertiga lagi Nis?” tanya Wulan. Awalnya aku hanya diam. Tak ingin menjawab. Namun hatiku terasa miris. Sesekali kudengar Vania dan Fitra tertawa di luar kelas. Hingga akhirnya aku menangis. “udahlah, jangan ditahan. Coba cerita” ujar Wulan sembari menenangkan.
“Aku rindu Vania. Aku rindu semua hal yang kami lakuin sama-sama dulu.” Akhirnya aku memulai obrolan. Aku menjelaskan semuanya pada Wulan dan hingga akhirnya tangisku pecah. Namun segera kuhapus karena kulihat seseorang masuk ke dalam kelas dan itu adalah Fitra. Ia terkejut dan mendekatiku.
“kenapa Nis? Kok nangis” tanyanya. “gak ada” jawabku. “iya tarian kami belum bagus, makanya dia sedih” jawab Wulan mencoba menyakinkan Fitra. Namun Fitra terus memandangku seolah tak percaya dengan penjelasan dari Wulan. Hingga akhirnya aku jujur dengan Fitra. Tampak genangan airmata di kelopak matanya. Lalu seseorang masuk ke kelas dan duduk di barisan paling depan. Dia adalah Vania. Aku pun memutuskan untuk ke kamar mandi.

Kulihat Sarah yang hendak menuju kelas, lalu kuminta dia menemaniku. Aku mencuci muka, berusaha agar bengkak di mataku tak begitu jelas. “kau kenapa” tanya Sarah. Aku tersenyum. Lalu kami menuju taman depan kelas. Di sana sudah ada Fitra yang menunggu sendirian. Ia memelukku. Ia menangis dan berkata “Aku bingung harus gimana kalau kalian kayak gini. Aku Cuma pengen kita kayak dulu lagi. Bukan ini yang aku mau.” Aku tersenyum dan kucoba menguatkannya. “udah gak papa, kapan-kapan kau mainlah sama aku dan kapan-kapan kau mainlah sama dia.” Jawabku mencoba menenangkannya.

Aku tau, bagaimana perasaannya. Ia pasti kebingungan, namun bagaimanapun juga inilah kenyataannya. Persahabatan kami terpecah. Kadang pikiranku melayang, mengenang masa-masa dimana kami masih bermain bersama, masa-masa dimana sesedih apapun yang kami alami kami masih bisa tersenyum bersama. Aku merindukan semua itu. Dan kini aku hanya dapat berdo’a, semoga kelak persahabatan kami dapat menyatu kembali.

Cerpen Karangan: Yuni Anisa

Cerpen Sahabat Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Black Bright (Part 2)

Oleh:
Siang begitu terik membuat Deana, Rei dan juga Daisy merasa kelelahan hingga Mereka semua merasakan teramat sangat lapar. Masih dekat dari terminal pemberhentian bus, Dea tiba tiba saja jongkok.

Hujan dan Kebencian

Oleh:
Hari ini, ayah pergi pagi-pagi sekali. Entah apa yang akan dibuatnya di petakan sawah milik orang yang ia garap. Apakah ia akan mencangkul tanah yang tandus karena kemarau sepanjang

Korban Keegoisan

Oleh:
“Hei, Ris! Apa lo nggak dengerin gue?” Aku menoleh dengan wajah merengut ke arah Shila. “Apa, sih? Ganggu gue aja deh!” Bentakku. Shila mendengus kesal. “Lo liatin apa sih

Sunset Terakhir Bersamamu

Oleh:
“Gita, bangun!!” Suara mamaku sudah terdengar di depan pintu. “Iya ma, gita sudah bangun”. jawabku. “Cepat turun mama dan papa sudah menunggumu di bawah untuk sarapan bersama.” “Iya ma.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *